Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Sabtu, 02 Maret 2019

manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial

BAB 1
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Pada dasarnya manusia adalah sebagai makhluk individu yang unik, berbeda antara yang satu dengan lainnya. Secara individu juga, manusia ingin memenuhi kebutuhan masing-masing, ingin merealisasikan diri atau ingin dan mampu mengembangkan potensi-potensinya masing-masing. Hal ini merupakan gambaran bahwa setiap individu akan berusaha untuk menemukan jati dirinya masing-masing, tidak ada manusia yang ingin jadi orang lain sehingga dia akan selalu sadar akan keindividualitasannya.
Seperti yang kita telah ketehui bahwa manusia merupakan makhluk Tuhan YME yang paling sempurna dari makhluk lainnya. Dengan segala kelebihan yang dimiliki manusia disbanding makhluk lainnya membuat manusia memiliki kedudukan atau derajat yang lebih tinggi.
Manusia juga disertai akal, perasaan, pikiran sehingga manusia dapat memenuhi kebutuhannya yang diberikan Tuhan YME.
B.Rumusan masalah
1.Apa pengertian manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
2.Bagaimana perbedaan antara masyarakat dan komunitas
Baca Juga
BUDAYA ORGANISASI
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Manusia sebagai Makhluk Individu dan Sosial
Menurut filsafat manusia, hakikat manusia itu ada tiga, yaitu: (1) manusia sebagai makhluk moral, yaitu berbuat sesuai dengan norma norma susila; (2) manusia sebagai makhluk individual, yaitu berbuat untuk kepentingan diri sendiri; (3) manusia sebagai makhluk sosial, hidup bermasyarakat, bekerja sama dan tolong menolong. Ketiga hakikat manusia itu harus berkembang dan mendapat bimbingan dan pengarahan yang benar semenjak kecil sampai dewasa, bahkan sampai usia lanjut.
Oleh karena manusia adalah makhluk individu sekaligus juga anggota masyarakat, maka ia bebas memikirkan dan mementingkan diri sendiri menurut kehendaknya. Tetapi didalam kebebasan dan berbuat untuk kepentingan pribadi itu, ia amat bergantung kepada orang lain, malah kepada beberapa orang atau golongan, atau dengan kata lain: manusia tidak dapat berdiri sendiri sebagai individu tetapi selalu menuntut bantuan dan pertolongan orang lain serta memerlukan kerja sama untuk membina keselamatan diri.
Masyarakatnya.
1.Individu
Individu terdiri dua dimensi,yaitu fisik dan psikis. Sikap perbuatan, emosi, dan sebagainya merupakan refleksi gabungan dari kedua dimensi ini. Tiap dimensi pada dasarnya mempunyai potensi lahiriah dan potensi batiniah. Potensi lahiriah yang mengacu pada potensi fisik dapat berupa geraka anggota badan, pancaindera, dan lain-lain, sedangkan potensi batiniah mengacu potensi psikis dapat berupa inteligensi, emosi, dan lain-lain.
Potensi-potensi itu sebagai dasar merupakan naluriah. Untuk mengadakan pemisahan yang secara tegas nalurial dan yang lain bukan merupakan pekerjaan yang tidak muda. Ahli ilmu jiwa berbeda pendapat dalam menetapkan atau menentukan macam potensi nalurial. James misalnya,mengemukakan hampir 30 macam, sedangkan Torndike menyatakan 40 macam. Ada pula yang menyatakan hanya 9 macam dan ada pula menyatakan 60 macam.
Hanya saja untuk mengenai individu lebih jelas jangan hanya melalui pendekatan terhadap naluri, tetapi juga harus melalui jalan yang lain. Penerusan atau pelacakan individu dari pendekatan segi naluriah saja, jadi menyebabkan seseorang terperangkap dalam kesalahan yang tidak kecil. Untuk itu, perlu diadakan pendekatan, paling tidak, dari segi fisik dan psikis.
a.Segi fisik
Kehadiran seseorang atau individu dalam kelompok keluarga maupun kelompok masyarakat ditandai dengan wujud fisiknya. Wujud fisik sebagai bagian dari alam selalu tunduk pada alam. Wujud fisik ini tersusun dan mempunyai struktur fisika, seperti mempunyai berat, volume, dan sifat fisika lainnya. Seorang lahir, kemudian menjadi dewasa lalu meninggal, atau ia dari kecil, menjadi besar. Gejala semacam ini merupakan gejala kealaman, yang terjadi sesuai dengan kondisi alamnya. Namun, makhluk hidup mempunyai ciri sendiri dan selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Faktor-faktor ini biasanya disebut dengan faktor penunjang kelangsungan hidup.
