Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Senin, 29 Oktober 2018

MENAKAR KEMBALI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBINAAN ESKUL GERAKAN PRAMUKA

A. Pengertian Gerakan Pramuka
Gerakan berarti suatu rangkaian yang terorganisasi menuju suatu sasaran. Jadi, suatu gerakan mengandung makna, baik sasaran yang hendak dicapai maupun jenis organisasi untuk mencapainya. Sedangkan gerakan pramuka adalah nama organisasi yang merupakan suatu wadah berlangsungnya proses kepramukaan yang ada di Indonesia. Yang mana gerakan pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, serta menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa.
Dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 2010 menyebutkan bahwa pramuka adalah warga negara Indonesia yang aktif dalam pendidikan kepramukaan serta mengamalkan Satya Pramuka dan Darma Pramuka. menurut Lond Baden Powell dalam bukunya BP’s Outlook, sebagaimana dikutip oleh Novan Ardy Wiyani mengatakan “Scouting in not a science to be solemny studied, NOR is it a collection of doctrine and texsts, No! It is a jolly game in the out of doors, where boy-men an boy can go adventuring together as leader an younger brothers, picking up health and happiness, handricraft and helpfulnees.”
Baca Juga
Pola Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak
Dengan demikian jelaslah bahwa gerakan pramuka adalah nama organisasi yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan di Indonesia. Pramuka adalah nama diri anak didik yang dibina dalam gerakan pramuka. Sedangkan kepramukaan adalh ilmu dan materi-materi yang diajarkan dalam gerakan pramuka. Lebih lanjut, pramuka adalah singkatan dari praja muda karana{“Sri Sultan Hamengkubuwono IX”} , juga dianggap merupakan perpaduan kata Pra yang artinya sebelum, dan muka yang artinya depan. Jadi, diharapkan anggota pramuka mampu menjadi yang terdepan.
B. Visi, Misi, Fungsi dan Tujuan Gerakan Pramuka
Statemen visi mengisyaratkan tujuan puncak dari sebuah institusi dan untuk apa visi itu dicapai. Adapun visi gerakan pramuka yaitu: “Gerakan Pramuka sebagai wadah pilihan utama dan solusi andal masalah-masalah kaum muda”. Sedangkan misinya adalah: “turut menyumbang pada pendidikan kaum muda, melalui suatu sistem nilai yang didasarkan pada Satya dan Darma Pramuka, guna membantu membangun dunia yang lebih baik, di mana orang-orangnya adalah pribadi yang dirinya telah berkembang sepenuhnya dan memainkan peran konstruktif di dalam masyarakat”.
sedangkan fungsinya adalah: (a). Kegiatan menarik bagi anak muda, (b). Pengabdian bagi orang dewasa, dan (c). Alat bagi masyarakat dan ogranisasi.
Untuk menyelaraskan visi dan misi serta fungsi tersebut, maka gerakan pramuka mempunyai tujuan mendidik anak dan pemuda Indonesia dengan prinsip dasar dan metode, agar mereka menjadi; (a). Manusia yang berkepribadian, berwatak dan berbudi pekerti luhur, dan (b). menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya secara mandiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan, baik lokal, nasional, amaupun internasional.
C. Implikasi Pendidikan Karakter Melalui Pembinaan Eskul Pramuka
Secara harfiah, karakter artinya kualitas mental atau moral. Dalam kamus Psikologi, karakter adalah kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang yang biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.
Pendidikan karakter merupakan pendidikan ihwal karakter, atau pendidikan yang mengajarkan hakikat dalam ketiga ranah cipta, rasa, dan karsa. Sementara itu esensial dari karakter ini, diharapkan terbentuk insan profetik. Insan dengan watak profetik tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi berpikir bagaimana dapat memberikan sebanyak-banyaknya bagi lingkungan yang dapat berperan aktif memberi pencerahan atas konsep free will dengan menyeimbangkan konsep determinism dalam praksis pendidikan, sehingga tidak lagi sekedar mengenalkan berbagai aturan dan definisinya, namun lebih menekankan pada sikap, attitude, dan tanggung jawab dengan tujuan akhirnya adalah terwujudnya insan yang berilmu dan berkarakter.
Untuk mencapai pertumbuhan integral dalam pendidikan karakter melalui pembinaan Eskul pramuka, perlu dipertimbangkan berbagai macam metode yang membantu mencapai idealisme dan tujuan pendidikan karakter. Paling tidak ada lima unsur metodologi integrasi yang perlu dipertimbangkan antara lain: 1). Mengajarkan, 2). Keteladanan, 3). Menentukan Prioritas, 4). Praksis Prioritas, dan 5). Refleksi. Dari kelima tersebut ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan dalam pembinaan kepramukaan yaitu: 1). Pendekatan pengalaman, 2). Pendekatan pembiasaan, 3). Pendekatan emosional, 4). Pendekatan rasional, 5). Pendekatan fungsional, dan 6). Pendekatan keteladanan.
Lebih lanjut, urgensi kegiatan Eskul pramuka dalam pembentukan karakter peserta didik menurut Taylor dapat diartikulasikan ke dalam tiga lingkup antara lain: Pertama, Pendidikan karakter adalah cara terencana yang melibatkan sejumlah pertimbangan nilai-nilai edukatif, baik yang tercakup dalam manajemen pendidikan maupun dalam kurikulum pendidikan. Kedua, pendidikan karakter adalah situasi yang berpengaruh terhadap perkembangan pengalaman dan kesadaran nilai pada peserta didik. Ketiga, pendidikan karakter adalah peristiwa seketika yang dialami peserta didik. Adapun indikator keberhasilannya meliputi; 1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan usianya. 2. Memahami kekurangan dan kelemahan diri sendiri. 3. Menunjukkan sikap percaya diri. 4. Mematuhi aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang luas. 5. Menghargai keberagaman agama, suku, ras dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional. 6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kretif. 7. Menunjukkan kemampuan berpikir kritis, logis, kreatif dan inovatif. 8. Menunjukkan belajar secara mandiri. 9. Menunjukkan kemampuan menganalisis masalah. 10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial. 11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. 12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya NKRI. 13. Menghargai karya seni dan budaya nasional. 14. Mengahrgai tugas pekerjaan. 15. Menerapkan hidup bersih dan sehat. 16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. 17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. 18. Mengahrgai adanya perbedaan pendapat. 19. Menunjukkan kegemaran membaca, dan menulis naskah. 20. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. 21. Memiliki jiwa kewirausahaan.
Daftar Rujukan:
Undang-undang Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka
Novan Ardy Wiyani, Pendidikan Karakter dan Kepramukaan, PT. Citra Aji Parama, Yogyakarta: 2017
Barnawi & M. Arifin, Strategi & Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter, Ar-Ruzz Media, Yogyakarta: 2017.
Kwartir Nasional Garakan Pramuka, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka


Share:

