Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Sabtu, 04 Desember 2021

IDEALISME INSPIRASI PEMBELAJARAN MENUJU REVOLUSI DIRI


A. PENDAHULUAN 
Idealisme adalah salah satu aliran filsafat pendidikan yang berpaham bahwa pengetahuan dan kebenaran tertinggi adalah ide. Semua bentuk realita adalah manifestasi dalam ide. Dalam konteks pendidikan, paham ini mencita-citakan pemikiran atau ide tertinggi. Secara kelembagaan institusional. Di ranah pendidikan dasar, akan didominasi oleh konsep-konsep dan pengertian-pengertian secara devinitif tentang segala sesuatu. Tetapi, menurut psikologi perkembangan peserta didik terdapat tahap-tahap perkembangan pemikiran siswa. Metode yang digunakan oleh aliran idealisme adalah metode dialektik, syarat dengan pemikiran, perenungan, dialog, dan lain-lain. Kurikulum yang digunakan dalam aliran idealisme adalah pengembangan kemampuan berpikir, dan penyiapan keterampilan bekerja melalui pendidikan praktis. Evaluasi yang digunakan dalam aliran idealisme adalah dengan evaluasi esay. Dimana evaluasi esay ini sangat efektif dalam proses belajar mengajar dan meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengerjakan soal. Idealisme merupakan suatu aliran yang mengedepankan akal pikiran manusia. Sehingga sesuatu itu bisa terwujud atas dasar pemikiran manusia[1]. 
Pendidikan idealisme merupakan suatu aliran yang berkontribusi besar demi kemajuan pendidikan. Hal tersebut bisa dilihat pada metode dan kurikulum yang digunakan. Idealisme mengembangkan pemikiran peserta didik sehingga menjadikan peserta didik mampu menggunakan akal pikiran atau idenya dengan baik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Sementara itu, manusia adalah mahkluk individu dan mahkluk social, dalam hubungannya dengan manusia sebagai mahkluk social, terkadang suatu maksud bahwa manusia tidak bisa terlepas dari individu lain. Secara kodrati manusia akan selalu hidup Bersama. Hidup bersama antar manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. 
Dalam kehidupan seperti inilah terjadi interaksi, khususnya mengenai interaksi edukatif atau di kenal adanya istilah interaksi belajar mengajar. Dengan kata lain, interaksi edukatif adalah interaksi belajar mengajar. Dalam konsep pembelajaran, pengajaran dapat dipahami sebagai suatu system, keseluruhan terdiri dari komponen-komponen yang berinteralasi dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya dan dengan keseluruhan itu sendiri untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Oleh karenanya, ada beberapa komponen yang dipenuhi dalam pembelajaran, di antaranya adalah: tujuan Pendidikan dan pengajaran, peserta didik, tenaga kependidikan, perencanaan pengajaran, strategi pembelajaran, media pengajaran, dan evaluasi pengajaran. Menurut pradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan penyelesaian masalah, mengembangkan konsep, konstruksi solusi dan algoritma. Pembelajaran lebih dicirikan oleh aktivitas eksperimentasi, pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan model-model yang dibangkitkan oleh siswa sendiri[2]. 
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat oleh siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran terwujudnya efisiensi dan efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik. Sedangkan proses kegiatannya adalah Langkah-langkah atau tahapan yang dilalui pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran. 
Sementara itu, inspirasi adalah hal penting yang senantiasa dicari. Tanpa inspirasi, idealisme pembelajaran akan mengalami kesulitan berjalan. Ada beragam cara yang dilakukan untuk menemukan inspirasi, mulai dari menyepi, merenung, membaca, berdiskusi, mengamati fenomena social, maupun berbagai cara lainnya. Bagi pendidik, inspirasi ini bisa dibangun dengan beberapa landasan, antara lain: komitmen, cinta, dan menajamkan visi, sebagaimana dikatakan oleh Dr. Aidh Abdullah al-Qarni menyatakan “barang siapa menginginkan kesuksesan, ia harus berusaha keras dan bersabar meniti setiap tangga menuju kesuksesan yang licin dan sarat dengan hambatan”. Dengan demikian, seorang pendidik akan senantiasa menjadi inspirasi yang memberikan banyak manfaat dan juga perubahan dalam hidup siswanya[3]. 
Adapun perpaduan antara karakter diri pendidik yang inspiratif dan kemampuan pendidik mendesain pembelajaran memang mampu menjadikan seorang pendidik sebagai pribadi yang inspiratif akan betul-betul berdampak pada peserta didiknya, dalam memiliki kemampuan dan penalaran yang baik. Oleh karena itu, diperlukan Langkah-langkah strategis dan juga memupuk beberapa potensi kreatif sebagai modal penting yang mampu mengubah inspirasi yang ada menjadi revolusi diri. 

B. PEMBAHASAN 
a. Tokoh-tokoh Idealisme 
Plato (477 -347 Sb.M) Menurut Plato, kebaikan merupakan hakikat tertinggi dalam mencari kebenaran. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah mengetahui ide, manusia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakannya sebagai alat untuk mengukur, mengklarifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari. Immanuel Kant (1724 -1804) Ia menyebut filsafatnya idealis transendental atau idealis kritis dimana paham ini menyatakan bahwa isi pengalaman langsung yang kita peroleh tidak dianggap sebagai miliknya sendiri melainkan ruang dan waktu adalah forum intuisi kita. Dapat disimpulkan bahwa filsafat idealis transendental menitik beratkan pada pemahaman tentang sesuatu itu datang dari akal murni dan yang tidak bergantung pada sebuah pengalaman[4].  
Pascal (1623-1662) Pengetahuan diperoleh melalaui dua jalan, pertama menggunakan akal dan kedua menggunakan hati. Manusia besar karena pikirannya, namun ada hal yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia yaitu pikiran manusia itu sendiri. Menurut Pascal manusia adalah makhluk yang rumit dan kaya akan variasi serta mudah berubah. Untuk itu matematika, pikiran dan logika tidak akan mampu dijadikan alat untuk memahami manusia. Maka satu-satunya jalan memahami manusia adalah dengan agama. Karena dengan agama, manusia akan lebih mampu menjangkau pikirannya sendiri, yaitu dengan berusaha mencari kebenaran, walaupun bersifat abstrak[5]. 
Esensi Aliran Idealisme termasuk aliran filsafat pada abad modern. Idealisme berasal dari bahasa Inggris yaitu Idealism dan kadang juga dipakai istilahnya mentalism atau imaterialisme. Leibniz memakai dan menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato. Idealisme ini merupakan kunci masuk hakekat realitas. Idealisme diambil dari kata ide yakni sesuatu yang hadir dalam jiwa. Ada pendapat lain yang mengatakan, idealisme berasal dari bahasa latin idea, yaitu gagasan, ide. Sesuai asal katanya menekankan gagasan, ide, isi pikiran, dan buah mental[6]. 
Aliran idealisme terbukti cukup banyak berpengaruh dalam dunia pendidikan. William T.Harris adalah salah satu tokoh aliran pendidikan idealisme menyatakan Pendidikan harus terus eksis sebagai lembaga untuk proses pemasyarakatan manusia sebagai kebutuhan spiritual, dan tidak sekedar kebutuhan alam semata. Pendidikan idealisme untuk individual antara lain bertujuan agar anak didik bisa menjadi kaya dan memiliki kehidupan yang bermakna, memiliki kepribadian yang harmonis, dan pada akhirnya diharapkan mampu membantu individu lainnya untuk hidup lebih baik. 
Sedangkan tujuan pendidikan idealisme bagi kehidupan sosial adalah perlunya persaudaraan antar manusia. Sedangkan tujuan secara sintesis dimaksudkan sebagai gabungan antara tujuan individual dengan sosial sekaligus, yang juga terekspresikan dalam kehidupan yang berkaitan dengan Tuhan. Pendidik dalam sistem pengajaran menurut aliran idealisme berfungsi sebagai, personifikasi dari kenyataan anak didik. Sebagai seorang spesialis dalam suatu ilmu pengetahuan dari siswa. Pendidik haruslah menguasai teknik mengajar secara baik. Pendidik haruslah menjadi pribadi yang baik, sehingga disegani oleh peserta didik. Pendidik menjadi teman dari para peserta didiknya[7]. 

b. Pengertian Pembelajaran. 
Pengertian pembelajaran (instruction) merupakan akumulasi dari konsep mengajar (teaching) dan konsep belajar (learning). Penekanannya terletak pada perpaduan antara keduanya, yakni kepada pertumbuhan aktivitas subjek didik laki-laki dan perempuan. Konsep tersebut sebagai suatu system, sehingga dalam system pembelajaran ini terdapat komponen-komponen anak didik, tujuan, materi untuk mencapai tujuan, fasilitas dan prosedur, serta alat atau media yang harus dipersiapkan. Dengan kata lain, pembelajaran sebagai suatu system yang bertujuan, harus direncanakan oleh pendidik berdasarkan kurikulum yang berlaku[8]. 
Sementara itu, proses pembelajaran berlangsung melalui lima alat indra, yaitu; Penglihatan (Visual), Pendengaran (Auditory), Pembauan (Olfactory), Rasa atau pengecap (Taste), dan Sentuhan (Tactile). Secara umum, pembelajaran merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui pengalaman individu yang bersangkutan. Menurut ahli psikolongi pembelajaran dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mengkaji mengapa, bilamana, dan bagaimana proses pembelajaran berlangsung sebagai suatu organisme yang mempunyai kapasitas untuk belajar[9]. 

c. Desain Pembelajaran. 
Desain pembelajaran didefiniskan sebagai prosedur yang terorganisasi dimana tercakup Langkah-langkah dalam menganalisa, mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan, dan mengadakan evaluasi. Twerlker, Urbach dan buck mendefinisikan desain pembelajaran (instructional design) sebagai cara yang sistematik untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi satu set bahan dan strategi belajar dengan maksud mencapai tujuan tertentu. Lebih lanjut AT&T menyatakan pula bahwa sesain pembelajaran atau desian instruksional sebagai suatu konsep dalam Menyusun peristiwa dan kegiatan yang diperlukan untuk memberikan petunjuk kea rah pencapaian tujuan belajar tertentu[10]. Lebih lanjut, bahwa desain pembelajaran dapat di maknai sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai system, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. 
Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran skala makro dan mikro. Sebagai system, desain pembelajaran merupakan pengembangan system pembelajaran dan system pelaksanaannya serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar. Sebagai proses, desain pembelajaran adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran[11]. 
Dengan demikian, dapat disimpulkan desain pembelajaran adalah praktik penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara pendidik dan peserta didik. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, pendidik, atau dalam latar berbasis komunitas. 
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa desain pembelajaran lebih memerhatikan pada pemahaman, improvisasi, dan penerapan metode-metode instruksional. 

d. Manfaat Desain Pembelajaran. 
Sebagai penunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan. Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan. Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui ketepatan dan kelambatan kerja. Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur pengajar maupun unsur yang diajar. Sebagai bahan penyusunan data agar terjadi kesimbangan kerja. Untuk menghemat waktu, tenaga, alat-alat dan biaya[12]. 
Sementara itu, komponen utama desain pembelajaran adalah; pembelajar, tujuan pembelajaran, analisis pembelajaran, strategi pembelajaran, bahan ajar, dan penilaian belajar. Salah satu usaha penting yang dapat dilakukan untuk membangkitkan semangat belajar adalah mendesain pembelajaran dalam suasana yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan berusaha untuk membangun konsepsi baru bahwa belajar bukanlah sebagaimana yang selama ini dibayangkan. 
Menurut Hernowo, menyenangkan atau membuat suasana belajar dalam keadaan gembira bukan berarti menciptakan suasana rebut. Hal ini tidak ada hubungannya dengan kesenangan dan kegembiran yang dangkal, kegembiraan di sini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penugasan atas materi yang dipelajari), dan nilai yang membahagiakan pada si pembelajar. 