Menurut Siswanto, tahap perkembangan biologis/fisik manusia itu menurut beberapa pendapat adalah sebagai berikut:
1)Pendapat Aristoteles:
Perkembangan psikis manusia menurut Aristoteles terjadi pada setiap masa tujuh, artinya setiap kelipatan tujuh tahun terjadi prubahan.
Tahap I : 0 th – 7 th : masa anak kecil atau masa bermain.
Tahap II : 7 th - 14 th : masa anak,masa remaja atau masa sekolah
rendah.
Tahap III : 14 th- 21 th : masa remaja, atau pubertas masa peralihan
dari anak menjadi dewasa.
2)Pendapat Kretschmen:
Kretschmen mengemukakan 4 tahap perkembangan yang terjadi pada fisik manusia.
Tahap I : 0 th – 3 th :Fullung periode I anak kelihatan pendek dan
pendek dan gemuk.
Tahap II : 3 th -7 th : Strecking periode I anak kelihatan langsing.
Tahap III : 7 th – 13 th : Fullung periode II, anak kelihatan pendek dan gemuk kembali.
Tahap IV : 13 th – 20 th : Strecking periode II, anak kelihatan langsing.
3)Pendapat Sigmund Freud:
freud mengemukakan 6 tahap perkembangan yang terjadi pada fisik manusia antara lain:
Fase oral 1 : 0 th - 1 th : mulut merupakan pokok aktifitas dinamik.
Fase anak : 3 th – 5 th : dorongan dan tekanan terpusat pada pembuangan kotoran.
Fase laten : 5th – 12 th/13th : implus cenderung untuk ada dalam menyerap.
Fase pubertas: 12/13 th – 20 th: implus menonjol kembali.
Faktor-faktor penunjang kehidupan manusia antara lain:
Pangan : terdiri atas zat / sumber tenaga, seperti karbon hidrat, lemak dan protein dan zat pembangun, seperti protein, mineral dan air, serta zat pengatur seperti vitamin, mineral, protein dan air.
Sandang: sebagai alat adaptasi terhadap kondisi alam (iklim)yang berlainan, misalnya panas dan dingin.
Papan: usaha berlindung ancaman alam yang tidak bersahabat, seperti hujan, terik matahari, binatang buas, dan sebagainya.
Untuk keperluan ini, manusia selalu berhubungan dengan lingkungannya. Interaksi dengan lingkungannya inilah yang menyebabkan adanya perubahan lingkungan(hasil budaya). Di samping itu, manusia di pengaruhi manusia juga oleh lingkungannya maka tidak heran manakala ada perpedaan pertahanan fisik antara masyarakat, pegunungan, pedesaan, pedesaan dan perkotaan, akibat pembentukan oleh kondisi alamnya, seperti makanan, minuman, dan sebagainya.
b.Segi psikis
Wujud idndividu tidak pernah lepas dari wujud psikisnya. Wujud psikis ini bersama-sama membentuk individu. Fungsi psikis sangat berpengaruh terhadap gerak dan tingkah laku fisik, dalam arti tingkah laku perubahan individu merupakan refreksi psikisnya, sedangkan tingkah laku fisik berpengaruh pada fungsi psikis.
Menurut Ahmad D Marinda, keterkaitan antara psikis dan fisik dapat di jabarkan dalam contoh berikut: temperatur seseorang merupakan pantulan dari kejiwaannya namun temperatur ini di pengaruhi oelh zat cair di dalam tubuh. Zat cair yaitu cairan empedu Kuning, darah, empedu, hitam dan lendir. Tenaga kejiwaan yang sangat menonjol oleh Sigmund Frend disebut dengan libidoseksualis. Libidoseksualis ini merupakan naluri tunggal dan merupakan sumber dari semua tingkah laku dan perbuatan manusia.
