Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Kamis, 01 Juni 2017

Kinerja Guru dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya Perspektif Etika Guru

  1. Latar Belakang Masalah
Sorotan terhadap kinerja guru banyak dikritisi oleh kalangan masyarakat, mulai dari kompetensi hingga fungsi dan tugas yang diembannya. Kinerja guru merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sebuah system mulai dari input, proses dan output, dalam upaya mencapai tujuan suatu lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta.
Oleh karena itu, upaya peningkatan kinerja guru dari segi profesionalisme sebagai tenaga pendidik mutlak diperlukan. Menyikapi pentingnya kinerja guru, pemerintah telah mengesahkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Hadirnya Undang-undang Guru dan Dosen tentunya memiliki alasan yang kuat, sebab keberadaan guru yang berkualitas dan berdedikasi tinggi merupakan langkah penting untuk meningkatkan sumber daya manusia.[1]
Menurut imam Al-Ghazali seorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya itu, dialah yang dinamakan orang besar di bawah kolong langit ini. Ia bagai matahari yang mencahayai orang lain, sedangkan ia sendiri pun bercahaya. Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain. Ia sendiri pun wangi.[2]
Sehubungan dengan hal tersebut, kinerja guru tidak bisa terwujud begitu saja, tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Baik faktor internal maupun eksternal yang sama-sama membawa dampak terhadap kinerja guru.[3]
Dengan demikian, dalam penyusunan makalah ini kami kelompok 1 mencoba mengangkat permasalahan yang dialami guru dengan judul “Kinerja Guru dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya”.
  1. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Kinerja Guru?
2.      Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja Guru?
3.      Bagaimana strategi peningkatan kinerja Guru? 
  1. Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian kinerja Guru.
2.      Untuk mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja Guru.
3.      Untuk mengetahui strategi peningkatan kinerja Guru.
BAB II
PEMBAHASAAN
  1. Pengertian Kinerja Guru
Kata kinerja merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu dari kata performance. Kata performance berasal dari kata to perform yang berarti menampilkan atau melaksanakan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, atau kemampuan kerja. Menurut Mangkunegara, kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh pengawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Sedangkan menurut Tjutju dan Suwatno, kinerja merupakan prestasi nyata yang ditampilkan seseorang setelah yang bersangkutan menjalankan tugas dan perannya dalam organisasi. Sementara Simamora lebih tegas menyebutkan bahwa kinerja mengacu kepada kadar pencapain tugas-tugas yang membentuk sebuah pekerjaan seseorang. Kinerja merefleksikan seberapa baik karyawan memenuhi persyaratan sebuah pekerjaan.[4]
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa kinerja adalah tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab dan wewenangnya berdasarkan standar kinerja yang telah ditetapkan selama periode tertentu dalam kerangka mencapai tujuan organisasi.
Sementara itu, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran siswa. Oleh sebab itu, guru sebagai kuli pendidikan yang profesional di kelas pembelajaran siswa menuju kepribadian yang utuh, menyaratkan sepuluh kompetensi dasar yang harus melekat padanya. Sepuluh kompetensi ini, menurut Nana Sudjana, A.Muri Yusuf, dan Rochman Natawidjaja adalah sebagai berikut:
1)      Menguasai bahan yang akan diajarkan
2)      Mengelola program belajar mengajar
3)      Mengelola kelas
4)      Menggunakan media/sumber belajar
5)      Menguasai landasan-landasan kependidikan
6)      Mengelola interaksi belajar mengajar
7)      Menilai prestasi siswa
8)      Mengenal fungsi dan program bimbingan dan konseling
9)      Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
10)  Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian
Operasionalisasi kompetensi dasar di atas, demikian menurut Natawidjaja, menekankan pentingnya kinerja terpadu seorang guru dalam melaksanakan profesinya. Jadi, kompetensi profesional guru akan memadai jika ditopang oleh kompetensi personal dan sosial yang baik sehingga mengantarkannya pada pembelajaran/pengajaran yang baik.[5]
Terdapat beberapa model kinerja (performance) guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, di antaranya adalah:
a.       Model Rob Norris menyaratkan akumulasinya beberapa komponen kompetensi mengajar yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu:
-          Kualitas-kualitas personal dan profesional
-          Persiapan mengajar
-          Perumusan tujuan pengajaran
-          Penampilan guru dalam mengajar di kelas
-          Penampilan siswa dalam belajar dan
-          Evaluasi
b.      Model Oregan mengelompokkan kompetensi/kemampuan mengajar ke dalam lima kelompok, yaitu:
-          Perencanaan dan persiapan mengajar
-          Kemampuanan guru dalam mengajar dan kemampuan siswa dalam belajar
-          Kemampuan mengumpulkan dan menggunakan informasi hasil belajar
-          Kemampuan hubungan interpersonal yang meliputi siwa, supervisor dan guru sejawat
-          Kemampuan hubungan dengan tanggung jawab profesional
c.       Model Stanford membagi kemampuan mengajar guru ke dalam lima komponen. Tiga dari lima komponen tersebut dapat diobservasi di kelas meliputi, komponen tujuan, komponen guru mengajar, dan komponen evaluasi.[6]
 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru
a.      Faktor Internal
Faktor internal kinerja guru adalah faktor yang datang dari dalam diri guru yang dapat memengaruhi kinerjanya, seperti: kemampuan, keterampilan, kepribadian, persepsi, motivasi menjadi guru, pengalaman lapangan, dan latar belakang keluarga.
