Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Jumat, 02 Juni 2017

Pemikiran Wilhelm Dilthey Sebuah Kajian Hermeneutik


  1. Latar Belakang
Setelah Schleiermacher meninggal tahun 1834, proyek pengembangan hermeneutika umum kurang. Memang, problem hermeneutis dalam bentuknya yang beragam menguras perhatian pikiran besar dalam bidang yang berbeda, misalnya, Karl Wilhelm Von Humboldt, Heymann Steinthal, August Bochk, Leopold von Ranke, S. G.
Droysen, dan Friedrich Karl von Savigny. Tetapi problem pemikiran tersebut mundur ke dalam lingkaran batas-batas satu disimpin particular dan menjadi penafsiran historis, filologis, atau hukum ketimbang hermeneutika umum sebagai seni pemahaman. 
Mendekati akhir abad ke-19, filsuf berbakat dan seorang sejarawan sastra Wilhelm Dilthey (1833-1911), mulai melihat hermeneutika sebagai fondasi Geisteswissenschaften (ilmu-ilmu tentang kemanusiaan). yaitu semua ilmu sosial dan kemanusiaan, semua disiplin yang menafsirkan ekspresi-sekspresi “Kehidupan batin manusia”, baik dalam bentuk ekspresi isyarat (sikap), perilaku historis, kodifikasi hukum, karya seni atau sastra.
Tujuan Dilthey adalah untuk mengembangkan metode memperoleh interpretasi “obyektivitas yang valid” dari “ekspresi kehidupan batin”.

  1. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami akan merumuskan pembahasan tentang : 
  1. Biografi Wilhelm Dilthey
  2. Pemikiran Wilhelm Dilthey terkait dengan Hermeneutika
 BAB II
PEMBAHASAN

  1. Biografi Wilhelm Dilthey
Wilhelm Dilthey lahir pada tanggal 19 November 1833 di Biebrich am Rhein Jerman, dua tahun selah Hegel meninggal dunia. ayahnya adalah seorang pendeta Protestan di Biebrich dan ibunya adalah seorang putri dirigen dan karenaya menjadi penggemar musik juga. Dilthey mewarisi sifat musikal ibunya itu dan sangat piawai dalam komposisi dan permainan piano. Setelah menyelesaikan pendidikan lokal, Dilthey meneruskan pendidikan lanjutan di Weisbaden dan pada tahun 1852 pergi ke Heidelberg untuk belajar teologi di sana. satu tahun kemudian ia pindah ke Berlin karena ia sangat tertarik pada kekayaan budaya kehidupan di kota tersebut, dan terutama pada musik. 
Selama Dilthey menjadi mahasiswa ia sangat tertarik pada karya Schleiermacher dan ia mengagumi seluruh kehidupan intelektualnya. Dilthey kagum pada Schleiermacher terutama karena kemampuan intelektualnya dalam menggabungkan teologi dan kesusastraan dengan karya karya kefilsafatan. serta kagum pada kerya terjemahan serta interpretasinya atas dialog Plato. Bahkan tidak lama kemudian Dilthey mendapat dua piagam penghargaan atas pengetahuannya tentang Schleiermacher sehingga ia mampu membuat sebuah esai tentang hermeneutika. inilah awal mula karir Wilhelm Dilthey sebagai seorang filsuf. 
Pada tahun 1864 Dilthey memperoleh gelar Doktor dan tetap mengajar di Berlin. Namun tidak lama kemudian ia pindah ke Basel dan memperoleh kedudukan yang cukup baik di sana. Pada tahun 1868 ia meninggalkan Basel dan menjadi Profesor pada sebuah Universitas Kiel. di Kota Keil ternyata hidupnya tidak begitu mujur, ia terlibat kasus cinta segitiga dengan Marianne dan Lotte Hegewisch.
Pada tahun 1871 Dilthey pindah ke Breslau untuk menjadi guru besar di sana. Namun pada tahun 1882 ia pada akhirnya kembali ke Berlin dan disini karir kefilsafatannya menanjak. Pada tahun 1896 ia terserang penyakit yang disebutnya sendiri dengan istilah “nervous origin” serta tekanan gejala “insomnia”. Suatu hari Dilthey berlibur dan menginap di sebuah hotel di Seis di mana ia terserang infeksi dan meninggal dunia pada tanggal 30 September 1911. 