Libidoseksualis sebagai sumber perbuatan dan tingkah laku manusia melahirkan dorongan,yaitu dorongan untuk hidup dan dorongan untuk mati.Dorongan untuk hidup menyebabkan terjadinya tindakan distruktif.
Menurut Ahmad D Marimba, tenaga kejiwaan berupa karsa, cipta, dan rasa.
1)Karsa, meliputi kemampuan yang merupakan sumber dorongan (kekuatan) dari suatu kegiatan. Termasuk di dalamnya dorongan nafsu keinginan, hasrat hawa nafsu, dan kemauan.
2)Rasa, meliputi kemampuan yang memberi sifat pada kegiatan berupa keharusan, kesenangan, ketidaksenangan dan lain-lain. Yang berhubungan erat dengan jasmania, seperti rasa sakit, rasa dingin, dan sebagainya disebut dengan perasaan jasmaniah.
3)Cipta, merupakan kemampuan yang dapat menciptakan sesuatu dan memecahkan persoalan-persoalan,dapat mencari jalan tepat untuk sesuatu kegiatan.
 Pengaruh lingkungan terhadap individu
Induvidu sebagai bagian dari alamnya hidup bersama lingkungan alamnya, baik lingkungan material maupun lingkungan sosial. Kondisi alam yang berubah, seperti perubahan geografi, ekosistem, cuaca, maupun perubahan yang terjadi pada masyarakat secara langsung atau pun tidak menyebabkan perubahan pada individu, karena setiap individu harus beradaptasikan dengan lingkungan.
Pada dasarnya individu tidak dapat keluar dari otoritas hukum alam dan kaidah norma sosial. Itulah sebabnya, penyimpangan dari keadaan semacam ini menyebabkan ia menjadi korban dalam alam sekelilingnya. Untuk mengantisipasi semua keadaan yang timbul, ia harus dibentuk dengan bermacam materi dan kondisi.
Menurut Sanapial Faisal, faktor lingkungan yang sangat mendukung dan menolong kehidupan jasmani dan rohani, menyebabkan individu dapat berkembang. Banyak ahli yang menyatakan bahwa individu tidak mempunyai arti apa-apa tanpa adanya lingkungan yang mempengaruhinya.
a.Keluarga
Kelompok individu yang utama bahkan yang pertama adalah keluarga. Keluarga dapat di bentuk melalui persekutuan-persekutuan individu karena adanya hubungan darah perkawinan ataupun adopsi.
Keluarga dibentuk dari dua orang individu yang berlainan jenis kelamin, yang diikat tali perkawinan. Waalaipun demikian, ada juga keluarga yang dibentuk tanpa ikatan perkawinan, tetapi mereka yang menjalankan hal semacam ini juga menganut pola-pola yang dijalankan oleh suami istri. Jika seorang wanita pindah ke keluarga suami,hal ini oleh Willian J. Goode disebut dengan patrilokal. Jika yang laki-laki masuk ke keluarga sang istri disebut matrilokal, sedangkan bila mereka pindah ke tempat tersendiri disebut dengan neolokal.
Keterpisahan seseorang dari keluarga baik karena ikut mertua, membentuk rumah sendiri atau di angkat anak oleh keluarga lain, tidak menghilangkan kekerabatan dengan keluarga asalnya, karena kekerabatan ini terkait dengan garis keturunan, baik dari pihak ayah ataupun ibu, serta perkawinan dan adoptasi.
Kekerabatan seseorang dengan orang lain karena adanya keterkaitan dengan garis keturunan dari pihak ayah disebut dengan patrinial, sedangkan apabila kekerabatan itu mempunyai keterkaitan dengan garis keturunan dari pihak ibu disebut dengan matrinial.
