Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Sabtu, 16 Februari 2019

BUDAYA ORGANISASI

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dalam sebuah organisasi pasti mempunyai budaya karena ini menjadi salah satu pembeda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Budaya dalam sebuah organisasi ada yang sesuai dan ada juga yang tidak sesuai sehingga seorang anggota baru atau karyawan yang tidak sesuai dengan budaya organisasi tersebut harus dapat menyesuaikan agar dapat bertahan di organisasi tersebut.
Budaya organisasi ini dapat membuat suatu organisasi menjadi terkenal dan bertahan lama. Yang jadi masalah tidak semua budaya organisasi dapat menjadi pendukung organisasi itu. Ada budaya organisasi yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Maksudnya tidak dapat menyocokkan diri dengan lingkungannya, dan lebih ditakutkan lagi organisasi itu tidak mau menyesuaikan budayanya dengan perkembangan zaman karena dia merasa paling benar.
Dalam keadaan inilah anggota tidak akan mendapatkan kepuasan kerja. Memang banyak faktor lain yang menyebabkan anggota tidak memperoleh kepuasan kerja, tapi faktor budaya organisasi merupakan faktor yang utama.
Baca Juga
KONSEP DASAR KEPEMIMPINAN
B.Rumusan Masalah
a.Apa pengertian budaya dan organisasi?
b.Apa pengertian budaya organisasi?
c.Mengapa budaya sangat penting dalam oraganisasi?
d.Apa yang menjadi faktor penentu terbentuknya budaya organisasi?
e.Bagaimana tipe, fungsi dan karakteristik budaya organisasi?
f.Bagaimana pengaruh budaya keja terhadap manajemen organisasi pendidikan Islam?

C.Tujuan Pembahasan
a.Untuk mengetahui pengertian budaya dan organisasi
b.Untuk mengetahui pengertian budaya organisasi
c.Untuk mengetahui pentingnya budaya dalam organisasi
d.Untuk mengetahui faktor penentu terbentukya budaya organisasi
e.Untuk mengetahui tipe, fungsi dan karakteristik budaya organisasi
f.Untuk mengetahui pengaruh budaya kerja terhadap manajemen organisasi pendidikan Islam?

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Budaya dan Organisasi
1.Pengertian Budaya
Krober dan kluchon tahun 1952 menemukan 164 definisi budaya. Taliziduhu Ndraha dalam bukunya Budaya Organisasi mengemukakan pendapat Edward Burnett dan Vijay Sathe, sebagai berikut.
1.Vijay Sathe: “Culture is the set of important assumption (opten unstated) that members of a community share in common.” (Budaya adalah seperangkat asumsi penting yang dimiiki bersama anggota masyarakat).[ U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2012), hlm. 87]
2.Edgar H.Schein: “Budaya adalah pola asumsi dasar yang diciptakan, ditemukan, atau dikembangkan oleh kelompok tertentu sebagai pembelajaran untuk mengatasi masalah, adaptasi eksternal dan integrasi internal yang resmi dan terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, budaya diajarkan/diwariskan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang tepat memahami, memikirkan, dan merasakan terkait dengan masalah-masalah tersebut.”
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai budaya, yaitu sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, meliputi sistem ide yang terdapat dalam pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat absrak. Adapun perwujudan budaya berupa benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lainnya, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia melangsungkan kehidupan bermasyarakat. [ Ibid, hlm. 88]
2.Pengertian Organisasi
Organisasi dalam bahasa yunani berasal dari kata organon yang berarti alat. Pengertian organisasi telah telah banyak disampaikan para ahli, tetapi pada dasarnya tidak ada perbedaan yang prinsip, dan berbagai bahan perbandingan, berikut disampaikan beberapa pengertian organisasi.
a.Chester I. Barnard (1938) dalam bukunya The Executive functions mengemukakan, “organisasi adalah sistem kerja sama antara dua orang atau lebih.”
b.James D. Mooney mengatakan, “organisasi adalah setiap bentuk kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.”
c.Robbins, S.P., (1986) mengatakan, “organisasi adalah suatu sistem yang terdiri atas pola aktivitas kerja sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan.”
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sekumpulan orang dapat dikatakan sebagai organisasi jika memenuhi empat unsur pokok, yaitu:
1.Organisasi merupakan sistem;
2.Adanya pola aktivitas;
3.Adanya sekelompok orang;
4.Adanya tujuan yang telah diterapkan;
5.Kerja sama;
6.Sistem koordinasi;
7.Pembagian tugas dan tanggung jawab;
8.Sumber daya organisasi;[ Ibid, hlm. 92-94]
B.Pengertian Budaya Organisasi
Budaya organisasi telah banyak didefinisikan oleh pakar manajemen/organisasi. Berikut adalah beberapa definisi tentang budaya organisasi.
1.Michael Amstrong mengemukakan bahwa budaya organisasi adalah pola sikap, keyakinan, asumsi, dan harapan yang dimiliki bersama, yang munkin tidak dicatat, tetapi membentuk cara bagaimana orang-orang bertindak dan berinteraksi dalam organisasi dan mendukung bagaimana hal-hal dilakukan.
2.Davis (1984) menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan pola keyakinan dan nilai-nilai organisasi yang dipahami, dijiwai, dan dipraktikkan organisasi sehingga pola tersebut memberikan arti tersendiri dan menjadi dasar aturan berperilaku dalam organisasi.[ Didin Kurniadin, Manajemen Pendidikan (Jogjakrta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm. 246]
C.Pentingnya Budaya Bagi Organisasi Bisnis
Sebagaimana diterangkan di muka, budaya organisasi pada dasarnya merupakan nilai-nilai dan norma yang dianut dan dijalankan oleh sebuah organisasi terkait dengan lingkungan dimana organisasi tersebut menjalankan kegiatannya. Budaya Organisasi penting sekali untuk dipahami karena banyak pengalaman menunjukkan bahwa ternyata budaya organisasi ini tidak saja berbicara mengenai bagaimana sebuah organisasi bisnis menjalankan kegiatan sehari-hari, tetapi juga sangat mempengaruhi bagaimana kinerja yang dicapai oleh sebuah organisasi bisnis. Sebagai contoh perusahaan Levi Strauss menganggap bahwa salah satu kunci kesuksesan bisnisnya adalah disebabkan oleh budaya organisasi yang telah dibangun di sebuah bangunan selama kurang lebih 68 tahun. Di sebabkan perkembangan bisnis yang pesat, para eksekutif di Levi Strauss berfikir untuk memindahkan perusahaannya ke bangunan yang lebih luas dan besar. Apa yang kemudian terjadi? Setelah mereka pindah ke bangunan 12 lantai, para eksekutif justru menemukan bahwa para anggota perusahaan tidak menikmati kepindahan kegiatan di bangunan yang baru, dan kinerja perusahaan justru menurun. Akhirnya eksekutif Levi Strauss memindahkan kembali kegiatannya ke gedung yang lama. Para anggota perusahaan menganggap bahwa gedung yang lama lebih membuat mereka merasa nyaman dalam bekerja, karena kesannya yang informal, dan dapat melakukan interaksi secara lebih mudah. Ternyata budaya informal yang dibangun di perusahaan Levi Strauss memegang kunci kesuksesannya.[ Nashar, Dasar-dasar Manajemen (Surabaya: Pena Salsabila, 2013),hlm. 83]
Budaya organisasi pada dasarnya merupakan apa yang dirasakan, diyakini, dan dijalani oleh sebuah organisasi. Bank Amerika misalnya memiliki budaya organisasi untuk bekerja secara formal, ketat, bahkan cenderung kaku dalam menjalankan peraturan. Para pegawai di perusahaan ini harus memakai pakaian yang sangat formal seperti kemeja, dasi, dan jas. Berbeda dengan perusahaan texas instruments yang menerapkan budaya organisasi di mana pengguna dasi merupakan sesuatu yang dihindari dalam bekerja, dan mereka cenderung untuk berbusana secara informal dan casual, seperti t-shirt, kaos, dan sebagian pekerjanya menggunakan jaket.
Budaya organisasi akan sangat berbeda dari satu perusahaan dengan perusahaan lain. Namun pada intinya yang di anut oleh sebuah perusahaan akan menentukan bagaimana kesuksesan dapat mereka raih. Namun demikian, budaya organisasi berbeda tidak saja antar perusahaan, namun juga antar bagian di sebuah perusahaan.bagian pemasaran dan SDM barangkali memiliki budaya organisasi yang lebih fleksibel dibandingkan dengan bagian keungan dan produksi. Oleh karena kecenderungan ini ada di setiap organisasi, maka budaya organisasi merupakan faktor yang akan menentukan bagaimana tujuan dapat dicapai secara efektif dan efisien.[ Ibid, hlm. 84]