e. Model Pembelajaran. 
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menuliskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar. Model peembelajaran yang dapat diterapkan oleh pendidik sangat beragam. Model-model pembelajaran yang digunakan oleh pendidik dalam kegiatan belajar mengajar tersebut antara lain: problem possing, CTL, PAKEM, Quatum Teaching, Resiprocal Teaching, Tutor sebaya dalam kelompok kecil, Problem Solving, Cooperative Learning, dan model pembelajaran Realistic Mathematics Education[13]. Sedangkan menurut Joyce (2000) mengemukakan ada empat rumpun model pembelajaran yakni; rumpun model interaksi sosial, yang lebih berorientasi pada kemampuan memecahkan berbagai persoalan sosial kemasyarakat, model pemorosesan informasi, yakni rumpun pembelajaran yang lebih berorientasi pada penugasaan disiplin ilmu, model pengembangan pribadi, rumpun model ini lebih berorientasi pada pengembangan kepribadian peserta belajar, dan model behaviorism yakni model yang berorientasi pada perubahan prilaku. 
Menurut pendapat Dave Meier, ada beberapa komponen pembangun suasana pembelajaran yang menyenangkan. Pertama, bangkitnya minat, Kedua, adanya keterlibatan penuh si pembelajar dalam mempelajari sesuatu. Ketiga, ihwal terciptanya makna. Keempat, ihwal pemahaman atas materi yang dipelajari. Kelima, tentang nilai yang membahagiakan. Kelima komponen ini saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Secara operatif, ada beberapa langkah yang ditawarkan Rose dan Nichols untuk menciptakan iklim pembelajaraan yang menyenangkan dan berhasil. Pertama, menciptakan lingkungan tanpa stress (relaks). Kedua, menjamin bahwa subjek pelajaran adalah relevan. Ketiga, menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif. Keempat, melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan. Kelima, menantang otak para siswa untuk dapat berpikir jauh ke depan dan mengeksplorasi apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan untuk memahami subjek pelajaran. Keenam, mengonsolidasikan bahan yang sudah dipelajari dengan meninjau ulang dalam periode-periode waspada dan relaks. 
Keenam Langkah di atas dimasukkan dalam program Cara Belajar Cepat (CBC) dengan enam Langkah dasar dengan singkatan “MASTER” Pertama, Motivating your mind (memotivasi pikiran). Kedua, Acquiring the Information (memperoleh informasi). Ketiga, Searching Out the Meaning (menyelidiki makna). Keempat, Triggering the Memory (memicu memori). Kelima, Exhibiting What You Know (memamerkan apa yang anda ketahui) dan Keenam, Reflecting How You’ve Learned (merefleksikan bagaimana anda belajar)[14]. 

f. Strategi Pembelajaran. 
Istilah strategi sering digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang tidak selalu sama. Dalam konteks pengajaran dengan strategi bisa diartikan sebagai suatu pola umum Tindakan pendidik-peserta didik dalam manifestasi aktivitas pengajaran. Sifat umum pol aitu berarti bahwa macam-macam den sekuensi (urutan) Tindakan yang dimaksud Nampak digunakan/diperagakan pendidik-peserta didik pada berbagai ragam events pengajaran. Dengan kata lain, konsep strategi dalam konteks ini dimaksudkan untuk menunjuk pada karakteristik abstrak serangkaian Tindakan pendidik-peserta didik dalam events pengajaran[15]. 
Menurut Dick dan Carey mengatakan, strategi pembelajaran adalah semua komponen materi/paket pengajaran dan prosedur yang digunakan untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan pengajaran. Strategi pembelajaran tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan termasuk seluruh komponen materi atau paket pengajaran dan pola pengajaran itu sendiri. Dengan memahami pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa strategi pembelajaran adalah siasat pendidik dalam mengefektifkan, mengefisienkan, serta mengoptimalkan fungsi dan interaksi antara peserta didik dengan komponen pembelajaran dalam suatu kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pengajaran. 
Menurut Slameto,bahwa strategi pembelajaran mencakup jawaban dan pertanyaan: 
a.Siapa melakukan apa dan menggunakan alat apa dalam proses pembelajaran. Kegiatan ini menyangkut peranan sumber, penggunaan bahan, dan alat-alat bantu pembelajaran. 
b.Bagaimana melaksanakan tugas pembelajaran yang telah didenfinisikan (hasil analisis) sehingga tugas tersebut dapat memberikan hasil yang optimal. Kegiatan ini menyangkut metode dan Teknik pembelajaran. 
c.Kapan dan di mana kegiatan pembelajaran dilaksanakan serta berapa lama kegitan tersebut dilaksanakan[16]. 

g. Jenis Strategi Pembelajaran. 
Aqib sebagaimana di kutip Yatim Riyanto mengelompokkan jenis strategi pembelajaran berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu yaitu: Atas dasar pertimbangan proses pengelolaan pesan. Strategi deduktif dan strategi induktif. Atas dasar pertimbangan pihak pengelola pesan. Strategi ekspositorik dan strategi heuristis. Atas dasar pertimbangan pengaturan guru. Strategi seorang guru dan strategi pengajaran beregu (team teaching). Atas dasar pertimbangan jumlah siswa. Strategi kalsikal, strategi kelompok kecil dan strategi individu. Atas dasar pertimbangan interaksi guru dengan siswa. Strategi tatap muka dan strategi pengajaran melalui media[17]. 
Inspirasi Pembelajaran Menuju Revolusi Diri. 
Untuk melakukan Langkah-langkah perubahan dan pengembangan inspirasi pembelajaran menuju revolusi diri bagi pendidik antara lain: Memahami Bakat. Menurut AN. Ubaedy bakat seperti layaknya gold mine (tambang emas) dari segi lokasi sepertinya tidak mudah dijangkau oleh masyarakat umum. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menemukan dan menjangkau lokasi tersebut. Demikian juga dengan bakat, ia sering berada di lokasi yang tersembunyi dalam diri manusia. Oleh karena, lokasinya tersembunyi itu, maka ia sulit ditemukan, kecuali dengan usaha secara serius untuk mencari, menggali, dan menemukannya. 
Adapun Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menemukan bakat adalah. Pertama, berusaha keras untuk menggali dan menemukan bakat terpendam yang ada dalam diri. Kedua, melakukan analisis terhadap potensi yang ada untuk dikembangkan. Ketiga, melakukan motivasi positif dalam diri. Keempat, mengetahui cara belajar yang cocok untuk mengembangkan bakat yang dimiliki. Memupuk Kreativitas. Kreativitas ini merupakan upaya membangun berbagai terobosan yang memungkinkan penguatan bagi pengembangan bakat yang telah tergali. 
Menurut Fritzpatrick, kreativitas sangat penting dalam kehidupan. Ia memberi penjelasan bahwa denga kreativitas, kita akan terdorong untuk mencoba bermacam cara dalam melakukan sesuatu. Untuk membangun sebuah kreativitas antara lain: pengetahuan yang luas, adanya sejumlah kualitas yang memungkinkan munculnya respon, adanya kemampuan membagi konsentrasi, dan adanya keinginan kuat untuk mencapai keseimbangan saat menghadapi persoalan. Bergaul dengan orang sukses, Praktik dan Menggapai Tangga Kesuksesan[18]. 

C. KESIMPULAN 
Dalam pendidikan, idealisme merupakan suatu aliran yang berkontribusi besar demi kemajuan pendidikan. Hal tersebut bisa dilihat pada metode dan kurikulum yang digunakan. Idealisme mengembangkan pemikiran peserta didik sehingga menjadikan peserta didik mampu menggunakan akal pikiran atau idenya dengan baik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. 
Dalam konsep pembelajaran, pengajaran dapat dipahami sebagai suatu system, keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponen yang berinteralasi dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya dan dengan keseluruhan itu sendiri untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Perpaduan antara karakter diri pendidik yang inspiratif dan kemampuan pendidik mendesain pembelajaran memang mampu menjadikan seorang pendidik sebagai pribadi yang inspiratif akan betul-betul berdampak pada peserta didiknya, dalam memiliki kemampuan dan penalaran yang baik. Inspirasi adalah hal penting yang senantiasa dicari. Tanpa inspirasi, idealisme pembelajaran akan mengalami kesulitan berjalan. 
Ada beragam cara yang dilakukan untuk menemukan inspirasi, mulai dari menyepi, merenung, membaca, berdiskusi, mengamati fenomena social, maupun berbagai cara lainnya. Bagi pendidik, inspirasi ini bisa dibangun dengan beberapa landasan, antara lain: komitmen, cinta, dan menajamkan visi, Untuk melakukan Langkah-langkah perubahan dan pengembangan inspirasi pembelajaran menuju revolusi diri bagi pendidikan antara lain: Memahami Bakat. Memupuk Kreativitas. Bergaul dengan orang sukses, Praktik dan Menggapai Tangga Kesuksesan 

 D. DAFTAR PUSTAKA 
Isjoni, Pembelajaran Kooperatif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013. 
Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspiratif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013. 
Muhammad Anwar, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Prenadamedia Group, 2015. 
Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2013. 
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003. Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2002 
Siswanto, Perencanaan dan Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Yogyakarta: Pustaka Ar-Raziq, 2016. 
Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran, Bandung: CV Wacana Prima, 2012 
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta: Prenadamedia Group, 2009. 
Achmad Muhlis, Pembelajaran Bahasa Arab, Surabaya: Pena Salsabila, 2013. 
Buna’I, Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Surabaya: Pena Salsabila, 2015. 
[1] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2002 
[2] Isjoni, Pembelajaran Kooperatif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013. Hlm. 14 
[3] Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspiratif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013. Hlm, 171 
[4] Muhammad Anwar, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Prenadamedia Group, 2015. Hlm, 7 
[5] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2013. Hlm, 120 
[6] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003. Hlm, 364 
[7] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2002 
[8] Siswanto, Perencanaan dan Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Yogyakarta: Pustaka Ar-Raziq, 2016. Hlm, 2 
[9] Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran, Bandung: CV Wacana Prima, 2012 
[10] Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta: Prenadamedia Group, 2009. Hlm. 20 
[11] Ibid. hlm, 11 
[12] Ibid. hlm, 12 
[13] Achmad Muhlis, Pembelajaran Bahasa Arab, Surabaya: Pena Salsabila, 2013. Hlm, 13 
[14] Ibid, hlm, 180-186 
[15] Buna’I, Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Surabaya: Pena Salsabila, 2015. Hlm, 2 [16] Ibid. hlm, 132 
[17] Ibid. hlm, 136-137 
[18] Ibid, hlm, 228

Share:

Jumat, 13 Maret 2020

MEMBANGUN IKLIM PEMBELAJARAN YANG INSPRIRATIF

A.Latar Belakang
Guru inspriratif tidak hanya melahirkan daya tarik dan spirit perubahan terhadap diri siswanya dari aspek dan pribadinya semata, tetapi iya juga harus mampu mendesain iklim dan suasana pembelajaran yang juga inspriratif, akan semakin memperkukuh karakter dan sifat inspriratif yang ada pada diri guru. Perpaduan keduanya, yaitu karakter diri guru dan suasana pembelajaran, akan menjadikan demensi inspriratif semakin menemukan momentum untuk mengkristal dan membangun energi perubahan positif dalam diri setiap siswa.
Dalm konteks semcam ini, penciptaan iklim pembelajaran yang inspriratif penting untuk dilakukan. Ada beberapa aspek ang dapat dikembangkan oleh seorang guru sehingga mampu menciptakan suasana pembelajaran yang inspriratif. Penciptaan suasana pembelajaran yang inspriratif sangat penting artinya, untuk semakin mengukuhkan dan mendukung kekuatan inspriratif yang bersumber dari diri pribadi guru. Dua aspek ini pribadi guru dan suasana pembelajaran pada gilirannya akan mampu mengakumulasikan potensi dalam diri para siswanya untuk semakin meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. Modal inilah yang pada gilirannya dapat dilejitkan untuk melakukan perubahan menuju kearah pencapaian cita-cita hidup. Baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, para siswa mampu menjadi siswa dengan prestasi belajar yang memuaskan. Tujuan atau cita-cita jangka panjangnya adalah bagaimana menjadi pribadi yang sukses dalam makna yang luas, sukses hidup, keluarga, profesi, sosial, dan kemasyarakatan .
B.Rumusan masalah
1.Bagaimana strategi guru dalam membangun iklim pembelajaran yang inspriratif?