Dilihat dari segi tanggung jawab kewajiban ,kekerabatan keluarga disini termaksud dalam persekutuan gemeinschaft, yaitu koleksif yang besar. Dalam keluarga tradisional yang menjadikan ayah sebagai kepala keluarga,ia berupaya memenuhi semua kebutuhan anggota keluarganya.
Pengaruh Keluarga terhadap Anggota-anggotanya
Menurut Dewi Sulistya, karakteristik keluarga dapat diidentifikasikan dengan hal-hal berikut:
a.Keluarga terdiri atas orang-orang yang bersatu karena ikatan perkawinan, darah, atau adopsi. Yang mengikat suami dan istri adalah perkawinan yang mempersatukan orang tua dan anak-anaknya adalah hubungan darah (umum) dan kadang-kadang adopsi (pengangkatan), anak angkat.
b.Para anggota suatu keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah, dan mereka membentuk satu rumah tangga (household) Kadang-kadang satu rumah tangga itu terdiri atas kakek dan nenek, anak-anak, cucu. Kadang-kadang satu rumah tangga terdiri atas suami dan istri , tanpa anak, atau dengan satu atau dua, tiga anak saja.
c.Keluarga merupakan satu kesatuan orang yang berinteraksi dan saling berkomunikasi, yang memainkan peran suami istri, ayah dan ibu, anak laki-laki dan anak perempuan, peran saudara dan peran saudari. Peran –peran ini erat kaitannya dengan trandisi masyarakat setempat, perasaan-perasaan yang muncul dari pengalaman keluarga itu.
d.Keluarga itu mempertahan kan suatu kebudayaan bersama, yang sebagai besar berasal dari kebudayaan umum. Akan tetapi, pada masyarakat yang terdapat banyak kebudayaan, setiap keluarga mengembangkan kebudayaan itu sendiri.
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap keluarga.
1)Status sosial ekonomi keluarga
Hubungan sosial antara anak-anak dengan orang tua dan anak akan lebih baik, sebab orang tua tidak ditekankan di dalam mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga perhatian dapat di curahkan kepada anak-anak mereka.
2)Faktor keutuhan keluarga
Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan sosial anak ialah faktor keutuhan keluarga. Faktor ini ditekankan pada strukturnya,yaitu keluarga yang lengkap, yaitu ayah, ibu, dan anak. Di samping keutuhan keluarga, juga ada faktor keutuhan interaksi hubungan antara anggota satu dan anggota keluarga yang lain.
3)Sikap dan kebiasaan Orang tua
Peranan keadaan keluarga terhadap perkembangan sosial anak tidak hanya terbatas pada situasi sosial ekonominya atau kebutuhan struktur dan interaksinya, tetapi cara-cara atau sikap dalam pergaulannya juga memegang peranan penting dalam perkembangan sosial mereka.
 Perkawinan sebagai Elemen Pembentukan Keluarga
Perkawinan dapat diasumsikan sebagai keterkaitan seorang pria dan wanita untuk menjalin hubungan dan hidup bersama untuk mencapai tujuan bersama. Dari segi hukum adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan membentuk keluarga (rumah tangga ) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Menurut UU Perkawinan, Perkawinan sebagai upaya dasar untuk pembentukan keluarga dimulai sejak pemilihan jodoh, agar pihak pria dan wanita sebagai calon suami istri dipilih orang-orang yang dapat memegang peran masing-masing dan menempati fungsinya, kewajiban dan tanggung jawab menurut bentuk keluarga yang di cita-citakan. Oleh karena itu, pemilihan jodoh difokuskan pada pemilihan orang yang bekerja dan hidup bersama untuk mencapai tujuan bersama atas dasar saling pengertian.
 Keluarga sebagai wadah kehidupan individu mempunyai peran
Penting dalam membina dan mengembangkan individu yang bernaung didalamnya.
Menurut William F.Ogburn, sebagaimana yang di kutip Dwi Sulisyo, fungsi keluarga secara luas dapat berupa.
a.Fungsi pelindung
b.Fungsi ekonomi
c.Fungsi pendidikan
d.Fungsi rekreasi
e.Fungsi agama
Merstedt mengemukakan fungsi keluarga:
a.Mengatur dan menguasai implus-implus
b.Membantu
c.Menegakkan antar budaya
d.Mewujudkan status.