Sabtu, 27 Oktober 2018

Pendidikan Islam di Indonesia pada masa pra pembaharuan

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Sejarah perkembangan pendidikan Islam dimulai sejak agama Islam masuk ke Indonesia, yaitu kira-kira pada abad kedua belas Masehi. Salah satu stetemen yang sulit di sangkal, bahwa Islam sangat besar pengaruhnya bagi pembentukan budaya dan tradisi mansyarakat Indonesia sampai hari ini. Eksistensi Islam di Indonesia sangat mempengaruhi kultur budaya masyarakat yang mayoritas beragama Islam, dan terbesar di dunia merupakan bukti bahwa Islam sangat berpengaruh terlebih dalam pembinaan masyarakat melalui pendidikan yang sudah ada di pesisir terutama di Aceh dan Selat Malaka.
Sejak mulai masuk Islam ke tanah Aceh (1290 M) pendidikan dan pengajaran mulai lahir dan tumbuh dengan amat suburnya. Terutama setelah berdiri kerajaan Islam di Pasai dan banyak Ulama Islam yang mendirikan pesentren seperti Tengku di Geuredong, Tengku Cut Maplam.
Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia pada awal permulaan masih dilaksanakan secara tradisional belum tersusun kurikulum seperti saat ini. Baik itu pendidikan di surau maupun pesantren.
Pada awal abad ke-20 kondisi tanah air Indonesia dikuasai oleh kaum penjajah barat. Dalam bidang pendidikan pemerintah kolonial Belanda melakukan kebijakan pendidikan diskriminatif. Lembaga pendidikan di kala dibagi atas tiga strata. Strata pertama adalah strata tertinggi yaitu sekolah untuk anak-anak Belanda ELS, HBS dan seterusnya ke perguruan tinggi. Strata kedua adalah untuk anak-anak bumi putra yang orang tuanya memiliki kemampuan ekonomi dan mempunyai posisi di pemerintahan, dapat disebut kelompok elit masyarakat Indonesia. Strata terendah adalah anak-anak bumi putra, yaitu kelompok orang kebanyakan hanya boleh mengecap.pendidikan Sekolah Desa (3 tahun) atau Sekolah Kelas Dua (5 tahun).
Sementara itu di kalangan umat Islam memiliki lembaga pendidikan pesantren, rangkang, dayah, surau. Dengan menekankan mata pelajaran agama yang bersumber dari kitab-kitab klasik. Pendidikan pesantren ini sama sekali amat berbeda sistemnya dengan sekolah-sekolah pemerintah.
Melihat kondisi yang demikian itu, maka sebagian dari tokoh-tokoh umat Islam berupaya untuk melaksanakan pembaharuan dalam bidang pendidikan.,
Di kalangan Muhammadiyah, berdirilah sekolah-sekolah yang mengambil nama sama dengan sekolah-sekolah pemerintah HIS, MULO, AMS yang diberi dengan muatan keagamaan. Sekolah yang demikian itu diberi nama HIS met de Qur'an, MULO met de Qur'an, dan sebagainya.
B.Rumusan Masalah
1.Bagaimana bentuk Pendidikan Islam di Indonesia pada masa pra pembaharuan?
2.Bagaimana bentuk pendidikan Islam di Indonesia pasca pembaharuan?
3.Sebutkan Faktor-faktor Terjadinya Proses Pembaharuan Pendidikan Islam!
4.Siapakah Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia?
C.Tujuan Penulisan
1.Mengetahui bentuk Pendidikan Islam di Indonesia pada masa pra pembaharuan
2.Mengetahui bentuk pendidikan Islam di Indonesia pasca pembaharuan
3.Mengetahui Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia
4.Mengetahui Faktor-faktor terjadinya Proses Pembaharuan Pendidikan Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Pendidikan Islam
Baca Juga
pola pemikiran dan gerakan pembaharuan Modernism dalam dunia Islam
Dalam kedua sumber pendidikan Islam, yakni Al Qur’an dan Sunnah dapat ditemukan kata-kata atau istilah-istilah yang pengertiannya terkait dengan pendidikan, yaitu rabba, kata kerja tarbiyah, ‘allama, kata kerja dari ta’lim dan addaba, kata kerja dari ta’dib.
Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya, Konsep Pendidikan Islam, dengan gigih mempertahankan penggunaan istilah ta’dib untuk konsep pendidikan Islam, bukan tarbiyah, dengan alasan bahwa dalam istilah ta’dib, yang berasal dari kata addaba, mencakup wawasan ilmu dan amal yang merupakan esensi pendidikan Islam.
Berdasarkan tinjauan kebahasaan di atas pengertian pendidikan menurut pandangan Islam dapat disimpulkan sebagai berikut:
a.Pendidikan adalah tindakan yang dilakukan secara standar dengan tujuan memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil).
b.Pendidikan adalah proses kegiatan yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, seirama dengan perkembangan subjek didik.
c.Pendidik yang sebenar-benarnya (Al-Haq) adalah Allah sebagai Rabbul ‘alamin.
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmaniah maupun rohaniah, menumbuh suburkan hubungan harmonis setiap pribadi dengan Allah, manusia dan alam semesta.
Dengan demikian, pendidikan Islam itu berupaya untuk mengembangkan individu sepenuhnya, maka sudah sewajarnya untuk dapat memahami hakikat pendidikan Islam itu bertolak dari pemahaman terhadap konsep manusia menurut Islam.
B.Karakteristik Pendidikan Islam Pra Pembaharuan
Pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari proses sejarah sebelumnya. Faktor utama hal ini adalah sejarah penyebaran Islam di Indonesia. Sejalan dengan proses penyebaran Islam di Indonesia, pendidikan Islam sudah mulai tumbuh meskipun masih bersifat individual. Para penganjur agama ini mendekati masyarakat dengan acara yang persuasif dan memberikan pengertian tentang dasar-dasar agama Islam.
Menurut Daulay (2012:59-60) mengemukakan bagaimana kondisi pendidikan Islam sebelum gerakan pembaruan itu dilakukan. diantaranya dalam bukunya menuliskan sebagai berikut:
1.Pendidikan bersifat nonklasikal. Pendidikan saat itu tidak dibatasi atau tidak ditentukan berapa lamanya belajar berdasarkan tahun. Sehingga seseorang bisa saja belajar di pesantren selama satu tahun, dua tahun bahkan beberapa bulan saja sampai belasan tahun
2.Mata pelajaran hanya pelajaran agama saja yang berasal dari kitab-kitab klasik. Tak ada pelajaran umum
3.Hanya menggunkan metode sorogan,wetanan, hafalan, dan muzakarah
4.Tidak memakai ijazah sebagai bukti telah menamatkan pelajarannya
5.Tradisi kehidupan pesantren amat dominan di kalangan santri dan kiai.
Adapun lembaga pendidikan Islam pra pembaharuan adalah
1.Masjid dan Langgar Di tempat ini dilakukan pendidikan buat orang dewasa adalah penyampaian-penyampaian ajaran Islam oleh mubaligh kepada para jama’ah dalam bidang yang berkenaan dengan akidah, ibadah dan akhlak.
2.Pesantren Inti dari pesantren itu adalah pendidikan ilmu agama, dan sikap beragama. Karenanya mata pelajaran yang diajarkan semata-mata pelajaran agama. Pada tingkat dasar anak didik baru diperkenalkan tentang dasar agama, dan Al-Qur’an Al-Karim. Setelah berlangsung beberapa lama pada saat anak didik telah memiliki kecerdasan tertentu, maka mulailah diajarkan kitab-kitab klasik. Kitab-kitab klasik ini juga diklasifikasikan menjadi tingkat dasar, tingkat menengah dan tinggi.
3.Meunasah, Rangkang dan Dayah Secara epistemologi meunasah berasal dari perkataan madrasah, tempat belajar atau sekolah. Dimeunasah diajarkan menulis, membaca huruf arab, almu agama dan ilmu bahasa Jawi, akhlak.
Rangkang adalah tempat tinggal murid, yang dibangun disekitar masjid. Pendidikan di Rangkang ini terpusat kepada pendidikan agama, disini telah diajarkan kitab-kitab yang berbahasa arab, Tingkat pendidikan ini jika dibandingkan dengan sekolah saat sekarang setingkat sekolah lanjutan pertama..
Dayah berasal dari bahasa Arab zawiyah. Hasjmi menjelaskan tentang dayah adalah sebuah lembaga pendidikan yang mengajarkan mata pelajaran agama yang bersumber dari bahasa arab, misalnya fiqih, bahasa Arab, Tauhid, tasawuf, dll, tingkat pendidikannya adalah sama dengan tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.
4.Surau
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, surau diartikan tempat (rumah) umat Islam melakukan ibadahnya (bersembahyang, mengaji, dan sebagainya), Syekh atau Guru mengajar dengan metode bandongan dan sorogan, ada juga murid yang berpindah ke surau lain apabila dia telah merasa cukup memperoleh ilmu disurau terdahulu.
Pendirian lembaga-lembaga pendidikan Islam pra pembaharuan di Indonesia, dalam berbagai bentuk dan coraknya, merupakan upaya pendidikan untuk masyarakat secara terbuka.
C.Kelebihan Pendidikan Islam Pra Pembaharuan
1.pelajaran ilmu-ilmu itu diajarkan satu demi Satu
2.Pelajaran ilmu sharaf didahulukan dari ilmu nahwu
3.Buku pelajaran yang mula-mula dikarang oleh ulama Indonesia serta terjemahkan dengan bahasa Melayu.
4.Murid tidak terikat dengan sistem administrasi yang ketat
D.Kekurangan Pendidikan Islam Pra Pembaharuan
1.Toko kitab belum ada, hanya ada orang pandai menyalin kitab dengan tulisan tangan.
2.Ilmu agama sedikit sekali, karena sedikit bacaan.
3.Belum lahir aliran baru dalam Islam.
4.Pelajaran suatu ilmu, hanya dikerjakan dalam satu macam kitab saja.
5.Metodologi pengajaran masih didominasi oleh system sorogan, dimana guru membaca buku yang berbahasa Arab dan menerangkan dengan bahasa daerah kemudian murid-murid mendengarkan.
6.Evaluasi belajar sangat kurang diperhatikan, hal ini diduga karena tujuan belajarnya lillahi ta’ala.
A.Pengertian Pendidikan Islam Pasca Pembaharuan
Pengertian Pembaharuan Pendidikan Islam Pendidikan Islam di Indonesia masih menghadapi berbagai masalah dalam berbagai aspek. Upaya perbaikannya belum dilakukan sacara mendasar, sehingga terkesan seadanya saja. Upaya pembaharuan pendidikan Islam secara mendasar selalu di hambat oleh berbagai masalah mulai dari persoalan dana sampai tenaga ahli. Padahal pendidikan Islam dewasa ini, dari segi apa saja terlihat goyah terutama karena orientasi yang semakin tidak jelas (Wahab, Rochidin, 2004 :11-13).