D.Faktor Penentu Terbentuknya Budaya Organisasi
kita barangkali akan bertanya-tanya dari mana sesungguhnya budaya organisasi itu ada. Berdasarkan catatan teoritis dan empiris, budaya organisasi merupakan nilai dan keinginan yang dipegang oleh sebuah organisasi dari sejak organisasi tersebut terbentuk, tumbuh, dan berkembang. Apa yang dirasakan, dialami oleh setiap perusahaan mulai mereka membangun bisnisnya hingga kesuksesan bahkan juga tidak juga terkecuali kegagalan yang pernah dialaminya, membangun sebuah budaya dalam organisasi.sebuah perusahaan akan menemukan bahwa dari sekian tahun perjalanan bisnisnya banyak hal yang kemudian dapat dijadikan nilai-nilai dan norma yang dapat dipegang teguh oleh organisasi untuk meraih sukses dalam jangka panjang.[ Ibid, hlm. 84]
Berdasarkan pemahaman di atas, faktor yang menentukan terbentuknya budaya organisasi adalah pengalaman yang dijalani oleh organisasi itu sendiri. Pengalaman bisa berupa kesuksesan maupun kegagalan. Kesuksesan bisa disebabkan karena karena adanya konsep bisnis yang tepat, pendekatan manajemen yang terbaik dan lain-lain. Sebaliknya kegagalan dapat disebabkan oleh ketidaktepatan konsep bisnis yang dijalankan, pendekatan manajemen yang buruk atau bahkan mungkin faktor lingkungan eksternal yang tidak sanggup diantisipasi oleh perusahaan. Fase-fase kesuksesan dan kegagalan ini pada dasarnya menentukan bagaimana budaya organisasi terbentuk dan diyakini kemudian oleh organisasi tersebut sebagai sebuah konsep norma dan nilai yang dianut dan mempengaruhi keseluruhan cara kerja perusahaan.[ Ibid, hlm. 85]
E.Tipe, Karakteristik, dan Fungsi Budaya
1.Tipe Budaya Organisasi
Noe dan Mondy (1996:237) membedakan tipe budaya organisasi dalam dua kelompok, yaitu:
1) Open and participative culture;
2)Closed and autocratic culture. Open and participative culture ditandai oleh adanya kepercayaan terhadap bawahan, komunikasi yang terbuka, kepemimpinan yang sportif dan penuh perhatian, penyelesaian masalah secara kelompok, adanya otonomi pekerja, sharing informasi, serta pencapaian tujuan yang output-nya tinggi.
Closed and autocratic culture ditandai oleh pencapaian tujuan output yang tinggi, namun pencapaian tersebut mungkin lebih dinyatakan dan dipaksakan pada organisasi dengan para pemimpin yang otokrasi dan kuat. Semakin besar rigiditas dalam budaya ini, yang merupakan hasil kepatuhan yang ketat terhadap suatu mata rantai komando formal, semakin sempit pula tentang manajemen dan akuntabilitas individual. Selain itu, karakteristik ini lebih menekankan pada individual daripada teamwork.[ Didin Kurniadin, Ibid, hlm. 247-248]
2.Fungsi Budaya Organisasi
a.perasaan identitas dan menambah komitmen organisasi
b.alat pengorganisasian anggota
c.menguatkan nilai-nilai dalam organisasi
d.mekanisme kontrol perilaku (Nelson dan Quick, 1997), pembeda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya.
e.Membangun rasa identitas bagi anggota organisasi
f. Mempermudah tumbuhnya komitmen
g.Meningkatkan kemantapan sistem sosial, sebagai perekat sosial, menuju integrasi organisasi.[ U. Saefullah, Ibid, hlm. 101]
3.Karakteristik Budaya Organisasi
Susanto (1997: 17) mengemukakan sepuluh karakteristik budaya organisasi sebagai berikut.
1. Inisiatif individu: seberapa jauh inisiatif seseorang dikehendaki dalam perusahaan. Hal ini meliputi tanggung jawab, kebebasan, dan indepedensi dari masing-masing anggota organisasi, dalam artian seberapa besar seseorang diberi wewenang dalam melaksanakan tugasnya, seberapa berat tanggung jawab yang harus dipikul sesuai dengan kewenangannya dan seberapa luas kebebasan mengmbil keputusan.
2. Toleransi terhadap risiko: menggambarkan seberapa jauh sumber daya manusia didorong untuk lebih agresif, inovatif, dan mau menghadapi risiko dalam pekerjaannya.
3. Pengarahan: berkenaan dengan kejelasan sebuah organisasi dalam menentukan objek dan harapan terhadap sumber daya manusia terhadap hasil kerjanya. Harapan tersebut dapat dituangkan dalam bentuk kuantitas, kualitas, dan waktu.
4.Integrasi: seberapa jauh keterkaitan dan kerja sama yang ditekankan dalam melaksanakan tugas dari masing-masing unit di dalam suatu organisasi dengan koordinasi yang baik.
5.Dukungan manajemen: dalam hal ini seberapa jauh para manajer memberikan komunikasi yang jelas, bantuan, dan dukungan terhadap bawahannya dalam melaksanakan tugasnya.
6.Pengawasan: meliputi peraturan-peraturan dan supervisi langsung yang digunakan untuk melihat secara keseluruhan dari perilaku karyawan.
7.Identitas: menggambarkan pemahaman anggota organisasi yang loyal kepada organisasi secara penuh dan seberapa jauh loyalitas karyawan tersebut terhadap organisasi.
8.Sistem penghargaan pun akan dilihat dalam budaya organisasi, dalam arti pengalokasian reward (kenaikan gaji, promosi) berdasarkan kriteria hasil kerja karyawan yang telah ditentukan.
9.Toleransi terhadap konflik: menggambarkan sejauh mana usaha untuk mendorong karyawan agar bersikap kritis terhadap konflik yang terjadi.
10.Pola komunikasi yang terbatas pada hierarki formal dari setiap perusahaan.[ Didin Kurniadin, Ibid, hlm. 254-255]
F.Pengaruh Budaya Kerja terhadap Manajemen Organisasi Pendidikan Islam
Salah satu yang berpengaruh terhadap manajemen lembaga pendidikan islam adalah adanya budaya kerja dalam organisasi. Budaya kerja sudah lama dikenal oleh umat manusia, tetapi belum disadari bahwa suatu keberhasilan kerja berakar pada nilai-nilai yang dimiliki dan perilaku yang menjadi kebiasaannya. Nilai-nilai tersebut bermula dari adat kebiasaan, agama, norma, dan kaidah yang menjadi keyakinannya menjadi kebiasaan dalam perilaku kerja atau organisasi. Nilai-nilai yang telah menjadi kebiasaan tersebut dinamakan budaya. Oleh karena budaya dikaitkan dengan kualitas kerja, dinamakan budaya kerja.[ U. Saefullah, Ibid, hlm. 103]
Budaya kerja merupakan pandangan hidup yang menjadi nilai, kebiasaan, kekuatan, dan pendorong dalam kehidupan kelompok masyarakat atau organisasi, yang tercermin pada sikap dan perilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat, dan tindakan dalam pekerjaan dan profesionalisme. Budaya kerja organisasi meliputi manajemen pengembangan, perencanaan, produksi, dan pelayanan produk yang berkualitas, ekonomis, dan memuaskan.
Dengan demikian, budaya kerja menggambarkan hal-hal berikut:
1.Kualitas manusia berkaitan dengan identitas bangsa yang menjadi tolok ukur dalam pembangunan.
2.Integritas bangsa yang menjamin kesinambungan kehidupan bangsa.
3.Falsafah bangsa yang mendorong prestasi kerja.
4.Reformasi kinerja dan tanpa henti melakukan penyempurnaan dan perbaikan.
5.Perilaku kerja yang tercermin pada sikap disiplin, kerja keras, ulet, produktif, tanggung jawab, motivasi, manfaat, kreatif, dinamis, konsekuen, konsisten, responsif, mandiri, dan penuh tanggung jawab (Umam, 2012: 18).[ U. Saefullah, Ibid, hlm. 104]
Budaya kerja dalam organisasi berdampak positif pada manajemen kelembagaan pendididkan islam, yaitu sebagai berikut:
1.Menghargai waktu
2.Bekerja dengan sebaik mungkin
3.Bekerja secara profesional
4.Bekerja dengan jujur dan berniat ibadah
5.Meningkatkan prestasi kerja
6.Kinerja yang optimal
7.Membangun manajemen keterbukaan
8.Kompetisi yang sehat
9.Menghilangkan kolusi, nepotisme, dan korupsi
10.Menerapkan cara kerja yang efektif dan efisien
11.Kepemimpinan yang karismatik dan demokratis
12.Membuka peluang yang sama untuk semua pegawai dalam mengembangkan prestasi, karier, dan jabatannya.
13.Melaksanakan kepemimpinan atas dasar kekuasaan yang sah, mekanisme sistem informasi yang baik, dan partisipasi aktif dari bawahan.
14.Membangun prinsip-prinsip etika manajemen dalam lembaga pendidikan islam. Prinsip-prinsip etika manajemen menurut Supriadi (2007: 20) dalah sebagai berikut.
a.Prinsip keindahan (beauty)
Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang terhadap keindahan. Banyak filsuf mengatakan bahwa hidup dan kehidupan manusia merupakan keindahan. Dengan demikian, berdasarkan prinsip ini, etika manusia berkaitan atau memerhatikan nilai-nilai keindahan. Etika dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang dilandasi oleh nilai-nilai estetika antara lain diwujudkan dengan perancangan tata ruang, furnitur, dan hiasan dinding serta eksesoris lainnya yang bersifat islami dan menarik.[ U. Saefullah, Ibid, hlm. 105]
b.Prinsip persamaan (equality)
Hakikat kemanusiaan menghendaki adanya persamaan antara manusia. Setiap manusia yang terlahir di bumi memiliki hak dan kewajiban masing-masing, pada dasarnya adalah sama atau sederajat. Konsekuensi dari ajaran persamaan ras juga menuntut persamaan di antara beraneka ragam etnis. Etika yang dilandasi oleh prinsip persamaan (equality) ini dapat menghilangkan perilaku diskriminatif, yang membeda-bedakan dalam berbagai aspek interaksi manusia. Guru misalnya, tidak dapat membeda-bedakan tingkat pelayanan terhadap muridnya. Yang membedakan dalam pemberian layanan guru kepada muridnya adalah tinggi rendahnya tinggi tingkat urgensinya, sehingga dapat diberikan prioritas-prioritas tertentu.
c.Prinsip kebaikan (goodness)
Secara umum, kebaikan berarti sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. Perkataan baik (good) mengandung sifat seperti persetujuan, pujian, keunggulan, kekaguman, atau ketepatan. Dengan demikian, prinsip kebaikan sangat erat kaitannya dengan hasrat dan cita manusia. Apabila orang menginginkan kebaikan dari suatu ilmu pengetahuan, misalnya, ia akan mengandalkan objektivitas ilmiah, kemanfaatan pengetahuan, rasionalitas, dan sebagainya. Jika menginginkan kebaikan tatanan sosial, yang diperlakukan adalah sikap-sikap sadar hukum, saling menghormati, perilaku yang baik (good habits), dan sebagainya. Jadi, lingkup dari ide atau prinsip kebaikan bersifat universal. Kebaikan ritual dari agama yang satu mungkin berlainan dengan agama yang lain. Akan tetapi, kebaikan agama yang berkenaan dengan masalah kemanusiaan, hormat-menghormati di antara sesama, berbuat baik kepada orang lain, kasih sayang, dan sebagainya merupakan nilai-nilai kebaikan yang sudah pasti diterima.
Dalam lembaga pendidikan Islam, tujuan penyelengaraan, pembagunan, dan pelayanan pada dasarnya menciptakan kebaikan dan perbaikan bagi anggota lembaga.[ U.Saefullah, Ibid, hlm. 106]
d.Prinsip keadilan (justice)
Suatu definisi tertua yang hingga kini masih sangat relevan untuk merumuskan keadilan (justice berasal dari zaman Romawi Kuno) adalah justitia est contants et perpetua voluntas jus suum cuique tribuendi (keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya)
e.Prinsip kebebasan (liberty)
Secara sederhana, kebebasan dapat dirumuskan sebagai keleluasaan untuk bertindak atau tidak bertindak berdasarkan pilihan yang tersedia bagi seseorang. Kebebasan muncul dari doktrin bahwa setiap orang memiliki hidupnya sendiri, dan memiliki hak untuk bertindak menurut pilihannya sendiri kecuali jika pilihan tindakan tersebut melanggar kebebasan yang sama dari orang lain sehingga kebebasan manusia mengandung pengertian:
1)Kemampuan untuk menentukan sendiri;
2)Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan.
Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab, dan begitu pula tidak ada tanggungjawab tanpa kebebasan. Semakin besar kebebasan yang dimiliki oleh seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang dipikulnya.
f.Prinsip kebenaran (truth)
Ide kebenaran biasanya dipakai dalam pembicaraan mengenai logika ilmiah, sehingga diketahui adanya kriteria kebenaran dalam berbagai cabang ilmu, misalnya matematika, ilmu fisika, biologi, sejarah, dan filsafat. Akan tetapi, ada pula kebenaran mutlak yang dapat dibuktikan dengan keyakinan, bukan dengan fakta empiris dan positivistis. Kebenaran harus dapat dibuktikan dan ditunjukkan kepada masyarakat agar masyarakat meyakininya secara rasional. Oleh karena itu, kebenaran dalam konteks pemikiran dengan keyakinan agama perlu dibedakan. Kebenaran dalam pemikiran bersifat relatif, sedangkan kebenaran karena keyakinan dapat bersifat absolut.[ Ibid, hlm. 107]

BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
1.Budaya adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, meliputi sistem ide yang terdapat dalam pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat absrak. Sedangkan, organisasi adalah organisasi adalah suatu sistem yang terdiri atas pola aktivitas kerja sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan.
2.Budaya organisasi adalah pola keyakinan dan nilai-nilai organisasi yang dipahami, dijiwai, dan dipraktikkan organisasi sehingga pola tersebut memberikan arti tersendiri dan menjadi dasar aturan berperilaku dalam organisasi.
3.Budaya bagi organisasi bisnis penting sekali untuk dipahami karena banyak pengalaman menunjukkan bahwa ternyata budaya organisasi ini tidak saja berbicara mengenai bagaimana sebuah organisasi bisnis menjalankan kegiatan sehari-hari, tetapi juga sangat mempengaruhi bagaimana kinerja yang dicapai oleh sebuah organisasi bisnis.
4.Faktor yang menentukan terbentuknya budaya organisasi adalah pengalaman yang dijalani oleh organisasi itu sendiri. Pengalaman bisa berupa kesuksesan maupun kegagalan.
5.Tipe dalam budaya organisasi adalah Open and participative culture dan Closed and autocratic culture.
Fungsi budaya organisasi adalah Perasaan identitas dan menambah komitmen organisasi, alat pengorganisasian anggota dan menguatkan nilai-nilai dalam organisasi.
Karakteristik budaya organisasi adalah Inisiatif individu, toleransi terhadap risiko, pengarahan, integrasi, dukungan manajemen, pengawasan, identitas, sistem penghargaan pun akan dilihat dalam budaya organisasi, Toleransi terhadap konflik, pola komunikasi yang terbatas pada hierarki formal dari setiap perusahaan.
6.Yang berpengaruh terhadap manajemen lembaga pendidikan islam adalah adanya budaya kerja dalam organisasi.