Faktor internal tersebut pada dasarnya dapat direkayasa melalui pre-service training  yaitu cara yang dapat dilakukan  dengan menyeleksi calon guru secara ketat, penyelenggraan proses pendidikan guru yang berkualitas, dan penyaluran lulusan yang sesuai dengan bidangnya. Sedangkan in-service training, yaitu cara yang bisa dilakukan dengan menyelenggarakan diklat yang berkualitas secara berkelanjutan.[7]
Selain itu, faktor internal Kinerja Guru adalah sistem kepercayaan yang menjadi pandangan hidup (way of life) seorang guru besar sekali pengaruh yang ditimbulkannya dan bahkan, yang paling berpotensi bagi pembentukan etos kerjanya. Meskipun dalam realitas empirisnya (emphirical reality) etos kerja seseorang tidak semata-mata bergantung pada nilai-nilai agama (sistem kepercayaan) dan pandangan teologis yang dianutnya, tetapi pengaruh pendidikan , informasi, dan komunikasi juga bertanggung jawab bagi pembentukan suatu kerja.[8]
b.      Faktor eksternal
Faktor eksternal guru adalah faktor yang datang dari luar guru yang dapat memengaruhi kinerjanya antara lain adalah:
  1. Gaji
Gaji merupakan salah satu bentuk kompensasi atas prestasi kerja yang diberikan oleh pemberi kerja kepada pekerja. Menurut Handoko, kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima para karyawan sebagai balas jasa untuk kerja mereka. Sedangkan menurut Tjutju dan Suwatno besar kecilnya kompensasi menggambarkan tingkat kontribusi karyawan terhadap organisasi dan besar kecilnya kompensasi juga menggambarkan besar kecilnya tanggung jawab pekerjaan yang diemban oleh seorang karyawan dalam sebuah organisasi.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mengoptimalkan kinerja guru langkah yang perlu dilakukan ialah memberikan gaji yang layak sesuai dengan tingkat kinerja yang diharapkan.
  1. Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana sekolah sangat menunjang pekerjaan guru. Kita bisa membandingjkan antara guru yang dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai dengan guru yang tidak dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Guru yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai akan menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada guru yang tidak dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai.
  1. Lingkungan Kerja Fisik
Menurut Nitisemito, lingkungan kerja fisik adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja dan yang dapat memengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Lingkungan kerja merupakan faktor situasional yang berpengaruh terhadap kinerja pegawai, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja dapat diubah sesuai dengan keinginan pendesainnya. Oleh karena itu, menurut Zaenal dan Suharyo, lingkungan kerja harus ditangani atau didesain agar menjadi kondusif terhadap pekerja untuk melaksanakan kegiatan dalam suasana yang aman dan nyaman.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi lingkungan kerja fisik, yaitu: pencahayaan, pewarnaan, udara, kebersihan, kebisingan, dan keamanan.
  1. Kepemimpinan
Menurut Harris gaya kepemimpinan antara lain, adalah;
-          The Autocratic Leader gaya kepemimpinan ini menganggap bahwa semua kewajiban untuk mengambil keputusan, untuk menjalankan tindakan, dan untuk mengarahkan, memberi motivasi, dan mengawasi bawahannya terpusat di tangannya.
