Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Sabtu, 02 Maret 2019

KERANGKA BERPIKIR MELALUI PENDEKATAN BAYANI

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Jika hendak mempelajari cara orang mendekati dan memehami islam, ada tiga cara yang jelas, yaitu naqli (tradisional), aqli (rasional), dan kasyfi (mistis). Ketiga pendekatan itu sudah adaa dalam piiran Nabi Muhammad SAW., dan terus diperhunakan oleh ulama-ulama islam setelah beliau wafat sampai sekarang ini.
Di atas tiga pendekatan inilah, berbagai perspektif dan metodologi pemikiran keislaman dikembangkan. Tiga metode tersbut dalam operasionalya dikenal dengan pendekatan bayani, irfani, dan burhani. Berikut yang dibahas adalah mengenai pendekatan bayani.
B.Rumusan Masalah
1.Apa pengertian pendekatan bayani?
2.Bagaimana pendekatan bayani dalam studi islam?
Baca Juga
PENDEKATAN ILMU SOSIAL HUMANIORA & MACAM-MACAMNYA
BAB II
PEMBAHASAN
1.Pengertian Pendekatan Bayani
Al-Jabiri dengan mengacu pada kamus lisan Al-Arabi Ibn Manzur, menyimpulkan bahwa term al-bayan mengandung empat pengertian, yakni pemisahan, keterpisahan, jelas dan penjelasan. Keempat pengertian tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok: al-bayan sebagai metodologi, yang berarti pemisahan dan penjelasan; dan al-bayan sebaagai pandangan dunia yang berarti keterpisahan yang jelas.
Sedangkan secara terminologis, bayani berarti pola pikir yang bersumber pada nash, ijma’, dan ijtihad. Jika dikaitkan dengan epistemologi, maka pengertiannya adalah studi filosofis terhadap struktur pengetahuan yang menempatkan teks (wahyu) sebagai sebuah kebenaran mutlak. Adapun akal hanya menempati tingkat sekunder dan bertugas hanya untuk menjelaskan teks yang ada.
Ditinjau dari perspektif sejarah, bayani sebetulnya sudah dimulai sejak pada masa awal Islam. Hanya saja pada masa awal ini, yang disebut dengan bayani belum merupakan sebuah upaya ilmiah dalam arti identifikasi keilmuan dan peletakan aturan penafsiran teks-teksnya, tetapi baru sekedar upaya penyebaran tradisi bayani saja.
Pendekatan bayani ini sudah lama digunakan oleh para fuqaha’, mutakallimun, dan ushulliyun. Tujuan pendekatan bayani adalah:
1.Memahami atau menganalisis teks guna menemukan atau mendapatkan makna yang dikandung dalam (atau dikehendaki) lafadz. Dengan kata lain, pendekatan ini dipergunakan untuk mengeluarkan ma’na zahir dari lafadz dan ‘ibarah yang zahir pula;
2.Istinbat hukum-hukum dari al-nusus an-diniyah dan alquran khususnya.
2. Pendekatan Bayani Dalam Study Islam
Dalam tradisi bayani, otoritas kebenaran terletak pada teks (wahyu). Sementara akal menempati posisi sekunder. Tugas akal dalam konteks epistemologi bayani adalah menjelaskan teks-teks yang ada. Sementara bagaimana bagaimana implementasi ajaran teks tersebut dalam kehidupan konkret berada di luar kalkulasi epistemologi ini.
Epitemologi Bayâni adalah pendekatan dengan cara menganalisis teks. Maka sumber epistemologi bayani adalah teks. Sumber teks dalam studi Islam dapat dikelompokkan secara umum menjadi dua, yakni:
a.Teks nash ( Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW)
b.Teks non nash berupa karya para ulama
Obyek kajian yang umum dengan pendekatan bayani adalah :
a.Gramatika dan sastra (nahwu dan balagah)
b.Hukum dan teori hukum (fiqh dan ushul fiqh)
c.Filologi
d.Teologi, dan
e.Dalam beberapa kasus di bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Hadist.
Corak berfikir yang diterapkan dalam epistemologi bayani ini cenderung deduktif, yakni mencari (apa) isi dari teks (analisis content).
Pada wilayah konotasi teoritis konseptual al-bayan sebagai sistem epistimologi mencangkup tiga pasangan konsep dasar, yaitu:
1.Lafal ma’na
2.Ashl-far
3.Substansi eksidensi
Pasangan konsep pertama dan kedua mencangkup aspek metodologis, sedangkan pasangan konsep ketiga mencangkup aspek pandangan dunia.
Makna yang dikandung dalam hadis, dikehendaki oleh, dan di ekspresikan melalui teks dapat diketahui dengan mencermati hubungan antara makna dan lafazh. Hubungan antara makna dan lafadz dapat dilihat dari.
1.Makna wad’i yaitu untuk apa makna teks itu dirumuskan, meliputi makna khas, ‘am dan mustarak.
2.Makna isti’mali yaitu makna apa yang digunakan oleh teks, meliputi makna haqiqah (sarihah dan mukniyah) dan makna majaz (sarih dan kinayah)
3.Darajat al-wudhuh yaitu sifat dan kualitas lafz, meliputi muhkam, mufassar, nas, zahir, khafi, mushkil, mujmal, dan mutasabih.
4.Turuqu ad-dalalah, penunjukan lafz terhadap makna, meliputi dalalah ibarah, dalalah al-isyarah, dalalah al-nass dan dalalah al-iqtida’ (menurut Hanafiyah), atau dalalah al-manzum dan dalalah al-mafhum al-muwafaqah maupun mafhum al-mukhalafah (menurut Syafi’iyyah).
Untuk itu bayani menggunakan alat bantu (instrumen) berupa ilmu-ilmu kebahasaan dan uslub-uslubnya serta asbab an-nuzul, istinbat, dan istidlal sebagai metodenya. Sementara itu, kata-kata kunci (keywords) yan sering dijumpai dalam pendekatan ini meliputi asl-far lafz ma’na (mantuq al-fughah dan mushkilah ad-dalalah; dan nizam al-kitab dan nizal al-aql), khabar qiyas, dan otoritas salaf (sultah al-salaf). Dalam al-qiyas al-bayani, kita dapat membedakan menjadi tiga macam:
1.Al-qiyas berdasarkan ukuran kepantasan antara asl far’ bagi hukum tertentu; yang meliputi:
a.Al-qiyas al-jali;
b.Al-qiyas fi nia’na an-nash; dan
c.Al-qiyas al-khafi
2.Al-qiyas berdasarkan ‘illat terbagi menjadi:
a.Qiyas al-illat dan
b.Qiyas al-dalalah
3.Al-qiyas al-jama’i terhadap ash dan far
Dalam pendekatan bayni dikenal 4 macam bayan:
1.Bayan al-i’tibar, yaitu penjelasan mengenai keadaan, keadaan segala sesuatu, yang meliputi:
a.Al-qiyas al-bayani, baik al-fiqhy, an-nahwy dan al-kalamy;
b.Al-khabar yang bersifat yaqin maupun tasdiq
2.Bayan al-i’tiqad, yaitu penjelasan mengenai sagala sesuatu yng meliputi makna haq, makna muasyabbih fish, dan makna batil
3.Bayan al-ibarah yang terdiri dari:
a.Al-ayan az-zahir yang tidak membutuhkan tafsir; dan
b.Al-bayan al-batin yang membutuhkan tafsir, qiyas, istidlal dan khabar.
4.Bayan al-kitab, maksudnya media untuk menukil pendapat-pendapat dan pemikiran dari kitab lafz, katih ‘aqd katib hukm dan katib tadbir.
Hasil akhirnya adalah sebuah teori pengetahuan yang dalam setiap levelnya bersifat bayani. Dalam logika internalnya, teori pengetahuan (epistemologi) ditentukan oleh konsep bayani yang termasuk gaya bahasa puitik, ungkapan oral, pemahaman, komunikasi, dan penangkapan secara penuh. Hal yang sama juga terdapat dalam ranah materi pengetahuan, yang terutama disusun dari al-Qur’an, hadits, tata bahasa, fiqh, serta prosa dan puisi Arab.
Begitu juga dengan ranah ideologi, karena kekuatan otoritatif yang menetukan, yaitu dogma Islam, ada di belakang ranah ini. Oleh karena itu, sejak awal ada batasan atau larangan tertentu untuk menyamakan pengetahuan dengan keimanan kepada Tuhan. Sistem ini juga diterapkan dalam ranah epistemologi, di mana manusia dipahami sebagai makhluk yang diberkati kapasitas bayan dengan dua tipe “nalar”; pertama dalam bentuk bakat, dan yang lain adalah hasil pembelajaran.
Dalam pendekatan bayani, karena dominasi teks semakin kuat, peran akal hanya sebatas sebagai alat pembenaran atau justifikasi atas teks yang dipahmi atau diinterpretasikan. Namun, menggunakan pendekatan bayani tidaklah cukup karena terkadang tidak didapat penjelasan teks (nash) alquran maupun hadis yang berkaitan dengan seni tradisi. Misalnya, jika mencari teks nash alquran dan hadis yang berkaitan dengan seni tradisi hadrah, tahlilan, shalawatan berjanji atau seni tradisi dalam bentuk upacara seperti saketan, ruwatan, tingkeban (tujuh bulanan bagi yang hamil), selamatan atau haul hari ke-3, 7, 40, dn ke-1000, sampai kapan pun tidak akan ditemukan.
Disamping itu, terkadang sekalipun terdapat nash atau teks normative alquran dan hadis yang berkaitan dengan seni budaya seperti larangan menggambar (seni lukis) dalam sejumlah hadis Bukhar, Muslim, Ahmad, penjelasan teks tersebut sangat berkaitan erat dengan konteks historis dan sosiologinya, sehingga tidak cukup dengan hanya menggunakan pendekatan bayani saja. Mencukupkan hanya pada pendekatan bayani saja cenderung melahirkan pandangan keagamaan yang binar opposition (hitam-putih, halal-haram, sunah-bid’ah), tertutup, kaku dan intoleran.