  1. Pemikiran Wilhelm Dilthey
“Akankah pada akhirnya kebutuhan akan keindahan dapat diberikan dan secara keseluruhan dan sempurna digantikan oleh kebutuhan akan kebenaran”(Wilhelm Dilthey) Prolog Paruh kedua dari abad ke-19 neokantianisme menjadi salah satu aliran terbesar di Jerman. Terdapat dua madzhab besar yang menjadi turunan dari neokantinisme tersebut; madzhab Malburg dan madzhab Baden.
Madzhab yang disebut belakangan, sebagaimana layaknya aliran neokantianisme, adalah sebuah madzhab pemikiran yang merefleksikan ilmu pengetahuan, namun madzhab ini lebih concern pada bidang ilmu pengetahuan budaya, mengingat kant sendiri terlalu banyak membahas ilmu pengetahuan alam.
Wilhelm Windelband, salah seorang tokoh madzhab ini, melihat adanya perbedaan dalam dua jenis ilmu pengetahuan; ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan budaya, khususnya ilmu sejarah. Baginya, ilmu pengetahuan alam memiliki obyek pengetahuan yang berasal dari fenomena-fenomena pengalaman inderawi yang dapat diualng-ulang secara terus menerus dan bersifat umum. Oleh karenanya ia menyebutnya Sebagai ilmu pengetahuan nomotetis.
Sedangkan ilmu pengetahuan historis membahas yang unik, individual yang hanya satu kali saja terjadi. Dan keunikannya itulah yang seringkali menjadi fokus penelitian, oleh karenanya ia menyebutnya ilmu pengetahuan idiografis. Sementara itu, aliran historisisme dalam sejarah terus menyerang pemikiran hermeneutika romantisime-psikologis ala F. Schleiemacher yang cenderung berpusat pada psikologi sang author. Bagi mereka, Schleiemacher telah mengabaikan peran dunia historis yang lebih luas yang telah turut mempengaruhi pemikiran author tersebut.
Pemahaman akan sejarah haruslah ditempuh dengan memahami sejarah itu sendiri, biarkan sejarah menafsirkan dirinya sendiri.
Dalam kajian ini, akan kami ketengahkan pemikiran hermeneutika Wilhelm Dilthey yang akan menggabungkan dua hal di atas, kajian ilmu kebudayaan-historis dan pemikiran romantisis Schleiermacher dengan kajiannya yang sangat mendalam terhadap pengalaman kehidupan manusia dalam sejarah.
Wilhelm Dilthey adalah seorang pemikir yang juga produktif dalam mengahasilkan karya tulis. Namun sayangnya, tidak banyak karya-karya Dilthey yang dipublikasikan dan dapat diakses, itupun setelah dia meninggal. Oleh karenanya, selain juga karena kelemahan pemakalah, tulisan ini hanya didasarkan pada sumber sekunder. Namun setidaknya, mengacu pada telaah yang dilakukan Matthew L. Lamb, kajian ini akan diawali dengan pembahasan pemikiran historis Dilthey, yang mencakup masalah dikotomi antara Naturwissenschaften dan Geisteswissenschaften dan kajian tentang Erlebnis, dan selanjutnya diteruskan dengan pemikiran hermeneutika romantisis-historis Dilthey.
Latar Belakang Pemikiran Dilthey Kajian terhadap pemikiran Wilhelm Dilthey tak akan pernah mencapai sebuah titik terang sebelum kajian-kajian para pendahulunya dikaji pula. Sebab, baik dalam pemikirannya mengenai hermeneutika romantis ataupun yang berkenaan dengan ilmu historis, ia sangat dipengaruhi oleh wacana-wacana yang telah berkembang saat itu. Dilthey dan dan madzhab HistorisLorens Bagus, dalam bukunya Sejarah Filsafat, menjelaskan bahwa historisisme adalah sebuah aliran pemikiran yang selalu mengacu pada aspek sejarah dalam penjelasan tentang fenomena alam. Bahkan, menurutnya, historisisme terkadang berlebihan dalam penekanannya pada aspek kesejarahan itu.