2.Masyarakat
Menurut kodratnya, manusia adalah makhluk masyarakat.Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk, seperti berkoperasi, hubungan antar pribadi, mengikatkandiri pada kelompoknya, dan sebagainya.Individu yang lahir ke dunia ini telah memiliki atau membawa dorongan kemasyarakatan, dengan sendirinya ia selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.
Lebih lanjut sikap kemasyarakatan menurut P.J. Bouma, karena adanya faktor-faktor :
a.Kecenderungan sosial
b.Rasa harga diri
c.Kecenderungan untuk patuh
d.Kecenderungan untuk mandiri
e.Kecenderungan menurut
f.Hasrat tolong-menolong dan meniru
g.Hasrat berjuang
h.Hasrat memberi tahu dan sifat mudah menerima.
Hubungan individu dalam kelompok ditandai dengan ciri yang sama. Ciri-ciri inilah, masyarakat dapat dibedakan pada kelompok tertentu.
 Bentuk –bentuk masyarakat
Atas dasar ketergantungan seorang kepada orang lain dan untuk mencari tujuan bersama, setiap orang bekerja sama dengan orang lain. Perbedaan prinsip, nilai, kepentingan tujuan antarkelompok masyarakat melahirkan bermacam-macam bentuk masyarakat. Dari segi pengelompokannya, masyarakat terbagi atas masyarakat paguyuban (gemein Schaft) dan masyarakat patembayan (gesel Schaft).
a.Masyarakat Paguyuban (gemeinschaft)
Masyarakat paguyuban dapat diartikan sebagai persekutuan hidup. P.J. Bouman (1976) lebih lanjut mengemukakan arti masyarakat paguyuban ini sebagai suatu persekutuan manusia yang disertai perasaan setia kawan dan keadaan kolektif yang besar.
Ciri-ciri masyarakat paguyuban inidpat dilihat dari adanya ketaatan, kesetiaan, dan kerelaan berkorban sebagaimana yang terdapat pada keluarga. Bouman mengumpamakan hal ini dengan ikatan organis antar sel-sel dalam tubuh tanaman, atau seperti alat-alat tubuh yang secara fungsional hidup masyarakat paguyuban yang bertalian sangat erat satu dan lainnya. Demikian juga individu dalam suatu persekutuan hidup masyarakat paguyuban yang bertalian sangat erat satu dan lainnya.
Dengan demikian, individu sebagai bagian unsur dari kelompok,merupakan unsur ciri yang vital. Ciri –ciri masyarakat peguyuban ini diantarannya.
1.Rela berkorban untuk kepentingan bersama
2.Pemenuhan hak tidak selalu dikaitkan dengan kapasitas pemenuhan kewajibannya.
3.Solidaritas yang sangat kokoh dan bersifat permanen.
b.Masyarakat Patembayan (Gessel Schaft)
Bila dibandingkan dengan masyarakat paguyuban, masyarakat patembayan mempunyai pertalian yang lebih renggang. Contohnya masyarakat patembayan ini adalah organisasi masyarakat dalam berbagai bentuk dan ragamnya.
Keterikatan mereka hanya diletakan pada dasar untuk mencapai tujuan bersama. Hak seseorang di berikan dengan memperhitungkan pemenuhan kewajibannya yang di berikan kepada organisasi sehingga sifat keakuan tiap individu pada masyarakat patembayan ini masih sangat menonjol, bahkan tidak jarang tiap individu masih membawa missi dan kepentingan sendiri.
Ciri masyarakat ini di antaranya;
1.Pemenuhan hak seseorang didasarkan pada pemenuhan kewajiban.
2.Solidaritas antara anggota tidak terlalu kuat dan hanya bersifat sementara.
Demikian bentuk masyarakat asal ditinjau dari keterkaitannya antara satu dan anggota lainnya.
Tingkatan-tingkatan masyarakat
Ditinjau dari akibat perubahan dan perkembangan yang terjadi,bentuk masyarakat dapat diklasifikasikan pada masyarakat tradisonal dan masyarakat modern.
