Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Senin, 10 Desember 2018

Peran dan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PAI di SD Negeri Pakong 2

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Dunia pendidikan merupakan suatu proses interaksi edukatif, yang mana interaksi edukatif adalah hubungan timbal balik antara guru dan peserta didik dalam suatu sistem pengajaran. Interaksi edukatif merupakan faktor penting dalam usaha mencapai terwujudnya situasi belajar dan mengajar yang baik dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran. Dalam proses belajar mengajar di sekolah sebagai suatu sistem interaksi, maka kita akan dihadapkan kepada sejumlah komponen-kompenen yang setidaknya harus ada. Tanpa adanya komponen-kompenen tersebut sebenarnya tidak akan terjadi proses interaksi edukatif antara guru dengan peserta didik. Komponen-kompenen yang dimaksud adalah tujuan intruksional, bahan pengajaran atau materi, metode dan alat dalam interaksi, sarana dan evaluasi atau penilaian.[ Suryo Subroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Rineka Cipta: Jakarta, 1997, Hlm. 156-158]
Pendidikan memiliki peran penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa yang bersangkutan. Untuk itu, pembangunan nasional di bidang pendidikan merupakan sebuah upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia, dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, serta memungkinkan setiap warga negara mengembangkan diri, baik dalam aspek jasmaniah maupun rohaniah berdasarkan falsafah pancasila.[ Ali Rohmad, Kapita Selekta Pendidikan, Teras: Jogyakarta, 2009, Hlm. 7]
Manusia tidak akan pernah lepas dari proses pendidikan, karena pendidikanlah yang membuat manusia itu menjadi dewasa. Pendidikan mengarahkan kepada pengembangan keperibadian seseorang.
Menurut Ki Hajar Dewantara dalam Buku Ahmad tafsir “Pendidikan atau mendidik tidak sama dengan mengajar”. Adapun arti mendidik itu adalah bertujuan mengembangkan aspek kepribadian terutama dalam  membentuk akhlak kepribadian muslim.[ Ahmad Tafsir, Metode Pembelajaran Agama Islam, PT. Remaja Rosdakarya:Bandung, 2007, Hlm. 7]
“Pendidikan merupakan salah satu usaha yang sadar teratur dan sistematis di dalam memberikan bimbingan kepada anak yang sedang berproses kedewasaan”[ M. Hafi Anshari, Pengantar Ilmu Pendidikan, Usaha nasional: Surabaya, 2006, Hlm. 29]
“pendidikan keislaman atau pendidikan agama Islam, yakni upaya mendidikan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya agar menjadi manusia muslim yang berahlak, dengan nilai-nilai itu seorang anak didik akan menjadi manusia yang baik, berakhlak dan beriman”.[ Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta, 2006, Hlm. 5]
Dalam konsep pendidikan modern telah terjadi pergeseran pendidikan, diantaranya adalah pendidikan di keluarga bergeser kependidikan sekolah dan guru adalah tenaga yang profesional meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, mengajar berarti merumuskan ilmu pengetahuan dan teknologi sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan pada anak. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua, dia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola anak didiknya, guru juga berfungsi sebagai penasehat bagi anak didiknya telah banyak membantu peserta didik untuk dapat membuat keputusan sendiri.
Baca Juga Perkembangan Pendidikan Islam Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No.20 Tahun 2003 (Sisdiknas, pasal 3). Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Salah satu komponen penting yang terdapat dalam dunia pendidikan adalah guru. Peran guru dalam kegiatan praktis pendidikan salah satunya adalah sebagai sentral pelaksana kurikulum, ia harus mengenal, memahami dan melaksanakan hal-hal yang tertuang di dalam kurikulum. Tanpa guru, kurikulum hanyalah benda mati yang tiada berarti.  Kurikulum diperlukan untuk membantu guru dalam mengembangkan pengetahuan (kognisi), nilai (afeksi) dan keterampilan (psikomotor) dari berbagai bahan kajian dan pelajaran yang diperlukan untuk membina potensi peserta didik sesuai dengan jenjang dan satuan pendidikan. Hal ini menunjukkan, bahwa guru merupakan ujung tombak pendidikan. Karena itu, guru dituntut untuk mampu mengembangkan kurikulum pembelajaran yang di dasarkan pada teori pengembangan kurikulum dan pengalaman mengajar di dalam kelas.[ Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Erlangga, 2007, Hlm. 155]
Sehubungan dengan fungsinya sebagai pengajar, pendidik dan pembimbing, maka diperlukan adanya berbagai peranan pada diri guru. Peranan guru ini akan senantiasa mengambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksi, baik dengan siswa, sesama guru maupun dengan staf yang lain. Dari berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar, dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya. Sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap proses belajar mengajar dan berinteraksi dengan siswanya.
Keberhasilan pendidikan ditentukan oleh keberhasilan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, yakni keterpaduan antara kegiatan guru dengan kegiatan siswa. Bagaimana siswa belajar banyak ditentukan oleh bagaimana guru mengajar. Salah satu usaha untuk mengoptimalkan pembelajaran adalah dengan memperbaiki pengajaran yang banyak dipengaruhi oleh guru, karena pengajaran adalah suatu sistem, maka perbaikannya pun harus mencakup keseluruhan komponen dalam sistem pengajaran tersebut. Komponen-komponen yang terpenting adalah tujuan, materi, evaluasi.
Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru, maka guru harus memiliki dan menguasai perencanaan kegiatan belajar mengajar, melaksanakan kegiatan yang direncanakan dan melakukan penilaian terhadap hasil dari proses belajar mengajar. Kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar ini sesuatu yang erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar yang mendidik. Guru sebagai pendidik mengandung arti yang sangat luas, tidak sebatas memberikan bahan-bahan pengajaran tetapi menjangkau etika dan estetika perilaku dalam menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat.
Sebagai pengajar, guru hendaknya memiliki perencanaan (planing) pengajaran yang cukup matang. Perencanaan pengajaran tersebut erat kaitannya dengan berbagai unsur seperti tujuan pengajaran, bahan pengajaran, kegiatan belajar, metode mengajar, dan evaluasi. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian integral dari keseluruhan tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran.
Agar dapat menjalankan tugas dan fungsi sebagai guru di atas, guru harus berkompetensi, artinya kompetensi merupakan salah satu kualifikasi guru yang terpenting. Bila kompetensi ini tidak ada pada diri seorang guru, maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun tidak akan optimal. Dalam syari’at Islam, meskipun tidak terpaparkan secara jelas, namun terdapat hadits yang menjelaskan bahwa segala sesuatu itu harus dilakukan oleh ahlinya (orang yang berkompeten dalam tugasnya tersebut).
Artinya : .Dari Abu Hurairah r.a, Ia berkata. Rasulullah SAW bersabda: Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka nantikanlah saat kehancurannya. (H.R Bukhori)
Dari hadits ini, dijelaskan bahwa seseorang yang menduduki suatu jabatan tertentu, meniscayakan mempunyai ilmu atau keahlian (kompetensi) yang sesuai dengan kebutuhan jabatan tersebut. Hal ini sejalan dengan dengan pesan kompetensi itu sendiri yang menuntut adanya profesionalitas dan kecakapan diri. Namun bila seseorang tidak mempunyai kompetensi dibidangnya (pendidik), maka tunggulah saat-saat kehancurannya.
Terlebih lagi bagi seorang guru agama, ia harus mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan guru-guru lainnya. Guru agama, disamping melaksanakan tugas keagamaan, ia juga melaksanakan tugas pendidikan dan pembinaan bagi peserta didik, ia membantu pembentukan kepribadian, pembinaan akhlak disamping menumbuhkan dan mengembangkan keimanan dan ketaqwaan para siswa. Dengan tugas yang cukup berat tersebut, guru Pendidikan Agama Islam dituntut untuk memiliki keterampilan profesional dalam menjalankan tugas pembelajaran.
Dengan komptensi yang dimiliki, selain menguasai materi dan dapat mengolah program belajar mengajar, guru juga dituntut dapat melaksanakan evaluasi dan pengadministrasiannya. Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi merupakan kompetensi guru yang sangat penting. Evaluasi dipandang sebagai masukan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai komponen yang terdapat dalam suatu proses belajar mengajar.[ Prasetya Irawan, Evaluasi Proses Belajar Mengajar, Jakarta: PAU-PAI, UT, 2001. Hlm.1]
Dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia pembangunan, pendidikan tidak hanya terfokus pada kebutuhan material jangka pendek tetapi harus menyentuh dasar untuk memberikan watak pada visi dan misi pendidikan, yaitu perhatian mendalam pada etika moral spiritual yang luhur. Dalam hal ini, kualitas pendidikan dipengaruhi oleh penyempurnaan sistemik terhadap seluruh komponen
pendidikan seperti peningkatan kualitas, pemerataan dan penyebaran guru, kurikulum yang disempurnakan, sumber belajar yang memadai, iklim sumber belajar, sarana prasarana yang memadai, iklim pembelajaran yang kondusif serta didukung oleh kebijakan (political will) pemerintah, baik di pusat maupun di daerah. Dari kesemuanya itu, guru merupakan komponen yang paling menentukan; karena ditangan gurulah kurikulum, sumber belajar, sarana prasana dan iklim pembelajaran menjadi sesuatu yang berarti bagi kehidupan peserta didik. Di sinilah antara lain pentingnya guru dan tuntutan profesionalitas bagi seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
Ada beberapa indikator yang menunjukkan lemahnya kinerja guru dalam melaksanakan tugas utamanya mengajar yaitu; (a) rendahnya pemahaman tentang strategi pembelajaran, (b) kurang kemahiran dalam mengelola kelas, (c) rendahnya kemampuan melakukan dan memanfaatkan penelitian tindakan kelas, (d) rendahnya motivasi berprestasi, (e) kurang disiplin, (f) rendahnya komitmen profesi, (g) serta rendahnya kemampuan manajemen waktu. Karena pentingnya peran dan kompetensi seorang guru maka diperlukan suatu penelitian tentang peran dan kompetensi guru, khususnya guru Pendidikan Agama Islam, dan untuk itulah penelitian ini dilaksanakan.
Sebagai sampel dari lembaga pendidikan yang ada, peneliti mengambil Sekolah Dasar Negeri Pakong 2 Kecamatan Pakong. Satu hal yang harus dibenahi sebagai salah satu solusi permasalahan yang selama ini membelenggu dan belum ditemukan pemecahannya adalah tentang peran dan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam kaitannya dengan peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa terdorong untuk mengkaji dan meneliti lebih lanjut mengenai peran dan kompetensi guru khususnya guru Pendidikan Agama Islam dalam mewujudkan prestasi belajar pendidikan agama islam yang baik. Maka dari itu, dalam penelitian ini penulis tertarik mengkajinya untuk disusun ke dalam proposal penelitian dengan mengambil judul penelitian “Peran dan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PAI di SD Negeri Pakong 2”.