Pemikiran psikologisme Schleiemacher yang memposisikan individu sebagai sosok transendental yang memungkinkan para pembaca untuk melakukan pendekatan psikologis untuk memahami individu transendental tersebut. Dengan memahami psikologi, seorang pembaca akan sangat mungkin untuk mengenal sosok author dengan baik, bahkan lebih baik dari pada author itu sendiri.
Bagi kaum Historisis, dalam hal ini Ranke dan J.G Droysen, Schleiermacher telah melakukan faktor-faktor yang mempengaruhi pemikiran sang author. Data-data tentang seorang individu sejarah hanyalah sebuah teks dari teks sejarah universal. Dan sejarah hanya dapat ditafsirkan oleh sejarah itu sendiri. Namun demikian, Wilhelm Dilthey melihat kritik Ranke dan droysen tidak memiliki dasar epistemologi yang jelas sebagia pijakan. Untuk itu, akan kita lihat nantinya, dikotomi antara ilmu pengetahuan alam (Naturwissenschaften) dan ilmu pengetahuan budaya atau ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften) akan menjadi batu dasar pemikiran historis Dilthey.
Pemikiran Historis Dilthey Kemajuan ilmu pengetahuan, yang saat itu telah dikuasai oleh nalar positivistik, memiliki pengaruh yang begitu kuat dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Pengaruh itu tidak hanya bisa kita lihat pada ilmu pengatahuan eksakta yang memiliki objek yang nyata, yakni fenomena alam, dalam ilmu-ilmu sosial pun pengaruh itu pun mulai terasa.
Seakan-akan menjadi sebuah kecenderungan baru, bahwa ilmu pengetahuan harus bersifat objektif, netral dan dapat dibuktikan.
Padahal bagi Dilthey hal semacam itu kurang tepat. Sebab antara ilmu eksakta dan ilmu sosial-budaya terdapat jurang perbedaan yang sangat mencolok. Keberadaan fenomena alam yang bersifat umum dan sangat mungkin untuk diulang secara terus menerus memang layak didekati dengan pendekatan positivistik.
Sementara ilmu-ilmu sosial budaya memiliki karakteristik objek yang berbeda. Objek ilmu sosial budaya adalah manusia dan kehidupannya yang bersifat individual, unik dan mendalam menembus batas-batas lahiriah, yang tidak mungkin terjadi pada objek alam lainnya. Dengan demikian, penerapan paradigma positivistik dalam ilmu-ilmu sosial-budaya bukanlah suatu hal yang tepat.
Banyak hal yang ada di dalam pengalaman batin manusia; semangat, hasrat, sedih-senang dll, tidak dapat tersentuh oleh kedangkalan paradigma sains tersebut. Karena itu, Dilthey menganggap perlu adanya penarikan garis demarkasi yang jelas antara ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften). Baginya, eksplanasi ala tidak pantas diterapkan untuk ilmu-ilmu kemanusiaan. Dibutuhkan pemahaman (Verstehen) yang bisa meng-cover kompleksitas dalam direi manusia.
Namun tidak lantas semua permasalahan sudah selesai, Dilthey melihat perlu adanya kerangka pemikiran yang jelas agar penjelasan-penjelasan tentang ilmu kemanusiaan mencapai titik objektif sehingga dapat diakui kebenarannya. Manusia, bagi Dilthey, tidak hidup dalam kategori-kategori mekanis namun dalam kompleksitas pengalaman-pengalaman hidup langsung sebagai sebuah totalitas,yang merupakan makna hidup, serta hidup dalam pemahaman partikular yang harmonis.
Jadi, bukan melalui introspeksi, melainkan hanya melalui sejarah (kehidupan) kita dapat mengetahui diri kita. Sebab di luar kehidupan, pemikiran tidak akan jalan. Yang dimaksudkan dengan kehidupan di sini adalah pengalaman manusia yang dikenal dari dalam. Akan tetapi kategori kehidupan tidak berasal dari realitas transendental, melainkan berasal dari realitas pengalaman hidup.
Pengalaman, Ekspresi Dan Pemahaman Untuk mengkaji secara serius pemikiran hermenutika Dilthey, kita dituntut untuk memahami makna ketiga kata kunci di atas; pengalaman (Erlebnis), ekspresi (Ausdruck) dan pemahaman (Verstehen). Erlebnis adalah istilah yang digunakan Dilthey untuk menyebut pengalaman hidup. Yang dimaksud dengan pengalaman di sini bukanlah sesuatu yang sudah pernah kita alami. Dia bukanlah rekaman atas masa lalu yang berada di hadapan kita sebagai objek penelitian.
