Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Jumat, 13 Maret 2020

MEMBANGUN IKLIM PEMBELAJARAN YANG INSPRIRATIF

A.Latar Belakang
Guru inspriratif tidak hanya melahirkan daya tarik dan spirit perubahan terhadap diri siswanya dari aspek dan pribadinya semata, tetapi iya juga harus mampu mendesain iklim dan suasana pembelajaran yang juga inspriratif, akan semakin memperkukuh karakter dan sifat inspriratif yang ada pada diri guru. Perpaduan keduanya, yaitu karakter diri guru dan suasana pembelajaran, akan menjadikan demensi inspriratif semakin menemukan momentum untuk mengkristal dan membangun energi perubahan positif dalam diri setiap siswa.
Dalm konteks semcam ini, penciptaan iklim pembelajaran yang inspriratif penting untuk dilakukan. Ada beberapa aspek ang dapat dikembangkan oleh seorang guru sehingga mampu menciptakan suasana pembelajaran yang inspriratif. Penciptaan suasana pembelajaran yang inspriratif sangat penting artinya, untuk semakin mengukuhkan dan mendukung kekuatan inspriratif yang bersumber dari diri pribadi guru. Dua aspek ini pribadi guru dan suasana pembelajaran pada gilirannya akan mampu mengakumulasikan potensi dalam diri para siswanya untuk semakin meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. Modal inilah yang pada gilirannya dapat dilejitkan untuk melakukan perubahan menuju kearah pencapaian cita-cita hidup. Baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, para siswa mampu menjadi siswa dengan prestasi belajar yang memuaskan. Tujuan atau cita-cita jangka panjangnya adalah bagaimana menjadi pribadi yang sukses dalam makna yang luas, sukses hidup, keluarga, profesi, sosial, dan kemasyarakatan .
B.Rumusan masalah
1.Bagaimana strategi guru dalam membangun iklim pembelajaran yang inspriratif?

C.Pembahasan
a.Pengertian Strategi Guru
Istilah strategi sering digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang tidak selalu sama, dalam konteks pengajaran dengan strategi bisa diartikan sebagai suatu pola umum tindakan guru dan peserta didik dalam maniprestasi aktivitas pengajaran. Sifat umum pola itu berarti bahwa macam-macam dan sekuensi tindakan yang dimaksud nampak digunakan/dipragakan guru dan peserta didik pada berbagai ragam, events pengajaran. Dengan kata lain, konsep strategi dalam konteks ini dimaksudkan untuk menunjuk pada karakteristik abstrak serangkaian tindakan guru peserta didik dalam events pengajaran .

b.Langkah-langkah Guru dalam Membangun Iklim Pembelajaran yang Inspriratif.
1.Membuat model-model desain pembelajaran
Secara umum, model desain pembelajarn dapat diklasifikasikan ke dalam model berorientasi kelas, model berorientasi sistem, model berorientasi produk, model prosedural dan model melingkar. Model berorientasi kelas, biasanya ditujukan untuk mendesain pembelajaran level mikro (kelas) yang hanya dilakukan setiap dua jam pelajaran atau lebih. Contohnya adalah menggunakan model ASSURE, yaitu merupakan suatu model formulasi untuk kegiatan belajar mengajar, model ini terdiri atas enam langkah kegiatan antara lain: analyze learners,States Cbjectives, Select methods, media, and material, Utilize media and materials, Require participation, Evaluate and revise. Model berorientasi produk adalah model desain pembelajaran untuk menghasilkan suatu produk, biasanya media pembelajaran dan multimedia pembelajaran atau modul. Contoh modelnya adalah model HANNAFIN AND PECK, ialah model desian pengajaran yang terdiri daripada tiga fase yaitu; fase analisis keperluan, fase desian, dan fase pengembangan dan implementasi. Sedangkan model berorientasi sistem yaitu model desian pembelajaran untuk menghasilkan suatu sistem pembelajaran yang cakupannya luas, seperti desain sistem kurikulum sekolah,dll. Contohnya adalah model ADDIE, model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yaitu; Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation. Selanjutnya model Prosedural contohnya adalah model J.E. KEMP, adalah desain pengembangan pembelajran dengan menggunakan model ini berpijak pada empat unsur dasar perencanaan pembelajaran yang merupakan wujud jawaban atas pertanyaan: untuk siapa program itu dirancang? Kemampuan apa yang ingin anda pelajari? Bagaimana isi pelajaran atau keterampilan dapat dipelajari?bagaimana anda menentukan tingkat penguasaan pelajaran yang dica? Keempat unsur dasar tersebut adalah (peserta didik, tujuan, metode, dan evaluasi) merupakan acuan setiap kegiatan perencangan pembelajaran yang menggunakan pendekatan sistem .

2.Perhatian dan Motivasi
Guru sejak merencanakan kegiatan pembelajaran sudah memikirkan perilakunya terhadap siswa sehingga dapat menarik perhatian dan menimbulkan motivasi siswa dan tidak berhenti pada rencana pembelajarannya. Adapun implikasinya adalah: menggunakan metode secara variasi, menggunakan media sesuai dengan tujuan belajar dan materi yang diajarkan, mengemukakan pertanyaan-pertanyaan membimbing, memberikan pujian verbal atau non verbal terhadap siswa yang memberikan respon terhadap pertanyaan yang diberikan .