B.Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah bagian pokok dalam suatu kegiatan penelitian. Disini, rumusan permasalahan atas pertanyaan- pertanyaan yang diajukan yang jawabannya akan diperoleh setelah penelitian telah selesai dilaksanakan pada kesimpulan.
Terdapat beberapa rumusan masalah yang akan dikaji di dalam penelitian ini, yakni sebagai berikut:
1.Adakah pengaruh peran dan kompetensi guru PAI  terhadap prestasi belajar siswa pada  mata pelajaran PAI?
2.Seberapa besar pengaruh Guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI?

C.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai, biasanya jawaban dari pertanyaan dan rumusan masalah. Adapun tujuan  penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Untuk mengetahui pengaruh antara peran dan kopetensi guru PAI terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI.
2.Untuk mengetahui besarnya pengaruh guru PAI dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI.

D.Asumsi Penelitian
Menurut Surakhmad dalam Endang.S (2008:7) asumsi dasar atau anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya di terima oleh penyidik. Jadi asumsi penelitian dapat diartikan sebagai anggapan dasar tentang suatu hal yang menjadi pedoman berfikir peneliti. Asumsi yang mendasari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.Guru PAI harus berperan aktif serta memiliki kompetensi yang jelas dan beragam dalam meningkatkan prestasi belajar siswa
2.Prestasi belajar siswa sangat dipengaruhi oleh peran dan kompetensi guru PAI
E.Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul (menurut Arikunto dalam Endang.S, 2008:6). Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penulisan yang telah disebutkan diatas maka dapat dikemukakan sebuah hipotesis adanya pengaruh yang signifikan antara peran dan kompetensi guru PAI terhadap prestasi belajar PAI siswa.

F.Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat:
1.Menambah wawasan dan khazanah keilmuan dalam bidang ilmu pendidikan, khususnya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama islam.
2.Memberikan kontribusi berupa penyajian informasi ilmiah untuk mengetahui peran dan kompetensi guru PAI dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI.
3.Memberikan sumbangan pemikiran kepada para guru PAI SD Negeri Pakong 2 Kecamatan Pakong dalam usahanya untuk meningkatkan kualitas proses pengajaran dan pembelajaran siswa, sehingga nantinya dapat melahirkan generasi dan cendekiawan muslim yang mampu mengamalkan ibadah dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tuntunan agama Islam.

G.Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran dan arah mengenai informasi permasalahan inti yang ada dalam suatu penelitian
1.Variabel penelitian
Dalam penelitian ini ada 3 variabel, yaitu :
Variable X1 adalah peran guru PAI, dengan indikator:
1.Guru sebagai demonstrator
2.Guru sebagai pengelola kelas
3.Guru sebagai mediator/fasilitator
4.Guru sebagai evaluator
Variable X2 adalah kompetensi guru, dengan indicator:
1.Kompetensi pedagogic
2.Kompetensi kepribadian
3.Kompetensi professional
4.Kompetensi sosial
Variable Y adalah prestasi belajar PAI siswa, dengan indicator:
1.Pengetahuan siswa
2.Sikap siswa
3.Keterampilan siswa
Subjek penelitian
Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa
2.Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada SD Negeri Pakong 2 Desa Pakong Kecamatan Pakong.

H.Definisi Istilah
1.Peran Guru PAI
Peran guru PAI tidak berbeda dengan peran guru pada umunya, yaitu: mendidik, memotivasi, mediator dan evaluator. Untuk itu sebagai seseorang yang berperan penuh dalam dunia pendidikan guru harus mempunyai kesadaran dalam menjalankan perannya.
2.Kompetensi Guru PAI
Menurut Usman, kompetensi adalah suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun kuantitatif.
Charles E. Johnson, mengemukakan bahwa kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.  Kompetensi merupakan suatu tugas yang memadai atas kepemilikan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang. Kompetensi juga berarti sebagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
3.Prestasi belajar
Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, yakni "prestasi" dan "belajar", mempunyai arti yang berbeda. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian prestasi belajar, peneliti menjabarkan makna dari kedua kata tersebut.
Prestasi adalah suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individual atau kelompok. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya).  Sedangkan Saiful Bahri Djamarah dalam bukunya Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru,yang mengutip dari Mas'ud Hasan Abdul Qahar, bahwa  prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Dalam buku yang sama Nasrun Harahap, berpendapat bahwa prestasi adalah "penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan siswa berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada siswa.[ Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Surabaya: Usaha Nasional, 1994, Hlm. 20-21]
I.Kajian Pustaka
a.Peran Guru
Guru dalam proses pembelajaran memiliki peran yang sangat penting . Bagaimanpun kemajuan kemajuan teknologi sangat pesat, peran guru tetaplah menjadi hal utama dalam menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Berikut ini adalah beberapa peran guru:
1.Guru sebagai demonstrator
Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila.
2.Guru sebagai pengelola kelas
Dalam perannya sebagai pengelola kelas (learning manager), guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi, lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan.
Pengawasan terhadap belajar lingkungan itu turut menentukan sejauh mana lingkungan tersebut menjadi lingkungan belajar yang baik. Lingkungan yang baik adalah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan.[ Moch. Usman Uzer, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005, Hlm. 14]
3.Guru sebagai mediator/fasilitator
Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar.
Sebagai fasilitator guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang beguna serta dapat menujang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku, teks, majalah ataupun surat kabar.
J.K.4.Guru sebagai evaluator
Peran guru sebagai evaluator adalah Untuk mengetahui sejauh mana proses belajar mengajar dikatakan berhasil dan guru mampu mengoreksi selama proses belajar mengajar yang masih perlu untuk diperbaiki atau dipertahankan.
b.Kompetensi guru:
1.Kompetensi pedagogik guru
Kompetensi pedagogik adalah kompetensi keilmuan dan vokasional di bidang pendidikan. Teori-teori pendidikan yang relevan dengan tugas-tugas guru harus dikuasai dan diterapkan dalam praktik pendidikan.
2.Kompetensi kepribadian guru
Dalam Standar Nasional Pendidikan, pasal 28 ayat (3) butir b dikemukakan bahwa kompetensi kepribadian adalah kemampuan yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, serta menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.
3.Kompetensi professional
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2007 tentang Guru, dinyatakan bahwasanya  salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Guru adalah kompetensi professional. Kompetensi profesional yang dimaksud dalam hal ini merupakan kemampuan Guru dalam penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. 
4.Kompetensi sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang berkomunikasi, bergaul, bekerja sama, dan memberi kepada orang lain. Kompetensi sosial ialah kemampuan seorang guru dan dosen untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar.
c.Prestasi Belajar
Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan seseorang atau kelompok yang telah dikerjakan, diciptakan dan menyenagkan hati yang diperoleh dengan jalan bekerja. Sedangkan pengertian belajar, untuk memahami pengertian tentang
belajar berikut dikemukakan beberapa pengertian belajar diantaranya : Menurut Slameto, dalam bukunya Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya bahwa belajar ialah "Suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Muhibbinsyah, menambahkan dalam bukunya Psikologi Belajar, bahwa belajar adalah "tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatife menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif".
Begitu juga menurut James O. Whitaker yang dikutip oleh Wasty Soemanto, dalam bukunya Psikologi Pendidikan, memberikan definisi bahwa belajar adalah "proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan dan pengalaman".
Peran dan kompetensi guru sangat terkait dalam proses belajar mengajar, dengan peran dan kompetensi guru yang  ideal  siswa akan menjadi tekun dalam proses belajar, dengan motivasi juga kualitas hasil belajar siswa kemungkinan dapat diwujudkan. Siswa yang dalam proses belajar bidang studi pendidikan agama Islam mempunyai semangat yang kuat dan jelas, pasti akan tekun dan berhasil belajarnya.
Hal itu disebabkan karena ada tiga fungsi peranan dan kompetensi guru yaitu, guru akan selalu mendorong siswa untuk berbuat dan melakukan aktivitas, menentukan arah perbuatannya, serta menyeleksi perbuatannya. Sehingga perbuatan siswa senantiasa selaras dengan tujuan belajar yang akan dicapainya. Demikian pula dengan belajar bidang studi pendidikan agama Islam di SD Negeri Pakong 2 Kecamatan Pakong .
Dalam hal proses belajar mengajar termasuk belajar bidang studi pendidikan agama Islam di, SD Negeri Pakong 2 Kecamatan Pakong . Kompetensi guru sangat menetukan prestasi belajar. Bagaimanapun sempurnanya metode yang digunakan oleh guru, namun jika kompetensi guru siswa kurang atau tidak ada minat untuk belajar, maka siswa tidak akan belajar dan akibatnya prestasi belajarnya pun tidak akan tercapai.
Oleh karena itu dapat dikemukakan ada pengaruh antara peran dan kompetensi guru dengan prestasi belajar bidang studi pendidikan agama Islam di SD Negeri Pakong 2 Kecamatan Pakong , sehingga apabila peran dan kompetensi guru tinggi maka prestasi belajar siswa juga tinggi, akan dapat diharapkan prestasi belajarnya tinggi, demikian sebaliknya.