DAFTAR PUSTAKA
Saefullah, U. Manajemen Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia. 2012
Kurniadin, Didin. Manajemen Pendidikan. Jogjakrta: Ar-Ruzz Media. 2012
Nashar. Dasar-dasar Manajemen. Surabaya: Pena Salsabila. 2013
Share:

KONSEP DASAR KEPEMIMPINAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan secara ilmiah mulai berkembang bersamaan dengan pertumbuhan manajemen ilmiah yang lebih dikenal dengan ilmu tentang memimpin. Hal ini terlihat dari banyaknya literatur yang mengkaji tentang kepemimpinan dengan berbagai sudut pandang atau perspektifnya. Kepemimpinan tidak hanya dilihat dari baik saja, akan tetapi dapat dilihat dari penyiapan sesuatu secara berencana dan dapat melatih calon-calon pemimpin.
Sejarah timbulnya kepemimpinan, sejak nenek moyang dahulu kala, kerjasama dan saling melindungi telah muncul bersama-sama dengan peradapan manusia. Kerjasama tersebut muncul pada tata kehidupan sosial masyarakat atau kelompok-kelompok manusia dalam rangka untuk mempertahankan hidupnya menentang kebuasan binatang dan menghadapi alam sekitarnya. Berangkat dari kebutuhan bersama tersebut, terjadi kerjasama antar manusia dan mulai unsur-unsur kepemimpinan.
Baca Juga
peran stakeholder dalam manajemen pendidikan
B.RUMUSAN MASALAH
1.Apa pengertian pemimpin dan kepemimpinan?
2.Jelaskan gaya atau model kepemimpinan?
3.Jelaskan fungsi-fungsi kepemimpinan?
4.Apa perbedaan kepemimpinan dan manajemen?
5.Jelaskan teori-teori kepemimpinan?

C.TUJUAN
1.Untuk mengetahui pengertian pemimpin dan kepemimpinan.
2.Untuk mengetahui gaya atau model kepemimpinan.
3.Untuk mengetahui fungsi-fungsi kepemimpinan.
4.Untuk mengetahui perbedaan kepemimpinan dan manajemen.
5.Untuk mengetahui teori-teori kepemimpinan.