C.Pembahasan
a.Pengertian Strategi Guru
Istilah strategi sering digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang tidak selalu sama, dalam konteks pengajaran dengan strategi bisa diartikan sebagai suatu pola umum tindakan guru dan peserta didik dalam maniprestasi aktivitas pengajaran. Sifat umum pola itu berarti bahwa macam-macam dan sekuensi tindakan yang dimaksud nampak digunakan/dipragakan guru dan peserta didik pada berbagai ragam, events pengajaran. Dengan kata lain, konsep strategi dalam konteks ini dimaksudkan untuk menunjuk pada karakteristik abstrak serangkaian tindakan guru peserta didik dalam events pengajaran .

b.Langkah-langkah Guru dalam Membangun Iklim Pembelajaran yang Inspriratif.
1.Membuat model-model desain pembelajaran
Secara umum, model desain pembelajarn dapat diklasifikasikan ke dalam model berorientasi kelas, model berorientasi sistem, model berorientasi produk, model prosedural dan model melingkar. Model berorientasi kelas, biasanya ditujukan untuk mendesain pembelajaran level mikro (kelas) yang hanya dilakukan setiap dua jam pelajaran atau lebih. Contohnya adalah menggunakan model ASSURE, yaitu merupakan suatu model formulasi untuk kegiatan belajar mengajar, model ini terdiri atas enam langkah kegiatan antara lain: analyze learners,States Cbjectives, Select methods, media, and material, Utilize media and materials, Require participation, Evaluate and revise. Model berorientasi produk adalah model desain pembelajaran untuk menghasilkan suatu produk, biasanya media pembelajaran dan multimedia pembelajaran atau modul. Contoh modelnya adalah model HANNAFIN AND PECK, ialah model desian pengajaran yang terdiri daripada tiga fase yaitu; fase analisis keperluan, fase desian, dan fase pengembangan dan implementasi. Sedangkan model berorientasi sistem yaitu model desian pembelajaran untuk menghasilkan suatu sistem pembelajaran yang cakupannya luas, seperti desain sistem kurikulum sekolah,dll. Contohnya adalah model ADDIE, model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yaitu; Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation. Selanjutnya model Prosedural contohnya adalah model J.E. KEMP, adalah desain pengembangan pembelajran dengan menggunakan model ini berpijak pada empat unsur dasar perencanaan pembelajaran yang merupakan wujud jawaban atas pertanyaan: untuk siapa program itu dirancang? Kemampuan apa yang ingin anda pelajari? Bagaimana isi pelajaran atau keterampilan dapat dipelajari?bagaimana anda menentukan tingkat penguasaan pelajaran yang dica? Keempat unsur dasar tersebut adalah (peserta didik, tujuan, metode, dan evaluasi) merupakan acuan setiap kegiatan perencangan pembelajaran yang menggunakan pendekatan sistem .

2.Perhatian dan Motivasi
Guru sejak merencanakan kegiatan pembelajaran sudah memikirkan perilakunya terhadap siswa sehingga dapat menarik perhatian dan menimbulkan motivasi siswa dan tidak berhenti pada rencana pembelajarannya. Adapun implikasinya adalah: menggunakan metode secara variasi, menggunakan media sesuai dengan tujuan belajar dan materi yang diajarkan, mengemukakan pertanyaan-pertanyaan membimbing, memberikan pujian verbal atau non verbal terhadap siswa yang memberikan respon terhadap pertanyaan yang diberikan .

3.Empati kepada siswa
Dalam membangun iklim pembelajaran yang inspriratif guru berempati kuat pada siswanya, dalam keadaan apapun. Dalam konteks hubungan guru dan siswa, empati bermakna afeksi fisikal atau parsialitas guru terhadap siswanya. Afeksi fisikal bermakna penampakan fisik atau aura guru terkait langsung atau tidak langsung dengan fenomena yang dihadapi oleh siswanya. Kata parsialitas bermakna guru mengarsir atau menyentuhkan diri pada sisi siswanya, dalam konteks akademik dan pedagogis. Empati dikonsepsikan sebagai kemampuan guru dalam membaca siswa. Secara harfiah, empati bermakna kemampuan seorang guru merasakan emosi siswa atau pribadi-pribadi di luar dirinya, khususnya komunitas sekolah .
Menurut Kindsvatter, Wilen, dan Ishler membangun iklim pembelajaran yang efektif dan inspriratif adalah pembelajaran yang melalui prosedur sebagai berikut: me-review pelajaran yang lalu, menyajikan pengetahuan atau keterampilan baru, memberikan pelatihan aplikasi konsep, memberi umpan balik atau koreksi, memberi latihan mandiri, melakukan review mingguan dan bulanan. Sedangkan ciri-ciri yang melekat pada guru menurut Davis dan Thomas adalah: Pertama; mempunyai pengetahuan yang terkait iklim belajar di kelas yang mencakup; 1. Memiliki keterampilan interpersonal khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan terhadap peserta didik, dan ketulusan, 2. Menjalin hubungan yang baik dengan peserta didik, 3. Mempu menerima, mengakui, dan memerhatikan peserta didik secara ikhlas, 4. Menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar, 5. Mampu menciptakan atmosfer untuk tumbuhnya kerja sama kohesivitas dalam dan antar kelompok peserta didik, dll.... Kedua kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang mencakup; 1. Kemampuan menghadapi dan menanggapi peserta didik yang tidak mempunyai perhatian, suka menyela, mengalihkan perhatian, dan mampu memberikan transisi subtansi bahan ajar dalam proses pembelajaran, 2. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua peserta didik. Ketiga, mempunyai kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feed back) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri atas; 1. Mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap peserta didik yang lamban dalam belajar, 2. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban peserta didik yang kurang memuaskan, 3. Mampu memberikan bantuan profesional kepada peserta didik jika diperlukan. Keempat, mempunyai kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri, yang mencakup; 1. Mampu maneapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif, 2. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode pembelajaran, 3. Mampu memanfaatkan perencanaan guru secara berkelompok untuk menciptakan dan mengembangkan metode pembelajaran yang relevan .

4.Membuat pembelajaran yang menyenangkan.
Salah satu usaha penting yang dapat dilakukan untuk membangkitkan semangat belajar adalah mendesain pembelajaran dalam suasana yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan berusaha untuk membangun konsepsi baru bahwa belajar bukanlah sebagaimana yang selama ini dibayangkan. Menurut Hermowo dengan mengutip pendapat Dave Meier, menyenangkan atau membuat suasana belajar dalam keadaan gembira bukan berarti menciptakan suasana ribut dan hura-hura. Dari rumusan Meier ini, ada beberapa komponen pembangun suasana pembelajaran yang menyenangkan: Pertama, bangkitnya minat. Secara sederhana, minat sering dipadankan dengan “gairah” atau “keinginan yang menggebu-gebu. Maka jelas bahwa seorang guru atau siswa akan menjadi gembira karena di dalam dirinya memang ada keinginan mengajarkan atau mempelajari suatu materi pelajaran. Kedua, adanya keterlibatan penuh si pembelajar dalam mempelajari sesuatu. Ketiga, ihwal terciptanya makna. Makna lebih berkaitan erat dengan masing-masing pribadi. Makna terkadang muncul secara sangat kuat dalam konteks yang personal. Kata yang mungkin paling dekat dan mudah di pahami berkaitan dengan makna adalah terbitnya sesuatu yang memang “mengesankan”. Sesuatu yang mengesankan, atau inspriratif, biasanya akan menghadirkan makna. Jadi, apabila pembelajaran tidak menimbulkan kesan mendalam terhadap para pembelajar, maka mustahil ada makna. Keempat, ihwal pemahaman atas meteri yang dipelajari. Apabila minat seorang siswa dapat ditumbuhkan ketika mempelajari sesuatu, lantas dia dapat terlibat secara aktif dan penuh dalam membahas materi-materi yang dipelajarinya, dan ujung-ujungnya dia terkesan dengan sebuah pembelajaran yang diikutinya, tentulah pemahaman akan materi yang dipelajarinya dapat muncul secara sangat kuat. Kelima, tentang nilai yang membahagiakan. Bahagia adalah keadaan yang bebas dari tekanan, ketakutan, dan ancaman. Rasa bahagia yang dapat muncul dalam diri siswa sebagai seorang pembelajar bisa saja terjadi karena dia merasa mendapatkan makna ketika mempelajari sesuatu .

D.Penutup
Adapun Langkah-langkah Guru dalam Membangun Iklim Pembelajaran yang Inspriratif adalah: Membuat model-model desain pembelajaran, Perhatian dan Motivasi, Empati kepada siswa, dan Membuat pembelajaran yang menyenangkan.

DAFTAR RUJUKAN.
Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspriratif memperdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Buna’i, Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Surabaya: Pena Salsabila, 2015.
Siswanto, Perencanaan dan Desain Pembelajaran Pendidkan Agama Islam, Yogyakarta: Pustaka Ar-Raziq, 2016.
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta: Prenadamedia Grup, 2009.
Sudarwan Danim, Pengembangan Profesi Guru Dari PraJabatan, Induksi, ke Profesional Madani, Jakarta: Prenadamedia Grup, 2011.
Barnawi & Mohammad Arifin, Kinerja Guru Profesional,Instrumen Pembinaan, Peningkatan, & Penilaian, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014.
Share:

Sabtu, 06 April 2019

PERANAN MODEL INDIGEONUS LIDERSHIP DALAM KEPEMIMPINAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sebelum membahas lebih lanjut tentang apa itu kepemimpinan dan bagaimana menjadi pemimpin yang efektif, kita perlu tahu apa arti dari kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan telah menjadi topik yang sangat menarik dari para ahli sejarah dan filsafat sejak jaman dahulu. Sejak saat itu para ahli telah menawarkan 350 definisi tentang kepemimpinan. Salah seorang ahli menyimpulkan bahwa “ kepemimpinan merupakan salah satu fenomena yang paling mudah di observasi, tetapi menjadi salah satu hal yang paling sulit untuk dipahami (richard L. Daft, 1999). Mendefinisikan bahwa kepemimpinan merupakan suatu masalah yang kompleks dan sulit, karena sifat dasar kepemimpinan itu sendiri memang sangat kompleks. Akan tetapi, perkembangan ilmu saat ini telah membawa banyak kemajuan sehingga pemahaman tentang kepemimpinan menjadi lebih sistematis dan objektif.
B.Rumusan Masalah
3.Apa saja pendekatan mengenai kepemimpina?
C.Tujuan Masalah
1.Menjelaskan mengenai pendekatan kepemimpinan.
Baca Juga
PERANAN MENEJEMEN DALAM ORGANISASI
BAB II
PEMBAHASAN
A.Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan para pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada mereka. Sebagaimana didefinisikan oleh Stoner, Freeman, dan Gilbert (1995), kepemimpinan adalah the process of directing and influencing the task-related activities of group members.
Sedangkan menurut Joseph C. Rost., 1993, kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi di antara pemimpin dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya.
B.Jenis Kepemimpinan
a.Kepemimpinan Situasional
Dalam jenis kepemimpinan ini dipercayakan bahwa faktor yang paling utama untuk mnentukan gaya kepemimpinan adalah situasinya. Pimpinan maupun pengikutnya menyesuaika diri dengan situasi. Terdapat sekedar penyesuaian diri oleh pengikut dengan pemimpinnya, dan sebaliknya. Penelitian Frederick E. Fieldler mengenai kepemimpinan banyak memberikan sumbangan, bagi pandangan kepemimpinan ini . Menentukan daya guna kepemimpinan:
a.Hubungan kepemimpinan atau banyak kepercayaan yang dipunyai para pengikut kepada pemimpinnya.
b.Seberapa jauh pekerjaan-pekerjaan para pengikut dijadikan struktur tugas atau pekrjaan rutin.
c.Seberapa jauh kekuasaan merupakan bagian tak dipisahkan dari posisi kepemimpinan.
b.Kepemimpinan Prilaku Pribadi
Sebagai yang ditunjukkan oleh namanya, prilaku pemimpin itu diberi penekanan dalam jenis kepemimpinan iu sendiri penekanan dalam jenis kepemimpinan ini. “personal behavior leader” adalah orang yang luwes, menggunakan dalam setiap keadaan tindakan yang dianggap tepat sambil selalu mengingat kemampuan-kemampuan, banyaknya pengawasan yang diperlukan, dan apakah pemimpin itu ingin menentukan isunya.
c.“Work centered” atau “Worker-centered leadrship” kepemimpinan terpusat pada pekerjaan atau pekerjaannya, jenis kepemimpinan ini sangat erat hubungannya dengan “situational type” yang sudah dibicarakan lebih dahulu. Orang yang berbeda menanggapi dengan cara yang berbeda pula jenis kepemimpinan yang berbeda.
d.Personal Leadership kepemimpinan Pribadi. Motivasi dan petunjuk iberikan dengan kontak pribadi dengan pribadi. Terdapat suatu hubungan yang dekat antara pemimiin dengan setiap anggota kelompok.
e.Kepemimipin demokrasi. Jenis ini memberi penekanan pada partisipasi dan penggunaan pikiran-pikiran oleh anggota-angota kelompok, yang karena itu harus diberi penerangan yang baik mengenai pokok-pokok yang dibahas.
f.Kepimimpinan otoritas. Pemimipin dasar disini adalah, bahwa kepemmipinan it dipunyai oleh si pemimpin sejauh ia mempunyi kekuasaan.
g.Kepemimipinan paternalistik. Terdapat suatu pengaruh kebapakan antara pemimipn dan kelompok. Maksudnya ialah melindungi dan menusu kesenangan dan kesejahteraan pengikut-pengikutnya. Paternalisme sesuai benar untuk keadaan-keadaan tertentu, tetapi ia dapat mneghambat berkemangnya kepercayaan kepada diri sendiri dari anggota-anggota kelompok.
h.Indigeonus lidership. Kepemimipinan asli. Pemimipin-pemimipin asli yang berbeda dapat ditemukan untuk tujuan-tujuan yang berbeda dalam kelompok yang sama.
C.Pendekatan Mengenai Kepemimpinan
1.Pendekatan Personal Mengenai Kepemimpinan
Pendekatan personal menegnai kepemimpinan berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana; siapakah pemimpin itu ? apakah menjadi pemimpin itu dilahirkan atau dapat dipelajari ? apakah yang membedakan antara pemimpin dan bukan pemimpin ? pendekatan personal mencoba melihat pemimpin dari sisi personal atau karakteristik figur dari seorang pemimpin.
Pembahasan dibagi menjadi dua, mengenai pemimpin dan bukan pemimpin, serta pemimpin efektif dan pemimpin yang tidak efektif.
Pemimpin dan bukan pemimipin. Berbagai pandangan dapat kita temukan ketika barang kali kita pernah mendengar bahwa pemimin itu harus cerdas, pintar, besifat terbuka, memiliki kepercayaan diri dan lebih tinggi misalnya. Pada kenyataanya masih menimbulkan prokontra, terlebih pada kenyataan bahwa banyak pemimpin yang tidak memiliki kriteria tersebut, namun dia diakui sebagai pemimpin oleh masyarakat.
Pemimipin efektif dan tidak efektif pendekatan ini mencoba melihat bahwa karakteristik pemimipin bukan sekedar dilihat dari sisi fisik saja, tetapi juga dari kemampuannya untuk mencapai yujuan dari sebuah organisasi.
2.Pendekatan prilaku mengenai kepemimpinan
Pendekatan prilaku lebih memfokuskan kepada tindakan yang dilakukan oleh pemimpin, seperti bagaimana mereka melakukan delegasi, bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang-orang serta bagaimana mereka memotivasi para pegawai, dan seterusnya. Prilaku, tidak seperti faktor personal, dapat dipelajari sehingga mereka yang mendapatkan pendidikan atau pelatihan yang memadai mengenai kepemimipinan akan mampu menjadi pemimipin yang efektif.
Para teoritis yang melakukan pendekatan prilaku mengenai pemimpin pada dasarnya memfokuskan pada dua aspek dari prilaku kepemimpinan, yaitu fungsi-fungsi kepemimpinan dan gaya kepemimpinan.
3.Pendekatan kontingensi mengenai kepemimpinan
Para peneliti melakukan identifikasi situasi-situasi yang mendorong suatu gaya kepemimpinan tertentu yang dilakukan. Pendekatan kepemimpinan yang mempertimbangkan situasi yang dihadapi inilah yang dinamakan sebagai pendekatan kontingensi dalam kepemimpinan, dimana secara sederhana pendekatan ini memandang bahwa gaya manajemen atau kepemimpinan yang akan memberikan kontribusi positif bagi organisasi yang sangat beragam dan sangat ditentukan oleh keragaman situasi dan keadaan yang dihadapi oleh organisasi dari waktu ke waktu.

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
1.Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan para pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada mereka.
2.Jenis kepemimpinan :
a.Kepemimpinan situasional.
b.Kepemimpinan perilaku pribadi.
c.Work centered atau worker-centered leadeship.
d.Personal leadership.
e.Kepemimpinan demokrasi.
f.Kepemimpinan otoritas.
g.Kepemimpinan paternalistik.
h.Kepemimpinan asli.
3.Pendekatan mengenai kepemimpinan:
a.Pendekatan pesonal mengenai kepemimpinan.
b.Pendekatan prilaku mengenai kepemimpinan.
c.Pendekatan kontingensi mengenai kepemimpinan.

DAFTAR PUSTAKA
Nashar, Dasar-Dasar Manajemen, Surabaya: Pena Salsabia, 2013.
Safaria Triantoro, Kepemimpinan, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004.
Terry George R., Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: PT.Bumi Aksara, 2015

Share:

PERANAN MENEJEMEN DALAM ORGANISASI

BAB I
PENDAULUAN
A.Latar Belakang
Menejemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yamg melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang kearah tujuan organisasional atau maksud yang nyata. Menejemen adalah suatu kegiatan, pelaksanaannya adalah “managing” pengolahan, sedang pelaksanaannya disebut manejer atau pengelola. Menejemen memiliki tujuan tertentu dan tidak dapat diraba. Ia berusaha untuk mencapai hasil-hasil tertentu, yang biasanya diungkapkan dengan istilah “objectives” atau hal-hal yang nyata.
Sebagai ilmu, menejemen memiliki kerangka teori dan krangka pikir yang teruji, terutama berhubungan dengan tori mnenejemen ilmiah, organisasi klasik, dan teori prilaku organisasi.
B.Rumusan Masalah
1.Bagaimana Peranan Menejemen Dalam Organisasi ?
C.Tujuan
1.Mengetahui bagaimana peranan menejemen dalam organanisasi
Baca Juga
BUDAYA ORGANISASI
BAB II
PEMBAHASAN
1.Pengertian Organisasi Dan Sifat-Sifat Organisasi
1.Pengertian organisasi
Kata organisasi berasal dari bahasa inggris organization, yang bentuk invinitifnya adalah to organise. Kata tersebut berasal dari kata yunani, organon yang berarti sebagian atau susunan dalam binatang atau tumbuh-tumbuhan yang dipergunakan untuk melakukan beberapa tugas khusus, seperti hati, ginjal, dan sebagainya. Adapun kata organon diartikan juga dengan alat, sedangkan kata to organise diberi arti menyusun atau mengatur bagian-bagian yang berhubungan atau sama lain, yang tiap-tiap bagian mempunyai satu tugas khusus dan atau berhubungan dengan keseluruhan. Pendapat lain mengenai organisasi adalah alat, bagian, anggota atau badan.
Menurut Griffin (2002) organisasi adalah a group of people working together in a structured and coordinated fashion to achive a set of goals. Organisasi adalah kelompok orang yang bekerja sama dalam struktur dan koordinasi tertentu dalam mencapai serangkaian tujuan tertentu. Atau dengan bahasa lain, penulis mendefinisikan sebagai sekumpulan orang atau kelompok yang memiliki tujuan tertentu dan berupaya untuk mewujudkan tujuannya tersebut dalam kerja sama.
Menurut Chester I. Barnard (1938) dalam bukunya “The Executive Functions” mengemukakan bahwa i define organization asa a system of cooperatives of two more persons artinya bahwa organisasi adalah sistem kerja sama antara dua orang atau lebih.
Sugandha mengatakan bahwa organisasi adalah kumpulan manusia yang mempunyai kepentingan yang sama, yang karena keterbatasan sumber yang mereka miliki, mereka mengikatkan diri dalam kerja sama pembagian tugas yang jelas dalam mencapai tujuan guna meraih kepentingan masing-masing.
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa organisasi merupakan sistem yang terpadu, yang di dalamnya terdapat subsistem dan komponen-komponen yang saling berhubungan. Setiap hubungan yang terjadi merupakan kerja sama di antara subsistem yang ada, sehinnga ada yang saling ketergantungan yng kuat secara internal dan hubungan yang terpadu secara eksternal. Hubungan eksternal itu merupakan bagian dari kenyataan organisasi yang berkaitan dengan lingkungan masyarakat dan elemen lainnya yang mendukung tercapainya tujuan organisasi.
Berbagai organisasi memiliki tujuan yang berbeda-beda, tergantung pada jenis organisasinya. Organisasi politik misalnya dapat memiliki tujuan untuk menyalurkan aspirasi rakyat melalui aturan kelembagaan politik tertentu. Di sisi lain, organisasi sosial dapat memiliki tujuan yang berbeda dengan organisasi politik, akan tetapi organisasi sosial bertujuan untuk menjawab aspirasi rakyat melalui kegiatan tertentu yang secara nyata dapat dirasakan oleh masyarakat, misalnya melalui pemberian sumbangan, pelatuhan-pelatihan dan lain sebagainya.
Sedangkan organisasi bisnis adalah sekumpulan orang atau kelompok yang memiliki tujuan untuk meraih profit dalam kegiatan bisnisnya, sehingga mereka berupaya untuk mewujudkan tujuannya tersebut melalui kerjasama dalam organisasi tersebut.
2.Sifat-sifat organisasi
a.Organisasi Formal
Ciri-ciri organisasi formal adalah sebagai berikut:
1.Seluruh anggota organisasi diikat oleh suatu persyaratan formal sebagai bukti keanggotaannya. Misalnya, negara sebagai organisasi formal yang seluruh warga negara diikat oleh persyaratan formal yang harus dimiliki, yakni kartu tanda anda penduduk, kartu keluarga, dan sejenisnya. Demikian puala, dalam organisasi formal lainnya dalam bentuk ormas atau partai politik yang seluruh anggotanya harus memiliki kartu keanggotaan bahwa ia benar-benar terdaftar dan diakui sebagai anggota yang sah, misalnya kartu anggota Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU), dan Persatuan Umat Islam.
2.Kedudukan, jabatan, dan pangkat yang terdapat dalam organisasi dibuat secara hierarkis dan piramida yang menunjukkan tugas, kedudukan, tanggung jawab, dan wewenang yang berbeda-beda.
3.Setiap anggota yang memiliki jabatan tertentu secara otomatis memiliki wewenang dan tanggung jawab yang membawahi jabatan anggota dibawahnya. Dengan demikian, hak memerintah berada bersamaan dengan hak diperintah, hak melarang bersamaan dengan hak untuk tidak mengerjakan kegiatan tertentu.
4.Hak dan kewajiban melekat sepenuhnya pada anggota organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya.
5.Pelaksanaan kegiatan diatur menurut jabatannya masing-masing tetapi setiap fungsi jabatan dengan tugasnya saling berhubungan dan melakukan kerja sama.
6.Seluruh kegiatan direncanakan secara musyawarah mufakat dengan mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan.
7.Hubungan kerja sama dilakukan menurut tingkatan jabatan struktural yang jelas yang berimplikasi secara langsung kepada perbedaan penggajian dan tunjangan masing-masing anggota organisasi.
8.Adanya anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang merupakan sistem kinerja organisasi.
b.Organisasi Informal
Sifat organisasi informal melekat pada organisasi informal, sebagaimana negara mengharuskan adanya KTP bagi warga negara. Pembuatan KTP berkaitan dengan organisasi-organisasi formal di dalam pemerintahan, misalnya kantor kecamatan, kantor desa, kantor RW hingga kantor RT, semua itu tidak dapat dilaksanakan jika tidak organisasi informal, yaitu keluarga. Meskipun di dalam keluarga terdapat kepala keluarga, ibu rumah tangga, anak-anak dan kerabat, keluarga bukan merupakan organisasi formal. Demikian pula, organisasi yang bergerak dalam pendidikan, yakni sekolah formal. Tidak akan ada sekolah formal yang berlaku. Indonesia dapat melakukan kerja sama dengan negara lain, misalnya dengan Malaysia, Jepang, Thailand, Amerika Serikat dan sebagainya. Kerja sama tersebut dikatakan sebagai kerja sama eksternal yang skopnya dapat dikatakan sebagai kerja sama internasional.
2.Bentuk-bentuk Organisasi
Dilihat dari pola hubungan kerja, wewenang, dan tanggung jawab para anggota organisasi, organisasi dapat dibedakan menurut bentuknya, yaitu sebagai berikut:
1.Organisasi Garis (line organization)
Organisasi garis adalah suatu bentuk organisasi yang memandang dan menerapkan sumber wewenang tunggal. Segala keputusan /kebijaksanaan dan tanggung jawab berada pada satu tangan, yaitu berada pada kepala eksekutif (chie fexecutif).
Dalam organisasi garis, bawahan hanya mengenal satu pimpinan dan menerapkan system satu komando dan kekuasaan absolute pada pimpinan pusat. Pimpinan organisasi memiliki pengaruh yang sangat kuat kepada bawahannya. Penciptanya adalah Henry Fayol dari prancis. Bentuk organisasi ini sering juga disebut bentuk organisasi militer karena digunakan pada zaman dahulu dikalangan militer.
Dengan demikian ciri-ciri dari organisasi garis ini adalah sebagai berikut:
a)Organisasinya kecil
b)Jumlah anggota yang sedikit
c)Pemilik merupakan pimpinan organisasi atau pemegang saham utama
d)Asas kesatuan komando yang dominan
e)Disiplin ketat
f)System pengawasan yang ketat
g)Koordinasi antar pegawai sangat sederhana dan mudah dilakukan
h)Hubungan antar anggota yang sangat dekat dan satu lapis atau searah ,bahkan dapat dilakukan antar pribadi secara tatap muka
i)Penggunaan alat-alat sederhana
j)Produk yang dihasilkan homogen.
Kelebihan organisasi garis yang menonjol, yaitu mudah pengelolaanya, disiplin yang kuat, dan selalu berada dalam satu komando yang berada di tangan seorang pimpinan. Sedangkan keburukan organisasi garis, yaitu ketergantungan yang kuat kepada satu pimpinan sehingga apabila pimpinan mengalami perihal buruk, dampak dampak buruknya langsung berimbas pada organisasi, tidak ada upaya pengembangan para pengawai, jenis pekerjaan yang monoton, ada kecenderungan pemimpin bertindak otoriter, sulit mengembangkan perusahaan karena keahlian pegawai relatif sama.
2.Organisasi Lini dan Staf (line and staff )
Bentuk organisasi ini pada umumnya dianut oleh organisasi besar, daerah kerjanya luas dan mempunyai bidang-bidang tugas yang beraneka ragam serta rumit, serta jumlah karyawannya banyak. Penciptanya Harrington Emerson. Pada bentuk organisasi garis dan staf, terdapa satu atau lebih tenaga staf. Staf, yaitu orang yang ahli dalam bidang tertentu yang tugasnya memberi nasihat dan saran dalam bidangnya kepada pejabar pemimpin di dalam organisasi tersebut.
Ciri-ciri organisasi lini dan staf adalah:
a.komando dari tingkat yang paling atas hingga tingkat yang paling bawah atau dari tingkat pusat ketinggkat daerah.
b.Staf mempunyai wewenang fungsional, memberikan bantuan/advis/petunjuk, baik berupa pikiran, tenaga kerja, prasarana yang sanggup serta mampu mendukung pelaksanaan tugas pokok organisasi. Pimipnan (kepala) mempunyai mempunyai wewenang komando. Dengan ciri-ciri tersebut, organisasi yang berbentuk lini dan staf memiliki kebaikan tersendiri, diantaranya adalah:
a.Dapat digunakan oleh organisasi yang besar
b.Seluruh staf memiliki keahlian yang pasti yang semakin mengakuratkan pengambilan keputusan
c.Kedisiplinan staf dapat dipegang teguh
d.Adanya pengembangan karier staf sesuai dengan keahliannya.
Keburukan organisasi lini dan staf adalah:
a.Terlalu banyak staf dengan keahliannya masing-masing menimbulkan persaingan karier yang kurang sehat
b.Pengawasan terhadap staf yang cukup menyulitkan dan adanya tindakan kolusi antarstaf demi kepentingan pribadi
c.Solidaritas antarstaf rendah dan hubungan yang serba formalistic
d.Biokrasi terkadang sangat rumit dan terkesan berbelit-belit
e.Efektivitas dan efisiensi kerja kurang terjamin
f.Biaya ekonomi tinggi dalam menggaji staf dan memberi tunjangan
g.Koordinasi yang sukar dilakukan secara komprehensif.
3.Organisasi Fungsional
Organisasi fungsional pertama kali diciptakan oleh Taylor. Ciri penting dari organisasi fungsional adalah pimpinan yang tidak memiliki bawahan yang “jelas”. Setiap atasan dapat melakukan instruksi kepada semua bawahan sepanjang sesuai wewenang dan tanggung jawabnya dan yang paling penting masih berada dibawah naungan organisasi yang dimaksudkan.
Kebaikan organisasi fungsional adalah:
a.Spesialisasi karyawan maksimal
b.Solidaritas antarpengawai sangat tinggi
c.Disiplin pengawai yang tinggi
d.Tanggung jawab atas fungsinya terjamin
e.Bidang pekerjaan khusus diduduki oleh seorang ahli yang memungkinkan bekerja atas dasar keahlian dan potensi serta cita-citanya.
Keburukan organisasi fungsional adalah:
a.Terlalu kaku dengan spesialisasi para pekerja
b.Kesulitan melakukan penelusuran area pekerjaan
c.Koordinasi kurang menyeluruh
d.Dapat menyebabkan dispersobalisasi
e.Keahlian memimpin kurang dapat dijamin
f.Sulit melaksanakan kegiatan tang berasal dari satu komando.
4.Organisasi Bentuk Panitia(commitee)
Organisasi yang bersifat sementara dan khusus dibentuk dalam melaksanakan kegiatan tertentu. Akan tetapi, ada pula organisasi yang selamanya menggunakan bentuk kepanitiaan dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a.Pimpinan berbentuk kolektif
b.Terdiri atas beberapa orang
c.Pengambilan keputusan selalu didasarkan pada musyawarah dan mengutamakan kuorum
d.Kegiatan merupakan tanggung jawab bersama
Kebaikan organisasi bentuk panitia adalah:
a.Solidaritas yang kuat antarpegawai
b.Konsolidasi wewenang, tugas, dan tanggung jawab yang kuat
c.Selalu mengambil keputusan berdasarkan musyawarah
d.Keterpaduan informasi yang kuat yang berasal dari seluruh pengawai
Keburukan organisasi bentuk panitia adalah:
a.Sering terjadi penumpukan pekerjaan di bagian tertentu
b.Adanya lepas tanggung jawab
c.Adanya saling tuding pelaksanaan tugas
d.Adanya saling tolak melaksanakan tugas
e.Bubar tanpa pertanggungjawaban yang formal
f.Adanya tirani minoritas, yaitu panitia terpecah dari orang-orang senior dengan yunior, yang kemudian tanpa wewenang yang jelas, yunior memikul beban yang lebih berat dibandingkan yang senior.
3.Peranan Manajemen Dalam Organisasi
Menejemen di perlukan sebagai upaya agar kegiatan bisnis dapat berjalan secara efektif dan efisien, maka menejemen harus dijelaskan berdasarkan fungsi-fungsinya atau dikenal sebagai fungsi-fungsi menejemen. Fungsi menejemen sebagaimana diterangkan oleh Nicles, McHoughand Hough terdiri dari 4 fungsi ysitu:
1.Perencanaan atau planing yaitu proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecendrungan di masa yang akan datang penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi. Di antara kecendrungan dunia bisnis sekarang misalnya, bagaimana merencanakan bisnis yang ramah lingkungan, bagaimana merancangorganisasi bisnis yang mampu bersaing dalam persaingan global, dan lain sebagainya.
2.Pengorganisasian atau organizing, yaitu proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan bisa memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi bisa bekerja secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan organisasi.
3.Pengimplementasian atau direction, yaitu proses implementasi rogram agar bisa dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran dan produktivitas yang tinggi.
4.Pengendalian atau pengawasan atau controling yaitu proses yang dilakukan untuk memastikan eluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan, dan diimplementasikan bisa berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
1. Organisasi adalah sekumpulan orang yang bekerjasama dalam rangka pencapain suatu tujuan yang sudah ditentukan. Sifat organisasi ada dua yaitu organisasi formal dan organisasi informal.
2. Bentuk-bentuk organisasi
a) Organisasi garis
b) Organisasi lini dan staf
c) Organisasi fungsional
d) Organisasi bentuk panitia
3. Perana manajemem dalam Organisasi
a) Perencanaan atau planing
b) Pengorganisasian atau organizing
c) Pengimplementasian atau direction
d) Pengendalian atau controling

DAFTAR PUSTAKA
Athoillah, Anton. Dasar-Dasar Manajemen. Bandung: Pustaka Setia, 2010.
Manullang. Dasar-Dasr Manajemen. Jogyakarta: Gajah Mada University Press, 2012.
Nashar. Dasar-Dasar Manajemen. Surabaya: Pena Salsabila, 2013
Share:

Jumat, 29 Maret 2019

STRATEGI MANAJEMEN PEMASARAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Setiap produsen selalu berusaha melalui produk yang dihasilkannya dapatlah tujuan dan sasaran perusahaannya tercapai. Produk yang dihasilkannya dapat terjual atau dibeli oleh konsumen akhir dengan tingkat harga yang memberikan keuntungan perusahaan jangka panjang. Melalui produk yang dapat dijualnya, perusahaan dapat menjamin kehidupannya atau menjaga kestabilan usahanya dan berkembang. Dalam rangka inilah setiap produsen harus memikirkan kegiatan pemasaran produknya, jauh sebelum produk ini dihasilkan sampai produk tersebut dikonsumsikan oleh si konsumen.
Untuk mencapai tujuannya, setiap perusahaan mengarahkan kegiatan usahanya untuk menghasilkan produk yang dapat memberikan kepuasan konsumen, sehingga dalam jangka panjang perusahaan mendapatkan keuntungan yang diharapkannya. Melalui produk yang di hasilkannya, perusahaan menciptakan dan membina langganan. Oleh karena itu, keberhasilan suatu perusahaan di tentukan oleh keberhasilan usaha pemasaran dai produk yang di hasilkannya. Keberhasilan ini ditentukan oleh ketepatan produk yang di hasilkannya dalam memberikan kepuasan dari sasaran konsumen yang ditentukannya. Dengan kata lain, usaha-usaha pemasaran hauslah di arahkan pada konsumen yang ingin dituju sebagai sasaran pasarnya. Dalam hal ini maka usaha pemasaran yang menunjang keberhasilan perusahaan haruslah di dasarkan pada konsep pemasaran yang tepat untuk dapat menentukan strategi pasar dan strategi pemasaran yang mengarah kepada sasaran pasar yang dituju. Untuk pembahasan yang lebih terarah, terlebih dahulu perlu di batasi pengertian emasaran. Selanjutnya perlu di tinjau perkambangan pemikiran tentang pemasaran dan fungsi-fungsi pemasaran serta cakupan ruang-lingkup dari manajemen pemasaran.
B.RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan manajemen pemasaran?
2. Bagaimana sejarah perkembangan manajemen pemasaran?
3. Apa ruang lingkup manajemen pemasaran?
4. Bagaimana strategi pemasaannya?
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian manajemen pemasaran
2. Mengetahui sejarah perkembangan manajemen pemasaran
3. Mengetahui ruang lingkup manajemen pemasaran
4. Mengetahui strategi pemasaran
Baca Juga
SEJARAH BERDIRINYA DINASTI UMAYYAH
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pemasaran
Timbulnya penafsiran yang tidak tepat ini terutama disebabkan karena masih banyaknya diantara kita yang belum mengetahui dengan tepat definisi tentang pemasaran tersebut. Bagi seorang manajer took serba ada, pemasaran diartikannya sebagai kegiatan pengeceran (retailing) atau penjajakan (merchandising).
Ada dua penafsiran Tentang pemasaran, yaitu penafsiran yang sempit tentang pemasaran ini terlihat pula dari American MarketingAssocition 1960, yang menyatakan pemasaran adalah hasil prestasi kerja kegiatan usaha yang berkaitan dengan mengalirnya barang dan jasa dari produsen sampai ke konsumen. Disamping penafsiran ini terdapat pula pandangan yang lebih luas, yang menyatakan pemasaran merupakan proses kegiatan yang mulai jauh sebelum barang-barang/bahan-bahan masuk dalam proses produksi. Dalam hal ini banyak keputusan pemasaran yang harus dibuat jauh sebelum produk itu dihasilkan, seperti keputusan mengenai produk yang dibuat, pasarnya, harga, dan promosinya. Sebagai contoh, keputusan pemasaran tersebut dapat berupa produk apa yang harus diproduksi, apakah produk itu harus dirancang, apakah perlu dikemas, dan merek apa yang akan digunakan untuk produk itu.
Pemasaran telah didefinisakan dalam berbagai pengertian diantaranya menurut American Marketing Association. Pengertian yang seperti ini hampir sama dengan kegiatan distribusi, sehingga gagal menunjukkann asas-asas pemasaran, terutama dalam menentukan barang atau jasa apa yang akan dihasilkan. Hal ini terutama disebabkan karena pengertian pemasaran di atas tidak menunjukkan kegiatan usaha yang khusus terdapat dalam pemasaran.
Pengertian lain menyatakan pemasaran sebagai usaha untuk menyediakan dan menyampaikan barang dan jasa yang tepat kepada orang-orang yang tepat pada tempat dan waktu serta harga yang tepat dengan promosi dan komunikasi yang tepat. Pengertian atau definisi ini memberikan suatu gagasan kegiatan tertentu yang dilakukan oleh para tenaga pemasaran. Akan tetapi, pengertian ini ternyata gagal menentukan kegiatan pemasaran secara luas, yang mencakup tidak hanya barang dan jasa yang terbatas. Oleh karena itu, terdapat pengertian atau definisi lain yang lebih luas tentang pemasaran, yaitu sebagai usaha untuk menciptakan dan menyerahkan suatu standar kehidupan. Pengertian ini berbeda dengan yang sebelumnya, karena penekanannya pada pandangan makro atau sosial dari pemasaran. Oleh karena itu pengertian ini tidak memberikan dasar yang jelas dan kurang universalnya pemasaran.
Disamping pengertian yang telah disebutkan di atas, terdapat pengertian yang sering digunakan dalam pembahasan tentang pemasaran, terutama nanti akan digunakan dalam tulisan ini. Pengertian tersebut menyatakan pemasaran sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Berdasarkn pengertian ini, pembahasan tentang pemasaran dapat lebih jelas dan terbatas dalam pembatasan yang tegas, terkait dengan kegiatan pemasaran yang berlaku universal.
B. Perkembangan Manajemen Pemasaran
Kegiatan pemasaran sebenarnya berkembang sejak adanya kebutuhan manusia itu melalui pertukaran. Perkembangan peradaban manusia menimbulkan perkembangan penggunaan alat pertukaran. Dengan adanya pertkembangan tersebut mulailah dikenal transaksi jual-beli. Pada masa itu pemasaran barulah merupakan kegiatan transaksi jual-beli di mana seluruh barang-barang yang dihasilkan atau diproduksikan dengan mudah dan dapat terjual. Masalah yang diutamakan pada saat itu bagaimana menghasilkan suatu barang. Hal ini terutama disebabkan barang apapun yang dihasilkan akan dapat terjual. Oleh karena itu, orientasi pemikiran manajemen pada saat itu adalah orientasi produksi.
Kegiatan pemasaran yang dilakukan pada saat itu terutama ditekankan pada kegiatan penyaluran. Dalam masa itu timbul persaingan antara produsen didalam menyampaikan produknya ke tangan konsumen. Adanya persaingan ini menimbulkan mulai dikenalnya kegiatan promosi disamping kegiatan distribusi atau penyaluran. Orientasi pemikiran manajemen pada masa itu telah berkembang dari orientasi produksi menjadi orientasi penjualan.
Dari perkembangan pengkajian kegiatan pemasaran, terlihat bahwa pemasaran mulai timbul dan lahir serta tumbuh dalam suatu masyarakat dengan suatu sistem ekonomi yang terbatas, dimana masyarakat yang ada mencukupi kebutuhannya dari hasil produksinya sendiri, yang berkembang menjadi masyarakat dengan system ekonomi social, dimana terdapat pembagian kerja (devision of labour), serta adanya industralisasi dan urbanisasi penduduk. Perkembangan pemasaran yang timbul akibat dari proses evolusi sistem ekonomi.
Tahap pekembangan selanjutnya, produsen mulai menghasilkan barang-barang dalam jumlah yang besar untuk menghadapi pesanan berikutnya. Dalam hal ini mulai dilakukan pembagian kerja lebih jauh, para pengusaha mengembangkan usahanya dalam rangka untuk menjual tambahan produk hasilnya. Pengusaha atau pedagan yang bertindak sebagai perantara antara produsen dan konsumen, yang sering disebut sebagai pedagang perantara. Untuk memungkinkan komunikasi dengan produsen dan konsumen serta kemungkinan dilaksanakan kegiatan pembelian dan penjualan, berbagai kelompok berusaha untuk berkumpul secara geografi, sehingga mulai timbullah pusat-pusat perdagangan (trading centers). Sejalan dengan ini mulailah dilaksanakan pembangunan ekonomi di berbagai negara. Demikian, terdapatlah kemajuan dalam bidang ekonomi yang merupakan pelicin dalam perkembangan kegiatan pemasaran umumnya dan manajemen pemasaran khususnya.
Perkembangan pemasaran modern mulai terdapat sejak timbulnya revolusi industri di negara-negara Barat. Timbulnya persaingan merupakan produk tambahan dari timbulnya revolusi industri, disamping tumbuh dan berkembangan pusat-pusat urbanisasi atau perkotaan dan berkurangnya penduduk dipedesaan. Dalam hal ini terdapat pergeseran kegiatan operasi pengerjaan tangan dalam rumah tangga pada umumnya menjadi kegiatan maksimal dalam industri atau pabrik. Kegiatan pemasaran pada saat itu terasa semakin meningkat, terutama disebabkan pertumbuhan perusahaan industry yang demikian pesat, ebenarnya diakibatkan oleh adanya permintaan pasar yang melebihi penawaran dari produk yang tersedia pada saat itu.
Perkembangan terakhir, pemasaran dilihat dari penarapan ilmu manajemen, yang mencakup proses pengambilan keputusan yang didasarkan atas konsep pemasaran dan proses manajemen yang mencakup analisa, perencanaan, pelaksanaan kebijakan, strategi dan taktik, dan pengendalian. Dengan pendekatan manajerial inilah, mulai dikenalnya manajemen secara umum, dimana terdapat fungsi-fungsi manajemen. Dalam hal inilah mulai dikembangkannya konsep pemasaran dalam falsafah dan sistem pemasaran dengan intinya adalah strategi pemasaran terpadu (Marketing Mix Strategy).
C. Ruang Lingkup Manajemen Pemasaran
Dengan batasan pengertian mengenai manajemen pemasaran seperti diatas, maka akan tercakup ruang lingkup yang sangat luas. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa manajemen pemasaran mencakup seluruh filsafat, konsep, tugas, dan proses manajemen pemasaran. Pada umumnya ruang lingkup manajemen pemasaran meliputi:
a. Filsafat Manajemen Pemasaran, yang mencakup konsep dari proses pemasaran serta tugas-tugas manajemen pemasaran.
b. Faktor lingkungan pemasaran merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan pimpinan perusahaan.
c. Analisis pasar, yang mencakup ciri-ciri dari masing-masing jenis pasar, analisis produk, analisis konsumen, analisis persaingan dan analisis kesempatan pasar.
d. Pemilihan sasaran (target) pasar, yang mencakup dimensi pasar konsumen, perilaku konsumen, segmentasi pasar dan kriteria yang digunakan, peramalan potensi sasaran pasar, dan penentuan wilayah pasar/penjualan.
e. Perencanaan pemasaran perusahaan, yang mencakup perencanaan strategi jangka panjang pemasaran perusahaan (marketing corporate planning), perencanaan operasional pemasaran perusahaan, penyusunan anggaran pemasaran dan proses penyusunan rencana pemasaran perusahaan.
f. Kebijakan dan strategi pemasaran terpadu (marketing mix strategy), yang mencakup pemilihan strategi orientasi pasar, pengembangan acuan pemasaran (marketing mix) untuk strategi pemasaran dan penyusunan kebijakan, strategi dan taktik pemasaran secara terpadu.
g. Kebijakan dan strategi produk, yang mencakup strategi pengembangan produk, strategi produk baru, strategi lini produk, dan strategi acuan produk (product mix).
h. Kebijakan dan strategi harga, yang mencakup strategi tingkat harga, strategi potongan harga, strategi syarat pembayaran, dan strategi penetapan harga.
i. Kebijakan dan strategi penyaluran, yang mencakup strategi saluran distribusi dan strategi distribusi fisik.
j. Kebijakan dan strategi promosi, yang mencakupstrategi advertensi, strategi promosi penjualan (sales promotion), strategi personal seling, dan strategi publisitas serta komunikasi pemasaran.
k. Organissi pemasaran, yang mencakup tujuan perusahaan dan tujuan bidang pemasaran, struktur organisasi pemasaran, proses dan iklim perilaku organisasi pemasaran.
l. Sistem informasi pemasaran, yang mencakup ruang lingkup informasi pemasaran, riset pemasaran, pengelolaan, dan penyusunan sistem informasi pemasaran.
m. Manajemen penjualan, yang mencakup manajemen tenaga penjual, penglolaan wilayah penjualan, dan penyusunan rencana dan anggaran penjualan.
n. Pengendalian pemasaran, yang mencakup analisis dan evaluasi kegiatan pemasaran baik dalam jangka waktu (tahun) maupun tahap operasional jangka pendek.
o. Pemasaran internasional yang mencakup pemasaran ekspor (export marketing), pola-pola pemasaran internasional dan pemasaran dari perusahaan multinasional.
D. Strategi Pemasaran
Adapun strategi pemasaran ada empat yaitu:
a. Strategi umum dan menyeluruh pemasaran
Ada enam tahap dalam proses pemasaran, yaitu analisis peluang/kesempatan pasar, pemilihan sasaran pasar, strategi peningkatan posisi persaingan, pengembangan sistem pemasaran, pengembangan rencana pemasaran serta penerapan rencana dan pengendalian penerapannya.
Tahap pertama yang dilakukan adalah menganalisis kesempatan/peluang pasar yang dapat dimanfaatkan dalam usaha yang dilakukan perusahaan untuk mencapai tujuannya. Kesempatan/peluang pasar ini harus dipertimbangkan dan diseleksi untuk memilih mana yang relevan dengan tujuan perusahaan.
Tahap kedua adalah penentuan sasaran pasar, yang akan dilayani oleh perusahaan. Untuk melayani seluruh pasar yang ada, karena setiap pasar terdiri dari kelompok konsumen yang berbeda, kebutuhan, keinginan serta kebiasaan dan reaksi yang berbeda. Oleh karena itu, untuk dapat melayani kebutuhan dan keinginan konsumen dari pasarnya sesuai dengan kemampuan perusahaan, maka perusahaan perlu menentukan segmentasi pasar dan menetapkan segmentasi pasar yang mana yang akan dilayani sebagai sasaran pasar.
Tahap ketiga dari proses pemasaran ini adalah menilai kedudukan dan menetapkan strategi peningkatan posisi atau kedudukan perusahaan dalam persaingan pada sasaran pasar yang dilayani. Dalam tahap ini perusahaan harus mempunyai pandangan atau keputusan mengenai produk (barang atau jasa) apa yang akan ditawarkan kepada sasaran pasar, dalam hubungannya dalam bidang usaha perusahaan yang telah ditentukan sebelumnya.
Tahap keempat adalah mengembangkan sistem pemasaran. Yang dimaksudkan dengan mengembangkan sistem pemasaran dalam hal ini adalah tugas untuk mengembangkan organisasi pemasaran, sistem informasi pemasaran, sistem perencanaan, dan pengendalian pemasaran yang dapat menunjang tercapainya tujuan perusahaan dalam melayani sasaran pasar.
Tahap kelima adalah mengembangkan rencana pemasaran. usaha pengembangan ini diperlakukan karena keberhasilan perusahaan terletak pada kualitas rencana pemasaran yang bersifat jangka panjang dan jangka pendek untuk mencapai sasaran pasar. Komponen dari rencana pemasaran terdiri dari: analisis situasi pasar, tujuan dan sasaran pemasaran dan strategi pemasaran, program pelaksanaannya dan anggaran pemasaran.
Tahap keenam menerapkan atau melaksanakan rencana pemasaran yang telah disusun dan mengendalikannya. Penerapan atau pelaksanaan rencana harus mempertimbangkan situasi dan kondisi pada saat itu, sehingga perlu mempunyai taktik yang dijalankan, dan untuk keberhasilannya taktik yang dijalankan dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah pemasaran lainnya.
Strategi pemasaran menyeluruh perusahaan tercermin dalam rencana strategi pemasaran perusahaan (corporate marketing plan) yang disusun. Rencana strategi pemasaran perusahaan adalah rencana pemasaran jangka panjang yang bersifat menyeluruh dan strategis, yang merumuskan berbagai strategi dan program pokok di bidang pemasaran perusahaan, yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan perusahaan pada jangka waktu tertentu dalam jangka panjang di masa depan.
b. Strategi penetrasi pasar
Strategi penetrasi pasar adalah suatu strategi yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk meningkatkan penjualannya atas produk dan pasar yang telah tersedia melalui usaha-usaha pemasaran yang lebih agresif. Secara umum, penetrasi pasar dapat dibedakan atas tiga bentuk, yaitu:
1) Perusahaan dapat mencoba untuk merangsang konsumen agar mereka meningkatkan pembeliannya. Sebagai contoh, jika seorang konsumen lebih sering membeli rokok dan lebih banyak menghisapnya pada setiap kali pemakaian, maka dia akan membeli rokok lebih banyak.
2) Perusahaan dapat meningkatkan usahanya dengan menarik atau mempengaruhi konsumen saingan. Sarana yang digunakan tidak berbeda dengan yang telah diuraikan pada butir satu di atas. Perbedaannya hanya pada sasaran atau target yang hendak dicapai, yaitu pada konsumen saingan, sedangkan pada butir satu di atas adalah pada konsumen perusahaan sendiri.
3) Perusahaan dapat meningkatkan usahanya dengan menarik yang bukan pemakaian (nonuser) atau calon konsumen yang berada dalam lingkungan pasarnya.
Dalam usaha ini perusahaan dapat mengatur kegiatan pemasarannya dalam bentuk salah satu dari strategi sebagai berikut:
a) Strategi Rapid Skimming
Strategi ini hanya dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa asumsi diantaranya, sebagian besar potensi pasar yang belum mengenal produk, calon konsumen yang telah mengenal produk akan tertarik untuk memiliki produk tersebut dan memiliki kesanggupan untuk membayar harga yang diminta, dan perusahaan menghadapi persaingan yang potensial dan bertujuan untuk membangun preferensi merek (brand preference).
b) Strategi slow skimming
Strategi ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa asumsi diantaranya, luas pasar secara relatif terbatas, sebagian besar pasar telah mengenal produk itu, calon konsumen bersedia membayar harga yang diminta, dan kemungkinan ancaman para pesaing kecil.
c) Strategi Rapid Penetration
Strategi ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa asumsi diantaranya, luas pasar relatif cukup besar, umumnya pasar itu belum mengenal produk, calon konsumen umumnya peka terhadap harga, kemungkinan ancaman para pesaingan cukup besar, dan biaya produksi per unit cenderung menurun dengan bertambahnya jumlah produksi dan pengalaman kerja.
d) Strategi slow Penetration
Strategi ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa asumsi diantaranya, luas pasar relative cukup besar, umumnya pasar itu sangat mengenal produk tersebut, umumnya pasar itu sangat sensitif terhadap harga (price sensitive), kemungkinan ada ancaman dari para pesaing.
c. Strategi acuan/bauran pemasaran (marketing mix)
Salah satu unsur dalam strategi pemasaran terpadu adalah strattegi acuan/bauran pemasaran, yang merupakan strategi yang dijalankan perusahaan, yang berkaitan dengan penentuan bagaimana perusahaan menajikan penawaran produk paa segmen pasar tertentu, yang merupakan sasaran pasarnya. Marketing mix merupakan kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran, variabel yang dikendalikan oleh perusahaan untuk mempengaruhi reaksipara pembeli atau pembeli.
Dalam strategi acuan/bauran pemasaran yang menetapkan komposisi terbaik dari keempat komponen atau variabel pemasaran. Keempat komponen strategi pemasaran ini diantaranya:
1. Strategi produk
Tujuan utama strategi produk adalah untuk dapat mencapai sasaran pasar yang dituju dengan meningkatkan kemampuan bersaing atau mengatasi persaingan. Oleh karena itu, strategi produk sebenarnya merupakan strategi pemasaran, ssehingga gagasan atau ide untuk melaksanakannya harus datang dari bagian atau bidang pemasaran.
2. Strategi harga
Harga merupakan satu-satunya unsur marketing mix yang menghasilkan penerimaan penjualan, sedangkan unsure lainnya hanya unsur biaya saja. Adapun tujuan penetapan harga, yaitu: memperoleh laba yang maksimum, mendapatkan share pasar, memerah pasar (market skimming), mencapai tingkat hasil penerimaan penjualan maksimum, mencapai keuntungan yang ditargetkan, mempromosikan produk.
3. Strategi penyaluran/distribusi
Bentuk pola saluran distribusi dapat dibedakan atas:
1) Saluran langsung, yaitu: produsen - konsumen
2) Saluaran tidak langsung, yaitu dapat berupa:
 Produsen - pengeceran-konsumen
 Produsen- pedagan besar/menengah-pengecer-konsumen
 Produsen- pedagan besar- pedagan menengah - pengecer -konsumen.
Saluran distribusi diperlukan oleh setiap perusahaan, karena produsen menghasilkan produk dengan memberikan kegunaan bentuk (formutility) bagi konsumen setelah sampai ketangannya, sedangkan lembaga penyalur membentuk atau memberikan kegunaan waktu, tempat, dan emikiran dari produk itu.
4. Strategi promosi
Kombinasi dari unsur-unsur promosi ini dikenal dengan sebutan acuan/bauran promosi (promotional mix), yang terdiri dari advertensi, personal selling, promosi penjualan (sales promotion), dan publisitas. Saluran yang mempengaruhi strategi promosi ada dua diantaranya:
1) Saluran perorangan(personal channels) terdiri dari:
 Saluran advokat (advocate chenneks),seperti
 ramoniaga(sales men) dan sebagainya.
 Saluran tenaga ahli (expert channels), seperti dokter, konsultan, dan sebagainya.
 Saluran lingkungan sosial (social channel), seperti teman, tetangga dan sebagainya.
2) Saluran yang bukan perorangan (nonpersonal) terdiri dari:
 Media massa dan selektif (mass and selective media), seperti Koran, radio, dan sebagainya.
 Penciptaan suasana (atmospheres), yaitu penciptaan iklim agar orang mempunyai persepsi yang baik terhadap perusahaan, dan
 Kejadian tertentu (events), seperti pembukaan secara besar-besaran, price deals dan sebagainya.
d. Strategi siklus kehidupan usaha/daur hidup produk (product life cycle)
Tahapan yang terdapat dalam siklus kehidupan usaha produk, terdiri dari tahapan pengenalan (introduction), tahapan pengembangan (growth), tahapan pematangan (maturity), dan tahapan penuaan atau penurunan (desline).
Dengan adanya perbedaan kondisi masing- masing tahapan, strategi pemasaran yang dijalankan hendaknya berbeda pula, agar tujuan dan sasaran perusahaan di bidang pemasaran dapat dicapai. Jadi, strategi pemasaran suatu produk hendaklah disesuaikan dengan kondisi masing-masing tahapan siklus kehidupan usaha dari produk tersebut.
Strategi pemasaran yang menyangkut produk, meliputi penampilan, desain, pengemasan, mutu, ukuran, bentuk, dan pelayanan.dalam hal ini, strategi yang sering dilakukan adalah pengembangan produk, penciptaan produk baru dan defirsivikasi produk.
Strategi pemasaran yang menyangkut harga, meliputi penentuan tingkat harga, pemberian potongan, dan penentuan syarat-syarat pembayaran.
Dari uraian di atas dapat dinyatakan, setiap produk umumnya mengalami siklus kehidupan usaha. Untuk memungkin keberhasilan usaha pemasaran suatu produk dalam tingkat persaingan yang semakin tajam, maka perlu ditetapkan strategi pemasaran yang tepat. Strategi pemasaran tersebut hendaklah mempertimbangkan pada tahapan mana siklus kehidupan usaha dari produk itu berada saat ini, agar strategi itu dapat efektif untuk pencapaian tujuan dan sasaran perusahaan. Dengan mengetahui pada tahapan mana produk yang kita pasarkan berada, maka dapat diharapkan strategi pemasaran yang ditetapkan lebih terarah dalam pencapaian tujuan dan sasaran perusahaan kita.