BAB II
METODE PENELITIAN

A.Rancangan Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian yang menggunakan metode penelitian kuantitatif. Sehingga pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif.

B.Populasi dan Sampel
Yang dimaksud adalah lembaga pendidikan Sekolah Dasar di bawah naungan  Dinas Pendidikan di Desa Pakong Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan, yang peneliti jadikan sebagai tempat penelitian.
Sekolah ini memiliki Delapan Belas ruangan kelas dimana tiap kelas memiliki jumlah siswa rata-rata 20 Sampai 30 anak, sehingga bila dijumlahkan keseluruhan siswa Sekolah ini ada 421 siswa. Sampel yang digunakan adalah sampling random (random sampling), dengan penentuan besar sampelnya berdasarkan pendapat Suharsimi Arikunto yang mengatakan bahwa jika jumlah populasinya lebih dari 100 maka dapat diambil 15% dari populasi.[ Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rieneka Cipta, 2002. Hlm. 10]

E.     Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Dalam penelitian kuantitatif ini, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah).
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Observasi partisipatif
Observasi merupakan teknik untuk mengamati langsung atau tidak langsung terhadap kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung. Dalam hal ini peneliti menggunakan observasi partisipasi pasif (Passive Participant). Partisipasi pasif artinya peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Dalam penelitian ini, Teknik observasi digunakan untuk memperoleh data tentang pelaksanaan pembelajaran di kelas, keadaan bangunan, sarana prasarana madrasah dan data lain yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Pengamatan dilakukan dengan memakai setting apa adanya (natural setting).
2.Wawancara
Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara.[ Ibid. Hlm. 191] Wawancara dimaksudkan untuk merekam data yang berfungsi penting untuk bahan analisis.
Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara terstruktur, yaitu semua pertanyaan disusun dan dirumuskan dengan cermat dan disiapkan secara tertulis agar dapat terfokus. Wawancara dilakukan kepada berbagai informan yang terkait, untuk memperoleh data tentang gambaran umum tentang peran dan kompetensi guru PAI terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI dan upaya yang dilakukan demi meningkatkan prestasi siswa.
3.Angket
Angket adalah serangkaian atau daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis, kemudian dikirim untuk diisi oleh responden. Setelah diisi, angket dikirim kembali atau dikembalikan kepeneliti.
4.Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya- karya monumental dari seseorang. Hasil penelitian dari observasi atau wawancara, akan lebih kredibel kalau didukung oleh dokumentasi.[ Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Loc. Cit, Hlm. 329] Metode dokumentasi bisa dilakukan dengan mengambil data dari hal- hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, internet, dan sebagainya.[ Ibid. Hlm. 187]
Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data mengenai gambaran umum Sekolah, telaah silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, serta dokumen lain yang diperlukan dalam penelitian ini.

F.Analisis Data
Yang dimaksud dengan teknik analisis data dalam pembahasan ini adalah langkah-langkah yang ditempuh penulis untuk memperoleh hasil akhir dalam penelitian. Data yang diperoleh kemudian diklasifikasikan, diolah dan dianalisis secara deskriptif Kuantitatif yang kemudian diambil atau dijadikan sebuah kesimpulan. Hal yang akan diteliti adalah mengenai peran dan kompetensi guru PAI terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan Kajian Pustaka terhadap Peran dan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PAI di SD Negeri Pakong 2 yang terdapat dalam bab I, dapat diambil simpulan mengenai tiga topik permasalahan sesuai dengan yang telah dirumuskan pada rumusan masalah sebagai berikut:
1)Guru dalam proses pembelajaran memiliki peran yang sangat penting . Bagaimanpun kemajuan kemajuan teknologi sangat pesat, peran guru tetaplah menjadi hal utama dalam menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik.
2)Peran dan kompetensi guru sangat terkait dalam proses belajar mengajar, dengan peran dan kompetensi guru yang  ideal  siswa akan menjadi tekun dalam proses belajar, dengan motivasi juga kualitas hasil belajar siswa kemungkinan dapat diwujudkan.
3)Dalam hal proses belajar mengajar kompetensi guru sangat menentukan prestasi belajar. Bagaimanapun sempurnanya metode yang digunakan oleh guru, namun jika kompetensi guru siswa kurang atau tidak ada minat untuk belajar, maka siswa tidak akan belajar dan akibatnya prestasi belajarnya pun tidak akan tercapai.