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
1.Pengertian pendekatan bayani
Bayani adalah pemisah, keterpisahan, jelas, dan penjelasan. Bayani dapat didefinisikan tudi terhadap struktur pengetahuan yang menempatkan teks (wahyu) sebagai sebuah kebenaran mutlak. Tujuannya memahami atau menganalisis teks guna menemukan atau mendapatkan makna yang dikandung dalam (atau dikehendaki) lafadz.
2.Bayani dalam studi islam
Epitemologi Bayâni adalah pendekatan dengan cara menganalisis teks. Dengan wilayah konotasi teoritis konseptual menggunakan konsep; Lafal-ma’na, ashl-far, substansi-eksidensi.
Share:

PENDEKATAN ILMU SOSIAL HUMANIORA & MACAM-MACAMNYA

BAB I
PENDAHULUAN
A . Latar Belakang
Islam telah menjadi kajian yang manarik banyak minat belakangan ini. Studi Islam pun makin berkembang. Islam tidak lagi dipahami dalam pengertian historis dan doktriner, tetapi telah menjadi fenomena yang kompleks. Islam tidak hanya terdiri dari rangkaian petunjuk formal tentang bagaimana seseorang memaknai kehidupannya. Islam telah menjadi sebuah sistem budaya, peradaban, komunitas politik, ekonomi dan bagian dari perkembangan dunia. Mengakaji dan mendekati Islam, tidak lagi mungkin hanya dari satu aspek,tetapi dibutuhkan metode dan pendekatan interdisipliner maupun pendekatan sosial humaniora.
Berkenaan dengan pendekatan interdisipliner maupun sosial humaniora banyak pendekatan-pendekan yang berhubungan dengan pendekatan interdisipliner dan pendekatan sosial humaniora. Untuk lebih jelasnya berbagai pendekatan-pendekatan tersebut akan di bahas dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pendekatan dalam studi islam ?
2. Apa pengertian pendekatan ilmu sosial humaniora dan macam-macam pendekatan ilmu sosial humaniora ?
3. Apa pengertian pendekatan interdisipliner dan macam-macam pendekatan interdisipliner?
BAB I
PENDAHULUAN
A . Latar Belakang
Islam telah menjadi kajian yang manarik banyak minat belakangan ini. Studi Islam pun makin berkembang. Islam tidak lagi dipahami dalam pengertian historis dan doktriner, tetapi telah menjadi fenomena yang kompleks. Islam tidak hanya terdiri dari rangkaian petunjuk formal tentang bagaimana seseorang memaknai kehidupannya. Islam telah menjadi sebuah sistem budaya, peradaban, komunitas politik, ekonomi dan bagian dari perkembangan dunia. Mengakaji dan mendekati Islam, tidak lagi mungkin hanya dari satu aspek,tetapi dibutuhkan metode dan pendekatan interdisipliner maupun pendekatan sosial humaniora.
Berkenaan dengan pendekatan interdisipliner maupun sosial humaniora banyak pendekatan-pendekan yang berhubungan dengan pendekatan interdisipliner dan pendekatan sosial humaniora. Untuk lebih jelasnya berbagai pendekatan-pendekatan tersebut akan di bahas dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pendekatan dalam studi islam ?
2. Apa pengertian pendekatan ilmu sosial humaniora dan macam-macam pendekatan ilmu sosial humaniora ?
3. Apa pengertian pendekatan interdisipliner dan macam-macam pendekatan interdisipliner?

BAB II
PEMBAHASAN
1.Pengertian Pendekatan dalam Studi Islam.
 Pendekatan dalam studi islam yaitu pandangan filsafi terhadap subject-matter yang harus diajarkan dan selanjutnya melahirkan metode mengajar.
 Pendekatan dalam studi islam yaitu cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Jadi dalam hubungan ini, Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa agama dapat di teliti dengan menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang di ungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya.
 Pendekatan dalam studi islam yaitu suatu sikap ilmiah (persepsi) dari seseorang untuk menemukan kebenaran ilmiah.
2.Pendekatan Ilmu Sosial Humaniora dan macam-macam pendekatan ilmu sosial humaniora.
a.Pengertian ilmu sosial humaniora
The Humanities (humaniora), ialah ilmu-ilmu kemanusiaan yang menyangkut kesadaran akan perasaan kepribadian dan nilai- nilai yang menyertainya sebagai manusia.
Pengertian lain menyebutkan bahwa humaniora adalah ilmu yang berkaitan dengan rasa seni yang dimiliki oleh manusia, seperti : Seni Sastra, Musik, Pahat, Lukis, dan sebagainya. Jadi dapat di simpulkan bahwa ilmu sosial Humaniora yaitu ilmu yang mempelajari aktivitas manusia dalam hubungannya dengan manusia.
b.Pendekatan ilmu-ilmu sosial humaniora
1.Pendekatan Antropologi
Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Dawam Rahardjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif. Dari sini timbul kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif dan grounded, yaitu turun kelapangan tanpa berpijak pada atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan diri dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagaimana yang dilakukan dibidang sosiologi dan lebih-lebih ekonomi yang mempergunakan model-model matematis.
Melalui pendekatan antropologis ini, ditemukan hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi, sosial, politik, hubungan antara agama dengan Negara, kesehatan mental, dan susunan organisasi kemasyarakatan. Contoh berikut dipaparkan beberapa penelitian agama dengan pendekatan antropologis :
•Karl Marx (1818-1883) dengan teori konflik atau lebih dikenal dengan pertentangan kelas, ia melihat bahwa agama merupakan opinium atau candu masyarakat tertentu. Agama bisa disalah gunankan oleh kalangan tertentu untuk status quo.
•Marx Weber (1964-1920) melihat adanya korelasi positif antara ajaran protestan dengan munculnya kapitalisme modern.
Di Indonesia kajian agama islam dengan pendekatan antropologis sebagaimana dilakukan oleh jamhari dalam karyanya yang berjudul “pendekatan antropologis dalam kajian islam”. Menurut jamhari, persoalan utama dalam upaya memahami islam adalah bagaimana memahami manusia.
2.Pendekatan kebudayaan
Dalam kamus umum bahasa Indonesia, kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat dan berarti pula kegiatan (usaha) batin (akal dan sebagainya) untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasil kebudayaan. Sementara itu, Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang terjadi dari unsure-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Di dalam kebudayaan tersebut terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat isstiadat, dan segala sebagainya. Kesemuanya itu selanjutnya digunakan sebagai kerangka acuan atau blue print oleh seseorang dalam menjawab sebagai masalah yang dihadapinya. Dengan demikian, kebudayaan tampil sebagai pranata yang secara terus menerus dipelihara oleh para pembentuknya dan generasi selanjutnya yang diwarisi kebudayaan tersebut.
Kebudayaan yang demikian selanjutnya dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada tataran empiris atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala di masyarakat. Pengalaman agama yang terdapat di masyarakat tersebut dip roses oleh penganutnya dari sumber agama, yaitu wahyu melalui penalaran. Misalnya membaca kitab fiqih, maka fiqih yang merupakan pelaksanaan dari nasb alquran maupun hadis sudah melibatkan unsure penalaran dan kemampuan manusia. Dengan demikian, agama menjadi membudaya atau membumi ditengah-tengah masyarakat. Agama yang tampil dalam bentuk yang demikian itu berkaitan dengan kebudayaan yang berkembang dimasyarakat tempat agama itu berkembang. Dengan melalui pemahaman terhadap kebudayaan tersebut seseorang akan dapat mengamalkan ajaran agama.
3.Pendekatan Interdisipliner dan Macam-macam pendekatan Interdisipliner
a.Pengertian pendekatan interdisipliner
Pendekatan Interdisipliner adalah pendekatan dalam pemecahan suatu masalah dengan menggunakan tinjauan berbagai sudut pandang ilmu serumpun yang relevan atau tepat guna secara terpadu.
Jadi pendekatan interdisipliner disini yaitu kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan atau sudut pandang ( perspektif ). Seperti dalam studi menggunakan pendekatan historis filosofi secara bersamaan.
b.Beberapa pendekatan dalam interdisipliner
1.Pendekatan Filosofis
Secara harfiah, kata filsafat bersal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Selain itu filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Pengertian filsafat yang umumnya digunakan adalah pendapat yang dikemukakan Sidi Gazalba, menurutnya filsafat adalah berpikir secara mendalam, sistematik, radikal, dan universal, dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.
Berpikir secara filosofis dapat digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. Pendekatan filosofis yang sedemikian itu sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Misalnya membaca buku berjudul hikmah al-tasyri’ wa falsafatubu yang di tulis oleh muhammad Al-Jurnawi. Dalam buku tersebut Al-Jurjawi berupaya mengungkapkan hikmah yang terdapat dibalik ajaran-ajaran agama islam.
Melalui pendekatan filosofis ini, seorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang mereka dapatkan dari pengalaman agama agama tersebut hanyalah pengakuan formalistik, misalnya sudah haji, sudah menunaikan rukun islam yang kelima, dan berhenti dari situ. Mereka tidak dapat merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung didalamnya.
4.Pendekatan sosiologi
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama,cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup manusia. Sementara itu , Soerjono soekanto mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian.
Dari dua definisi tersebut terlihat bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang berkaitan.
Selanjutnya, sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Dalam agama islam dapat di jumpai peristiwa Nabi Yusuf yang dahulu budak lalu akhirnya bisa jadi penguasa dimesir.mengapa dalam melaksanakan tugasnya nabi musa harus dibantu oleh nabi harun, dan masih banyak lagi contoh yang lain. Beberapa peristiwa tersebut baru dapat dijawab dan sekaligus dapat ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu sosial.
Agama dalam banyak hal ajarannya banyak berkaitan dengan masalah sosial. Islam misalnya, sebagai agama ajarannya syarat dengan nilai-nilai sosil. Berkaitan dengan ini, Jalaluddin Rahmat dalam penelitiannya sampai pada satu kesimpulan bahwa :
a.Dalam al-qur’an ataupun hadis urusan muamalah mendapatkan porsi yang sangat besar disbanding dengan persoalan ibadah.
b.Dalam islam jika urusan ibadah bersamaan waktunya dengan persoalan muamalah, maka ibadah bisa diperpendek (qoshar).
c.Ibadah yang mengandung kemsyarakatan pahalanya lebih besar disbanding ibadah yang bersifat individual.
d.Dalam islam terdapat ketentuan, jika ibadah tidak dilaksanakan dengan sempurna yang mengakibatkan batalnya ibadah tersebut, maka kafaratnya ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
e.Dalam islam juga terdapat ketentuan bahwa amal baik dibidang kemasyarakatan mendapat pahala lebih besar dari pada ibadah sunnah.

BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
1.Pendekatan dalam studi islam yaitu cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.
2.The Humanities (humaniora), ialah ilmu-ilmu kemanusiaan yang menyangkut kesadaran akan perasaan kepribadian dan nilai- nilai yang menyertainya sebagai manusia. Beberapa pendekatan yang berhubungan dengan sosial humaniora : Pendekatan Antopologi dan pendekatan Kebudayaan.
3.Pendekatan Interdisipliner adalah pendekatan dalam pemecahan suatu masalah dengan menggunakan tinjauan berbagai sudut pandang ilmu serumpun yang relevan atau tepat guna secara terpadu. Beberpa pendekatan yang berhubungan dengan pendekatan interdisipliner : Pendekatan Filosofis dan pendekatan sosiologi.