BAB II
PEMBAHASAN
A.PENGERTIAN PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
Pemimpin atau lender adalah orang yang mempunyai bawahan atau orang yang mengendalikan jalannya org anisasi. Pemimpin adalah subjek atau pelaku unsur-unsur yang terdapat dalam kepemimpinan, yaitu adanya kekuasaan, pengaruh, kekuatan, dan pemegang tanggung jawabutama bagi seluruh kegiatan yang dilakukan oleh bawahannya. Meskipun tidak semua pemimpin memiliki jiwa kepemimpinan yang sama, secara timbal balik dan fungsional, kedua konsep tersebut tidak dapat dipisahkan. Dalam organisasi selalu terdapat pemimpin, yang dapat disebut dengan istilah ketua umum, kepala, direktur utama, Presiden direktur, manajer puncak, dan sebagainya. Bawahan dari pemimpin organisasi disebut ketua bidang, manajer tingkat menengah, dan manajer paling bawah, misalnya manajer pemasaran, manajer keuangan, supervisor, dan manajer operasional.[ Anton Athoillah, Dasar-dasar manajemen, (Bandung : Pustaka Setia, 2010 ) Hlm. 178. ]
Seorang pemimpin mempunyai kelebihan yang memungkinkan ia mengatur dan mengarahkan bawahannya. Superioritas seorang pemimpin akan menentukan terbentuknya sikap taat dari seluruh bawahannya. Jika seorang pemimpin kurang berwibawa, kurang tegas, dan kurang ditunjang oleh pengetahuan tentang kepemimpinan, bawahan menjadi kurang taat terhadap semua intruksinya dan menyepelekan kebijakan yang ditetapkan. Oleh karena itu, kepemimpinan berkaitan dengan keterampilan dan keahlian menggerakkan orang lain.[ Ibid. hlm 188.]
Sedangkan kepemimpinan itu sendiri, kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan para pegawai dalam melakukan pekerjaanyang telah ditugaskan kepada mereka. Sebagaimana didefinisikan oleh Stone, Freeman, dan Gilbert (1995), kepemimpinan adalah the process of directing and influencing the task-related activities of grup members. Kepemimpinan adalah proses dalam mengarahkan dan mempengaruhi para anggota dalam hal berbagai aktivitas yang harus dilakukan. Lebih jauh lagi, Griffin (2000) membagi kepemimpinan menjadi dua konsep, yaitu sebagai proses dan sebagai atribut. Sebagai proses kepemimpinan difokuskan kepada apa yang dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses dimana pemimpin menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para pegawai, bawahan, atau yang dipimpinnya, memotivasi mereka untuk mencapai tujuan tersebut, serta membantu menciptakan suatu budaya produktif dalam organisasi. Adapun dari sisi atribut kepemimpinan adalah kumpulan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu pemimpin dapat didefinisikan sebagai seorang yang memiliki tujuan kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain tanpa menggunakan kekuatan, sehingga orang-orang yang dipimpinnya menerima dirinya sebagai sosok yang layak memimpin mereka.[ Nashar, dasar-dasar manajemen, (Surabaya: pena salsabila, 2013), Hlm. 135-136.]
Secara historis, ada tiga konsep kepemimpinan sebagaimana dijelaskan Ngalim Purwanto, sebagai berikut.
1.Suatu konsep yang menganggap bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang berupa sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang ada pada diri seorang pemimpin. Dalam konsep ini kepemimpinan dapat diartikan sebagai traits within the individual leader. Seseorang dapat menjadi pemimpin karena ia memang dilahirkan seorang pemimpin dan bukan karena dibuat atau dididik untuk itu (leaders were borned and not made). Konsep ini merupakan konsep kepemimpinan yang paling tua dan paling lama dianut orang.[ Anton Athoillah, Dasar-dasar manajemen, (Bandung : Pustaka Setia, 2010) Hlm. 189.]
2.Konsep kedua memandang kepemimpinan sebagai fungsi kelompok (function of the grup). Dalam konsep ini sukses tidaknya suatu kepemimpinan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan atau sifat-sifat yang ada pada seseorang, tetapi justru yang paling penting adalah dipengaruhi oleh sifat-sifat dan cirri-ciri kelompok yang berlainan sehingga memerlukan tipe atau gaya kepemimpinan yang berbeda-beda.[ Anton Athoillah, Dasar-dasar manajemen, (Bandung : Pustaka Setia, 2010) Hlm. 190.]
3.Konsep ketiga merupakan konsep yang lebih maju lagi. Konsep ini tidak hanya didasari atas pandangan yang bersifat psikologis dan sosiologis, tetapi juga atas ekonomi dan politis.[ Ibid ]
Dengan adanya ketiga konsep kepemimpinan tersebut, arti kepemimpinan dapat dikemukakan sebagai berikut.
1.Prajudi Atmosudirdjo dalam Ngalim Purwanto mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kepribadian (personality) seseorang yang mendatangkan keinginan pada sekelompok orang untuk mencontohnya atau mengikutinya, atau seseorang yang memancarkan pengaruh tertentu, kekuatan atau wibawa, sedemikian rupa sehingga membuat sekelompok orang bersedia melakukan apa yang dikehendakinya.[ Ibid, hlm, 191.]
2.Kepemimpinan dapat pula dipandang sebagai penyebab dari berbagai kegiatan, proses atau kesediaan untuk mengubah pandangan atau sikap (mental/fisik) dari kelompok orang, baik dalam hubungan organisasi formal dan informal.[ Ibid ]
3.Kepemimpinan dalah suatu seni, kesanggupan (ability) atau teknik untuk membuat sekelompok bawahan dalam organisasi formal atau para pengikut atau simpatisan dalam organisasi informal mengikuti atau menaati segala apa yang dikehendakinya, membuat mereka memiliki antusianisme dan semangat untuk semangat mengikutinya, atau bahkan berkorban untuknya.[ Ibid ]