B.Faktor-faktor adanya pembaharuan pendidikan Islam
Berdasarkan uraian ini, ada Sebelas faktor yang menjadi pokok konsep pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia untuk menuju masyarakat madani sangat mendesak:
1.Adanya usaha-usaha yang kuat dari umat Islam untuk memperkuat basis organisasinya di bidang sosial ekonomi demi kepentingan mereka maupun rakyat pada umumnya.
2.Konsep dan praktek Pendidikan Islam dirasakan terlalu sempit, artinya terlalu menekankan pada kepentingan akhirat, sedangkan ajaran Islam menekankan pada keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Maka perlu pemikiran kembali konsep pendidikan Islam yang betul-betul didasarkan pada asumsi dasar tentang manusia yang akan diproses menuju masyarakat madani.
3.Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang di miliki sekarang ini, belum atau kurang mampu memenuhi kebutuhan umat Islam dalam menghadapi tantangan dunia modern dan tantangan masyarakat dan bangsa Indonesia disegala bidang.
4.Metode tidak puas dengan hanya menggunakan metode dari pesantren, namun diperlukan metode lain yang bisa merangsang peserta didik untuk lebih berfikir.
5.Isi atau materi pembelajaran sudah harus diperbarui dan tidak hanya mengandalkan kitab-kitab klasik saja. Diperlukan juga pelajaran umum disamping pelajaran agama.
6.Manajemennya yang merupakan keterkaitan antara sistem lembaga pendidikan dengan bidang-bidang lainnya
7.Di beberapa daerah di Indonesia muncul keinginan kuat untuk kembali ke kepada al-Qur’an dan sunnah dalam menilai aktivitas keagamaan dan kebudayaan yang ada.
8.Sifat dan sikap perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda yang menjajah Indonesia tersebut.
9.Faktor kebutuhan pragmatis umat Islam yang sangat memerlukan satu sistem pendidikan yang betul-betul bisa dijadikan rujukan dalam rangka mencetak manusia-manusia muslim yang berkualitas, bertakwa, dan beriman kepada Allah.
10.Agama Islam melalui ayat suci Al-Qur'an banyak menyuruh atau menganjurkan umat Islam untuk selalu berpikir, dan bermetaforma (membaca dan menganalisis sesuatu untuk kemudian bisa diterapkan atau bahkan bisa menciptakan hal yang baru dari apa yang kita lihat).
11.Adanya kontak Islam dengan Barat, yang menggugah dan membawa perubahan paradigmatis umat Islam untuk belajar secara terus menerus kepada Barat, sehingga ketertinggalan yang dirasakan akan bisa di minimalisir.
Sebelas faktor di atas adalah merupakan tuntutan terhadap kebutuhan dunia pendidikan Islam di kala itu. Dengan demikian, jika ide-ide pembaruan itu diterapkan dalam dunia pendidikan Islam, maka ianya merupakan salah satu jalan menuju perbaikan pendidikan Islam di Indonesia. Dari berbagai uraian terdahulu dapat dikemukakan beberapa indikasi terpenting dari pendidikan Islam pada masa pembaharuan.
C.Karakteristik Pendidikan Islam Pasca Pembaharuan
1.Dimasukannya pelajaran umum ke madrasah
2.Penerapan sistem klasikal dengan segala kaitannya
3.Ditata dan dikelola administrasi sekolah dengan tetap berpegang pada prinsip manajemen pendidikan
4.Lahirnya lembaga pendidikan Islam baru (madrasah)
5.Diterapkannya beberapa metode mengajar selain dari metode yang lazim di pesantren seperti sorogan dan wetanan.
D.Kelebihan Pendidikan Islam Pasca Pembaharuan
1.Adanya perubahan dari sistem ke sistem madrasah.
2.Adanya perubahan dari sistem ke sistem sekolah Islam.
3.Adanya kewajiban mempelajari Agama Islam di sekolah-sekolah umum sesuai dengan Undang-Undang Pendidikan Nomor 4 tahun 1950 pasal 20 ayat 1 dan 2
4.Adanya keterpaduan antara pembinaan imanisasi insani dan akhlak insani dengan melalui penggalian ilmu duniawi dan ukhrowi yang minimal bandingannya seimbang. Adanya penyelenggaraan pendidikan Islam yang berorientasi pada Nur Illahi, bukan semata-mata berorientasi pada teori bisnis dan bukan semata-mata berbobot kepada sistem sekular, termasuk Perguruan Tinggi Islam Negeri maupaun perguruan Tinggi Islam Swasta.
5.Adanya asimilasi (peleburan) sistem pendidikan agama Islam di pondokk modern dengan sistem pendidikan Islam di pondok pesantren tradisional.
6.Pelajaran ilmu-ilmu itu dihimpun 2 sampai 6 ilmu sekaligus.
7. Pelajaran suatu ilmu di ajarkan dalam beberapa macam kitab : rendah, menengah dan tinggi.
8. Ilmu agama telah luas berkembang, karena telah banyak kitab bacaan.
9.Mulai lahir aliran baru dalam Islam yang di bawa oleh majalah Al-Manar di Mesir.
E.Kelemahan Pendidikan Islam Pasca Pembaharuan
a)Penyelenggaraan pendidikan Islam secara formal/informal belum sesuai dengan pengertian pendidikan Islam itu sendiri, artinya belum bisa mewarnai apa yang diharapkan oleh Islam itu.
b)Sistem dan metode itu masih dalam lingkaran pendakian (proses de islami).
c)Adanya dualisme Sistem Pendidikan Islam. Zuhairini (1994:124) menyebutkan bahwa sebagai akibat dari usaha pembaharuan pendidikan Islam dalam rangka untuk mengejar kekurangan dan ketinggalan dari dunia barat dalam segala aspek kehidupan, maka terdapat kecenderungan adanya dualisme dalam sistem pendidikan Islam.
Usaha pendidikan modern yang berorientasi pada tiga pola pemikiraan (Islam murni, barat, dan nasionalisme) yang mengambil pola sistem pendidikan barat dengan menyesuaikan Islam dan kepentingan nasional.
Sistem pendidikan modern, dilaksanakan pemerintah untuk memenuhi tenaga ahli untuk kepentingan pemerintah dengan menggunakan kurikulum dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern. Sedangkan sisten pendidikan tradisional, tetap mempertahankan kurikulum tradisional yang hanya memberikan pemdidikan dan pengarahan keagamaan pada madrasah dan pondok pesantren. Dualisme dan pola pendidikan ini yang mewarnai pendidikan Islam di Negara Islam di zaman modern. (Zuhairini, 1994:124)