DAFTAR PUSTAKA
Abuddin, Nata. Metodologi Studi Islam. Jakarta : Rajawali Press, 2014
Hasan, Nor. Studi Islam Kontemporer. Pamekasan : Stain Pamekasan Press, 2009
Salim, Moh Haitama; Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Jogjakarta : Ar-Ruzz media, 2012
Anwar, Rosihon. Pengantar Studi Islam. Bandung : Pustaka Setia, 2009
BAB II
PEMBAHASAN
1.Pengertian Pendekatan dalam Studi Islam.
 Pendekatan dalam studi islam yaitu pandangan filsafi terhadap subject-matter yang harus diajarkan dan selanjutnya melahirkan metode mengajar.
 Pendekatan dalam studi islam yaitu cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Jadi dalam hubungan ini, Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa agama dapat di teliti dengan menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang di ungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya.
 Pendekatan dalam studi islam yaitu suatu sikap ilmiah (persepsi) dari seseorang untuk menemukan kebenaran ilmiah.
2.Pendekatan Ilmu Sosial Humaniora dan macam-macam pendekatan ilmu sosial humaniora.
a.Pengertian ilmu sosial humaniora
The Humanities (humaniora), ialah ilmu-ilmu kemanusiaan yang menyangkut kesadaran akan perasaan kepribadian dan nilai- nilai yang menyertainya sebagai manusia.
Pengertian lain menyebutkan bahwa humaniora adalah ilmu yang berkaitan dengan rasa seni yang dimiliki oleh manusia, seperti : Seni Sastra, Musik, Pahat, Lukis, dan sebagainya. Jadi dapat di simpulkan bahwa ilmu sosial Humaniora yaitu ilmu yang mempelajari aktivitas manusia dalam hubungannya dengan manusia.
b.Pendekatan ilmu-ilmu sosial humaniora
1.Pendekatan Antropologi
Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Dawam Rahardjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif. Dari sini timbul kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif dan grounded, yaitu turun kelapangan tanpa berpijak pada atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan diri dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagaimana yang dilakukan dibidang sosiologi dan lebih-lebih ekonomi yang mempergunakan model-model matematis.
Melalui pendekatan antropologis ini, ditemukan hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi, sosial, politik, hubungan antara agama dengan Negara, kesehatan mental, dan susunan organisasi kemasyarakatan. Contoh berikut dipaparkan beberapa penelitian agama dengan pendekatan antropologis :
•Karl Marx (1818-1883) dengan teori konflik atau lebih dikenal dengan pertentangan kelas, ia melihat bahwa agama merupakan opinium atau candu masyarakat tertentu. Agama bisa disalah gunankan oleh kalangan tertentu untuk status quo.
•Marx Weber (1964-1920) melihat adanya korelasi positif antara ajaran protestan dengan munculnya kapitalisme modern.
Di Indonesia kajian agama islam dengan pendekatan antropologis sebagaimana dilakukan oleh jamhari dalam karyanya yang berjudul “pendekatan antropologis dalam kajian islam”. Menurut jamhari, persoalan utama dalam upaya memahami islam adalah bagaimana memahami manusia.
2.Pendekatan kebudayaan
Dalam kamus umum bahasa Indonesia, kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat dan berarti pula kegiatan (usaha) batin (akal dan sebagainya) untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasil kebudayaan. Sementara itu, Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang terjadi dari unsure-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Di dalam kebudayaan tersebut terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat isstiadat, dan segala sebagainya. Kesemuanya itu selanjutnya digunakan sebagai kerangka acuan atau blue print oleh seseorang dalam menjawab sebagai masalah yang dihadapinya. Dengan demikian, kebudayaan tampil sebagai pranata yang secara terus menerus dipelihara oleh para pembentuknya dan generasi selanjutnya yang diwarisi kebudayaan tersebut.
Kebudayaan yang demikian selanjutnya dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada tataran empiris atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala di masyarakat. Pengalaman agama yang terdapat di masyarakat tersebut dip roses oleh penganutnya dari sumber agama, yaitu wahyu melalui penalaran. Misalnya membaca kitab fiqih, maka fiqih yang merupakan pelaksanaan dari nasb alquran maupun hadis sudah melibatkan unsure penalaran dan kemampuan manusia. Dengan demikian, agama menjadi membudaya atau membumi ditengah-tengah masyarakat. Agama yang tampil dalam bentuk yang demikian itu berkaitan dengan kebudayaan yang berkembang dimasyarakat tempat agama itu berkembang. Dengan melalui pemahaman terhadap kebudayaan tersebut seseorang akan dapat mengamalkan ajaran agama.
3.Pendekatan Interdisipliner dan Macam-macam pendekatan Interdisipliner
a.Pengertian pendekatan interdisipliner
Pendekatan Interdisipliner adalah pendekatan dalam pemecahan suatu masalah dengan menggunakan tinjauan berbagai sudut pandang ilmu serumpun yang relevan atau tepat guna secara terpadu.
Jadi pendekatan interdisipliner disini yaitu kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan atau sudut pandang ( perspektif ). Seperti dalam studi menggunakan pendekatan historis filosofi secara bersamaan.
b.Beberapa pendekatan dalam interdisipliner
1.Pendekatan Filosofis
Secara harfiah, kata filsafat bersal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Selain itu filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Pengertian filsafat yang umumnya digunakan adalah pendapat yang dikemukakan Sidi Gazalba, menurutnya filsafat adalah berpikir secara mendalam, sistematik, radikal, dan universal, dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.
Berpikir secara filosofis dapat digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. Pendekatan filosofis yang sedemikian itu sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Misalnya membaca buku berjudul hikmah al-tasyri’ wa falsafatubu yang di tulis oleh muhammad Al-Jurnawi. Dalam buku tersebut Al-Jurjawi berupaya mengungkapkan hikmah yang terdapat dibalik ajaran-ajaran agama islam.
Melalui pendekatan filosofis ini, seorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang mereka dapatkan dari pengalaman agama agama tersebut hanyalah pengakuan formalistik, misalnya sudah haji, sudah menunaikan rukun islam yang kelima, dan berhenti dari situ. Mereka tidak dapat merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung didalamnya.
4.Pendekatan sosiologi
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama,cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup manusia. Sementara itu , Soerjono soekanto mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian.
Dari dua definisi tersebut terlihat bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang berkaitan.
Selanjutnya, sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Dalam agama islam dapat di jumpai peristiwa Nabi Yusuf yang dahulu budak lalu akhirnya bisa jadi penguasa dimesir.mengapa dalam melaksanakan tugasnya nabi musa harus dibantu oleh nabi harun, dan masih banyak lagi contoh yang lain. Beberapa peristiwa tersebut baru dapat dijawab dan sekaligus dapat ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu sosial.
Agama dalam banyak hal ajarannya banyak berkaitan dengan masalah sosial. Islam misalnya, sebagai agama ajarannya syarat dengan nilai-nilai sosil. Berkaitan dengan ini, Jalaluddin Rahmat dalam penelitiannya sampai pada satu kesimpulan bahwa :
a.Dalam al-qur’an ataupun hadis urusan muamalah mendapatkan porsi yang sangat besar disbanding dengan persoalan ibadah.
b.Dalam islam jika urusan ibadah bersamaan waktunya dengan persoalan muamalah, maka ibadah bisa diperpendek (qoshar).
c.Ibadah yang mengandung kemsyarakatan pahalanya lebih besar disbanding ibadah yang bersifat individual.
d.Dalam islam terdapat ketentuan, jika ibadah tidak dilaksanakan dengan sempurna yang mengakibatkan batalnya ibadah tersebut, maka kafaratnya ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
e.Dalam islam juga terdapat ketentuan bahwa amal baik dibidang kemasyarakatan mendapat pahala lebih besar dari pada ibadah sunnah.

BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
1.Pendekatan dalam studi islam yaitu cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.
2.The Humanities (humaniora), ialah ilmu-ilmu kemanusiaan yang menyangkut kesadaran akan perasaan kepribadian dan nilai- nilai yang menyertainya sebagai manusia. Beberapa pendekatan yang berhubungan dengan sosial humaniora : Pendekatan Antopologi dan pendekatan Kebudayaan.
3.Pendekatan Interdisipliner adalah pendekatan dalam pemecahan suatu masalah dengan menggunakan tinjauan berbagai sudut pandang ilmu serumpun yang relevan atau tepat guna secara terpadu. Beberpa pendekatan yang berhubungan dengan pendekatan interdisipliner : Pendekatan Filosofis dan pendekatan sosiologi.

DAFTAR PUSTAKA
Abuddin, Nata. Metodologi Studi Islam. Jakarta : Rajawali Press, 2014
Hasan, Nor. Studi Islam Kontemporer. Pamekasan : Stain Pamekasan Press, 2009
Salim, Moh Haitama; Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Jogjakarta : Ar-Ruzz media, 2012
Anwar, Rosihon. Pengantar Studi Islam. Bandung : Pustaka Setia, 2009
Share:

REFLEKSI MANUSIA DAN TAHAP PERKEMBANGANNYA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Manusia sebagai mahluk yang berpikir dibekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal, memahami dan menjelaskan gejala-gejala alam, serta berusaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dari dorongan rasa ingin tahu dan usaha untuk memahami dan memecahkan masalah menyebabkan manusia dapat mengumpulkan pengetahuan.
Pengetahuan yang diperoleh mula-mula terbatas pada hasil pengamatan terhadap gejala alam yang ada, kemudian semakin bertambah dengan pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikirannya. Kemudian pengetahuan yang didapatnya, terus dikembangkan sehingga manusia sampai saat ini terus berkembang dan akhirnya manusia dapat menciptakan beberapa benda untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Maka dari itu di sini kami akan menjelaskan proses berkembangnya pola pikir manusia yang terus berkembang dari zaman ke zaman, dari dahulu sampai sekarang..
B.Rumusan masalah
1.Ada berapa cirri-ciri manusia sebagai makhluk hidup
2.Mitos itu di timbulkan oleh apa
3.Ada berapa tahap perkembangan jiwa manusia
Baca Juga
manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
BAB II
PEMBAHASAN
A.Proses Perkembanagan Pola Pikir
Sejak lahirnya di muka bumi ini, manusia bersentuhan dengan alam. Persentuhan dengan alam menimbulkan pengalaman. Alam memberikan rangsangan kepada manusia melalui pancaindera. Jadi, pancaindera merupakan alat komunikasi antara alam dengan manusia yang membuahkan pengalaman. Pengalaman itu saat demi saat bertambah, karena manusia ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang hakiki; apa, bagaimana, dan mengapa, baik atas kehadirannya di dunia ini, maupun atas segala benda yang telah mengadakan kontak dengan dirinya.
Perkembangan pola pikir manusia ini dari zaman ke zaman terus berubah bahkan bertambah, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya :
1) Rasa Ingin Tahu; Ilmu pengetahuan alam bermula dari rasa ingin tahu, yang merupakan suatu ciri khas manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang benda-benda di alam sekitarnya, bulan, bintang, dan matahari, bahkan ingin tahu tentang dirinya sendiri (antroposentris).
Manusia sebagai mahluk, mempunyai ciri-ciri :
a). Memiliki organ tubuh yang kompleks dan sangat khusus terutama otaknya.
b). Mengadakan pertukaran zat, yakni adanya zat yang masuk dan keluar.
c). Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan dari luar.
d). Memiliki potensi berkembang biak.
e). Tumbuh dan bergerak.
f). Berinteraksi dengan lingkungannya mati.
Sesuai dengan ciri manusia pada poin (1), yakni manusia mempunyai otak, maka manusia mulai tumbuh rasa ingin tahunya, rasa ingin tahu ini tidak dimiliki oleh mahluk lain, seperti batu, tanah, sungai dan angin. Sedangkan air dan udara bergerak dari satu tempat ke tempat lain, namun gerakannya itu bukanlah atas kehendaknya sendiri, tetapi akibat dari pengaruh ilmiah yang bersifat kekal.
Bagaimana halnya dengan mahluk-mahluk seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang? Misalnya daun-daun cenderung mencari sinar matahari atau akar yang cenderung mencari air yang kaya mineral untuk pertumbuhan hidupnya. Kecenderungan semacam ini terus berlangsung sepanjang zaman. Bagaimana halnya dengan binatang yang menunjukkan adanya kehendak untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain? Misalnya burung. Burung bergerak dari satu tempat ke tempat lain didorong oleh suatu keinginan, rasa ingin tahu. Ingin tahu apakah sutau tempat cukup aman untuk membuat sarang?. Setelah mengadakan eksplorasi, tentu mereka jadi tahu. Itulah pengetahuan dari burung tadi. Burung juga memiliki pengetahuan untuk membuat sarang di atas pohon.
Bagaimana halnya dengan manusia?. Manusia juga memiliki insting seperti yang dimiliki oleh hewan dan tumbuh-tumbuhan. Namun manusia memiliki kelebihan yaitu adanya kemampuan berfikir. Dengan kata lain, curiosity-nya tidak idle. Tidak tetap sepanjang zaman. Manusia memiliki rasa ingin tahu yang berkembang, atau kemampuan berfikir. Setelah tahu tentang apanya, mereka ingin tahu bagaiman dan mengapa begitu.
Manusia mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuannya yang baru, sehingga menjadi suatu akumulasi pengetahuan. Rasa ingin tahu manusia ini menyebabkan pengetahuan mereka menjadi berkembang. Hal ini tidak saja meliputi kebutuhan-kebutuhan praktis untuk hidupnya sehari-hari, seperti bercocok tanam atau membuat panah atau lembing untuk berburu, tetapi juga berkembang sampai pada hal-hal yang menyangkut keindahan.
Rasa ingin tahu semacam ini tidak dimiliki oleh hewan. Rasa ingin tahu pada hewan hanya terbatas pada rasa ingin tahu yang tetap. Yang tidak berubah dari zaman ke zaman. Hewan bergerak dari satu tempat ke tempat lain hanya didorong oleh rasa ingin tahunya yang bersangkutan erat dengan nalurinya saja.
Dengan selalu berlangsungnya perkembangan pengetahuan itu tampak lebih nyata bahwa manusia berbeda dengan hewan. Manusia merupakan mahluk hidup yang berakal serta mempunyai derajat yang tertinggi bila dibandingkan dengan hewan atau mahluk lainnya.
B.Mitos
Perkembangan selanjutnya adalah manusia berusaha memenuhi kebeutuhan non fisik atau kebutuhan alam pikirannya. Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan maupun pengalamannya. Untuk itulah, manusia mereka-reka sendiri jawaban atas keingintahuannya itu. Sebagai contoh, “mengapa gunung meletus?”, karena tak tahu jawabannya, manusia mereka-reka sendiri dengan jawaban “si penunggu gunung itu sedang marah”.
Di sinilah muncul pengetahuan baru yang disebut “si penunggu”. Dengan menggunakan jalan pikiran yang sama, muncullah anggapan adanya “si penunggu”. Pengetahuan baru yang bermunculan dan kepercayaan itulah yang kita sebut mitos. Cerita yang berdasarkan atas mitos disebut legenda. Mitos timbul disebabkan antara lain oleh keterbatasan alat indera manusia.
a.alat penglihatan.
Banyak benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Mata tak dapat membedakan benda-benda. Demikian juga jika benda yang dilihat terlalu jauh, maka mata tak mampu melihatnya. Alat Pendengaran Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dari 30 sampai 30.000 per detik. Getaran di bawah tiga puluh atau di atas tiga puluh puluh ribu per detik tak terdengar.
b.alat pencium dan Pengecap
Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dikecap maupun diciumnya. Manusia hanya dapat membedakan 4 jenis rasa, yaitu rasa manis, asam, asin dan pahit. Sedangkan untuk bau sendiri juga manusia tidak dapat menciumnya dengan seluruhnya. Seperti bau parfum dan lainnya dapat tercium oleh hidung kita bila konsentrasinya di udara lebih dari sepersepuluh juta bagian. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain.
c.alat Perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin. Namun, ini sangat relatif sehingga tidak dapat dipakai sebagai alat observasi yang tepat. Alat-alat indera tersebut berbeda-beda di antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Ada yang sangat tajam dan adapula yang tidak. Akibat keterbatasan alat indera tersebut, maka besar kemungkinan timbul salah inform,asi, salah tafsir atau salah pemikiran. Untuk meningkatkan alat indera tersebut perlu diperlukan beberapa usaha. Di antaranya penciptaan alat bantu pancaindera, meskipun alat yang diciptakan tersebut masih mengalami kesalahan. Jadi, mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena:
1) Keterbatasan pengetahuan yang disebabkan keterbatasan pengindraan baik langsung maupun dengan alat.
2) Keterbatasan penalaran manusia pada masa itu.
3) Hasrat ingin tahunya terpenuhi. Menurut Auguste Comte (1798-1857 M),
dalam sejarah perkembangan jiwa manusia, baik sebagai individu maupun sebagai keseluruhan, berlangsung dalam tiga tahap:
a.Tahap teologi atau fiktif
b.Tahap filsafat atau metafisik atau abstrak
c.Tahap positif atau ilmiah riil
Pada tahap teologi atau fiktif, manusia berusaha untuk mencari dan menemukan sebab yang pertama dan tujuan yang terakhir dari segala sesuatu, dan selalu dihubungkan dengan kekuaatan gaib. Gejala alam yang menarik perhatiannya selalu diletakkan dalam kaitannya dengan sumber yang mutlak. Mempunyai anggapan bahwa setiap gejala dan peristiwa dikuasai dan diatur oleh para dewa atau kekuatan gaib lainnya.
Tahap metafisika atau abstrak merupakan tahap di mana manusia masih tetap mencari sebab utama dan tujuan akhir, tetapi manusia tidak lagi menyandarkan diri kepada kepercayaan akan adanya kekuatan gaib, melainkan pada akalnya sendiri, akal yang telah mampu melakukan abstraksi guna menemukan hakikat segala sesuatu. Tahap positif atau riil merupakan tahap di mana manusia telah mampu berfikir secara positif atau riil, atas dasar pengetahuan yang telah dicapainya yang dikembangkan secara positif melalui pengamatan, percobaan dan perbandingan. Selanjutnya berdasarkan kemampuan berfikir manusia yang semakin maju dan perlengkapan pengamatan yang semakin sempurna, maka mitos dengan berbagai legenda semakin ditinggalkan orang, dan cenderung menggunakan akal sehat atau rasio.
C.Tahapan Pemikiran Manusia.
Bagaimana sesungguhnya proses berfikir pada manusia? Jika kita telah lebih lanjut akan kita dapati bahwa untuk dapat berfikir membutuhkan beberapa komponen,diantaranya :
1.Fakta, manusia membutuhkan fakta yang akan dijadikan objek berfikirnya.
2.Indera, untuk dapat menyerap fakta-fakta yang akan dipikirkan. Seperti mata untuk dapat melihat , meraba, pendengaran, dan indera yang lainnya.
3.Otak, merupakan organ yang berfungsi untuk menterjemahkan setiap fakta yang diserap.
4.Informasi Sebelumnya, tanpa informasi manusia tidak dapat untuk memahami fakta yang sedang dihadapinya. Adapun perkembangan alam pikiran manusia sampai dengan kelahiran Ilmu Pengetahuan Alam sebagai ilmu yang mantap melalui 4 tahap, yaitu :
a)Tahap mitos.
b)Tahap penalaran.
c)Tahap pengalaman dari percobaan.
d)Tahap metode keilmuan.

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Adapun faktor yang mempengaruhi perkembangan pola piker manusia diantaranya karena rasa ingin tahu dan juga adanya mitos Yang membedakan antara manusia dengan hewan yakni pola berpikirnya. Setelah manusia tahu apa, maka manusia akan mencari tahu tentang mengapa, bagaimana dan seterusnya hingga mereka merasa puas. Tetapi untuk hewan tidak punya pola pikir yang seperti itu. Mitos timbul disebabkan karena keterbatasan alat indera, diantaranya : Indera penglihatan; Indera pendengaran ; Indera pencium dan pengecap Indera perasa Mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karrena: Keterbatasan pengetahuan yang disebabkan keterbatasan pengindraan baik langsung maupun dengan alat. Keterbatasan penalaran manusia
pada masa itu. Hasrat ingin tahunya terpenuhi. Beberapa komponen yang diperlukan untuk mengembangkan pola pikir manusia, yakni : Fakta.Indera Otak Informasisebelumnya.
Pola pikir manusia
a.Memiliki organ tubuh yang kompleks dan sangat khusus terutama otaknya.
b.Mengadakan pertukaran zat, yakni adanya zat yang masuk dan keluar.
c.Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan dari luar.
d.Memiliki potensi berkembang biak.
e.Tumbuh dan bergerak.
f.Berinteraksi dengan lingkungannya mati.
g.Mitos timbul disebabkan antara lain oleh keterbatasan alat indera manusia.
1. Tahap teologi atau fiktif
2. Tahap filsafat atau metafisik atau abstrak
3. Tahap positif atau ilmiah riil

Daftar Pustaka
Drs. Mawardi dan Ir. Nur Hidayati, IAD, ISD, IBD. Bandung : Pustaka Setia. 2007
Share:

manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial

BAB 1
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Pada dasarnya manusia adalah sebagai makhluk individu yang unik, berbeda antara yang satu dengan lainnya. Secara individu juga, manusia ingin memenuhi kebutuhan masing-masing, ingin merealisasikan diri atau ingin dan mampu mengembangkan potensi-potensinya masing-masing. Hal ini merupakan gambaran bahwa setiap individu akan berusaha untuk menemukan jati dirinya masing-masing, tidak ada manusia yang ingin jadi orang lain sehingga dia akan selalu sadar akan keindividualitasannya.
Seperti yang kita telah ketehui bahwa manusia merupakan makhluk Tuhan YME yang paling sempurna dari makhluk lainnya. Dengan segala kelebihan yang dimiliki manusia disbanding makhluk lainnya membuat manusia memiliki kedudukan atau derajat yang lebih tinggi.
Manusia juga disertai akal, perasaan, pikiran sehingga manusia dapat memenuhi kebutuhannya yang diberikan Tuhan YME.
B.Rumusan masalah
1.Apa pengertian manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
2.Bagaimana perbedaan antara masyarakat dan komunitas
Baca Juga
BUDAYA ORGANISASI
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Manusia sebagai Makhluk Individu dan Sosial
Menurut filsafat manusia, hakikat manusia itu ada tiga, yaitu: (1) manusia sebagai makhluk moral, yaitu berbuat sesuai dengan norma norma susila; (2) manusia sebagai makhluk individual, yaitu berbuat untuk kepentingan diri sendiri; (3) manusia sebagai makhluk sosial, hidup bermasyarakat, bekerja sama dan tolong menolong. Ketiga hakikat manusia itu harus berkembang dan mendapat bimbingan dan pengarahan yang benar semenjak kecil sampai dewasa, bahkan sampai usia lanjut.
Oleh karena manusia adalah makhluk individu sekaligus juga anggota masyarakat, maka ia bebas memikirkan dan mementingkan diri sendiri menurut kehendaknya. Tetapi didalam kebebasan dan berbuat untuk kepentingan pribadi itu, ia amat bergantung kepada orang lain, malah kepada beberapa orang atau golongan, atau dengan kata lain: manusia tidak dapat berdiri sendiri sebagai individu tetapi selalu menuntut bantuan dan pertolongan orang lain serta memerlukan kerja sama untuk membina keselamatan diri.
Masyarakatnya.
1.Individu
Individu terdiri dua dimensi,yaitu fisik dan psikis. Sikap perbuatan, emosi, dan sebagainya merupakan refleksi gabungan dari kedua dimensi ini. Tiap dimensi pada dasarnya mempunyai potensi lahiriah dan potensi batiniah. Potensi lahiriah yang mengacu pada potensi fisik dapat berupa geraka anggota badan, pancaindera, dan lain-lain, sedangkan potensi batiniah mengacu potensi psikis dapat berupa inteligensi, emosi, dan lain-lain.
Potensi-potensi itu sebagai dasar merupakan naluriah. Untuk mengadakan pemisahan yang secara tegas nalurial dan yang lain bukan merupakan pekerjaan yang tidak muda. Ahli ilmu jiwa berbeda pendapat dalam menetapkan atau menentukan macam potensi nalurial. James misalnya,mengemukakan hampir 30 macam, sedangkan Torndike menyatakan 40 macam. Ada pula yang menyatakan hanya 9 macam dan ada pula menyatakan 60 macam.
Hanya saja untuk mengenai individu lebih jelas jangan hanya melalui pendekatan terhadap naluri, tetapi juga harus melalui jalan yang lain. Penerusan atau pelacakan individu dari pendekatan segi naluriah saja, jadi menyebabkan seseorang terperangkap dalam kesalahan yang tidak kecil. Untuk itu, perlu diadakan pendekatan, paling tidak, dari segi fisik dan psikis.
a.Segi fisik
Kehadiran seseorang atau individu dalam kelompok keluarga maupun kelompok masyarakat ditandai dengan wujud fisiknya. Wujud fisik sebagai bagian dari alam selalu tunduk pada alam. Wujud fisik ini tersusun dan mempunyai struktur fisika, seperti mempunyai berat, volume, dan sifat fisika lainnya. Seorang lahir, kemudian menjadi dewasa lalu meninggal, atau ia dari kecil, menjadi besar. Gejala semacam ini merupakan gejala kealaman, yang terjadi sesuai dengan kondisi alamnya. Namun, makhluk hidup mempunyai ciri sendiri dan selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Faktor-faktor ini biasanya disebut dengan faktor penunjang kelangsungan hidup.
Menurut Siswanto, tahap perkembangan biologis/fisik manusia itu menurut beberapa pendapat adalah sebagai berikut:
1)Pendapat Aristoteles:
Perkembangan psikis manusia menurut Aristoteles terjadi pada setiap masa tujuh, artinya setiap kelipatan tujuh tahun terjadi prubahan.
Tahap I : 0 th – 7 th : masa anak kecil atau masa bermain.
Tahap II : 7 th - 14 th : masa anak,masa remaja atau masa sekolah
rendah.
Tahap III : 14 th- 21 th : masa remaja, atau pubertas masa peralihan
dari anak menjadi dewasa.
2)Pendapat Kretschmen:
Kretschmen mengemukakan 4 tahap perkembangan yang terjadi pada fisik manusia.
Tahap I : 0 th – 3 th :Fullung periode I anak kelihatan pendek dan
pendek dan gemuk.
Tahap II : 3 th -7 th : Strecking periode I anak kelihatan langsing.
Tahap III : 7 th – 13 th : Fullung periode II, anak kelihatan pendek dan gemuk kembali.
Tahap IV : 13 th – 20 th : Strecking periode II, anak kelihatan langsing.
3)Pendapat Sigmund Freud:
freud mengemukakan 6 tahap perkembangan yang terjadi pada fisik manusia antara lain:
Fase oral 1 : 0 th - 1 th : mulut merupakan pokok aktifitas dinamik.
Fase anak : 3 th – 5 th : dorongan dan tekanan terpusat pada pembuangan kotoran.
Fase laten : 5th – 12 th/13th : implus cenderung untuk ada dalam menyerap.
Fase pubertas: 12/13 th – 20 th: implus menonjol kembali.
Faktor-faktor penunjang kehidupan manusia antara lain:
Pangan : terdiri atas zat / sumber tenaga, seperti karbon hidrat, lemak dan protein dan zat pembangun, seperti protein, mineral dan air, serta zat pengatur seperti vitamin, mineral, protein dan air.
Sandang: sebagai alat adaptasi terhadap kondisi alam (iklim)yang berlainan, misalnya panas dan dingin.
Papan: usaha berlindung ancaman alam yang tidak bersahabat, seperti hujan, terik matahari, binatang buas, dan sebagainya.
Untuk keperluan ini, manusia selalu berhubungan dengan lingkungannya. Interaksi dengan lingkungannya inilah yang menyebabkan adanya perubahan lingkungan(hasil budaya). Di samping itu, manusia di pengaruhi manusia juga oleh lingkungannya maka tidak heran manakala ada perpedaan pertahanan fisik antara masyarakat, pegunungan, pedesaan, pedesaan dan perkotaan, akibat pembentukan oleh kondisi alamnya, seperti makanan, minuman, dan sebagainya.
b.Segi psikis
Wujud idndividu tidak pernah lepas dari wujud psikisnya. Wujud psikis ini bersama-sama membentuk individu. Fungsi psikis sangat berpengaruh terhadap gerak dan tingkah laku fisik, dalam arti tingkah laku perubahan individu merupakan refreksi psikisnya, sedangkan tingkah laku fisik berpengaruh pada fungsi psikis.
Menurut Ahmad D Marinda, keterkaitan antara psikis dan fisik dapat di jabarkan dalam contoh berikut: temperatur seseorang merupakan pantulan dari kejiwaannya namun temperatur ini di pengaruhi oelh zat cair di dalam tubuh. Zat cair yaitu cairan empedu Kuning, darah, empedu, hitam dan lendir. Tenaga kejiwaan yang sangat menonjol oleh Sigmund Frend disebut dengan libidoseksualis. Libidoseksualis ini merupakan naluri tunggal dan merupakan sumber dari semua tingkah laku dan perbuatan manusia.
Libidoseksualis sebagai sumber perbuatan dan tingkah laku manusia melahirkan dorongan,yaitu dorongan untuk hidup dan dorongan untuk mati.Dorongan untuk hidup menyebabkan terjadinya tindakan distruktif.
Menurut Ahmad D Marimba, tenaga kejiwaan berupa karsa, cipta, dan rasa.
1)Karsa, meliputi kemampuan yang merupakan sumber dorongan (kekuatan) dari suatu kegiatan. Termasuk di dalamnya dorongan nafsu keinginan, hasrat hawa nafsu, dan kemauan.
2)Rasa, meliputi kemampuan yang memberi sifat pada kegiatan berupa keharusan, kesenangan, ketidaksenangan dan lain-lain. Yang berhubungan erat dengan jasmania, seperti rasa sakit, rasa dingin, dan sebagainya disebut dengan perasaan jasmaniah.
3)Cipta, merupakan kemampuan yang dapat menciptakan sesuatu dan memecahkan persoalan-persoalan,dapat mencari jalan tepat untuk sesuatu kegiatan.
 Pengaruh lingkungan terhadap individu
Induvidu sebagai bagian dari alamnya hidup bersama lingkungan alamnya, baik lingkungan material maupun lingkungan sosial. Kondisi alam yang berubah, seperti perubahan geografi, ekosistem, cuaca, maupun perubahan yang terjadi pada masyarakat secara langsung atau pun tidak menyebabkan perubahan pada individu, karena setiap individu harus beradaptasikan dengan lingkungan.
Pada dasarnya individu tidak dapat keluar dari otoritas hukum alam dan kaidah norma sosial. Itulah sebabnya, penyimpangan dari keadaan semacam ini menyebabkan ia menjadi korban dalam alam sekelilingnya. Untuk mengantisipasi semua keadaan yang timbul, ia harus dibentuk dengan bermacam materi dan kondisi.
Menurut Sanapial Faisal, faktor lingkungan yang sangat mendukung dan menolong kehidupan jasmani dan rohani, menyebabkan individu dapat berkembang. Banyak ahli yang menyatakan bahwa individu tidak mempunyai arti apa-apa tanpa adanya lingkungan yang mempengaruhinya.
a.Keluarga
Kelompok individu yang utama bahkan yang pertama adalah keluarga. Keluarga dapat di bentuk melalui persekutuan-persekutuan individu karena adanya hubungan darah perkawinan ataupun adopsi.
Keluarga dibentuk dari dua orang individu yang berlainan jenis kelamin, yang diikat tali perkawinan. Waalaipun demikian, ada juga keluarga yang dibentuk tanpa ikatan perkawinan, tetapi mereka yang menjalankan hal semacam ini juga menganut pola-pola yang dijalankan oleh suami istri. Jika seorang wanita pindah ke keluarga suami,hal ini oleh Willian J. Goode disebut dengan patrilokal. Jika yang laki-laki masuk ke keluarga sang istri disebut matrilokal, sedangkan bila mereka pindah ke tempat tersendiri disebut dengan neolokal.
Keterpisahan seseorang dari keluarga baik karena ikut mertua, membentuk rumah sendiri atau di angkat anak oleh keluarga lain, tidak menghilangkan kekerabatan dengan keluarga asalnya, karena kekerabatan ini terkait dengan garis keturunan, baik dari pihak ayah ataupun ibu, serta perkawinan dan adoptasi.
Kekerabatan seseorang dengan orang lain karena adanya keterkaitan dengan garis keturunan dari pihak ayah disebut dengan patrinial, sedangkan apabila kekerabatan itu mempunyai keterkaitan dengan garis keturunan dari pihak ibu disebut dengan matrinial.
Dilihat dari segi tanggung jawab kewajiban ,kekerabatan keluarga disini termaksud dalam persekutuan gemeinschaft, yaitu koleksif yang besar. Dalam keluarga tradisional yang menjadikan ayah sebagai kepala keluarga,ia berupaya memenuhi semua kebutuhan anggota keluarganya.
Pengaruh Keluarga terhadap Anggota-anggotanya
Menurut Dewi Sulistya, karakteristik keluarga dapat diidentifikasikan dengan hal-hal berikut:
a.Keluarga terdiri atas orang-orang yang bersatu karena ikatan perkawinan, darah, atau adopsi. Yang mengikat suami dan istri adalah perkawinan yang mempersatukan orang tua dan anak-anaknya adalah hubungan darah (umum) dan kadang-kadang adopsi (pengangkatan), anak angkat.
b.Para anggota suatu keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah, dan mereka membentuk satu rumah tangga (household) Kadang-kadang satu rumah tangga itu terdiri atas kakek dan nenek, anak-anak, cucu. Kadang-kadang satu rumah tangga terdiri atas suami dan istri , tanpa anak, atau dengan satu atau dua, tiga anak saja.
c.Keluarga merupakan satu kesatuan orang yang berinteraksi dan saling berkomunikasi, yang memainkan peran suami istri, ayah dan ibu, anak laki-laki dan anak perempuan, peran saudara dan peran saudari. Peran –peran ini erat kaitannya dengan trandisi masyarakat setempat, perasaan-perasaan yang muncul dari pengalaman keluarga itu.
d.Keluarga itu mempertahan kan suatu kebudayaan bersama, yang sebagai besar berasal dari kebudayaan umum. Akan tetapi, pada masyarakat yang terdapat banyak kebudayaan, setiap keluarga mengembangkan kebudayaan itu sendiri.
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap keluarga.
1)Status sosial ekonomi keluarga
Hubungan sosial antara anak-anak dengan orang tua dan anak akan lebih baik, sebab orang tua tidak ditekankan di dalam mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga perhatian dapat di curahkan kepada anak-anak mereka.
2)Faktor keutuhan keluarga
Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan sosial anak ialah faktor keutuhan keluarga. Faktor ini ditekankan pada strukturnya,yaitu keluarga yang lengkap, yaitu ayah, ibu, dan anak. Di samping keutuhan keluarga, juga ada faktor keutuhan interaksi hubungan antara anggota satu dan anggota keluarga yang lain.
3)Sikap dan kebiasaan Orang tua
Peranan keadaan keluarga terhadap perkembangan sosial anak tidak hanya terbatas pada situasi sosial ekonominya atau kebutuhan struktur dan interaksinya, tetapi cara-cara atau sikap dalam pergaulannya juga memegang peranan penting dalam perkembangan sosial mereka.
 Perkawinan sebagai Elemen Pembentukan Keluarga
Perkawinan dapat diasumsikan sebagai keterkaitan seorang pria dan wanita untuk menjalin hubungan dan hidup bersama untuk mencapai tujuan bersama. Dari segi hukum adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan membentuk keluarga (rumah tangga ) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Menurut UU Perkawinan, Perkawinan sebagai upaya dasar untuk pembentukan keluarga dimulai sejak pemilihan jodoh, agar pihak pria dan wanita sebagai calon suami istri dipilih orang-orang yang dapat memegang peran masing-masing dan menempati fungsinya, kewajiban dan tanggung jawab menurut bentuk keluarga yang di cita-citakan. Oleh karena itu, pemilihan jodoh difokuskan pada pemilihan orang yang bekerja dan hidup bersama untuk mencapai tujuan bersama atas dasar saling pengertian.
 Keluarga sebagai wadah kehidupan individu mempunyai peran
Penting dalam membina dan mengembangkan individu yang bernaung didalamnya.
Menurut William F.Ogburn, sebagaimana yang di kutip Dwi Sulisyo, fungsi keluarga secara luas dapat berupa.
a.Fungsi pelindung
b.Fungsi ekonomi
c.Fungsi pendidikan
d.Fungsi rekreasi
e.Fungsi agama
Merstedt mengemukakan fungsi keluarga:
a.Mengatur dan menguasai implus-implus
b.Membantu
c.Menegakkan antar budaya
d.Mewujudkan status.
2.Masyarakat
Menurut kodratnya, manusia adalah makhluk masyarakat.Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk, seperti berkoperasi, hubungan antar pribadi, mengikatkandiri pada kelompoknya, dan sebagainya.Individu yang lahir ke dunia ini telah memiliki atau membawa dorongan kemasyarakatan, dengan sendirinya ia selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.
Lebih lanjut sikap kemasyarakatan menurut P.J. Bouma, karena adanya faktor-faktor :
a.Kecenderungan sosial
b.Rasa harga diri
c.Kecenderungan untuk patuh
d.Kecenderungan untuk mandiri
e.Kecenderungan menurut
f.Hasrat tolong-menolong dan meniru
g.Hasrat berjuang
h.Hasrat memberi tahu dan sifat mudah menerima.
Hubungan individu dalam kelompok ditandai dengan ciri yang sama. Ciri-ciri inilah, masyarakat dapat dibedakan pada kelompok tertentu.
 Bentuk –bentuk masyarakat
Atas dasar ketergantungan seorang kepada orang lain dan untuk mencari tujuan bersama, setiap orang bekerja sama dengan orang lain. Perbedaan prinsip, nilai, kepentingan tujuan antarkelompok masyarakat melahirkan bermacam-macam bentuk masyarakat. Dari segi pengelompokannya, masyarakat terbagi atas masyarakat paguyuban (gemein Schaft) dan masyarakat patembayan (gesel Schaft).
a.Masyarakat Paguyuban (gemeinschaft)
Masyarakat paguyuban dapat diartikan sebagai persekutuan hidup. P.J. Bouman (1976) lebih lanjut mengemukakan arti masyarakat paguyuban ini sebagai suatu persekutuan manusia yang disertai perasaan setia kawan dan keadaan kolektif yang besar.
Ciri-ciri masyarakat paguyuban inidpat dilihat dari adanya ketaatan, kesetiaan, dan kerelaan berkorban sebagaimana yang terdapat pada keluarga. Bouman mengumpamakan hal ini dengan ikatan organis antar sel-sel dalam tubuh tanaman, atau seperti alat-alat tubuh yang secara fungsional hidup masyarakat paguyuban yang bertalian sangat erat satu dan lainnya. Demikian juga individu dalam suatu persekutuan hidup masyarakat paguyuban yang bertalian sangat erat satu dan lainnya.
Dengan demikian, individu sebagai bagian unsur dari kelompok,merupakan unsur ciri yang vital. Ciri –ciri masyarakat peguyuban ini diantarannya.
1.Rela berkorban untuk kepentingan bersama
2.Pemenuhan hak tidak selalu dikaitkan dengan kapasitas pemenuhan kewajibannya.
3.Solidaritas yang sangat kokoh dan bersifat permanen.
b.Masyarakat Patembayan (Gessel Schaft)
Bila dibandingkan dengan masyarakat paguyuban, masyarakat patembayan mempunyai pertalian yang lebih renggang. Contohnya masyarakat patembayan ini adalah organisasi masyarakat dalam berbagai bentuk dan ragamnya.
Keterikatan mereka hanya diletakan pada dasar untuk mencapai tujuan bersama. Hak seseorang di berikan dengan memperhitungkan pemenuhan kewajibannya yang di berikan kepada organisasi sehingga sifat keakuan tiap individu pada masyarakat patembayan ini masih sangat menonjol, bahkan tidak jarang tiap individu masih membawa missi dan kepentingan sendiri.
Ciri masyarakat ini di antaranya;
1.Pemenuhan hak seseorang didasarkan pada pemenuhan kewajiban.
2.Solidaritas antara anggota tidak terlalu kuat dan hanya bersifat sementara.
Demikian bentuk masyarakat asal ditinjau dari keterkaitannya antara satu dan anggota lainnya.
Tingkatan-tingkatan masyarakat
Ditinjau dari akibat perubahan dan perkembangan yang terjadi,bentuk masyarakat dapat diklasifikasikan pada masyarakat tradisonal dan masyarakat modern.
1.Masyarakat Tradisional
Masyarakat tradisional, sebagai bentuk dari kehidupan bersama, mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan lingkungan hidupnya. Hal ini dapat dimengerti bahwa kehidupan masyarakat tradisional sangat bergntung pada manusia lain dan kondisi alam. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan dipenuhi dari alam sekitarnya.
Sebagian besar dari masyarakatyang tidak mempunyai tanah harus menggantungkan penghidupannya pada tuan-tuan tanah (feodalis) sebagai buruh sehingga timbul dominasi kaum feodal terhadap kaum buruh. Kaum feudal yang menjadi tempat bergantung masyarakat banyak, dengan sendirinya menempatkan dirinya sebagai pimpinan atau tokoh masyarakat.
Dalam kehidupan yang serba sederhana ini, pekerjaan-pekerjaan seperti bertani, mendirikan rumah, dan sebagainya dikerjakan bersama. Keadaan ini membentuk sikap dan hubungan yang sangat erat antarindividu. Oleh karena itu, gotong royong atau tolong menolong merupakan cirri lain dari masyarakat tradisional.
2.Masyarakat Moderen.
Masyarakat modern merupakan pola perubahan dari masayarakat tradisional yang telah mengalami kemajuan dapat terlihat pada aspek kehidupan. Salah satu ukuran kemajuan dapat dilihat terlihat pada pola hidup dan kehidupannya. Dibidang mata pencaharian, mereka tidak bergantung pada sector pertanian semata,tetapi merambat pada sector lain seperti jasa dan perdagangan.
Seseorang yang telah mempunyai pengetahuan dan keterampilan tertentu dapat mempergunakan pengetahuan dan keterampilan tersebut untuk kepentingan orang lain, seperti melakukan jasa kesehatan, konsultan, advokat, perbankan dan sebagainya. Jadi gerakan-gerakan ekonomi pada masyarakat modern telah bergeser pada bidang-bidang yang belum dijamah masyarakat tradisional.