BAB III
PENUTUPAN
A. KESIMPULAN
Ada dua penafsiran entang pemasaran, yaitu penafsiran yang sempit tentang pemasaran ini terlihat pula dari American MarketingAssocition 1960, yang menyatakan pemasaran adalah hasil prestasi kerja kegiatan usaha yang berkaitan dengan mengalirnya barang dan jasa dari produsen sampai ke konsumen. Disamping penafsiran ini terdapat pula pandangan yang lebih luas, yang menyatakan pemasaran merupakan proses kegiatan yang mulia jauh sebelum barang-barang/bahan-bahan masuk dalam proses produksi. Dalam hal ini banyak keputusan pemasaran yang harus dibuat jauh sebelum produk itu dihasilkan, seperti keputusan mengenai produk yang dibuat, pasarnya, harga, dan promosinya. Sebagai contoh, keputusan pemasaran tersebut dapat berupa produk apa yang harus diproduksi, apakah produk itu harus dirancang, apakah perlu dikemas, dan merek apa yang akan digunakan untuk produk itu.
Kegiatan pemasaran sebenarnya berkembang sejak adanya kebutuhan manusia itu melalui pertukaran. Perkembangan peradaban manusia menimbulkan perkembangan penggunaan alat pertukaran. Dengan adanya pertkembangan tersebut mulailah dikenal transaksi jual-beli. Pada masa itu pemasaran barulah merupakan kegiatan transaksi jual-beli di mana seluruh barang-barang yang dihasilkan atau diproduksikan dengan mudah dan dapat terjual. Masalah yang diutamakan pada saat itu bagaimana menghasilkan suatu barang. Hal ini terutama disebabkan barang apapun yang dihasilkan akan dapat terjual. Oleh karena itu, orientasi pemikiran manajemen pada saat itu adalah orientasi produksi.
Ruang lingkup manajemen pemasaran, filsafat manajemen pemasaran, faktor lingkungan pemasaran, analisis pasar, pemilihan sasaran pasar, perencanaan pemasaran perusahaan, kebijakan dan strategi pemasaran terpadu, kebijakan dan strategi produk, dan lain-lain.
Adapun strategi pemasaran yaitu, strategi umum dan menyeluruh pemasaran, strategi penetrasi pasar, strategi acuan/bauran pemasaran (marketing mix), strategi siklus kehidupan usaha/daur hidup produk (product life cycle).