F.Tokoh-tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia
1.Syaikh Abdullah Ahmad
Abdullah Ahmad, tokoh pembaharu Pendidikan Islam dari Sumatera Barat adalah Pioneer dan pelopor yang pertama kali memperkenalkan sistem madrasah, yaitu model pendidikan agama yang menggunakan kelas yang dilengkapi bangku, meja, papan tulis, kurikulum yang terstandar, ijazah, dan visi lulusannya yang disesuaikan dengna perkembangan zaman. Lulusannya selain menguasai Ilmu agama Islam, juga menguasai ilmu pengetahuan umum, keterampilan, mampu berbahasa asing, khususnya bahasa Arab dan Inggris.
Gagasan dan pemikirannya dalam bidang pendidikan antara lain sebagai berikut: Pertama, tentang pemerataan pendidikan. Kedua, tentang kurikulum. Ketiga, tentang dana pendidikan. Keempat, tentang kemodernan. Kelima, tentang metode pengajaran. Selanjutnya, Abdullah Ahmad juga mengajukan metode pendidikan melalui pemberian hadiah dan hukuman sebagaimana yang berkembang saat ini.
Menurutnya, bahwa pujian perlu diberikan oleh guru apabila anak didiknya memiliki ahlak yang mulia, dan hukuman diberikan apabila anak berbuat sebaliknya. Metode lainnya yang perlu diterapkan menurut Abdullah Ahmad adalah metode bermain dan rekreasi.
Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, kita dapat mengatakan bahwa Abdullah Ahmad termasuk ke dalam kelompok pembaharu Pendidkan Islam. Ia merasa sistem Pendidikan Islam tradisional sudah tidak relevan dan kurang produktif, kemudian ia mengantikannya dengan system klasikal, madrasah. Namun rupanya masyarakat belum siap menerima system baru yang diperkenalkannya, sehingga ia mendapat kritik dan tantangan keras dari masyarakat.
2.Rahmah El-Yunusiah
Riwayat Hidup Tokoh Pendidikan dan Perjuangan Islam Wanita dari Sumatera Barat ini, lahir di Padang Panjang pada tanggal 29 Desember 1900, dan wafat di daerah yang sama pada tanggal 26 Februari 1969. Dialah pendiri Madrasah Diniyah Putri Padang Panjang (Sumatera Barat) yang merupakan perguruan wanita Islam pertama di Indonesia, dan pelopor berdirinya Tentara Kemanan Rakyat (TKR) di Sumatera Barat.
Usaha-Usaha di Bidang Pendidikan adalah orang yang pertama mendirikan sekolah yang khusus untuk kaum wanita melalui lembaga yang didirikannya. Ia bercita-cita agar kaum wanita sanggup berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) untuk menjadi ibu, pendidik yang cakap, aktif dan betanggung jawab kepada kesejahtraan bangasa dan tanah air, dimana kehidupan agama mendapat tempat yang layak.
Cita-citanya ini dirumuskan dalam tujuan pendirian Diniyah Putri. Rahmah El-Yunusiah sangat kuat pendiriannya dalam menanamkan jiwa agama di lembaga pendidikan yang dibangunnya. Beliau pendidik yang berjiwa nasionalisme dan patriotisme yang amat kuat.
Ia merupakan orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di sekolah yang didirikannya, yaitu ketika mendengar berita proklamasi kemerdekaan. Rahmah El-Yunusiah juga tercatat sebagai orang yang pertama kali memiliki cita-cita mendirikan perguruan dan Rumah sakit yang khsusus untuk kaum wanita. Rahmah El-Yunusiah telah mencapai kemajuan yang diakui oleh dunia, sebagaimana terlihat pada penghargaan sebagai syaikhah yang diberikan oleh Universitas Al-Azhar, Kairo kepadanya. Akhirnya kita dapat mencatat, bahwa Rahma El-Yunusiah termasuk orang yang berprestasi tinggi, pelopor emansipasi wanita, pejuang nasionalisme dan patriotisme sejati, serta memiliki pemikiran, pandangan, cita-cita, dan upaya-upaya kongkret yang original dan genuine sebagai hak paten yang dimilikinya.
3.As Panji Gumilang
As Panji Gumilang adalah seorang tokoh yang berhasil membangun Lembaga Pendidikan terbesar dan termegah di kawasan Asia Tenggara, bahkan mungkin di dunia. Di atas lahan seluas 1.200 hektar, ia membangun Lembaga Pendidikan yang diberi nama Al-Zaitun.
Gagasan dan pemikiran As Panji Gumilang dalam pendidikan dapat dilihat dari karya monumental dan spektakulernya dalam pembangunan Ma’had Al-Zaytun yang dibangun sejak tahun 1995 dan mulai resmi beroperasi pada tanggal 27 Agustus 1999. Selain dari ketiga tokoh pembaharuan pendidikan Islam diatas masih banyak lagi tokoh-tokoh yang lainnya.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmaniah maupun rohaniah, menumbuh suburkan hubungan harmonis setiap pribadi dengan Allah, manusia dan alam semesta.
Pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari proses sejarah sebelumnya. Faktor utama hal ini adalah sejarah penyebaran Islam di Indonesia. Sejalan dengan proses penyebaran Islam di Indonesia, pendidikan Islam sudah mulai tumbuh meskipun masih bersifat individual.
Pengertian Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia masih menghadapi berbagai masalah dalam berbagai aspek. Upaya perbaikannya belum dilakukan sacara mendasar, sehingga terkesan seadanya saja. Upaya pembaharuan pendidikan Islam secara mendasar selalu di hambat oleh berbagai masalah mulai dari persoalan dana sampai tenaga ahli.
DAFTAR RUJUKAN
Wahab, Rochidin, Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia. Cet. I. Bandung: Alfa Beta, 2004.
Nata, Abuddin, Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. Cet. I. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005.
Zuhairinin dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1989
Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenanda Media, 2007.

Share:

IMPLIKASI SPIRITUALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

A.Implikasi Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam Terhadap Struktur Komposisi Kurikulum PAI
Perubahan pola pendidikan agama Islam dari pola behavioral konvesional menuju pola konstruktivisme humanism teosentris yang mewujudkan spiritualisasi pendidikan agama Islam, pada gilirannya akan melahirkan implikasi besar terhadap struktur komposisi kurikulum pendidikan agama Islam.
Dalam tradisi behavariorisme memandang belajar sebagai perubahan perilaku yang mencerminkan kondisi dari belum tahu ke kondisi sudah tahu, maka materi yang diajarkan harus disusun secara hirarkhis dari yang sederhana ke yang lebih kompleks. Sedangankan dalam tradisi konstruktivisme humanism teosentris, aspek-aspek pendidikan agama Islam disajikan dengan pendekatan integrative interkonektif dan berusaha untuk mengaitkan pembelajaran pendidikan agama Islam dengan konteks dan pengalaman-pengalaman hidup peserta didik yang beraneka ragam atau konteks masalah-masalah serta situasi-situasi riil kehidupannya.
Jika dalam kurikulum konvensional, pendidikan agama Islam di sekolah pada dasarnya berusaha untuk membina sikap dan perilaku keberagamaan siswa dengan titik tekan pada pemahaman tentang agama itu sendiri, maka dalam kurikulum dengan pendekatan konstruktivisme humanistic, diutamakan juga aspek pemahaman dan ptraktik keberagamaan, tetapi lebih mengutamakan aspek being (beragama atau menjalani hidup atas dasar ajaran dan nilai-nilai agama).
Dengan kata lain, pendidikan agama Islam dengan pendekatan konstruktivisme lebih diorientasikan pada tataran moral action, yakni agar peserta didik tidak hanya berhenti pada tataran kompeten, tetapi sampai memiliki kemauan, dan kebiasaan dalam mewujudkan dan mengamalkan ajaran nilai-nilai agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa implikasi spiritualisasi pendidikan agama Islam terhadap struktur komposisi kurikulum PAI adalah bahwa secara material komposisi kurikulum tidak berubah, materinya tetap, namun yang berubah adalah pendekatan dan porsi panyajiannya yang dikaitkan dengan konteks konkret keseharian siswa.
Baca Juga
B.Implikasi Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam terhadap Pendidik dan Terdidik.
Spiritualisasi pendidikan agama Islam yang menganut paradigma konstruktivisme humanisme teosentris juga berimplikasi terhadap pendidik dan terdidik. Menurut sistem konstruktivisme humanisme teosentris pendidikan harus berorientasi pada pengenalan diri sendiri dan pembebasan dari budaya pembisuan sehingga dapat mengembangkan dirinya.
Konsekuensi model pendidikan ini, guru bukan sekedar pendidik yang menuangkan ilmu, namun teman dialog siswa yang sedang mencari jati dirinya. Jadi, dengan sistem konstruktivisme humanisme teosentris, guru agama Islam tidak hanya berperan sebagai ustadz saja, tetapi berperan juga sebagai mu’allim, murabby, mursyid, mudarris dan mu’addib sekaligus.
Tidak hanya kepada guru, spiritualisasi pendidikan agama Islam juga berimplikasi pada terdidik. Dengan konstruktivisme humanisme teosentris, siswa dapat belajar dari keslahan, siswa dapat mengasah lima unsur kepribadian manusia yang disebut OCEAN (Opennes, to experience, conscientiousnes, extrertion, agreeableniess, neurotism). Dengan begitu, pada gilirannya siswa diharapkan dapat mengalami perubahan sikap, tingkah laku maupun pola pikir sehingga semakin dewasa dan inklusif dalam menerima keberadaannya sebagai bagian dari masyarakat yang majemuk ini, sehingga terwujud suasana keberagamaan inklusif pluralistik.

Sumber, Edi Susanto, Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam Menuju Keberagamaan Inklusif Pluralistik, Surabaya: Pena Salsabila, 2016
Share:

KONSTRUKSI SPIRITUALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Ketidakberdayaan system pendidikan agama di Indonesia sebagai bagian dari system pendidikan nasional kita secara keseluruhannya, tampaknya disebabkan penekananpendidikan agama selama ini pada proses transformasi ilmu agama kepada anak didik, bukan pada proses transformasi nilai-nilai luhur keagamaan. Oleh karena itu, paradigma behavioristik mekanistik tersebut pelu digeser pada paradigma humanisme teosentris konstruktivistik. Dalam bingkai paradigma humanisme teosentrik konstruktivistik inilah spiritualisasi pendidikan agama Islam dapat dikontruksi.
Dalam rangka tercapainya spiritualisasi pendidikan agama Islam dapat diusulkan beberapa noktah pemikiran sebagai berikut:
1)Sadari bahwa pendidikan agama atau pendidikan religiousitas pada dasarnya merupakan suatu pendidikan untuk menumbuhkembangkan sikap batin siswa agar mampu melihat kebaikan Tuhan dalam diri sendiri, sesama dan dalam lingkungan hidupnya.
2)Laksanakan proses pembelajaran pendidikan agama Islam dengan rileks dan dengan menggunakan pola dan metode apapun yang dapat mengaktifkan siswa.
3)Berusaha mewujudkan pengalaman yang autentik, dan bukan dibuat-buat.
4)Wujudkan proses pembelajaran yang dirancang dengan pola paradigma pedagogik reflektif (PPR) yang lebih mengutamakan siswa untuk menemukan dan memaknai pengalamannya sendiri.
5)Disamping melaksanakan pola paradigma pedagogik reflektif (PPR), laksanakan pula strategi projet based learning (PBL) sebagai pengimbang.
Dengan pola-pola tersebut di atas siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk memperdalam iman sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing dan untuk menanggapi permasalahan di sekitarnya melalui komunikasi iman bersama dengan teman-temannya baik yang satu kepercayaan maupun yang berbeda.
Bila hal demikian ini telah menjadi kebiasaan pengelolaan pembelajaran, maka guru telah mengantarkan siswanya untuk mengetahui bagaimana belajar cara belajar (learning how to learn). Dengan kemampuan itu siswa akan menjadi berdaya dan akan menjadi seorang pembelajar sepanjang hidup.
Pengemabangan pola pembelajaran yang demikian, membutuhkan komitmen total guru dengan selalu:
a.Aktif mengembangkan bahan pelajaran dan metodenya
b.Tidak merasa puas atas keyakinan dan hasil yang dicapainya
c.Kritis tidak hanya ikut-ikutan
d.Bebas berpikir dan mengembangkan pemikirannya
e.Mampu berefleksi terhadap apa yang dilakukan dan yang akan dilakukan serta implikasinya pada pembentukan pribadi para siswanya.

Sumber, Edi Susanto, Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam Menuju Keberagamaan Inklusif Pluralistik, Surabaya: Pena Salsabila, 2016
Share:

BASIS FILOSOFIS SPIRITUALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Sukidi Mulyadi menyatakan bahwa sesungguhnya yang menjadi dasar pelaksanaan pendidikan termasuk pendidikan agam Islam di Indonesia adalah teori behaviorisme, ala Barat. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan ouput yang berupa respon. Oleh karena itu, apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan tanggapan yang diberikan oleh pelajar (respon) haruslah dapat diamati dan diukur.

Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pembelajar dalam berperilaku. Pandangan teori behavoristik ini banyak dianut oleh guru dalam merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu, yang kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana dampai kepada yang kompleks. Namun, dari semua teori yang ada, teori BF Skinner-lah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori behavioristik.

Teori ini banyak dikritisi karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.

Pada sisi lain, teori behavioristik ini juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berpikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Dalam aplikasinya pada pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai obyek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, implikasi teori behavioristik dalam proses pembelajaran diaraskan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksprementasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena itu, teori behavoristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dahulu secara ketat.

Lebih jauh, tujuan pembelajaran dalam perspektif teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan belajar sebagai aktivitas mimetic yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang dipelajari dalam bentuk laporan, kuis dan tes sangat ditekankan. Sementara evaluasi pembelajaran lebih menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah dan biasanya menggunakan tes.

Dengan demikian, pembelajaran ala behavioristik sudah sedemikian sangat mengental dalam proses pembelajaran di Indonesia. Dan pembelajaran dengan mainstream behavioristik ini berimbas pula dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam. buktinya adalah sebagai berikut:
  1. Pendidikan agama di sekolah-sekolah adalah pendidikan agama yang bersifat ideologis otoriter.
  2. Perdebatan masalah-masalah penting dari agama-agama tidak pernah transparan demi mendapatkan titik pertemuan bersama.
  3. Pendidikan agama diajarkan secara literer, formalistik sehingga wawasan pluralisme yang menjadi realitas masyarakat kita tidak tampak sekali.
  4. Pengajaran agama yang mencoba menumbuhkan kritisisme dan apresisasi atas agamanya sendiri atau agama orang lain bahkan bisa dikategorikan menyesatkan.
  5. Konstruksi pendidikan agama adalah konstruksi rezim yang secara kaku telah berhasil dirumuskan oleh rezim otoriter orde baru tersebut.
Baca Juga
SPIRITUALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan agama dengan bayan-bayang pengaruh behavioristik tersebut harus didekonstruksi dengan filosofi lain yang lebih manusiawi dan lebih menghargai terdidik sebgaai manusia, sehingga nantinya pendidikan agama yang diberikan dilembaga-lembaga pendidikan formal maupun non formal berwajah lebih manusiawi dan tidak lagi berwajah mekanistik sebagaimana disinyaleminkan oleh Sukidi di atas.

Filosofi yang diusulkan sebagai bentuk koreksi terhadap pola pendidikan agama (Islam) model behavioristik adalah sebagai berikut:

Humanisme Teosentris

Pendidikan agama Islam merupakan upaya normatif yang berfungsi untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia, maka dalam mengkonstruksi teori maupun aplikasi pendidikan agama Islam harus didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam. dari sekian banyak nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits, dapat diklasifikasikan pada dua aspek yaitu nilai dasar (intrinsik) dan nilai instrumental. Nilai yang tergolong intrinsik fundamental dan memiliki posisi ideal tersebut adalah Tauhid (Iman Tauhid).

Lebih jauh, Tauhid merupakan nilai intrinsik, nilai dasar dan tidak akan berubah menjadi nilai instrumental karena kedudukkannya paling tinggi. Seluruh nilai yang lain dalam konteks tauhid menjadi nilai instrumental. Secara terminologis, tauhid berarti pengakuan terhadap keesaan Allah. Sikap tauhid tidak cukup hanya percaya kepada adanya Allah (seperti orang Makkah dahulu), tetapi harus pula mempercayai Allah itu dalam kualitasnya sebagai satu-satunya yang bersifat keilahian atau ketuhanan, dan sama sekali tidak memandang adanya kualitas serupa kepada suatu apapun yang lain.

Secara metafisis dan aksiologis tauhid menduduki posisi tertinggi karena dia ada dengan sendirinya secara mutlak dan transenden, sedangkan eksistensi yang lain tergantung oleh-Nya. Bertitik tolak dari pengertian tersebut, tauhid sudah cukup sebagai landasan bagi seluruh aktivitas kehidupan umat manusia termasuk dalam pendidikan, karena ia merupakan nilai yang paling esensial dan sentral serta seluruh gerak hidup muslim tertuju ke sana. Dengan dasar tauhid sesungguhnya menjadi titik poros sentral juga spiritual dari berbagai nilai dalam pendidikan Islam, sehingga dengan dasar demikian, tampak sekali bahwa basis filosofis pendidikan islam adalah teosentrisme (berpusat kepada Tuhan). Namun perlu disadari, bahwa pemusatan kepada Tuhan tersebut, secara subtansial bukan untuk kepentingan Tuhan, tetapi sepenuhnya untuk kepentingan manusia. Karena itu, pendidikan Islam juga berlandaskan pada humanisme (berpusat pada manusia). Dalam konteks demikian, dapat ditegaskan bahwa basis tumpu filosofis pendidikan agama Islam adalah perpaduan antara teosentrisme dan humanisme atau lzim diidentifikasi sebagai humanisme teosentris.

Karena pendidikan Islam juga berlandaskan humanisme, maka nilai-nilai fundamental yang secara universal dan obyektif merupakan kebutuhan manusia perlu dikemukakan sebagai dasar pendidikan agama Islam, meskipun harus digaris bawahi tebal, bahwa posisinya tetap berada dalam tauhid (teosentris) sebagai dasar nilai. Implikasikan dalam pendidikan adalah setiap orang memiliki hak dan pelayanan yang sama dalam pendidikan. Oleh karena itu, implementasi humanisme teosentris tersebut dalam praktik kehidupan dan pendidikan dapat fleksibel atau luwes, selama subtansinya tetap terpelihara yaitu, menunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan karena hakikatnya ajaran Islam memang untuk memenuhi kebutuhan manusia, bukan untuk kepentingan Tuhan.

Konstruktivisme

Konstruktivisme secara bahasa berasal dari kata to construct yang artinya membangun, membuat, menciptakan, mendirikan, memunculkan dan merancang. Secara istilah, teori konstruktivisme memandang bahwa indivdu belajar dengan cara mengkonstruksi makna melalui interaksi dan dengan menginterprestasi lingkungannya.

Sehubungan dengan konteks pembelajaran, Leo Sutrisno memandang konstruktivisme sebagai berikut:
  • Tradisi contructivisme memandang belajar sebagai proses aktif seseorang dalam membangun pengetahuan yang bermakna dalam dirinya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya dengan cara membangun keterkaitan antara pengetahuan yang sedang dihadapi dan pengetahuan yang telah dimiliki.
  • Dalam tradisi konstruktivisme, silabus tidak lagi merupakan daftar materi yang diterapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran, tetapi merupakan yang mungkin terbentuk sebagai hasil penggabungan yang kompleks antara; pengetahuan yang telah ada kepercayaan, keterampilan, pengalaman, tantangan dan peluang.
Adapun karakteristik pembelajaran kontruktivisme adalah:
  1. Emphasize problem solving
  2. Recognizes that teaching and learning need to accur in multiple contexts
  3. Assists students in learning how to monitor their learning so that they can become self regulated learners
  4. Anchors teaching in the diverse life contexts of students
  5. Encourages students to learn from each other
  6. Employ authentic assessment
Dengan demikian, pola konstruktivisme pndidikan agama Islam akan menjadi lebih santun dan inklusif. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan agama Islam sudah waktunya didekonstruksi dengan menggunakan paradigm filosofis konstruktivisme, sehingga pendidikan agama menjadi lebih bermakna pada terdidik.