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Manusia adalah makhluk individu sekaligus juga anggota masyarakat, maka ia bebas memikirkan dan mementingkan diri sendiri menurut kehendaknya. Tetapi didalam kebebasan dan berbuat untuk kepentingan pribadi itu, ia amat bergantung kepada orang lain, malah kepada beberapa orang atau golongan, atau dengan kata lain: manusia tidak dapat berdiri sendiri sebagai individu tetapi selalu menuntut bantuan dan pertolongan orang lain serta memerlukan kerja sama untuk membina keselamatan diri.
Individu terdiri dua dimensi,yaitu fisik dan psikis. Sikap perbuatan, emosi, dan sebagainya merupakan refleksi gabungan dari kedua dimensi ini. Tiap dimensi pada dasarnya mempunyai potensi lahiriah dan potensi batiniah. Potensi lahiriah yang mengacu pada potensi fisik dapat berupa geraka anggota badan, pancaindera, dan lain-lain, sedangkan potensi batiniah mengacu potensi psikis dapat berupa inteligensi, emosi, dan lain-lain.
Menurut kodratnya, manusia adalah makhluk masyarakat.Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk, seperti berkoperasi, hubungan antar pribadi, mengikatkandiri pada kelompoknya, dan sebagainya.Individu yang lahir ke dunia ini telah memiliki atau membawa dorongan kemasyarakatan, dengan sendirinya ia selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.
B.Saran
Dari terselesaikannya makalah yang kami susun semampu kami, kami mengharap para pembaca dapat memahami isi dari makalah yang membahas perihal “Manusia sebagai Individu dan Makhluk Sosial”.
Selain itu, kami mengharapkan kepada dosen pengampu beserta para pembaca sekalian kritik dan sarannya guna untuk meningkatkan kemampuan kami dalam tata cara menulis, tata cara penyusunan kata, bahasa dan lain sabagainya dalam penyelesaian makalah.

DAFTAR PUSTAKA
Mustari, Mohamad. Refleksi Untuk Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Laksbang Pressin, 2011.
Mawardi. IAD, ISD dan IBD. Bandung: CV Pustaka Setia, 2009.









Share:

Sabtu, 16 Februari 2019

BUDAYA ORGANISASI

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dalam sebuah organisasi pasti mempunyai budaya karena ini menjadi salah satu pembeda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Budaya dalam sebuah organisasi ada yang sesuai dan ada juga yang tidak sesuai sehingga seorang anggota baru atau karyawan yang tidak sesuai dengan budaya organisasi tersebut harus dapat menyesuaikan agar dapat bertahan di organisasi tersebut.
Budaya organisasi ini dapat membuat suatu organisasi menjadi terkenal dan bertahan lama. Yang jadi masalah tidak semua budaya organisasi dapat menjadi pendukung organisasi itu. Ada budaya organisasi yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Maksudnya tidak dapat menyocokkan diri dengan lingkungannya, dan lebih ditakutkan lagi organisasi itu tidak mau menyesuaikan budayanya dengan perkembangan zaman karena dia merasa paling benar.
Dalam keadaan inilah anggota tidak akan mendapatkan kepuasan kerja. Memang banyak faktor lain yang menyebabkan anggota tidak memperoleh kepuasan kerja, tapi faktor budaya organisasi merupakan faktor yang utama.
Baca Juga
KONSEP DASAR KEPEMIMPINAN
B.Rumusan Masalah
a.Apa pengertian budaya dan organisasi?
b.Apa pengertian budaya organisasi?
c.Mengapa budaya sangat penting dalam oraganisasi?
d.Apa yang menjadi faktor penentu terbentuknya budaya organisasi?
e.Bagaimana tipe, fungsi dan karakteristik budaya organisasi?
f.Bagaimana pengaruh budaya keja terhadap manajemen organisasi pendidikan Islam?