DAFTAR PUSTAKA
Assauri Sofjan Manajemen Pemasaran (Jakarta: PT. GrafindoPersada. 2013)



Share:

SEJARAH BERDIRINYA DINASTI UMAYYAH

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Sidi Gazalba sejarah adalah gambaran masa lalu tentang manusia dan sekitarnya sebagai mkahluk sosial, yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan yang memberi pengertian dan kepahaman tentang apa yang telah berlalu itu.
Kajian sejarah masih terlalu luas lingkupnya sehingga menunutut suatu pembatasan. Oleh karena itu, sejarah haruslah diartikan sebagai tindakan manusia dalam jangka waktu tertentu pada masa lampau yang dilakukan di tempat daerah tertentu. Dengan demikian, muncullah kajian sejarah suku bangsa tertentu, di tempat tertent, atau pada zaman tertentu, seperti sejarah bangsa Eropa, sejarah Yunani, sejarah Islam, sejarah Islam abad pertengahan, sejarah Islam di Spanyol.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Umayyah?
2. Bagaimana masa-masa kejayaan Dinasti Umayyah?
3. Bagaimana masa-masa kehancuran Dinasti Umayyah?
C. Tujuan
1. Menambah wawasan mengenai sejarah Dinasti Umayyah
2. Mengetahui masa-masa kejayaan Dinasti Umayyah
3. Mengetahui masa-masa kehancuran Dinasti Umayyah
Baca Juga
PEMBAHARUAN PADA MASA KERAJAAN TURKI USMANI
BAB II
PEMBAHASAN
1. Sejarah Peradaban Dinasti Umayyah
Nama Dinasti Umayyah dinisbatkan kepada Umayyah bin Abd Syams bin Abdu Manaf ia adalah salah seorang tokoh penting di tengah Quraisy pada masa jahiliyah. Ia dan pamannya Hasyim bin Abdu Manaf selalu beruntung dalam merebutkan kekuasaan dan kedudukan. Dinasti Umayyah didirikan oleh Muawiyyah bin Sufyan bin Harb. Muawiyyah di samping sebagai pendiri daulah bani Abasiyah juga sekaligus menjadi khalifah pertama. Ia memindakan ibu kota kekuasaan islam dari Khufah ke Demastus. Muawiyyah dipandang sebagai pembangun dinasti yang oleh sebagian besar sejarawan awalnya dipandang negatif. Keberhasilan memperoleh legalitas atau kekuasaannya dalam perang saudara siffin dicapai melalui cara yang curang. Lebih dari itu muawiyyah juga dituduh sebagai penghianat prinsip-prinsip demokrasi yang diajarkan islam, karena dialah yang mula-mula mengubah pimpinan negara dari seseorang yang dipilih rakyat atau demokrasi menjadi kekuasaan yang diwariskan turun-menurun (monarchi heredity). Muawiyyah berhasil mendirikan Dinasti Umayyah bukan hanya dikarenakan kemenangan diplomasi di siffin dan terbunuhnya khalifah Ali. Melainkan sejak semula ia memiliki basis rasional yang solid bagi landasan pembangunan poitik di masa depan. Pertama, adalah dukungan yang kuat dari rakyat Suriyah dan dari kalangan Bani Umayyah sendiri. Penduduk Suriyah yang yang lama diperintah oleh Muawiyyah memiliki pasukan yang kokoh, terlatih dan disiplin di garis depan dalam peperangan melawan Romawi. Muawiyyah melaksanakan perubahan-perubahan besar dan menonjol di dalam pemerintahan negeri itu. Angkatan daratnya kuat dan efisien. Dia dapat mengandalkan pasukan orang-orang Siria yang taat dan setia, yang tetap berdiri disampingnya dalam keadaan yang paling berbahaya sekalipun. Dengan bantuan orang-orang Siria yang setia, Muawiyyah mendirikan pemerintahn yang stabil menurut garis-garis pemerintahan Bizantium. Kedua, sebagai seorang administrator, Muawiyyah sangat bijaksana dalam menempatkan para pembantunya pada jabatan-jabatan penting. Tiga orang patutlah mendapat perhatian khusus, yaitu Amr bin Ash, Mugirah bin Syu’bah, dan Ziyad bin Abihi, ketiga pembantu Muawiyyah merupakan politikus yang sangat mengagumkan dikalangan muslim Arab. Akses mereka sangat kuat dalam membina perpolitikan Muawiyyah. Ketiga, Muawiyyah memiliki kemampuan sebagai negarawan sejati, bahkan mencapai tingkat “hilm”, sifat tertinggi yang dimiliki oleh para pembesar Mekah zaman dahul. Seorang manusia hilm seperti Muawiyyah dapat menguasai diri secara mutlak dan mengambil keputusan-keputusan yang menentukan, meskipun ada tekanan dan imiditasi. Masa Dinasti Umayyah hampir satu abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 orang khalifah. Khalifah yang pertama adalah Muawiyyah bin Sufyan, sedangkan khalifah yang terakhir adalah Marwan bin Muhammad.
2. Masa Kemajuan Dinasti Bani Umayyah
Masa pemerintahan Bani Umayyah terkenal sebagai satu era agresif, dimana perhatian tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan, yang terhenti sejak zaman kedua Khalafaur Rasyidin terakhir. Hanya dalam jangka waktu 90 tahun, banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan islam, yang meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika utar, Jazirah Arab, Syiria, Palestina, sebagai daerah Anatolia, Irak, Persia, Afganistan, India, dan negeri-negeri yang sekarang termasuk Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgiztan yang termasuk Soviet Rusia. Menurut Prof. Ahmad Syalabi, penaklukan militer di zaman Umayyah mencangkup tiga front penting, yaitu sebagai berikut, pertama, front melawan bangsa Romawi di Asia kecil dengan sasaran utama pengepungan ke ibu kota Konstantinopel, dan penyerangan ke pulau-pulau di laut tengah. Kedua, wilayah Afrika Utara. Penaklukan ini sampai ke Samudra Atlantik dan menyebrang ke Gunung Thariq hingga ke Spanyol. Ketiga, wilayah timur. Penaklukan ini sampai ke sebelah timur Irak. Kemudian, meluas ke wilayah Turkistan di utara serta ke wilayah Sindh di bagian selatan. Ekspansi bani umayyah dalam rangka memeperluas wilayah kekuasaan merupakan lanjutan dari ekspansi yang dilakukan oleh para pemimpin islam sebelumnya. Di sebelah timur, Muawiyyah berhasil menaklukan Tunis, Khurasan sampai ke tanah Oxus serta Afganistan sampai Kabul, dan angkatan laut Muawiyyah menyerang Konstantinopel. Ekspansi ini kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd. Al-Malik. Ia berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Fergana, Samarkand, dan bahkan sampai ke India dengan menguasai Balukhistan, Sind, dan daerah Punjab sampai ke Maltan. Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan di zaman Al-Walid bin Abd. Malik. Masa pemerintahan Walid adalah masa ketentraman, kemakmuran, dan ketertiban. Umat islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat ekspendisi meliter dari Afrika utara menuju wilayah barat daya, Benua Eropa yaitu pada tahun 711 M. Setelah Aljazair dan Maroko dapa ditundukkan, Tariq bin Ziyad pemimipin pasukan islam, dengan pasukannya menyebrangi selat yang memisahkan antara Maroko dengan Benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibratar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Selain perluasan wilyah dalam kemajuan bidang peradaban, Dinasti Muawiyyah meneruskan tradisi kemajuan dalam berbagai bidang. Menurut Jurji Zaidan beberapa kemajuan dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan antara lain sebagai berikut:
• Pengembagan bahasa Arab Para penguasa Dinasti Umayyah telah menjadikan islam sebagai negara, kemudian dikuatkannya dan dikembangkanlah bahasa Arab dalam wilayah kerajaan islam. Upaya tersebut dilakukan dengan menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi dalaM tata usaha dan pemerintahan.
• Marbat kota pusat kegiatan ilmu Dinasti Umayyah juga mendirikan sebuah kota kecil sebagai pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pusat kegiatan kegiatan ilmu dan kebudayaan itu dinamakan Mardab, kota satelit dari Damaskus.
• Ilmu qiraat Ilmu qiraat adalah ilmu seni baca alquran. Dinasti Umayyah mengembangluaskan sehingga menjadi ilmu syariat yang sangat penting. Pada masa ini lahir para ahli qiraat ternama seperti Abdullah bin Qusair (w. 120 H) dan Ashim bin Abi Nujud (w.127 H).
• Ilmu tafsir Untuk memahami alquran sebagai kitab suci diperlukan interprestasi pemahaman secara komprehensif. Minat untuk menafsirkan alquran dikalangan umat islam bertambah. Pada masa perintisan ilmu tafsir, ulama yang membukukan ilmu tafsir yaitu Mujahid (w.104 H).
• Ilmu hadis Dalam hal ini mengumpulkan hadis menyelidiki asal usulnya sehingga akhirnya menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri yang dinamakn ilmu hadis. Diantara para ahli hadis yang termasyhur pada masa Dinasti Umayyah adalah Al-Auzai Abdurrahman bin Amru (w. 159 H), Hasan Basri (w. 110 H).
• Ilmu fiqh Setelah islam memjadi daulah, para penguasa membutuhkan peraturan-peraturan untuk menjadi pedoman dalam menyelesaikan berbagai masalah. Mereka kembali kepada alquran dan hadis dan mengeluarkan syariat dari kedua sumber tersebut untuk mengatur pemerintahan dan memimpin rakyat. Pada zaman ini ilmu fiqh telah menjadi suatu cabang syariat yang berdiri sendiri.
3. Masa Kehancuran Dinasti Bani Umayyah
Meskipun kejayaan telah diraih oleh bani umayyah ternyata tidak bertahan lebih lama, dikarenakan kelemahan-kelemahan internal dan semakin kuatnya tekanan dari luar. Menurut Dr. Badri Yatim, ada beberapa faktor yang menyebabkan Dinasti Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran, yaitu sebagai berikut.
1. Sistem penggantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menentukan aspek senioritas, pengaturannya tidak jelas. Ketidak jelasan penggantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat dikalangan anggota keluarga istana.
2. Latar belakang terbentuknya Dinasti Umayyah tidak dapat dipisahkan dari berbagai konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa syi’ah dan khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyidi masa petengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3. Pada kekuasaan Bani Umayyah, petengahan etnis antara Suku Arabia (Bani Qais) dan Arab selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum islam semakin runcing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan umtuk mengalang persatuan dan kesatua. Di samping itu, sebagian besar golongan timur lainya merasa tidak puas karena status Mawali untuk menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan Bangsa Arab yang diperhatikan pada masa Bani Umayyah.
4. Lemahnya pemerintahan daulah Bani Umayyah juga disebabakan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaran tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Di samping itu, sebagian besar golongan awam kecewa karena perhatian penguasa perkembangan agam asangat kurang.
5. Penyebab langsung tergulingnya Dinasti Umayyah adalah muncul kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas ibn Abd Al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Hasyim dan golongan syi’ah, dan kaum Mawali yang meras dikelas duakan oleh pemerintah Bani Umayyah
Beberapa penyebab tersebut muncul dan menumpuk menjadi satu, sehingga akhira mengakibatkan keruntuhan Dinasti Umayyah, disusul dengan berdirinya kekuasaan orang-orang Bani Abbasiyah yang mengejar-ngejar dan membunuh setiap orang dari Bani Umayyah yang dijumpainya. Demikianlah, Dinasti Umayyah asca wafatnya Umar bin Abdul Aziz yang berangsur-angsur melemah. Kekhalifahan sesudahnya dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh yang melemahkan dan akhirnya hancur. Dinasti Umayyah diruntuhakn oleh Dinasti Bani Abasyiah pada masa khlaifah Marwan bin Muhammad (Marwan II) pada tahun 127H/744M.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Sejarh peradaban Dinasti Umayyah Nama Dinasti Umayyah dinisbatkan kepada Umayyah bin Abd Syams bin Abdu Manaf. Masa Dinasti Umayyah hampir satu abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 orang khalifah. Khalifah yang pertama adalah Muawiyyah bin Sufyan, sedangkan khalifah yang terakhir adalah Marwan bin Muhammad.
2. Masa kejayaan Dinasti Umayyah Masa pemerintahan Bani Umayyah terkenal dengan perluasan wilayah. Banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan islam, yang meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika utar, Jazirah Arab, Syiria, Palestina, sebagai daerah Anatolia, Irak, Persia, Afganistan, India, dan negeri-negeri yang sekarang termasuk Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgiztan yang termasuk Soviet Rusia. Selain dalam perluasan wilyah juga dalam bidang bahasa Arab, dalam bidang pendidikan, dan ilmu agama seperti, ilmu hadis, ilmu qiraat, ilmu tafsir, ilmu hadis dan ilmu fiqh.
3. Masa kehancuran Dinasti Umayyah Beberapa faktor penyebab hancurnya Dinasti Umayyah yaitu diantarnya pergantian khlaifah dari sistem demokrasi di ubah menurut garis keturunan. Selain itu berbagai konflik politik dari kaum syi’ah dan juga khawarij. Lemahnya pemerintahan Dinasti Umayyah juga salah satu penyebab runtuhnya Dinasti Umayyah. Selain itu penyebab runtuhnya Dinasti Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang mendapat dukungan dari syi’ah dan Hasyim.

DAFTAR PUSAKA
Munir Amin, Samsul. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah, 2010.
Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011.

Share:

Popular Posts

Label