B.Saran
Setelah melakukan analisis terhadap Peran dan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PAI di SD Negeri Pakong 2, maka saran yang dapat diberikan oleh penulis sebagai upaya pengembangan penelitian ini atau penelitian di bidang yang sama di kemudian hari antara lain:
1.Penelitian di bidang peran dan kompetensi Guru PAI merupakan penelitian yang tidak mudah, sehingga butuh pendalaman materi secara teoritis maupun praktis sebelum melakukan penelitian
2.Penelitian yang dilakukan di suatu komunitas tertentu terutama yang masih asing dengan peneliti, membutuhkan sikap terbuka dan partisipatif sehingga dapat diterima di komunitas yang menjadi objek penelitian

DAFTAR RUJUKAN
Ahmad Tafsir, Metode Pembelajaran Agama Islam, PT.Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007
Ali Rohmad, Kapita Selekta Pendidikan, Teras, Yogyakarta, 2009
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1999
Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur. Metodologi Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif). Malang: UIN Press, 2009
M.Hafi Anshari, Pengantar Ilmu Pendidikan, Usaha nasional, Surabaya, 2006
Moch. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,2005
Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006
Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Erlangga, 2007
Prasetya Irawan, Evaluasi Proses Belajar Mengajar, Jakarta: PAU-PAI, Universitas Terbuka, 2001
Soetjipto & Raflis Kosasi. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta. 2009
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D,  Loc. Cit
Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rieneka Cipta. 2002.
Suryo Subroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Rineka Cipta, Jakarta, 1997


Share:

Perkembangan Pendidikan Islam Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang masalah
Sejarah membuktikan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M. atau pada abad ke-I H Hijriyah.[[1] Drs. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam, PT. Raja Grafido Persada,1999. Hlm. 17][1] Dengan demikian maka berarti orang Islam yang masuk ke Indonesia pada saat itu adalah orang-orang yang dalam pengamalan agamanya beraliran Al-Salaf al-shaleh (orang-rang terdahulu yang shaleh = golongan angkatan pertama). Pada abad ke-I H. ini belum dikenal adanya madzhab Syafi’ie, Maliki, Hanafi dan Hambali.
Walaupun Islam masuk ke Indonesia abad ke-7 M. tetapi penyebarannya baru meluas pada abad ke-13 M. Ada beberapa faktor lain yang menyebabkan agama Islam dapat tersebar dengan cepat di seluruh Indonesia pada masa permulaan, yaitu :
1.Agama Islam tidak sempit dan tidak berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah dianut oleh segala golongan umat manusia. Untuk masuk Islam cukup hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat saja.
2.Dalam agama Islam hanya sedikit tugas dan kewajiban
3.Penyiaran Islam dilakukan dengan cara berangsur angsur sedikit demi sedikit.
4.Penyebaran Islam dilakukan dengan cara kebijaksanaan dan cara yang sebaik-baiknya.
5.Penyiaran agama Islam dilakukan dengan perkataan yang mudah dipahami umum, dapat dimengerti oleh golongan bawah sampai golongan atas, yang hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang maksudnya : berbicaralah kamu dengan manusia menurut kadar akal mereka.[[3] Prof. H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Hidakarya Agung, Jakarta, 1985, hlm. 14][3]
Beberapa faktor di atas, menyebabkan proses Islamisasi di Indonesia berlangsung dengan mudah, sehingga pada pada akhirnya menjadi agama utama dan mayoritas di Indonesia.
Proses pembentukan dan pengembangan masyarakat Islam yang pertama melalui bermacam-macam kontak, misalnya kontak jual beli, kontak perkawinan dan kontak dakwah langsung, baik secara individual maupun kolektif.[[4] Drs. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam, PT. Raja Grafido Persada,1999. Hlm. 20
][4]
Dari hal itulah terjadi semacam proses pendidikan dan pengajaran Islam meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana. Materi pelajarannya yang pertama sekali adalah kalimat syahadat. Sebab barang siapa yang sudah bersyahadat berarti orang tersebut sudah menjadi Islam. Kemudian setelah itu, barulah diperkenalkan bagaimana cara melaksanakan shalat lima waktu, cara membaca Al-Qur’an dan semacamnya.
Dengan demikian kita ketahui bahwa ternyata dalam Islam itu praktis sekali dan dari sana pula pendidikan beranjak yaitu dari hal-hal yang paling mudah.
B.Rumusan Masalah
1.Apa pengertian Pendidikan Islam?
2.Bagaimana Perkembangan Pendidikan Islam Sebelum Kemerdekaan?
3.Bagaimana Perkembangan Pendidikan Islam Sesudah Kemerdekaan?
C.Tujuan
1.Mengetahui pengertian Pendidikan Islam
2.Mengetahui Perkembangan Pendidikan Islam Sebelum Kemerdekaan
3.Mengetahui Perkembangan Pendidikan Islam Sesudah Kemerdekaan