1.Masyarakat Tradisional
Masyarakat tradisional, sebagai bentuk dari kehidupan bersama, mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan lingkungan hidupnya. Hal ini dapat dimengerti bahwa kehidupan masyarakat tradisional sangat bergntung pada manusia lain dan kondisi alam. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan dipenuhi dari alam sekitarnya.
Sebagian besar dari masyarakatyang tidak mempunyai tanah harus menggantungkan penghidupannya pada tuan-tuan tanah (feodalis) sebagai buruh sehingga timbul dominasi kaum feodal terhadap kaum buruh. Kaum feudal yang menjadi tempat bergantung masyarakat banyak, dengan sendirinya menempatkan dirinya sebagai pimpinan atau tokoh masyarakat.
Dalam kehidupan yang serba sederhana ini, pekerjaan-pekerjaan seperti bertani, mendirikan rumah, dan sebagainya dikerjakan bersama. Keadaan ini membentuk sikap dan hubungan yang sangat erat antarindividu. Oleh karena itu, gotong royong atau tolong menolong merupakan cirri lain dari masyarakat tradisional.
2.Masyarakat Moderen.
Masyarakat modern merupakan pola perubahan dari masayarakat tradisional yang telah mengalami kemajuan dapat terlihat pada aspek kehidupan. Salah satu ukuran kemajuan dapat dilihat terlihat pada pola hidup dan kehidupannya. Dibidang mata pencaharian, mereka tidak bergantung pada sector pertanian semata,tetapi merambat pada sector lain seperti jasa dan perdagangan.
Seseorang yang telah mempunyai pengetahuan dan keterampilan tertentu dapat mempergunakan pengetahuan dan keterampilan tersebut untuk kepentingan orang lain, seperti melakukan jasa kesehatan, konsultan, advokat, perbankan dan sebagainya. Jadi gerakan-gerakan ekonomi pada masyarakat modern telah bergeser pada bidang-bidang yang belum dijamah masyarakat tradisional.

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Manusia adalah makhluk individu sekaligus juga anggota masyarakat, maka ia bebas memikirkan dan mementingkan diri sendiri menurut kehendaknya. Tetapi didalam kebebasan dan berbuat untuk kepentingan pribadi itu, ia amat bergantung kepada orang lain, malah kepada beberapa orang atau golongan, atau dengan kata lain: manusia tidak dapat berdiri sendiri sebagai individu tetapi selalu menuntut bantuan dan pertolongan orang lain serta memerlukan kerja sama untuk membina keselamatan diri.
Individu terdiri dua dimensi,yaitu fisik dan psikis. Sikap perbuatan, emosi, dan sebagainya merupakan refleksi gabungan dari kedua dimensi ini. Tiap dimensi pada dasarnya mempunyai potensi lahiriah dan potensi batiniah. Potensi lahiriah yang mengacu pada potensi fisik dapat berupa geraka anggota badan, pancaindera, dan lain-lain, sedangkan potensi batiniah mengacu potensi psikis dapat berupa inteligensi, emosi, dan lain-lain.
Menurut kodratnya, manusia adalah makhluk masyarakat.Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk, seperti berkoperasi, hubungan antar pribadi, mengikatkandiri pada kelompoknya, dan sebagainya.Individu yang lahir ke dunia ini telah memiliki atau membawa dorongan kemasyarakatan, dengan sendirinya ia selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.
B.Saran
Dari terselesaikannya makalah yang kami susun semampu kami, kami mengharap para pembaca dapat memahami isi dari makalah yang membahas perihal “Manusia sebagai Individu dan Makhluk Sosial”.
Selain itu, kami mengharapkan kepada dosen pengampu beserta para pembaca sekalian kritik dan sarannya guna untuk meningkatkan kemampuan kami dalam tata cara menulis, tata cara penyusunan kata, bahasa dan lain sabagainya dalam penyelesaian makalah.

DAFTAR PUSTAKA
Mustari, Mohamad. Refleksi Untuk Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Laksbang Pressin, 2011.
Mawardi. IAD, ISD dan IBD. Bandung: CV Pustaka Setia, 2009.









Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Label