3.Empati kepada siswa
Dalam membangun iklim pembelajaran yang inspriratif guru berempati kuat pada siswanya, dalam keadaan apapun. Dalam konteks hubungan guru dan siswa, empati bermakna afeksi fisikal atau parsialitas guru terhadap siswanya. Afeksi fisikal bermakna penampakan fisik atau aura guru terkait langsung atau tidak langsung dengan fenomena yang dihadapi oleh siswanya. Kata parsialitas bermakna guru mengarsir atau menyentuhkan diri pada sisi siswanya, dalam konteks akademik dan pedagogis. Empati dikonsepsikan sebagai kemampuan guru dalam membaca siswa. Secara harfiah, empati bermakna kemampuan seorang guru merasakan emosi siswa atau pribadi-pribadi di luar dirinya, khususnya komunitas sekolah .
Menurut Kindsvatter, Wilen, dan Ishler membangun iklim pembelajaran yang efektif dan inspriratif adalah pembelajaran yang melalui prosedur sebagai berikut: me-review pelajaran yang lalu, menyajikan pengetahuan atau keterampilan baru, memberikan pelatihan aplikasi konsep, memberi umpan balik atau koreksi, memberi latihan mandiri, melakukan review mingguan dan bulanan. Sedangkan ciri-ciri yang melekat pada guru menurut Davis dan Thomas adalah: Pertama; mempunyai pengetahuan yang terkait iklim belajar di kelas yang mencakup; 1. Memiliki keterampilan interpersonal khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan terhadap peserta didik, dan ketulusan, 2. Menjalin hubungan yang baik dengan peserta didik, 3. Mempu menerima, mengakui, dan memerhatikan peserta didik secara ikhlas, 4. Menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar, 5. Mampu menciptakan atmosfer untuk tumbuhnya kerja sama kohesivitas dalam dan antar kelompok peserta didik, dll.... Kedua kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang mencakup; 1. Kemampuan menghadapi dan menanggapi peserta didik yang tidak mempunyai perhatian, suka menyela, mengalihkan perhatian, dan mampu memberikan transisi subtansi bahan ajar dalam proses pembelajaran, 2. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua peserta didik. Ketiga, mempunyai kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feed back) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri atas; 1. Mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap peserta didik yang lamban dalam belajar, 2. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban peserta didik yang kurang memuaskan, 3. Mampu memberikan bantuan profesional kepada peserta didik jika diperlukan. Keempat, mempunyai kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri, yang mencakup; 1. Mampu maneapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif, 2. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode pembelajaran, 3. Mampu memanfaatkan perencanaan guru secara berkelompok untuk menciptakan dan mengembangkan metode pembelajaran yang relevan .

4.Membuat pembelajaran yang menyenangkan.
Salah satu usaha penting yang dapat dilakukan untuk membangkitkan semangat belajar adalah mendesain pembelajaran dalam suasana yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan berusaha untuk membangun konsepsi baru bahwa belajar bukanlah sebagaimana yang selama ini dibayangkan. Menurut Hermowo dengan mengutip pendapat Dave Meier, menyenangkan atau membuat suasana belajar dalam keadaan gembira bukan berarti menciptakan suasana ribut dan hura-hura. Dari rumusan Meier ini, ada beberapa komponen pembangun suasana pembelajaran yang menyenangkan: Pertama, bangkitnya minat. Secara sederhana, minat sering dipadankan dengan “gairah” atau “keinginan yang menggebu-gebu. Maka jelas bahwa seorang guru atau siswa akan menjadi gembira karena di dalam dirinya memang ada keinginan mengajarkan atau mempelajari suatu materi pelajaran. Kedua, adanya keterlibatan penuh si pembelajar dalam mempelajari sesuatu. Ketiga, ihwal terciptanya makna. Makna lebih berkaitan erat dengan masing-masing pribadi. Makna terkadang muncul secara sangat kuat dalam konteks yang personal. Kata yang mungkin paling dekat dan mudah di pahami berkaitan dengan makna adalah terbitnya sesuatu yang memang “mengesankan”. Sesuatu yang mengesankan, atau inspriratif, biasanya akan menghadirkan makna. Jadi, apabila pembelajaran tidak menimbulkan kesan mendalam terhadap para pembelajar, maka mustahil ada makna. Keempat, ihwal pemahaman atas meteri yang dipelajari. Apabila minat seorang siswa dapat ditumbuhkan ketika mempelajari sesuatu, lantas dia dapat terlibat secara aktif dan penuh dalam membahas materi-materi yang dipelajarinya, dan ujung-ujungnya dia terkesan dengan sebuah pembelajaran yang diikutinya, tentulah pemahaman akan materi yang dipelajarinya dapat muncul secara sangat kuat. Kelima, tentang nilai yang membahagiakan. Bahagia adalah keadaan yang bebas dari tekanan, ketakutan, dan ancaman. Rasa bahagia yang dapat muncul dalam diri siswa sebagai seorang pembelajar bisa saja terjadi karena dia merasa mendapatkan makna ketika mempelajari sesuatu .

D.Penutup
Adapun Langkah-langkah Guru dalam Membangun Iklim Pembelajaran yang Inspriratif adalah: Membuat model-model desain pembelajaran, Perhatian dan Motivasi, Empati kepada siswa, dan Membuat pembelajaran yang menyenangkan.

DAFTAR RUJUKAN.
Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspriratif memperdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Buna’i, Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Surabaya: Pena Salsabila, 2015.
Siswanto, Perencanaan dan Desain Pembelajaran Pendidkan Agama Islam, Yogyakarta: Pustaka Ar-Raziq, 2016.
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta: Prenadamedia Grup, 2009.
Sudarwan Danim, Pengembangan Profesi Guru Dari PraJabatan, Induksi, ke Profesional Madani, Jakarta: Prenadamedia Grup, 2011.
Barnawi & Mohammad Arifin, Kinerja Guru Profesional,Instrumen Pembinaan, Peningkatan, & Penilaian, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Label