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan atau dalam bahasa Arab tarbiyah yang berarti mendidik. Sasaran pendidikan tidak hanya terfokus kepada perkembangan jasmani peserta didik, namun rohani juga menjadi perhatian dalam kegiatan pendidikan. Para ahli pendidikan banyak memberikan definisi tentang makna pendidikan yang semunya mengarah kepada perbaikan diri peserta didik. Marimba mendefinisikan pendidikan dengan bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian utama.
Sementara itu, Zuhairini, mengelompokkan definisi pendidikan menjadi dua kelompok, yaitu pendidikan dalam arti luas dan pendidikan dalam arti sempit. Pendidikan dalam arti luas adalah seluruh proses hidup dan kehidupan manusia, segala pengalaman sepanjang hidupnya merupakan dan memberikan pengaruh pendidikan baginya.
Sedangkan pendidikan dalam arti sempit adalah suatu kegiatan memberikan dasar-dasar dan pandangan hidup kepada generasi yang sedang tumbuh yang pada prakteknya identik dengan pendidikan formal di sekolah dan dalam situasi dan kondisi serta lingkungan belajar yang serba terkontrol. Ahmad Tafsir mengatakan bahwa pendidikan adalah kegiatan pendidikan yang melibatkan guru maupun yang tidak melibatkan guru (pendidik), mencakup pendidikan formal, maupun nonformal serta informal.
Sedangkan yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah proses pewarisan dan pengembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedomankan ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan terjabar dalam sunnah Rasul. Pendidikan Islam banyak memiliki tujuan yang ingin dicapai, dan yang paling tinggi adalah penanaman nilai-nilai akhlaqul karimah kepada seseorang. Al-Syaibani mengatakan bahwa mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlakul karimah.
B.Perkembangan Pendidikan Islam Sebelum Kemerdekaan
Pemikiran pendidikan Islam pada periode sebelum Indonesia mendapatkan kemerdekaannya ditandai dengan dua model pendidikan, yaitu : Pendidikan yang diberikan oleh sekolah-sekolah Barat sekuler dan tidak mengenal ajaran-ajaran agama. Pendidikan yang diberikan oleh pondok pesantren yang hanya mengenalkan agama. Hasil penelitian Steenbrink menunjukkan bahwa pendidikan kolonial tersebut sangat berbeda dengan pendidikan Islam Indonesia yang tradisional, bukan saja dari segi metode, tetapi lebih khusus dari segi isi dan tujuannya. Pendidikan yang dikelola oleh pemerintahan kolonial hanya berpusat pada keterampilan duniawi, yaitu pendidikan umum. Adapun lembaga pendidikan Islam lebih menekankan pada pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi penghayatan agama.
Mengenai corak pendidikan pada periode ini, Wirjosukarto dalam bukunya Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam menjelaskan bahwa ada dua corak pendidikan, yaitu corak lama yang berpusat di pondok pesantren, dan corak baru dari perguruan (sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah Belanda).
Selanjutnya, Wirjosukarto merinci ciri-ciri dari setiap corak tersebut, yaitu corak lama adalah : Menyiapkan calon kiai atau ulama’ agama semata. Kurang diberi pengetahuan umum, atau sama sekali tidak diberikan. Sikap isolasi karena adanya sikap nonkoperasi secara total dari pesantren terhadap segala sesuatu yang berbau Barat.
Sedangkan ciri-ciri corak baru sebagaimana yang dijelaskan oleh Wirjosukarto adalah: Hanya menonjolkan intelek dan sekaligus hendak melahirkan golongan intelek. pada umumnya bersikap negatif terhadap agama Islam. Alam pikirannya terasing dari kehidupan bangsanya. (Wirjosukarto dalam Susanto, 2009: 12). Abuddin Nata (2004: 194) menyebutkan bahwa sebelum tahun 1900 pendidikan Islam di Indonesia masih bersifat halaqoh (nonklasikal), dan lembaga pendidikan pun tidak besar.
Dari uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa pada periode sebelum Indonesia merdeka, terdapat berbagai corak pengembangan pendidikan Islam, yaitu isolatif-tradisional, dan sintesis. Isolatif-tradisional dalam arti tidak mau menerima apa saja yang berbau Barat (kolonial) dan terhambatnya pengaruh pemikiran-pemikiran modern dalam Islam untuk masuk ke dalamnya, sebagaimana tampak jelas pada pendidikan pondok pesantren tradisional yang hanya menonjolkan ilmu-ilmu agama Islam dan pengetahuan umum sama sekali tidak diberikan.
Hakikat pendidikan Islam adalah upaya melestarikan dan mempertahankan khazanah pemikiran ulama terdahulu sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab mereka. Tujuan utama pendidikannya adalah menyiapkan calon-calon kiai atau ulama menguasai masalah agama semata. Sedangkan sintesis yakni mempertemukan antara corak lama (pondok pesantren) dan corak baru (model pendidikan kolonial atau Barat) yang berwujud sekolah atau madrasah.
Dalam realitanya, corak pemikiran sintesis ini mengandung beberapa variasi pola pendidikan Islam, yaitu :
1.Pola pendidikan madrasah mengikuti format pendidikan Barat terutama dalam sistem pengajarannya secara klasikal, tetapi isi pendidikan tetap lebih menonjolkan ilmu-ilmu agama Islam.
2.Pola pendidikan madrasah yang mengutamakan mata pelajaran agama, tetapi mata pelajaran umum secara terbatas juga diberikan. Pola pendidikan madrasah yang menggabungkan secara lebih seimbang antara muatan keagamaan dan non keagamaan.
3.Pola pendidikan sekolah yang mengikuti pola gubernemen dengan ditambah beberapa mata pelajaran agama.
C.Perkembangan Pendidikan Islam Setelah Kemerdekaan
Pendidikan Islam pada awal kemerdekaan. Djaelani mengatakan bahwa setelah Indonesia merdeka, penyelesaian pendidikan agama mendapat perhatian serius dari pemerintah, baik di sekolah negeri maupun swasta. Usaha untuk itu dimulai dengan memberikan bantuan terhadap lembaga tersebut sebagaimana yang dianjurkan oleh Badan Pekerja Komite Nasional Pusat (BPKNP) tanggal 27 Desember 1945, yang menyebutkan bahwa : Madrasah dan pesantren yang pada hakikatnya adalah satu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang tidak berurat akar dalam masyarakat Indonesia pada umumnya, hendaklah pula mendapat perhatian dan bantuan nyata berupa tuntunan dan bantuan material dari pemerintah.
Kenyataan yang demikian timbul karena kesadaran umat Islam yang dalam, setelah sekian lama mereka terpuruk dibawah kekuasaan penjajah. Sebab pada zaman penjajahan Belanda, pintu masuk pendidikan modern bagi umat Islam terbuka secara sangat sempit. Dalam hal ini minimal ada dua hal yang menjadi penyebabnya, yaitu : Sikap dan kebijaksanaan pemerintah kolonial yang amat diskriminatif terhadap kaum muslimin. Politik non kooperatif para ulama terhadap Belanda yang menfatwakan bahwa ikut serta dalam budaya Belanda, termasuk pendidikan modernnya, adalah salah satu bentuk penyelewengan agama.
Itulah di antara beberapa faktor yang menyebabkan kaum muslimin Indonesia amat kececer dalam sisi intetelektualitas dibandingkan dengan golongan lain. Seirama dengan perjalanan sejarah bangsa dan negara Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia hingga sekarang, maka sejarah kebijakan pendidikan di Indonesia termasuk di dalamnya pendidikan Islam. Oleh karena itulah perjalanan sejarah pendidikan Islam sejak Indonesia merdeka sampai tahun 1965 yang lebih dikenal dengan masa orde lama akan berbeda dengan tahun 1965 sampai 1989 yang dikenal dengan orde baru, begitu pula setelah tahun itu sampai sekarang yang dikenal dengan Orde Reformasi.