Pengalaman, bagi Dilthey, bukan pula sesuatu yang dihasilkan melalui refleksi dan sebagainya. Pengalaman yang dimaksud di sini adalah pengalaman hidup, di mana seseorang bersentuhan langsung dengan realitas. Baik itu berhadapan secara langsung ataupun melalui proses transposisi, di mana sesorang akan menemukan dirinya dalam orang lain.
Ausdruck bisa dimaknai sebagai ekspresi. Akan tetapi yang dimaksud di sini bukanlah ekspresi sebuah perasaan melainkan sebuah ekspresi hidup dalam pengalaman hidup kita, baik langsung ataupun tidak langsung.
Sementara Verstehen adalah sebuah kata yang bisa dibandingkan dengan Erklaren yang bermakna menjelaskan. Kata ini biasanya dipakai untuk sesuatu yang bersifat pasti, sangat cocok untuk Naturwissenschaften. Verstehen adalah proses pemahaman yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga mencakup kompleksitas seorang manusia. Pemahaman ini juga dimaknai dalam makna yang berbeda yaitu pemahaman terhadap ekspresi dalam pengalaman hidup. Perbedaan objek Versthen dan Erklaren juga berpengaruh pada hasil dari keduanya.
Pada kasus ilmu-ilmu alam, objek adalah sesuatu yang bersifat statis sehingga dapat diulang-ulang dan memperoleh hasil pengetahuan yang sama. Di sisi lain, manusia dan problematika kehidupannya, yang menjadi lahan garapan Verstehen, selain juga memiliki dimensi psikologis-mental, adalah makhluk yang hidup dalam temporalitas waktu yang membuatnya selalu berubah-ubah dan dinamis. Hasil yang diperoleh dari Verstehen pun bersifat dinamis, sesuai dengan ruang dan waktu sang pembaca.
Dengan beberapa kata kunci di atas, kita bisa memahami usaha Dilthey untuk melepaskan diri dari kungkungan pengaruh psikologisme Schleiermacher, Historisisme dan, sebagaimana lazimnya kaum romantisis, pengaruh positivisme sains.
Bagi Dilthey, sejarah tidaklah bersifat individual. Jadi tidak cukup memahaminya hanya melalui pendekatan psikologis terhadap seorang individu. Sejarah tidak pula bersifat metefisik seperti madzhab historis, apalagi pendekatan sains ala kaum positivis. Objektifikasi yang ia lakukan tidak kemudian menunjukkan bahwa dia telah berkompromi dengan kaum positifis, ia melakukan semua itu hanya untuk mendapatkan makna sejarah yang benar. Dilthey telah mampu melampaui ketiga kecenderungan di atas dengan baik, meski ia juga banyak menuai kritik dari para pakar sesudahnya. 
Hermeneutika Romantisis-Historis Pilihan Dilthey untuk menekuni bidang ilmu sosial-kemanusiaan begitu mempengaruhi corak pemikiran hermeneutikannya. Pengaruh di sini dimaksudkan bahwa Dilthey tidak menawarkan sesuatu yang baru, melainkan hanya melanjutkan gagasan hermeneutika romantisis Schleiermacher.
Secara garis besar, hermeneutika Schleiermacher dapat dipetakan menjadi dua; hermenutika pragmatis dan hermenutika metodis. hermeneutika pragmatisnya mengandaikan posisi seorang individu, dalam hal, ini sang author, sebagai pusat dari tujuan hermeneutika. Teks-teks sejarah baginya adalah sumber-sumber rujukan dalam menjelaskan pribadi author. Penekanan pada pemahaman gramatikal teks dan pemahaman psikologis author adalah langkah praksis dari yang ia lakukan. Pembaca haruslah melepaskan ego-nya untuk dapat memahami psikologis objek dengan harapan pembaca dapat memahami author melebihi pemahaman author terhadap dirinya sendiri.