C.Tujuan Pembahasan
a.Untuk mengetahui pengertian budaya dan organisasi
b.Untuk mengetahui pengertian budaya organisasi
c.Untuk mengetahui pentingnya budaya dalam organisasi
d.Untuk mengetahui faktor penentu terbentukya budaya organisasi
e.Untuk mengetahui tipe, fungsi dan karakteristik budaya organisasi
f.Untuk mengetahui pengaruh budaya kerja terhadap manajemen organisasi pendidikan Islam?

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Budaya dan Organisasi
1.Pengertian Budaya
Krober dan kluchon tahun 1952 menemukan 164 definisi budaya. Taliziduhu Ndraha dalam bukunya Budaya Organisasi mengemukakan pendapat Edward Burnett dan Vijay Sathe, sebagai berikut.
1.Vijay Sathe: “Culture is the set of important assumption (opten unstated) that members of a community share in common.” (Budaya adalah seperangkat asumsi penting yang dimiiki bersama anggota masyarakat).[ U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2012), hlm. 87]
2.Edgar H.Schein: “Budaya adalah pola asumsi dasar yang diciptakan, ditemukan, atau dikembangkan oleh kelompok tertentu sebagai pembelajaran untuk mengatasi masalah, adaptasi eksternal dan integrasi internal yang resmi dan terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, budaya diajarkan/diwariskan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang tepat memahami, memikirkan, dan merasakan terkait dengan masalah-masalah tersebut.”
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai budaya, yaitu sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, meliputi sistem ide yang terdapat dalam pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat absrak. Adapun perwujudan budaya berupa benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lainnya, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia melangsungkan kehidupan bermasyarakat. [ Ibid, hlm. 88]
2.Pengertian Organisasi
Organisasi dalam bahasa yunani berasal dari kata organon yang berarti alat. Pengertian organisasi telah telah banyak disampaikan para ahli, tetapi pada dasarnya tidak ada perbedaan yang prinsip, dan berbagai bahan perbandingan, berikut disampaikan beberapa pengertian organisasi.
a.Chester I. Barnard (1938) dalam bukunya The Executive functions mengemukakan, “organisasi adalah sistem kerja sama antara dua orang atau lebih.”
b.James D. Mooney mengatakan, “organisasi adalah setiap bentuk kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.”
c.Robbins, S.P., (1986) mengatakan, “organisasi adalah suatu sistem yang terdiri atas pola aktivitas kerja sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan.”
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sekumpulan orang dapat dikatakan sebagai organisasi jika memenuhi empat unsur pokok, yaitu:
1.Organisasi merupakan sistem;
2.Adanya pola aktivitas;
3.Adanya sekelompok orang;
4.Adanya tujuan yang telah diterapkan;
5.Kerja sama;
6.Sistem koordinasi;
7.Pembagian tugas dan tanggung jawab;
8.Sumber daya organisasi;[ Ibid, hlm. 92-94]
B.Pengertian Budaya Organisasi
Budaya organisasi telah banyak didefinisikan oleh pakar manajemen/organisasi. Berikut adalah beberapa definisi tentang budaya organisasi.
1.Michael Amstrong mengemukakan bahwa budaya organisasi adalah pola sikap, keyakinan, asumsi, dan harapan yang dimiliki bersama, yang munkin tidak dicatat, tetapi membentuk cara bagaimana orang-orang bertindak dan berinteraksi dalam organisasi dan mendukung bagaimana hal-hal dilakukan.
2.Davis (1984) menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan pola keyakinan dan nilai-nilai organisasi yang dipahami, dijiwai, dan dipraktikkan organisasi sehingga pola tersebut memberikan arti tersendiri dan menjadi dasar aturan berperilaku dalam organisasi.[ Didin Kurniadin, Manajemen Pendidikan (Jogjakrta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm. 246]
C.Pentingnya Budaya Bagi Organisasi Bisnis
Sebagaimana diterangkan di muka, budaya organisasi pada dasarnya merupakan nilai-nilai dan norma yang dianut dan dijalankan oleh sebuah organisasi terkait dengan lingkungan dimana organisasi tersebut menjalankan kegiatannya. Budaya Organisasi penting sekali untuk dipahami karena banyak pengalaman menunjukkan bahwa ternyata budaya organisasi ini tidak saja berbicara mengenai bagaimana sebuah organisasi bisnis menjalankan kegiatan sehari-hari, tetapi juga sangat mempengaruhi bagaimana kinerja yang dicapai oleh sebuah organisasi bisnis. Sebagai contoh perusahaan Levi Strauss menganggap bahwa salah satu kunci kesuksesan bisnisnya adalah disebabkan oleh budaya organisasi yang telah dibangun di sebuah bangunan selama kurang lebih 68 tahun. Di sebabkan perkembangan bisnis yang pesat, para eksekutif di Levi Strauss berfikir untuk memindahkan perusahaannya ke bangunan yang lebih luas dan besar. Apa yang kemudian terjadi? Setelah mereka pindah ke bangunan 12 lantai, para eksekutif justru menemukan bahwa para anggota perusahaan tidak menikmati kepindahan kegiatan di bangunan yang baru, dan kinerja perusahaan justru menurun. Akhirnya eksekutif Levi Strauss memindahkan kembali kegiatannya ke gedung yang lama. Para anggota perusahaan menganggap bahwa gedung yang lama lebih membuat mereka merasa nyaman dalam bekerja, karena kesannya yang informal, dan dapat melakukan interaksi secara lebih mudah. Ternyata budaya informal yang dibangun di perusahaan Levi Strauss memegang kunci kesuksesannya.[ Nashar, Dasar-dasar Manajemen (Surabaya: Pena Salsabila, 2013),hlm. 83]
Budaya organisasi pada dasarnya merupakan apa yang dirasakan, diyakini, dan dijalani oleh sebuah organisasi. Bank Amerika misalnya memiliki budaya organisasi untuk bekerja secara formal, ketat, bahkan cenderung kaku dalam menjalankan peraturan. Para pegawai di perusahaan ini harus memakai pakaian yang sangat formal seperti kemeja, dasi, dan jas. Berbeda dengan perusahaan texas instruments yang menerapkan budaya organisasi di mana pengguna dasi merupakan sesuatu yang dihindari dalam bekerja, dan mereka cenderung untuk berbusana secara informal dan casual, seperti t-shirt, kaos, dan sebagian pekerjanya menggunakan jaket.
Budaya organisasi akan sangat berbeda dari satu perusahaan dengan perusahaan lain. Namun pada intinya yang di anut oleh sebuah perusahaan akan menentukan bagaimana kesuksesan dapat mereka raih. Namun demikian, budaya organisasi berbeda tidak saja antar perusahaan, namun juga antar bagian di sebuah perusahaan.bagian pemasaran dan SDM barangkali memiliki budaya organisasi yang lebih fleksibel dibandingkan dengan bagian keungan dan produksi. Oleh karena kecenderungan ini ada di setiap organisasi, maka budaya organisasi merupakan faktor yang akan menentukan bagaimana tujuan dapat dicapai secara efektif dan efisien.[ Ibid, hlm. 84]