Share:

Sabtu, 08 Desember 2018

KARAKTERISTIK PENGAJARAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM PADA ABAD PERTENGAHAN

A.  Pendahuluan
Pendidikan islam dapat pula diartikan pendidikan yang didasari dengan nilai-nilai ajaran islam. Dalam pengajarannya terdapat berupa pengajaran islam secara umumnya. Dalam dunia pendidikan, islam pernah mengalami masa-masa keemasan. Dimana banyak diantara kaum muslimin terdahulu bisa dikatakan sebagai ilmuan islam. Dan juga berbagai perkembangan mengenai universitas-universitas islam yang diminati diabad pertengahan.
Dalam pengajaran diabad pertengahan jika dibandingkan dengan sekarang tidak terlalu mengalami perubahan.Bahkan masih menggunakan cara-cara atau model pengajaran seperti yang sudah diterapkan sekarang ini.

B.  Rumusan Masalah
1.BagaimanaKondisi Pendidikan Islam Pada Masa Zaman Pertengahan?
2.Bagaimana Watak Ilmu Pengetahuan Islam Zaman Pertengahan?
3.Apa yang diterapkan dalam Kurikulum dan Pengajaran?
Baca Juga
pendidikan wiraswasta dan operasionalisasinya
C.  Pembahasan
1.Kondisi Pendidikan Islam pada Masa Turki Utsman
Puncak kejayaan umat Islam terjadi di masa khalifah Abdurahman ad Dakhil (756 - 785 M) dan Khalifah Harun ar rasyid (786 - 809).Pada masa itu hanya ada dua negara superpower, yaitu barat yang berkedudukan di Cordova dan timur berkedudukan di Bagdad.Keduanya sama-sama negara pengetahuan, umat islam pernah berjaya selama kurang lebih 7 abad ( antara abad VII s.d XIII). Kejayaan tersebut menumbuhkan pusat-pusat keunggulan, baik di bidang pendidikan, peribadatan, perekonomian, pertanian, pertanian, kedokteran, dan lain-lain.
Umat islam mengalami puncak keemasan pada masa pemerintahan abbasyiyah. Pada masa itu bermunculan para pemikir islam kenamaan yang sampai sekarang pemikirannnya masih diperbincangkan dan dijadikan dasar pijakan bagi pemikrian dimasa mendatang, baik dalam bidang keagamaan maupun umum. Kemajuan islam ini tercipta berkat usaha dari berbagai komponen masyarakat, baik ilmuwan, birokrat, agamawan, militer, dan ekonom maupun masyarakat.
Setelah mesir jatuh di bawah kekuasaan Utsmaniyah Turki, Sultan Salim memerintahkan supaya kitab-kitab di perpustakaan dan barang-barang berharga di Mesir di pindahkan ke Istambul, anak-anak Sultan Maklum, ulama-ulama, pembesar-pembesar yang berpengaruh di Mesir semuanya dibuang ke Istambul. Sementara itu, ulama-ulama dan kitab-kitab yang ada di perpustakaan Mesir mengalami kemunduran dalam ilmu pengetahuan , dan Istambul lah yang menjadi pusat pendidikan dan pengembangan kebudayaan saat itu. Yang mula-mula mendirikan Madrasah pada masa Turki Utsmani adalah Sultan Orkhan(w. 1359).Sultan-sultan Utsmani banyak mendirikan masjid-masjid dan madrasah-madrasah, terutama di Istambul dan Mesir.Pada masa itu banyak juga perpustakaan yang berisi kitab-kitab yang tidak sedikit jumlahnya.Banyak pula ulama-ulama, guru-guru, ahli sejarah dan ahli syair pada masa itu yang datang untuk membaca dan mempelajari isi kitab-kitab itu.
Sistem pengajaran yang dikembangkan pada Turki Utsmani adalah menghafal matan-matan meskipun murid tidak mengerti maksudnya, seperti menghafal matan al-jumuriah, matan Taqrib, matan Alfiah, matan Sultan dan lain-lain.Murid-murid setelah menghafal matan-matan itu barulah mempelajari syarahnya, kadang-kadang serta khasiyahnya.Karena pelajaran itu tambah berat dan bertambah sulit untuk dihafalkannya.Sitem pengajaran semacam ini masih digunakan sampai sekarang.
Dari sudut pandang organisasi, sistem madrasah mencapai puncak perkembangannya pada masa kerajaan ‘Utsmani dimana sistem tersesbut dilembagakan secara sistematis, dipelihara danditunjang oleh pejabat ‘Syaikh al-islami’ dengan kecakapan dan efisiensi administrative yang tinggi.Kaum ulama diorganisir dengan suatu hirarkhi dan hampir-hampir merupakan kasta tersendiri dalam masyarakat ‘Utsmani.Sarana-sarana belajar tradisional ini sampai sekarang masih tetap berfungsi diseluruh dunia Islam di luar Turki.Yang paling terkemuka diantaranya yaitu Universitas Al-Azhar di Kairo.
Tradisi intelektual yang dibangun pada masa klasik di masa Rasulullah Muhammad Saw, telah begitu menentukan bentuk dan corak pemikiran Islam sehingga apa yang berkembang pada abad pertengahan lebih bersifat konservatif. Jika pada abad-abad sebelumnya bisa dirasakan pesatnya perkembangan pendidikan Islam yang ditandai dengan semangat mengkritik, polemik dalam bentuk karya tulis, munazarah dan pengajaran di madrasah, halaqah di masjid-masjid dan perpustakaan, maka pada abad pertengahan ini mengalami kebekuan dan konservatisme dalam sistem pendidikan. Sehingga masa ini dikenal dengan masa taqlid, karena kegairahan berijtihad telah punah.