Sumber, Edi Susanto, Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam Menuju Keberagamaan Inklusif Pluralistik, Surabaya: Pena Salsabila, 2016
Share:

SPIRITUALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PENGERTIAN DAN LATAR BELAKANG GAGASAN
A.Pengertian Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam
Spiritualisasi berasal dari kata “spiritual” yang berarti “kejiwaan, rohani, batin, mental, moral”. Lorens Bagus menyatakan bahwa istilah spiritual memliki beberapa pengertian, yaitu:
1.Immaterial, tidak jasmani, terdiri dari roh
2.Mengacu ke kemampuan-kemampuan lebih tinggi
3.Mengacu ke nilai-nilai manusiawi yang non material
4.Mengacu ke perasaan dan emosi-emosi religious dan estetik.
Terkait dengan konsep pendidikan Islam, kita mendapati, “polemik” istilah antara kata tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Untuk itu, istilah-istilah tersebut penting dijelaskan.
Al-Tarbiyah merupakan masdar dari kata rabba yang berarti mengasuh, mendidik, dan memelihara. Fakhr al-Din al-Razy memaknai rabbayaniy sebagai bentuk pendidikan dalam arti luas, yakni tidak hanya menyangkut pendidikan yang bersifat ucapan (dominan kognitif), tetapi menunjuk pada makna pendidikan tingkah laku (dominan afektif). Sementara Sayyid Qutb menafsirkan kata tarbiyah dengan upaya pemeliharaan jasmaniah peserta didik dan membantu menumbuhkan kematangan sikap mental sebagai pancaran akhlak karimah pada peserta didik.
Al- Ta’lim merupakan masdar dari kata ‘allama yang berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan dan keterampilan. Abdul Fatah Jalal menyatakan bahwa konsep ta’lim merupakan proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian tanggung jawab dan pemahaman amanah sehingga terjadi proses pensucian (tazkiyah) atau pembersihan manusia dari segala kotoran dan menjadikannya berada dalam kondisi yang memungkinkannya untuk menerima hikmah dan mempelajari segala yang bermanfaat baginya dan yang tidak dia ketahui.
At-Ta’dib merupakan bentuk masdar dari kata addaba bermakna mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan budi pekerti terdidik. Sehubungan dengan itu, Syed Ahmad Naquib al-Attas menyatakan bahwa penggunaan konsep Ta’dib lebih cocok digunakan dalam diskursus pendidikan Islam, karena pengertian ta’lim hanya tertuju pada proses transfer ilmu dengan tanpa adanya pengenalan-pengenalan lebih mendasar pada perubahan tingkat laku.
Pada sisi lain, sering juga kita dapati pembahasan yang menjumbuhkan dengan tidak sengaja pengertian pendidikan Islam dengan pendidikan agama Islam. Ketika berbicara tentang pendidikan Islam, isinya terbatas pada pendidikan agama Islam atau sebaliknya, padahal, secara subtansial kedua istilah tersebut berbeda.
Pendidikan Islam adalah nama sistem pendidikan yang secara keseluruhan mendukung terwujudnya sosok muslim yang diidealkan. Sedangkan pendidikan agama Islam merupakan salah satu bagian dari pendidikan Islam. Atas dasar itulah, istilah “pendidikan Islam” dapat dipahami dalam beberapa perspektif, yaitu:
1.Pendidikan menurut Islam, yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumbernya yakni Al-Qur’an dan Hadits.
2.Pendidikan keislaman, yakni upaya mendidikan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya agar menjadi pandangan dan sikap hidup seseorang.
3.Pendidikan dalam Islam atau proses dan praktik penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam sejarah umat Islam.
B.Latar Belakang Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam.
Spiritualisasi pendidikan agama Islam dicanangkan dilatari oleh beberapa kenyataan atau fakta sebagai berikut:
1.Dunia pendidikan formal mengalami kegoncangan karena dampak dari pertikaian ideologi dan perspektif pendidikan.
2.Adanya sinyalemen terjadinya kegagalan sistem pendidikan di Indonesia.
3.Lebih jauh, pendidikan di Indonesia hingga saat ini menganut pandangan absolutisme yang menyatakan bahwa silabus merupakan daftar materi yang harus dipelajari oleh peserta didik, disampaikan kepada peserta didik dalam bentuk alih pengetahuan melalui pengajar, dan evaluasinya bersifat reproduksi pengetahuan yang dipelajari.
4.Imbas pendangan absolutisme tersebut pada gilirannya menjalar ke pengajaran pendidikan agama.
5.Harus diakui, pendidikan agama Islam yang dikembangkan sejak dini dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi selama ini masih bersifat verbalistis yang menekankan pada aspek indoktrinasi dan penaman nilai ala kadarnya dari pada penumbuhan daya kritis dan pengembangan intelektualisme siswa.
6.Hingga saat ini, pelaksanaan pendidikan agama yang berlangsung di sekolah masih dianggap kurang berhasil dalam mengarap sikap dan perilaku keberagamaan peserta didik serta membangun moral dan etika bangsa.
7.Pada sisi lain, menurut pengamatan sementara ahli, bahwa dalam bidang social capital bangsa Indonesia ini sudah mencapai titik low trust society atau masyarakat yang tingkat amanahnya rendah, bahkan hampir mencapai titik zero trust society alias masyarakat yang sulit dipercaya.
Atas dasar itu, penting dilakukan reorientasi, bahkan rekonstruksi terhadap kesalahan-kesalahan pendidikan, lebih-lebih kesalahan dalam pendidikan agama Islam selama ini, yaitu antara lain melalui upaya spiritualisasi pendidikan agama Islam.

Sumber, Edi Susanto, Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam Menuju Keberagamaan Inklusif Pluralistik, Surabaya: Pena Salsabila, 2016
Share:

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA MENGENAI MELENGKAPI PUISI ANAK BERDASARKAN GAMBAR MELALUI METODE DEMONTRASI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelajaran Bahasa Indonesia merupakan ilmu yang efektif apabila digunakan sebagai alat komunikasi di berbagai aspek kehidupan yang terdiri dari beberapa unsur untuk mengembangkan kwalitas kehidupan dimasyarakat yang serta komplek. Karena disadari atau tidak bangsa Indonesia terdiri beragam suku bangsa, kebudayaan serta budaya yang berbeda-beda dari masing-masing daerah tersebut.
Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indobesia sangat penting sejak dini agar anak didik lebih memahami kemajuan pengetahuan dan kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia yang pada akhirnya akan menimbulkan sikap ilmiah dan aspresiatif dalam diri siswa tersebut.
Maka dari itulah pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan peserta didik untuk berkompetensi dibidang kebahasaan dan teknologi dengan baik dan benar, baik secara teori maupu secara praktik, serta menumbuhkan semangat dan cinta terhadap karya manusia Indonesia (Permendiknas RI no. 22 tahun 2006)
Kemampuan dalam pengetahuan dan teknologi dalam arti luas adalah kemampuan mengorganisasi pemikiran, keinginan, ide, pendapat atau gagasan dalam karya yang ilmiah secara utuh. Secara umum kemampuan ini bergantung pada frekuensi dan kualitas pengetahuan tentang teknologi , yang dilakukan seseorang dalam kesehariannya. (santoso, 2007 :5 :19)
Hal tersebut sangat kontradiktif dengan kenyataan yang terjadi di kelas III SD Negeri Pakong 2 Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan. Setiap diadakan umpan balik terhadap apa yang telah dilakukan hanya 7 siswa (40%) dari 19 siswa yang mampu menyerap pelajaran yang telah diajarkan , bahkan ada siswa yang tidak mengerti sama sekali (tidak merespon pertanyaan) yang diberikan guru.
Dan ketika diadakan evaluasi pembelajaran, siswa yang delapan orang tersebut yang memcapai standar kelulusan minimal (SKM) yang telah ditentukan yaitu 65.
Dari kenyataan tersebut peneliti meminta teman sejawat untuk ikut membantu mengidentifikasi permasalahan yang dialami oleh siswa kelas III SD Negeri Pakong 2 Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan tersebut. Dari beberapa demontrasi kecil yang kami lakukan akhirnya dapat diidentifikasi beberapa permasalahan diantaranya :
1. Rendahnya tingkat kemampuan memahami analisa materi dalam pembelajaran yang telah diterapkan oleh guru terhadap siswa
2. Rendahnya siswa dalam menyelesaikan tugas materi pelajaran yang telah disampaikan
3. Kurangnya siswa dalam merespon materi pelajaran yang disampaikan
Setelah diidentifikasi masalah-masalah yang terjadi , akhirnya diketahui beberapa faktor penyebab dari permasalahan tersebut, yaitu :
1. Kurangnya pemahaman siswa terhadap pelajaran yang disajikan
2. Penggunaan teknik dan metode pembelajaran yang monoton dan kurang bervariasi
3. Kurangnya media yang dapat membangkitkan minat belajar siswa.
4. Kurangnya kreativitas guru dalam memilih metode yang sesuai dengan karekter siswa
5. Tidak adanya minat dalam pembelajaran matematika
6. Penyampaian tidak menyeluruh dalam satu kelas

B. Rumusan Masalah
Dari beberapa identifikasi masalah yang telah dipaparkan pada latar belakang masalah, akhirnya dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :Bagaimanakah meningkatkan kemampuan siswa dalam Bahasa Indonesia mengenai melengkapi puisi anak berdasarkan gambar melalui penggunaan metode demontrasi pada siswa kelas III SD Negeri Pakong 2 Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan.