Sementara itu, Schleiermacher gagal dalam menggagas hermeneutika metodisnya. Inilah yang kemudian menjadi domain pemikiran Dilthey, meski dia tidak memposisikan hermeneutika hanya terbatas pada dunia teks. Ia meletakkan hermeneutika sebagai dasar ilmu sosial-kemanusiaan untuk membedakannya dari ilmu alam (sains), sebagaimana dijelaskan di atas. Sebagaimana lazimnya kaum romantis, Dilthey pun mengadopsi lingkaran hermeneutik (hermeneutic circle) Schleiermacher, bahwa sebagian dapat dijelaskan oleh keseluruhan dan keseluruhan dapat dijelaskan oleh sebagian.
Namun ia berbeda dengan Schleiermacher dalam hal tujuan utama pemahaman. Dilthey menjadikan pemahaman terhadap individu hanya sebagai sebuah teks sumber untuk memahami dunia historis yang lebih luas.Proses hermeneutika, menurut Dilthey, secara berurutan, adalah memahami cara pandang dan gagasan author, memahami makna kegiatan (ekspresi) author yang berkait dengan sejarah dan menilai berdasarkan gagasan, waktu dan tempat saat pembaca hidup.
Dengan demikian, proses hermeneutika ala Dilthey ini membuka kemungkinan terjadinya perluasan pemahaman (produksi) dari gagasan author, seperti yang disampaikan Schleiermacher di atas. Jadi secara garis besar hermeneutika Dilthey tidaklah jauh berbeda dari hermenutika romantis Schleiermcher, kecuali bebrapa bagian seperti disebut sebelumnya. Bahkan seringkali pemikiran hermeneutika keduanya dirangkum dalam satu pembahasan hermeneutika romantis.
Komentar terhadap Pemikiran Dilthey Sebagaimana yang telah dikatakan tadi, pemikiran cemerlang Dilthey tidak akan pernah luput dari kritik. Para pakar yang lahir sesudahnya terus melanjutkan pemikirannya dengan sambil lalu mengkritisi dan menambal kekurangan yang masih ada.
Gadamer, sebagaimana ditulis Edi Mulyono, mencatat bahwa para hermeneut romantisis sepertio Schleiermacher, Dilthey dan Betti mengandaikan keterhubungan historis antara author dan pembaca. Dilthey, sebenarnya, dapat menyadari adanya pra-andaian dalam diri manusia yang akan menghalangi mereka untuk mendapatkan makna yang obyektif dari sebuah peristiwa sejarah. Maka dibuatlah teori keterhubungan sejarah yang, menurut Gadamer, justru membunuh pikiran itu sendiri.
Kalaulah manusia adalah wujud historis yang dapat hidup, memahami dan dipahami secara historis, bagaimana manusia dapat memahami sejkarah secara historis? Dan bagaimana kehidupan dapat menampilkan diri dan meningkap makna dirinya yang dapat terpahami oleh wujud historis yang lain? Pertanyaan ini, menurut Paul Ricoeur belum terpecahkan oleh hermeneutika Dilthey. 
Epilog Wilhelm Dilthey adalah satu dari sekian hermeneut besar yang pernah ada di dalam sejarah. Namun kebesarannya itu seringkali terkubur oleh nama-nama besar lainnya seperti Schleiermacher, Martin Heidegger, Hans Georg Gadamer dan lainnya. Secara umum, pemikiran hermeneutika Dilthey tiodak jauh berbeda dengan hermeneutika romantis Schleiermacher, hanya saja Dilthey lebih fokus pada teks-teks sejarah.
Pemikirannya yang sangat berarti adalah pemetaan yang ia lakukan pada dua bidang ilmu pengetahuan, yaitu ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften). 
 BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Wilhelm Dilthey (1833-1911) membedakan ilmu pengetahuan ke dalam Naturwissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang alam dan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia. Perbedaan ini sangat penting karena pada kenyataannya kedua jenis ilmu pengetahuan tersebut mempergunakan metodologi atau pendekatan yang berbeda.
.B. Analisis
Dilthey ternyata tidak mengetengahkan suatu yang baru. Dilthey hanya berhasil dalam memberi tekanan pada historistas, tidak hanya pada manusian saja tetapi juga pada bahasa dan makna.
 DAFTAR PUSTAKA 
E. Sumaryono, Hermeneutika; Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius. 1999
Rickman, 1979: “Wilhelm Dilthey”, London, Paul Elek Richard E. Palmer, Hermeneutikan; Teori Baru Mengenai Interpretasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Label