-          The Participative Leader gaya ini menjalankan kepemimpinan dengan konsultasi, tidak mendelegasikan wewanangnya untuk membuat keputusan akhir dan unutk memberikan pengarahan tertentu kepada bawahannya, tetapi ia mencari beberapa pendapat dan pemikiran dari para bawahan mengenai keputusan yang akan diambil.
-          The Free Rein Leader gaya kepemimpinan ini mendelegasikan wewenang untuk mengambil keputusan kepada para bawahan dengan agak lengkap.
Jadi, tiga pola dasar gaya kepemimpinan tersebut, mementingkan pelaksanaan tugas, hubungan kerjasama, dan hasil yang dapat dicapai. Dengan demikian, gaya kepemimpinan yang paling tepat adalah suatu gaya yang dapat memaksimumkan produktivitas, kepuasan kerja, penumbuhan, dan mudah menyesuaikan dengan segala situasi.
Oleh karena itu, mengusahakan kepemimpinan yang baik adalah sebuah keharusan dalam upaya meningkatkan kinerja guru.[9]
  1. Strategi Peningkatan Kinerja Guru
Rendahnya kinerja guru dapat menurunkan mutu pendidikan dan menghambat tercapainya visi di suatu sekolah. Oleh karena itu, kinerja guru harus dikelola dengan baik dan dijaga agar tidak mengalami penurunan. Bahkan, seharusnya selalu diperhatikan agar mengalami peningkatan secara terus  menerus.
Menurut Uhar, upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kinerja pengawai pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan organisasi yang tidak pernah berakhir. Bicara mengenai peningkatan kinerja, perlu adanya strategi yang mampu mendorong peningkatan kinerja secara optimal. Proses peningkatan kinerja tersebut dapat dilakukan dengan  beberapa tahapan, yaitu; meningkatkan prestasi bawahan, meningkatkan kebiasaan kerja, melakukan tindak lanjut yang efektif, melakukan tindakan disiplin yang efektif, dan memelihara prestasi yang meningkat.
Ada dua strategi penting yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru, yaitu; pelatihan dan motivasi kinerja. Pelatihan digunakan untuk menangani rendahnya kemampuan guru. Sedangkan motivasi kinerja digunakan untuk menangani rendahnya semangat dan gairah kerja.[10]
 BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Kinerja adalah tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab dan wewenangnya berdasarkan standar kinerja yang telah ditetapkan selama periode tertentu dalam kerangka mencapai tujuan organisasi.
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran siswa, menyaratkan sepuluh kompetensi dasar yang harus melekat padanya.
Kinerja guru tidak bisa terwujud begitu saja, tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Baik faktor internal maupun eksternal yang sama-sama membawa dampak terhadap kinerja guru.
Ada dua strategi penting yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru, yaitu; pelatihan dan motivasi kinerja. Pelatihan digunakan untuk menangani rendahnya kemampuan guru. Sedangkan motivasi kinerja digunakan untuk menangani rendahnya semangat dan gairah kerja
 DAFTAR RUJUKAN
Mohammad Muchlis Solichin, Memotret Guru Ideal-Profesional, Surabaya: Pena Salsabila, 2013,  Ed
Siswanto, Etika Profesi Guru Pendidikan Agama Islam, Surabaya: Pena Salsabila, 2013.
Barnawi & Mohammad Arifin, Kinerja Guru Profesional, Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014.
Ahmad Barizi, Menjadi Guru Unggul¸Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009


[1] Mohammad Muchlis Solichin, Memotret Guru Ideal-Profesional, Surabaya: Pena Salsabila, 2013,  Ed. Hlm. 87
[2] Siswanto, Etika Profesi Guru Pendidikan Agama Islam, Surabaya: Pena Salsabila, 2013. Hlm, 110
[3] Barnawi & Mohammad Arifin, Kinerja Guru Profesional, Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014. Hlm. 43
[4] Barnawi & Mohammad Arifin, Kinerja Guru Profesional, Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014. Hlm. 11-12
[5] Ahmad Barizi, Menjadi Guru Unggul¸Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009. Hlm. 150
[6] Ibid, Hlm. 151
[7] Ibid, Hlm. 43
[8] Ibid, Hlm. 152
[9] Ibid, Hlm. 44-75
[10] Ibid, Hlm, 78-80

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Label