D.Faktor Penentu Terbentuknya Budaya Organisasi
kita barangkali akan bertanya-tanya dari mana sesungguhnya budaya organisasi itu ada. Berdasarkan catatan teoritis dan empiris, budaya organisasi merupakan nilai dan keinginan yang dipegang oleh sebuah organisasi dari sejak organisasi tersebut terbentuk, tumbuh, dan berkembang. Apa yang dirasakan, dialami oleh setiap perusahaan mulai mereka membangun bisnisnya hingga kesuksesan bahkan juga tidak juga terkecuali kegagalan yang pernah dialaminya, membangun sebuah budaya dalam organisasi.sebuah perusahaan akan menemukan bahwa dari sekian tahun perjalanan bisnisnya banyak hal yang kemudian dapat dijadikan nilai-nilai dan norma yang dapat dipegang teguh oleh organisasi untuk meraih sukses dalam jangka panjang.[ Ibid, hlm. 84]
Berdasarkan pemahaman di atas, faktor yang menentukan terbentuknya budaya organisasi adalah pengalaman yang dijalani oleh organisasi itu sendiri. Pengalaman bisa berupa kesuksesan maupun kegagalan. Kesuksesan bisa disebabkan karena karena adanya konsep bisnis yang tepat, pendekatan manajemen yang terbaik dan lain-lain. Sebaliknya kegagalan dapat disebabkan oleh ketidaktepatan konsep bisnis yang dijalankan, pendekatan manajemen yang buruk atau bahkan mungkin faktor lingkungan eksternal yang tidak sanggup diantisipasi oleh perusahaan. Fase-fase kesuksesan dan kegagalan ini pada dasarnya menentukan bagaimana budaya organisasi terbentuk dan diyakini kemudian oleh organisasi tersebut sebagai sebuah konsep norma dan nilai yang dianut dan mempengaruhi keseluruhan cara kerja perusahaan.[ Ibid, hlm. 85]
E.Tipe, Karakteristik, dan Fungsi Budaya
1.Tipe Budaya Organisasi
Noe dan Mondy (1996:237) membedakan tipe budaya organisasi dalam dua kelompok, yaitu:
1) Open and participative culture;
2)Closed and autocratic culture. Open and participative culture ditandai oleh adanya kepercayaan terhadap bawahan, komunikasi yang terbuka, kepemimpinan yang sportif dan penuh perhatian, penyelesaian masalah secara kelompok, adanya otonomi pekerja, sharing informasi, serta pencapaian tujuan yang output-nya tinggi.
Closed and autocratic culture ditandai oleh pencapaian tujuan output yang tinggi, namun pencapaian tersebut mungkin lebih dinyatakan dan dipaksakan pada organisasi dengan para pemimpin yang otokrasi dan kuat. Semakin besar rigiditas dalam budaya ini, yang merupakan hasil kepatuhan yang ketat terhadap suatu mata rantai komando formal, semakin sempit pula tentang manajemen dan akuntabilitas individual. Selain itu, karakteristik ini lebih menekankan pada individual daripada teamwork.[ Didin Kurniadin, Ibid, hlm. 247-248]
2.Fungsi Budaya Organisasi
a.perasaan identitas dan menambah komitmen organisasi
b.alat pengorganisasian anggota
c.menguatkan nilai-nilai dalam organisasi
d.mekanisme kontrol perilaku (Nelson dan Quick, 1997), pembeda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya.
e.Membangun rasa identitas bagi anggota organisasi
f. Mempermudah tumbuhnya komitmen
g.Meningkatkan kemantapan sistem sosial, sebagai perekat sosial, menuju integrasi organisasi.[ U. Saefullah, Ibid, hlm. 101]
3.Karakteristik Budaya Organisasi
Susanto (1997: 17) mengemukakan sepuluh karakteristik budaya organisasi sebagai berikut.
1. Inisiatif individu: seberapa jauh inisiatif seseorang dikehendaki dalam perusahaan. Hal ini meliputi tanggung jawab, kebebasan, dan indepedensi dari masing-masing anggota organisasi, dalam artian seberapa besar seseorang diberi wewenang dalam melaksanakan tugasnya, seberapa berat tanggung jawab yang harus dipikul sesuai dengan kewenangannya dan seberapa luas kebebasan mengmbil keputusan.
2. Toleransi terhadap risiko: menggambarkan seberapa jauh sumber daya manusia didorong untuk lebih agresif, inovatif, dan mau menghadapi risiko dalam pekerjaannya.
3. Pengarahan: berkenaan dengan kejelasan sebuah organisasi dalam menentukan objek dan harapan terhadap sumber daya manusia terhadap hasil kerjanya. Harapan tersebut dapat dituangkan dalam bentuk kuantitas, kualitas, dan waktu.
4.Integrasi: seberapa jauh keterkaitan dan kerja sama yang ditekankan dalam melaksanakan tugas dari masing-masing unit di dalam suatu organisasi dengan koordinasi yang baik.
5.Dukungan manajemen: dalam hal ini seberapa jauh para manajer memberikan komunikasi yang jelas, bantuan, dan dukungan terhadap bawahannya dalam melaksanakan tugasnya.
6.Pengawasan: meliputi peraturan-peraturan dan supervisi langsung yang digunakan untuk melihat secara keseluruhan dari perilaku karyawan.
7.Identitas: menggambarkan pemahaman anggota organisasi yang loyal kepada organisasi secara penuh dan seberapa jauh loyalitas karyawan tersebut terhadap organisasi.
8.Sistem penghargaan pun akan dilihat dalam budaya organisasi, dalam arti pengalokasian reward (kenaikan gaji, promosi) berdasarkan kriteria hasil kerja karyawan yang telah ditentukan.
9.Toleransi terhadap konflik: menggambarkan sejauh mana usaha untuk mendorong karyawan agar bersikap kritis terhadap konflik yang terjadi.
10.Pola komunikasi yang terbatas pada hierarki formal dari setiap perusahaan.[ Didin Kurniadin, Ibid, hlm. 254-255]
F.Pengaruh Budaya Kerja terhadap Manajemen Organisasi Pendidikan Islam
Salah satu yang berpengaruh terhadap manajemen lembaga pendidikan islam adalah adanya budaya kerja dalam organisasi. Budaya kerja sudah lama dikenal oleh umat manusia, tetapi belum disadari bahwa suatu keberhasilan kerja berakar pada nilai-nilai yang dimiliki dan perilaku yang menjadi kebiasaannya. Nilai-nilai tersebut bermula dari adat kebiasaan, agama, norma, dan kaidah yang menjadi keyakinannya menjadi kebiasaan dalam perilaku kerja atau organisasi. Nilai-nilai yang telah menjadi kebiasaan tersebut dinamakan budaya. Oleh karena budaya dikaitkan dengan kualitas kerja, dinamakan budaya kerja.[ U. Saefullah, Ibid, hlm. 103]
Budaya kerja merupakan pandangan hidup yang menjadi nilai, kebiasaan, kekuatan, dan pendorong dalam kehidupan kelompok masyarakat atau organisasi, yang tercermin pada sikap dan perilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat, dan tindakan dalam pekerjaan dan profesionalisme. Budaya kerja organisasi meliputi manajemen pengembangan, perencanaan, produksi, dan pelayanan produk yang berkualitas, ekonomis, dan memuaskan.
Dengan demikian, budaya kerja menggambarkan hal-hal berikut:
1.Kualitas manusia berkaitan dengan identitas bangsa yang menjadi tolok ukur dalam pembangunan.
2.Integritas bangsa yang menjamin kesinambungan kehidupan bangsa.
3.Falsafah bangsa yang mendorong prestasi kerja.
4.Reformasi kinerja dan tanpa henti melakukan penyempurnaan dan perbaikan.
5.Perilaku kerja yang tercermin pada sikap disiplin, kerja keras, ulet, produktif, tanggung jawab, motivasi, manfaat, kreatif, dinamis, konsekuen, konsisten, responsif, mandiri, dan penuh tanggung jawab (Umam, 2012: 18).[ U. Saefullah, Ibid, hlm. 104]
Budaya kerja dalam organisasi berdampak positif pada manajemen kelembagaan pendididkan islam, yaitu sebagai berikut:
1.Menghargai waktu
2.Bekerja dengan sebaik mungkin
3.Bekerja secara profesional
4.Bekerja dengan jujur dan berniat ibadah
5.Meningkatkan prestasi kerja
6.Kinerja yang optimal
7.Membangun manajemen keterbukaan
8.Kompetisi yang sehat
9.Menghilangkan kolusi, nepotisme, dan korupsi
10.Menerapkan cara kerja yang efektif dan efisien
11.Kepemimpinan yang karismatik dan demokratis
12.Membuka peluang yang sama untuk semua pegawai dalam mengembangkan prestasi, karier, dan jabatannya.
13.Melaksanakan kepemimpinan atas dasar kekuasaan yang sah, mekanisme sistem informasi yang baik, dan partisipasi aktif dari bawahan.
14.Membangun prinsip-prinsip etika manajemen dalam lembaga pendidikan islam. Prinsip-prinsip etika manajemen menurut Supriadi (2007: 20) dalah sebagai berikut.
a.Prinsip keindahan (beauty)
Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang terhadap keindahan. Banyak filsuf mengatakan bahwa hidup dan kehidupan manusia merupakan keindahan. Dengan demikian, berdasarkan prinsip ini, etika manusia berkaitan atau memerhatikan nilai-nilai keindahan. Etika dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang dilandasi oleh nilai-nilai estetika antara lain diwujudkan dengan perancangan tata ruang, furnitur, dan hiasan dinding serta eksesoris lainnya yang bersifat islami dan menarik.[ U. Saefullah, Ibid, hlm. 105]
b.Prinsip persamaan (equality)
Hakikat kemanusiaan menghendaki adanya persamaan antara manusia. Setiap manusia yang terlahir di bumi memiliki hak dan kewajiban masing-masing, pada dasarnya adalah sama atau sederajat. Konsekuensi dari ajaran persamaan ras juga menuntut persamaan di antara beraneka ragam etnis. Etika yang dilandasi oleh prinsip persamaan (equality) ini dapat menghilangkan perilaku diskriminatif, yang membeda-bedakan dalam berbagai aspek interaksi manusia. Guru misalnya, tidak dapat membeda-bedakan tingkat pelayanan terhadap muridnya. Yang membedakan dalam pemberian layanan guru kepada muridnya adalah tinggi rendahnya tinggi tingkat urgensinya, sehingga dapat diberikan prioritas-prioritas tertentu.
c.Prinsip kebaikan (goodness)
Secara umum, kebaikan berarti sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. Perkataan baik (good) mengandung sifat seperti persetujuan, pujian, keunggulan, kekaguman, atau ketepatan. Dengan demikian, prinsip kebaikan sangat erat kaitannya dengan hasrat dan cita manusia. Apabila orang menginginkan kebaikan dari suatu ilmu pengetahuan, misalnya, ia akan mengandalkan objektivitas ilmiah, kemanfaatan pengetahuan, rasionalitas, dan sebagainya. Jika menginginkan kebaikan tatanan sosial, yang diperlakukan adalah sikap-sikap sadar hukum, saling menghormati, perilaku yang baik (good habits), dan sebagainya. Jadi, lingkup dari ide atau prinsip kebaikan bersifat universal. Kebaikan ritual dari agama yang satu mungkin berlainan dengan agama yang lain. Akan tetapi, kebaikan agama yang berkenaan dengan masalah kemanusiaan, hormat-menghormati di antara sesama, berbuat baik kepada orang lain, kasih sayang, dan sebagainya merupakan nilai-nilai kebaikan yang sudah pasti diterima.
Dalam lembaga pendidikan Islam, tujuan penyelengaraan, pembagunan, dan pelayanan pada dasarnya menciptakan kebaikan dan perbaikan bagi anggota lembaga.[ U.Saefullah, Ibid, hlm. 106]
d.Prinsip keadilan (justice)
Suatu definisi tertua yang hingga kini masih sangat relevan untuk merumuskan keadilan (justice berasal dari zaman Romawi Kuno) adalah justitia est contants et perpetua voluntas jus suum cuique tribuendi (keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya)
e.Prinsip kebebasan (liberty)
Secara sederhana, kebebasan dapat dirumuskan sebagai keleluasaan untuk bertindak atau tidak bertindak berdasarkan pilihan yang tersedia bagi seseorang. Kebebasan muncul dari doktrin bahwa setiap orang memiliki hidupnya sendiri, dan memiliki hak untuk bertindak menurut pilihannya sendiri kecuali jika pilihan tindakan tersebut melanggar kebebasan yang sama dari orang lain sehingga kebebasan manusia mengandung pengertian:
1)Kemampuan untuk menentukan sendiri;
2)Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan.
Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab, dan begitu pula tidak ada tanggungjawab tanpa kebebasan. Semakin besar kebebasan yang dimiliki oleh seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang dipikulnya.
f.Prinsip kebenaran (truth)
Ide kebenaran biasanya dipakai dalam pembicaraan mengenai logika ilmiah, sehingga diketahui adanya kriteria kebenaran dalam berbagai cabang ilmu, misalnya matematika, ilmu fisika, biologi, sejarah, dan filsafat. Akan tetapi, ada pula kebenaran mutlak yang dapat dibuktikan dengan keyakinan, bukan dengan fakta empiris dan positivistis. Kebenaran harus dapat dibuktikan dan ditunjukkan kepada masyarakat agar masyarakat meyakininya secara rasional. Oleh karena itu, kebenaran dalam konteks pemikiran dengan keyakinan agama perlu dibedakan. Kebenaran dalam pemikiran bersifat relatif, sedangkan kebenaran karena keyakinan dapat bersifat absolut.[ Ibid, hlm. 107]

BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
1.Budaya adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, meliputi sistem ide yang terdapat dalam pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat absrak. Sedangkan, organisasi adalah organisasi adalah suatu sistem yang terdiri atas pola aktivitas kerja sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan.
2.Budaya organisasi adalah pola keyakinan dan nilai-nilai organisasi yang dipahami, dijiwai, dan dipraktikkan organisasi sehingga pola tersebut memberikan arti tersendiri dan menjadi dasar aturan berperilaku dalam organisasi.
3.Budaya bagi organisasi bisnis penting sekali untuk dipahami karena banyak pengalaman menunjukkan bahwa ternyata budaya organisasi ini tidak saja berbicara mengenai bagaimana sebuah organisasi bisnis menjalankan kegiatan sehari-hari, tetapi juga sangat mempengaruhi bagaimana kinerja yang dicapai oleh sebuah organisasi bisnis.
4.Faktor yang menentukan terbentuknya budaya organisasi adalah pengalaman yang dijalani oleh organisasi itu sendiri. Pengalaman bisa berupa kesuksesan maupun kegagalan.
5.Tipe dalam budaya organisasi adalah Open and participative culture dan Closed and autocratic culture.
Fungsi budaya organisasi adalah Perasaan identitas dan menambah komitmen organisasi, alat pengorganisasian anggota dan menguatkan nilai-nilai dalam organisasi.
Karakteristik budaya organisasi adalah Inisiatif individu, toleransi terhadap risiko, pengarahan, integrasi, dukungan manajemen, pengawasan, identitas, sistem penghargaan pun akan dilihat dalam budaya organisasi, Toleransi terhadap konflik, pola komunikasi yang terbatas pada hierarki formal dari setiap perusahaan.
6.Yang berpengaruh terhadap manajemen lembaga pendidikan islam adalah adanya budaya kerja dalam organisasi.

DAFTAR PUSTAKA
Saefullah, U. Manajemen Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia. 2012
Kurniadin, Didin. Manajemen Pendidikan. Jogjakrta: Ar-Ruzz Media. 2012
Nashar. Dasar-dasar Manajemen. Surabaya: Pena Salsabila. 2013
Share:

Popular Posts

Label