C. Tujuan
Kegiatan yang kita lakukan mempunyai tujuan yang jelas sebagai arah dan penentu kegiatan yang dilakukan. Begitu juga pada penelitian tindakan kelas ini mempunyai tujuan , yaitu :
 Meningkatan kemampuan siswa dalam memahami puisi anak berdasarkan gambar melalui metode demontrasi pada siswa kelas III SD Negeri Pakong 2 Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan.

D. Manfaat
Sedangkan Penelitian Tidakan Kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang sangat besar pada guru (peneliti) ,Kepala sekolah, dan pemerhati pendidikan.
1. Bagi guru, penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
a. Membantu guru dalam memperbaiki pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas III SD Negeri Pakong 2 Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan.
b. Membantu guru dalam mengembangkan profesionalismenya, baik dalam pembuatan persiapan pembelajaran, penggunaan metode dan teknik pembelajaran, dan evaluasi hasil pembelajaran.
c. Dapat menimbulkan rasa percaya diri pada guru yang bersangkutan, karena dengan PTK ini guru akan mengetahui letak kelemahan dan kelebihan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, dan dijadikan bekal untuk memperbaiki proses pembelajaran berikutnya.
d. Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan kerampilan yang dimilikinya kearah yang lebih baik.
2. Bagi siswa, PTK ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang sangat besar pada proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, sebab dengan hasil PTK ini, akan diketahui metode dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan karekter siswa.
3. Bagi kepala sekolah, hasil Penelitian Tindakan Kelas ini juga diharapkan, akan dijadikan dasar dan arah supervisi dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, dalam memberikan penelitian kinerja guru, serta memperbanyak inovasi-inovasi di bidang metodologi pembelajaran di sekolah.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian tentang Metode Demontrasi
Pengertian Metode Demontrasi
Metode Demontrasi menurut Hyman (Sudjana 2002:189) identik dengan metode unjuk kerja, dimana metode demonstrasi bersama dengan metode ceramah merupakan dua metode paling efektif yang digunakan oleh guru yang bekerja dengan kelompok-kelompok lain.
Metode demontrasi pada umumnya ditandai suatu pembahasan permasalahan di mana guru mengajukan pernyataan dan para siswa menyediakan sejumlah Permasalahan untuk dibahas bersama dalam penyajian materi sebelum penugasan.
Secara logis, metode demontrasi umpan balik personal (personal feedback) yakni umpan balik yang ditujukan kepada setiap siswa secara pribadi.
Adanya tuntutan umpan balik personal ini mengisyaratkan bahwa metode demontrasi kurang bijaksana dimana untuk pertemuan yang jumlah siswanya lebih dari 40 orang.
Metode demontrasi dapat diartikan sebagai suatu format interaksi belajar mengajar yang ditandai adanya suatu atau lebih tugas yang diberikan oleh guru, dimana penyelesaian tugas tersebut dapat dilakukan secara kelompok sesuai dengan perintahnya.
Menurut Sumantri (2005:16) metode demontrasi atau unjuk kerja diartikan sebagai suatu cara interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan adanya tugas dari guru untuk didemontrasikan peserta didik di sekolah secara berkelompok atau perorangan.
Dari pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa metode demontrasi adalah suatu metode belajar mengajar dengan diberikannya tugas untuk dikerjakan oleh guru.
Tujuan dari penggunaan metode demontrasi menurut Rosenshine (Eage, 1984:623) adalah untuk merangsang siswa supaya aktif belajar baik secara individual maupun kelompok. Pada tahun-tahun terakhir ini, metode demonstrasi lebih menonjol sebagai suatu komponen pengajaran di kelas pada jenjang dasar (elementary) atau sekolah dasar.
Tetapi untuk menerapkan metode demonstrasi secara efektif, guru hendaknya mempertimbangkan jumlah siswa, kemampuan siswa, dan jenis-jenis tugas yang diberikan.
Davies (Sudjana, 2004:52) mengemukakan bahwa beberapa tugas merupakan kegiatan akademis atau intelektual, sedangkan lainnya terutama berhubungan dengan keterampilan fisik. Selain itu, tugas seringkali merupakan kegiatan akademis/intelektual dan keterampilan fisik sekaligus.
Selanjutnya Davies (Sudjana, 2004:52) mengemukakan bahwa untuk dapat mengemukakan tentang apa yang sebenarnya akan diajarkan (melalui sejumlah tugas), maka seorang guru memerlukan analisis tugas yang benar. Analisis tugas dilakukan sesuai dengan tujuan menurut Davies (Sudjana, 2004:53) adalah sebagai berikut :
a. Menerangkan tugas yang harus dipelajari siswa
b. Mengisolasikan tingkah laku yang diperlukan
c. Mengidentifikasi kondisi dimana tingkah laku terjadi
d. Menetapkan suatu kriteria untuk tingkah laku atau penampilan yang dapat diterima
Gagne (Sudjana, 2004:618) memilah milah tugas berdasarkan jumlah siswa dalam kelas, sehingga didapatkan berbagai pilihan jenis tugas atau penugasan untuk masing-masing kelompok, Adapun jenis-jenis tugas yang diberikan pada jumlah siswa dalam kelas adalah sebagai berikut :
1. Pilihan jenis tugas untuk kelompok besar (jumlah siswa lebih dari 40 orang), yakni :
• Tugas oleh kelompok atau beberapa siswa
• Laporan lisan untuk oleh siswa atau berkelompok siswa
• Melihat slide, video, atau televise
• Mendengarkan radio atau rekaman, dan
• Field trips
2. Pilihan jenis penugasan untuk kelompok kecil (jumlah siswa 2 sampai 20 orang), yakni :
• Unjuk kerja antara dua orang siswa atau kelompok siswa (biasanya tidak lebih dari 20 atau 30 menit)
• Bermain peran atau dramatisasi
• Kegiatan proyek
• Tugas tentang yang benar dan salah dalam tes yang telah diberikan, dan
• Respons kelas
3. Pilihan jenis penugasan untuk pembelajaran individual, yakni :
• Ujian tentang isi pelajaran atau informasi dalam papan bulletin
• Mengkonsultasikan buku-buku rujukan dan bahan pustaka lain
• Studi terbimbing
Dari jenis-jenis tugas yang dikemukakan oleh Berliner, dapat diidentifikasi bahwa pilihan bahan penugasan seringkali berhubungan dengan metode yang lain.
Berdasarkan pendapat Davies (Sudjana, 2004:52) dapat dipilih jenis-jenis tugas berikut ini :
a. Tugas latihan. Merupakan tugas untuk melatih siswa menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan pembahasan sebelumnya. Tugas latihan diberikan pada jam pelajaran atau diluar jam pelajaran, sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan waktu.
b. Tugas membaca/mempelajari buku terentu. Guru menugaskan kepada siswa, baik perorangan atau kelompok, membaca dan mempelajari beberapa halaman atau bab tertentu di sebuah buku diluar jam pelajaran.
c. Mengembangkan kreativitas peserta didik.
4. Kelemahan Metode demontrasi
Kelemahan metode demontrasi dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Sulit mengontrol peserta didik apakah belajar sendiri atau dikenakan orang lain
b. Sulit memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu peserta didik
c. Tugas yang menoton dapat membosankan peserta didik
d. Tugas yang banyak dan sering dapat membuat beban dan keluhan peserta didik
e. Tugas kelompok dikerjakan oleh orang tua tertentu atau peserta didik yang rajin dan pintar

Langkah-langkah penggunaan metode demontrasi dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Guru menggambarkan secara singkat tentang topik atau isu yang didemontrasikan,kemudian
b. Guru meminta suatu respon atau unjuk kerja dari siswa mewakili kelompoknya tentang suatu pertanyaan/permasalahan , dan
c. Guru mengawasi dan membimbing siswa.