B. GAYA ATAU MODEL KEPEMIMPINAN
Menurut Sondan P. Siagian ada empat gaya kepemimpian, yaitu sebagai berikut:
1.Gaya kepemimpinan otokratis, pemimpin otokratis adalah pemimpin yang memiliki wewenang (authority) dari suatu sumber (misalnya, karena posisinya), pengetahuan, kekuatan atau kekuasaan untuk memberikan penghargaan ataupun menghukum. Ciri-ciri seorang pemimpin yang otokratis diantaranya sebagai berikut.
a.Menganggap organisasi sebagai milik pribadi;
b.Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi;
c.Tidak mau menerima kritik, saran, dan pendapat.[ Anton Athoillah, Dasar-dasar manajemen, (Bandung : Pustaka Setia, 2010) Hlm, 204.]
2.Gaya kepemimpinan militeristis ialah seorang pemimpin yang lebih sering mempergunakan sistem pemerintah dan bergantung pada pangkat dan jabatan.[ Ibid ]
3.Gaya kepemimpinan paternalistik ialah seorang pemimpin yang menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa dan bersikap terlalu melindungi (overly protective).[ Ibid, hlm. 205.]
4.Gaya kepemimpinan yang demokratis ialah kebalikan dari gaya otokratis, gaya kepemimpinan demokratis disebut juga dengan gaya kepemimpinan modernis dan parsitipatif. Dalam pelaksanaan kepemimpinan, semua anggota diajak berpartisipasi menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk mencapai tujuan organisasi.[ Ibid ]

C.FUNGSI-FUNGSI KEPEMIMPINAN
Aspek ini terkait dengan fungsi-fungsi yang akan mendukung tercapainya tim yang efektif sehingga manajemen dapat dijalankan secara efektif dalam mencapai tujuan. Terdapat dua fungsi yang terkait dengan hal ini, yaitu fungsi yang terkait dengan tugas atau pekerjaan dan fungsi yang terkait dengan hubungan sosial atau pemeliharaan kelompok. Fungsi yang terkait dengan tugas atau pekerjaan memfokuskan fungsikepemimpinan dalam menjalankan berbagai pekerjaan atau tugas yang telah direncanakan dalam suatu organisasi. Dengan demikian kepemimpinan yang efektif adalah ketika pemimpin mampu mempengaruhi orang-orang untuk dapat melakukan tugas-tugas yang telah dipercayakankepada mereka. Adapun fungsi-fungsi yang terkait dengan hubungan sosial atau senantiasa memelihara kesatuan diantara sesama pekerja, pengertian dengan sesama mereka. Demgan demikian pemimpin yang efektif adalah ketika pemimpin tersebut mampu berkomunikasi dengan baik dengan tim kerja, mengajak mereka untuk senantiasa memelihara kebersamaan dan saling pengertian sehingga tim kerja yang ada senantiasa terpelihara dengan baik. organisasi-oganisasi bisnis pada umumnya lebih memfokuskan pada fungsi yang terikat pada pekerjaan, mana kala organisasi pelajar atau non profit lebih memfokuskan pada fungsi yang terikat dengan relasi sosial.[ Nashar, dasar-dasar manajemen, (Surabaya: pena salsabila, 2013), Hlm. 142.]

D.PERBEDAAN KEPEMIMPINAN DENGAN MANAJEMEN
Seringkali kita mendengar pertanyaan apakah pemimpin sama dengan manajer ? apakah pemimpin sama dengan manajemen ? sekalipun kedua kata ini sering dipergunakan secara bergantian, dan seseorang mungkin saja dapat menjadi manajer, pemimpin, atau juga keduanya, namun secara esensi keduanya memiliki perbedaan-perbedaan. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
TABEL PERBEDAAN MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN
Kegiatan Manajemen Kepemimpinan
Penyusunan rencana Perencanaan dan penganggaran penentuan rencana spesifik dari kegiatan untuk mencapai tujuan serta mengalokasikan segala sumber daya yang dibutuhkan Penentuan arah kegiatan menyusun visi atau tujuan jangka panjang yang akan diraih oleh organisasi serta strategi perubahan yang harus dilakukan
Membangun relasi antar manusia atau kelompok kerja untuk merealisasikan rencana Pengorganisasian dan penempatan SDM menyusun struktur organisasi, prosedur kerja, tanggung jawab dari setiap bagian organisasi, serta metode implementasi Mengkomunikasikan visi kepada orang-orang serta membangun kerja sama dengan orang-orang yang siap untuk mewujudkan visi secara bersama-sama
Implementasi rencana Pengawasan dan pemecahan masalah. Pada tahap implementasi, tugas manajemen adalah melakukan pengawasan dan pengendalian atas berbagai kendala yang mungkin ditemui Memotivasi dan memberikan inspirasi. Peran yang dilakukan saat implementasi adalah memotivasi orang-orang yang telah sepakat bekerjasama untuk melakukan implementasi dari apa yang telah dibangun sebagai upaya pencapaian visi.
Hasil yang diperoleh Sesuatu yang telah diperkirakan atau ditargetkan sebelumnya Suatu perubahan yang akan mendukung pencapaian visi.[ Nashar, dasar-dasar manajemen, (Surabaya: pena salsabila, 2013), Hlm. 136-137.]

E.TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN
Teori-teori kepemimpinan yang berkembang, yaitu sebagai berikut.
1.Teori genetik yaitu kepemimpinan diartikan sebagai traits within the individual leader: seseorang dapat menjadi pemimpin karena memang dilahirkan sebagai pemimpin dan bukan karena dibuat atau dididik untuk itu (learder were borned and not made). Teori ini banyak ditentang oleh para ahli karena bakat seseorang sangat tipis jika berkaitan dengan kepemimpinan. Menurut C. Bird, bakat kepemimpinan hanya berkisar 5% sehingga yang paling menentukan adalah pendidikan dan pelatihan.[ Malayu S.P. Hasibuan, dasar-dasar manajemen, (Jakarta: bumi aksara, 2005), hlm. 194.]
2.Teori sosial yaitu teori yang memandang kepemimpinan sebagai fungsi kelompok. Menurut teori ini, sukse tidaknya suatu kepemimpinan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan atau sifat-sifat yang ada pada seseorang, tetapi justru yang lebih penting adalah dipengaruhi oleh sifat-sifat dan ciri-ciri kelompok yang dipimpinnya.[ Ibid ]
3.Teori situasional yaitu suatu teori yang berpandangan bahwa kepemimpinan sangat bergantung pada situasinya. Teori ini tidak hanya melihat kepemimpinan dari sudut pandang yang bersifat psikologis dan sosiologis, tetapi juga atas ekonomi dan politik.[ Malayu S.P. Hasibuan, dasar-dasar manajemen, (Jakarta: bumi aksara, 2005), hlm. 195.]
4.Teori ekologis yaitu suatu teori yang mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan penggabungan antara bakat alami yang sudah ada sejak dilahirkan dengan pendidikan dan pelatihan yang intensif. Teori ini tidak menolak adanya sumber natural kepemimpinan, tetapi sumber structural pun sangat membantuk terbentuknya seorang pemimpin yang fungsional dan berpengaruh.[ Ibid, hlm. 196.]
5.Teori sosio-behavioristik yaitu teoriyang mengatakan bahwa kepemimpinan dilahirkan oleh hal-hal berikut.
a.Bakat, turunan, dan kecerdasan yang alamiah;
b.Pengalaman dalam kepemimpinan;
c.Pembentukan formal dalam organisasi;
d.Situasi lingkunga;
e.Pendidikan dan pelatihan;
f.Kesepakatan sosial dan kontrak politik.[ Ibid, hlm. 197.]