Keempat kegiatan yang dikemukan di atas merupakan mata rantai yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Empat kegiatan tersebut juga prosedur pemakaian metode demontrasi pada saat dilaksanakan di kelas.
Langkah-langkah umum yang dapat diikuti dalam penggunaan metode demontrasi adalah sebagai berikut :
1. Persiapan pemakaian metode demontrasi, mencakup :
a. Membuat rancangan demontrasi
b. Mendescripsikan tugas dengan para siswa
c. Membuat lembaran kerja jika perlu, dan
d. Menyediakan sumber-sumber belajar yang diperlukan untuk menyediakan tugas.
2. Pelaksanaan pemakaian metode demontrasi, mencakup :
a. Menjelaskan tujuan dan manfaat tugas yang diberikan kepada siswa
b. Memberikan penjelasan tentang tugas (terutama mengenai kesulitan yang mungkin dihadapi dan alternative pemecahannya)
c. Membantu pembentukan kelompok (jika perlu)
d. Memberikan tugas lisan atau tertulis
e. Memonitor atau mengamati pelaksanaan dan/atau peneyelesaian tugas, dan
f. Mengadakan diskusi hasil pelaksanaan tugas
3. Tindak lanjut pemakaian metode demontrasi, mencakup :
a. Melaksanakan penilaian hasil pelaksanaan demontrasi
b. Menyimpulkan penilaian proses dan hasil pelaksanaan dan
c. Mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang tidak dapat diselesaikan oleh siswa selama pelaksanaan demontrasi

B. Pembelajaran Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia merupakan materi yang mengandung beberapa ilmu pengetahuan yang dapat mengembangkan pengetahuan dibidang kebahasaan secara sistemik, mana suka, ujar, manusiawi, dan produtif. Disebut sistemik karena pengetahuan kebahasaan diatur oleh system, yaitu system teori dan system praktik. Disebut mana suka karena unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar hanya saja berdasarkan penemuan dan kebiasaan yang lumrah digunakan. Pemahaman kebahasaan tersebut disesuaikan dengan kemajuan dan kondisi teknologi. Kebiasaan dan budaya disebut alat penemuan yang telah mendapat pengakuan secara luas dan dapat diterima menurut ilmu pengetahuan dan telah dapat menghasilkan suatu produk yang bermanfaat dalam kehidupan di masyarakat. Disebut menusiawi Karena pengetahuan menjadi berfungsi selama manusia yang memanfaatkannya, bukan makhluk lainnya.
Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan pembelajaran yang sangat penting diberikan sejak dini, karena Bahasa Indonesia selain sebagai materi pembelajaran di sekolah juga dapat dimanfaatkan di luar sekolah atau setelah terjun menjadi masyarakat . Pembelajaran Bahasa Indonesia suatu pembelajaran yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar, berkarya, dan mengungkapkan pikiran dan perasaan, serta membina persatuan dan kreatifitas bangsa. Sedangkan mata pelajaran Bahasa Indonesia diajarkan di Sekolah Dasar bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan dasar penggunaan bahasa baku yang meliputi : teori dan praktik. (Wiranata, 2005 : 1.17)
Kemahiran guru dalam memilah-milah metode pembelajaran sangat menentukan kesuksesan pembelajaran bahasa Indonesia. Selain, itu juga ditentukan cara guru mengatur strategi pembelajaran, karena hal ini sangat berpengaruh kepada cara siswa belajar. Maka dari itulah ketelitian guru dalam memilah- milah metode mengajar yang sesuai dengan karakteristik siswa dan materi yang akan mempengaruhi hasil belajar siswa sekolah.
Persiapan sebelum mengajar sangat penting dilakukkan oleh guru, sebab apabila persiapan mengajar telah dibuat, penyampaian materi akan terarah sesuai dengan ketentuan – ketentuan dalam persiapan tersebut, baik dalam hal tujuan yang akan dicapai, penerapan metode yang akan digunakan, sampai pada alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru harus mampu menerapkan metode , pendekatan dan teknik pembelajaran yang sesuai dengan karakter materi yang akan disampaikan. Selain itu, penguasaan kelas pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, motivasi belajar, dan hal – hal yang bersangkut paut dengan kelancaran proses pembelajaran sangat mempengaruhi hasil belajar siswa di sekolah. Apabila beberapa komponen pelaksanaan pembelajaran tidak dikuasai dengan baik dan benar, dapat mengakibatkan terhambatnya pencapaian hasil belajar siswa.
Evaluasi pembelajaran dan tindak lanjut merupakan komponen penting dalam pencapaian hasil belajar siswa.
Share:

PENYELESAIAN MASALAH MUTU DENGAN MENGGUNAKAN SIKLUS PDCA

PERENCANAAN ( “P” )
Rencana kerja (topik)
Perencanaan dalam mengatasi tingginya Hepatitis di Indonesia
Masalah mutu yg dihadapi (problem)
Pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap hepatitis masih kurang.
Rumusan tujuan, target (goal, objective, target)
Tujuan umum :
Untuk mengatasi masalah hepatitis di Indonesia
Tujuan khusus :
1.Diharapkan masyarakat mampu dan mnegtahui tentang bahaya hepatitis yang sering terjadi.
2.Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan hepatitis
Kegiatan yg dilaksanakan (activities)
1.promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS
2.penapisan hepatitis melalui donor darah melalui PMI
3.pengembangan jejaring surveilans epidemiologi Hepatitis.
4.Bekerja sama dengan lintas program untuk penapisan hepatitis
5.Bekerja sama dengan lintas sector untuk peningkatan PHBS agat diterapkan
Organisasi dan personalia pelaksana
1.Lintas program(Dinas kesehatan)
Tenaga kesehatan (bidan)
2.Lintas sector (semua lapisan masyarakat: kader,toma.dll)
Biaya (Budget)
Dalam proses Program yang telah di tetapkan semua biaya dari pemerintah.
Tolak ukur keberhasilan (Milestone)
Kriteria keberhasilan dikelompokkan kedalam 3 macam, yaitu:
Awal program : rencana sesuai dengan opengatasan masalah
Pelaksanaan program : sesuai dengan rencana
Akhir program : dikatakan berhasil apabila tidak ada penyakit hepatitis lagi
PELAKSANAAN ( “DO” )
1.promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS
Dengan diadakannya promosi perilaku hidup sehat,masyarakat mampu mengetahui pengetahuan dan kepdulian masyarakat pada hepatitis
2.penapisan donor darah oleh PMI
Dengan diadakan program penapisan donor darah hal ini dapat memperkecil penularan penyakit hepatitis lewat jarum saat pendonoran berlangsung.
Baca Juga
PENGELOLAAN SISWA DAN GURU DALAM PEMBELAJARAN
3.pengembangan jejaring surveilans epidemiologi Hepatitis
Dengan dilakukannya surveilans dapat mengetahui penularan dan penyebaran yang terjadi di kalangan mayarakat Indonesia sehingga penanganan dapat ditangani sedini mungkin.
4.Bekerja sama dengan lintas program untuk penapisan hepatitis
5.Bekerja sama dengan lintas sector untuk peningkatan PHBS agat diterapkan
PEMERIKSAAN ( “CHEK” )
Pemeriksaan tersebut dilakukan Secara berkala memeriksa berbagai kemajuan dan hasil yg dicapai dan pelaksanaan rencana yg ditetapakan, dengan melakukan
Pemantauan pada setiap wilayah untuk mengetahui program yang telah di canangkan telah berjalan sesuai prosedur yang telah di tetapkan atau tidak.
Melakukan wawancara pada masyarakat tentang tanggapan diadakannya program tersebut.
Melakukan pelaporan pada setiap dinkes setempat
jika dari ketiga unsure itu mengalami meningkat / keberhasilan maka bisa dikatan pelaksanaan kegiatan tersebut berhasil.

PERBAIKAN ( “ACTION” )
Setiap pelaksaan kegiatan harus dilakukan perbaiakan rencana kerja dan melakukan penyempurnaan rencana kerja serta melakukan penyelesaian masalah lain jika masih terdapat masalah yang lainnya tetapi jika kegiatan tersebut terlaksana dengan baik maka dilanjutkan dengan menyusun saran
Saran :
1.Diharapkan para tenaga kesehatan melakukan pertimbangan mengenai kegiatan promosi kesehatan,pengembangan surveilan epidemiologi hepatitis sesuai prosedur yang telah di tetapkan.
2.Diharapkan tenaga kesehatan serta para perangkatnya mampu menyelesaikan masalah yang ditemukan baru dengan menggunakan siklus PDCA.

Penulis By. Laili Rosdiana Alumni Akademi Kebidanan Aifa Husada
Share:

Popular Posts

Label