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1.Pemimpin atau lender adalah orang yang mempunyai bawahan atau orang yang mengendalikan jalannya organisasi.
kepemimpinan adalah kepribadian (personality) se seorang yang mendatangkan keinginan pada sekelompok orang untuk mencontohnya atau mengikutinya, atau seseorang yang memancarkan pengaruh tertentu, kekuatan atau wibawa, sedemikian rupa sehingga membuat sekelompok orang bersedia melakukan apa yang dikehendakinya.
2. Gaya kepemimpinan otokratis, Gaya kepemimpinan militeristis, Gaya kepemimpinan paternalistik, Gaya kepemimpinan yang demokratis.
3.fungsi yang terkait dengan tugas atau pekerjaan dan fungsi yang terkait dengan hubungan sosial atau pemeliharaan kelompok.
4.Keg iatan Manajemen Kepemimpinan
Penyusunan rencana Perencanaan dan penganggara n penentuan rencana spesifik dari kegiatan untuk mencapai tujuan serta mengalokasikan segala sumber daya yang dibutuhkan Penentuan arah kegiatan menyusun visi atau tujuan jangka panjang yang akan diraih oleh organisasi serta strategi perubahan yang harus dilakukan
Membangun relasi antar manusia atau kelompok kerja untuk merealisasikan rencana Pengorganisasian dan penempatan SDM menyusun s truktur organisasi, prosedur kerja, tanggung jawab dar i setiap bagian organisasi, serta metode implementasi Mengkomunikasikan visi kepada orang-orang serta membangun kerja sama dengan orang-orang yang siap untuk mewujudkan visi secara bersama-sama

5.Teori-teori kepemimpinan diantaranya, teori genetik, teori sosial, teori situasional, teori ekologis, teori sosio-behavioristik.
B.SARAN
Setelah kita mempelajari dan memahami dasar-dasar manajemen tentang konsep kepemimpinan dari segi pengertian, gaya-gaya kepemimpinan, fungsi-fungsi kepemimpinan, perbedaan dan teori-teori kepemimpinan. Semoga dapat menambah wawasan dan semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan pendengar. Walaupun ada kekurangan pada makalah ini kritik dan saran serta masukan sangat kami harapkan demi menuju ke arah yang lebih baik dan benar.
..
DAFTAR PUSTAKA
Nashar, dasar-dasar manajemen. Surabaya: pena salsabila, 2013
Hasibuan malayu S.P, dasar-dasar manajemen. Jakarta: bumi aksara, 2005
Athoillah Anton, dasar-dasar manajemen. Bandung: pustaka setia, 2010
Share:

Rabu, 13 Februari 2019

IN MEMORIAN PM2

Share:

Mengenal Istilah Pembaharuan Dalam Islam

A.Pengertian Pembaharuan Dalam Islam
Pembaharuan Islam adalah upaya untuk menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan perkembangan dan yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan terknologi modern. Dengan demikian pembaharuan dalam Islam bukan berarti mengubah, mengurangi atau menambahi teks Al-Quran maupun Hadits, melainkan hanya menyesuaikan paham atas keduanya. Sesuai dengan perkembangannya zaman,
Thahir ibn ‘Asyur mengatakan, “Pembaharuan agama itu mulai direalisasikan dengan mereformasi kehidupan manusia di dunia. Baik dari sisi pemikiran agamisnya dengan upaya mengembalikan pemahaman yang benar terhadap agama sebagaimana mestinya, dari sisi pengamalan agamisnya dengan mereformasi amalan-amalannya, dan juga dari sisi upaya menguatkan kekuasaan agama”.
Dalam Islam sendiri, seputar ide tajdid ini, Rasulullah saw. sendiri telah menegaskan dalam haditsnya tentang kemungkinan itu. Beliau mengatakan, yang artinya: “Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk ummat ini pada setiap pengujung seratus tahun orang yang akan melakukan tajdid (pembaharuan) terhadap agamanya.” (HR. Abu Dawud , no. 3740).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tajdid dalam Islam mempunyai 2 bentuk:
Pertama, memurnikan agama dari hal-hal yang menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kedua, memberikan jawaban terhadap setiap persoalan baru yang muncul dan berbeda dari satu zaman dengan zaman yang lain.
Baca Juga
pola pemikiran dan gerakan pembaharuan Modernism dalam dunia Islam
Banyak sekali peristilahan yang digunakan dalam pembaharuan, seperti :
1.Tajdid, Ishlah, dan Reformasi
Tajdid sering diartikan sebagai ishlah dan reformasi; karena itu, gerakannya disebut gerakan tajdid, gerakan ishlah, dan gerakan reformasi.
2.‘Ashriyah dan Modernisasi
Istilah modernisasi atau ashriyah (Arab) diberikan oleh kaum Orientalis terhadap gerakan Islam tersebut di atas tanpa membedakan isi gerakan itu sendiri. Modernisasi, dalam masyarakat Barat, mengandung arti fikiran, aliran, gerakan dan usaha-usaha untuk merubah faham-faham, adat istiadat, institusi-institusi lama, dan sebagainya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
3. Revivalisasi, Resurgensi, Renaisans, Reasersi
Kesemua peristilahan di atas mengandung arti tegak kembali atau bangkit kembali. Chandra Muzaffar yang mengemukakan istilah ini dalam tulisannya Resurgence A. Global Vew menyatakan bahwa adanya perbedaan antara istilah revivalis dengan resurgence. Resurgence adalah tindakan bangkit kembali yang di dalamnya mengandung unsur :
1. Kebangkitan yang datang dari dalam Islam sendiri dan Islam dianggap penting karena dianggap mendapatkan kembali prestisenya;
2. Ia kembali kepada masa jayanya yang lalu yang pernah terjadi sebelumnya;
3. Bangkit kembali untuk menghadapi tantangan, bahkan ancaman dari mereka yang berpengalam-an lain. Dengan demikian, maka pembaruan Islam mengandung maksud mengembalikan sikap dan pandangan hidup umat agar sejalan dengan petunjuk Al-Quran dan Sunnah.
B. Latar Belakang Pembaharuan Dalam Islam
Di antara yang mendorong timbulnya pembaharuan dan kebangkitan Islam adalah:
a. Paham tauhid yang dianut kaum muslimin telah bercampur dengan kebiasaan-kebiasaan yang dipengaruhi oleh tarekat-tarekat, pemujaan terhadap orang-orang yang suci dan hal lain yang membawa kepada kekufuran.
b. Sifat Jumud membuat umat Islam berhenti berfikir dan berusaha. Umat Islam maju di zaman klasik karena mereka mementingkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu selama umat Islam masih bersifat jumud dan tidak mau berfikir untuk berijtihad, tidak mungkin mengalami kemajuan. Untuk itu perlu adanya pembaharuan yang berusaha memberantas kejumudan.
c. Umat Islam selalu berpecah belah, maka umat Islam tidaklah akan mengalami kemajuan. Umat Islam maju karena adanya persatuan dan kesatuan, karena adanya persaudaran yang diikat oleh tali ajaran Islam. Maka untuk mempersatukan kembali umat Islam bangkitlah suatu gerakan pembaharuan.
d. Hasil dari kontak yang terjadi antara dunia Islam dengan Barat. Dengan adanya kontak ini umat Islam sadar bahwa mereka mengalami kemunduran dibandingkan dengan Barat, terutama sekali ketika terjadinya peperangan antara kerajaan Usmani dengan negara-negara Eropa, yang biasanya tentara kerajaan Usmani selalu memperoleh kemenangan dalam peperangan, akhirnya mengalami kekalahan-kekalahan di tangan Barat, hal ini membuat pembesar-pembesar Usmani untuk menyelidiki rahasia kekuatan militer Eropa yang baru muncul.
Adapun yang melatarbelakangi pemikiran politik Islam adalah:
a. Kemunduran dan kerapuhan dunia Islam yang disebabkan oleh faktor internal dan yang berakibat munculnya gerakan-gerakan pembaharuan dan pemurnian.
b. Rongrongan Barat terhadap keutuhan kekuasaan politik dan wilayah dunia Islam yang berakhir dengan dominasi atau penjajahan oleh negara-negara Barat tersebut.
c. Keunggulan Barat dalam bidang ilmu, teknologi, dan organisasi.
Ketiga hal tersebut ini juga memberi pengaruh pada pemikiran politik Islam yakni banyak di antara para pemikir politik Islam tidak mengetengahkan konsepsi tentang system politik Islam, tetapi lebih kepada konsepsi perjuangan politik umat Islam terhadap kezaliman penguasa, lebih-lebih terhadap imperialis dan kolonialis Barat.
Model pemikiran modern dalam Islam
Pada periode sejarah Islam abad pertengahan (1250-1800 M) umat islam banyak terikat paham-paham keagamaan. Masyarakat pada waktu itu diatur oleh jiwa keagamaan tanpa membedakan antara agama yang sebenarnya dan ajaran bukan agama. Baru pada periode (1800 M) ini mulai mengalami perubahan dan pembaharuan oleh para pemimpin islam, seperti yang dibawa oleh Muhammad Abdul Wahhab dari Nejed pada pertengahan kedua dari abad ke-17, dimana pembaharuan pemikiran ini muncul karena keinginannya untuk membersihkan Islam dari tradisi dan ajaran yang datang dari luar islam seperti paham animisme.
Model pemikiran modern dalam islam telah terjadi perubahan, dimana pemikiran yang awalnya bersifat tradisional mulai berkurang dan pemikiran liberalpun mulai muncul. Dengan model pemikiran inilah, timbul anjuran agar diadakan pembaharuan dalam bidang yang bersifat peka dalam islam, diantaranya adalah:
1.Bidang hukum Islam
2.Bidang pendidikan
Pemikiran –pemikiran yang ditimbulkan pemimpin-pemimpin modernisasi di timur tengah, kemudian mempengaruhi pemimpin Islam di Indonesia yang dimulai pada permulaan abad ke-20. Ada beberapa karakteristik dalam pemikiran modern tokoh muslim Indonesia antara lain:
1.Berusaha membangun visi Islam yang lebih modern dengan tidak meninggalkan warisan intelektual islam sama sekali.
2.Menggunakan metodologi pemahaman yang lebih medern terhadap al-Quran dan al-Sunnah dengan memahami al-Qur’an menggunakn metode historis, sosiologis dengan pendekatan kontekstual.
3.Mensosialisasikan gagasan dan pemikirannya di kalangan pendukung aliran modernisme.
Dari uraian di atas, maka pusat perhatian studi mengenai Islam modern mencakup pikiran-pikiran, persoalan-persoalan, dan gerakan-gerakan yang timbul dalam dunia Islammodern, sebagai akibat dari kontak yang terjadi antara dunia barat dan dunia Islam.
Cakupan pemikiran modern dalam Islam
Menurut M. Sirozi yang mengutip dari Fachry Ali dan Bachtiar Effendy, bahwa munculnya peta baru pemikiran islam ini, akan dapat mengatasi dikotomi pemikiran Islam tradisional-modernis bahkan sekaligus mencerminkan lahirnya suatu kesadaran bersama, dengan wawasan pemikiran baru, untuk mengatasi pemilahan-pemilahan pemikiran Islam yang telah mapan.
Banyak tokoh pemikir Islam pada masa modern yang berkembang dalam prespektif sejarah dan pemikiran dari berbagai aspeknya. Adapun cakupan pemikiran modern para tokoh tersebut adalah sebagai berikut:
1.Rifa’ah al-Tahtawi, cakupan pemikirannya dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, ijtihad, dan sains modern.
2.Jamaluddin al-Afghani, cakupan pemikirannya pada sistem pemerintahan, pan-ilsamisme, dan politik.
3.Muhammad Abduh, cakupan pemikirannya dalam bidang ijtihad, pendidikan, dan politik.
4.Muhammad Rasyid Ridha, cakupan pemikirannya dalam bidang pemurnian akidah dan syariah, ide kesatuan kemanusiaan, konsep khilafah
5.Qasim Amin, cakupan pemikirannya dalam bidang pendidikan wanita, hijab, dan perkawinan.
6.Mustafa Kamil, cakupan pemikirannya dalam bidang nasionalisme
7.Ali Abd al-Raziq, cakupan pemikirannya dalam bidang kenegaraan khilafah dan Islam serta khilafah dan pemerintahan Islam
8.Toha Husein, cakupan pemikirannya dalam ide sekularisasi
9.Hasan al-Banna, cakupan pemikiranya dalam bidang agama, politik, ekonomi, dan pendidikan.
Dari beberapa cakupan pemikiran modern para tokoh Islam, banyak kontribusi keilmuan yang mereka salurkan untuk kemajuan umat Islam selanjutnya. Atas dasar pemikiran mereka itulah, usaha-usaha perubahan sosial dijalankan oleh pemimpin-pemimpin pembaharuan dalam Islam.






Share:

Popular Posts

Label