2.Watak Ilmu Pengetahuan Islam Zaman Pertengahan
Awal mula dan tersebarnya ilmu pengetahuan Islam pada masa-masa awal Islam berpusat pada individu-individu dan bukannya sekolah-sekolah.Kandungan pemikiran Islam juga bercirikan usaha-usaha individual.Tokoh-tokoh istimewa tertentu, yang telah mempelajari hadits dan membangun sistem-sistem theology dan hukum mereka sendiri di seputarnya, menarik murid-murid dari daerah yang jauh yang mau menimba ilmu pengetahuan dari mereka. Karena itu, ciri utama pertama dari ilmu pengetahuan tersebut adalah pentingnya individu guru. Sang guru, setelah memberikan pelajarannya seluruhnya, secara pribadi memberikan suatu sertifikat (ijazah) kepada muridnya yang kemudian diizinkan untuk mengajar. Bahkan ijazah-ijazah tersebut seringkali dikeluarkan atas nama guru, dan bukan atas nama sekolah. Banyakilmuwan yang termasyhur bukanlah produk madrasah-madrasah, tetapi adalah bekas-bekas murid informal dari guru-guru individual. Berkaitan erat dengan pentingnya guru secara sentral ini adalah fenomena yang dikenal sebagai ‘mencari ilmu’ (tholabul ‘ilm). Mahasiswa-mahasiswa pengembara melakukan perjalanan-perjalanan yang jauh, kadang-kadang dari ujung ke ujung dunia Islam, dengantujuan untuk mengikuti kuliah dari guru-guru yang terkenal.
Sistem madrasah, yang secara luas didasarkan pada sponsor dan kontrol negara, umumnya telah dipandang sebagai sebab kemunduran dan kemacetan ilmu pengetahuan dan kesarjanaan Islam. Tetapi madrasah dengan kurikulumnya yang terbatas, hanyalah gejala, bukan sebab sebenarnya dari kemunduran ini, walaupun, tentu saja, ia mempercepat dan melestarikan kemacetan tersebut.
Tetapi sebab sebenarnya dari penurunan kualitas ilmu pengetahuan Islam adalah kekeringan yang gradual dari ilmu-ilmu keagamaan karena pengucilannya dari kehidupan intelektualisme awam yang juga kemudian mati. Dari penentangan mereka yang berhasil terhadap kaum mu’tazillah dan syi’ah, para ‘ulama’ telah memperoleh pengalaman dalam mengembangkan ilmu-ilmu tersebut. Ini tidak hanya mempunyai hubungan dengan faktor yang relatif eksternal, yaitu sistem sekolah yang secara fisik jadi terisolir dari oposisi. Bahkan yang lebih penting lagi adalah cara dimana isi dari ilmu-ilmu ortodoks tersebut dikembangkan, hingga dapat diisolir dari kemungkinan tantangan dan oposisi.

3.Kurikulum dan Pengajaran
a.Tujuan Pendidikan
Pada masa nabi Muhammad SAW, masa khalifah rasyidin dan Muawiyah, tujuan pendidikan hanya satu, yaitu keagamaan semata-mata. Mengajar dan belajar karena Allah serta mengharapkan keridhaannya.
Sedangkan pada masa Abbasiyah tujuan pendidikan itu telah bermacam-macam karena pengaruh masyarakat pada masa itu. Adapun tujuan itu dapat disimpulkan sebagai berikut:
1)Tujuan keagamaan dan akhlak
2)Tujuan kemasyarakatan
3)Cinta akan ilmu pengetahuan
4)Tujuan kebendaan
Keterangan ini, sebagaimana seorang ulama An namiry al Quthubi yang hidup di tahun 463 H menyatakan bahwa tuntutlah ilmu, karena ilmu itu menjadi penolong dalam agama, menajamkan otak, teman ketika sendirian, berfaedah dalam majlis-majlis dan menarik harta benda.

b.Materi Pendidikan
Sebelum membahas materi pendidikan, perlu diketahui bahwa tingkat pengajaran kepada peserta didik tergantung tingkatanya, yaitu:
1)Tinkat sekolah rendah (kuttab), tempat belajarnya di kuttab, rumah, istana, toko-toko dan di pinggir-pinggir pasar.
2)Tingkat sekolah menengah, tempat belajarnya di masjid, majelis sastra dan ilmu pengetahuan.
3)Tingka perguruan tinggi, tempat belajarnya di Baitul Hikmah dan Darul ilmu di Mesir, masjid dll.
Untuk peserta didik tingkat rendah disediakan materi ijbari dan materi ikhtiari. Adapun materi ijbari adalah: al Qur’an, shalat, doa, sedikit ilmu nahwu dan bahasa Arab, membaca dan menulis. Sedangkan materi yang Ikhtiari adalah: berhitung, semua ilmu nahwu dan bahasa Arab, syair-syair dan tarikh Arab.
Sedangkan untuk anak-anak amir dan penguasa, materi tingkat rendah sedikit berbeda.Di istana-istana biasanya ditegaskan pentingnya pengajaran khitabah, ilmu sejarah, cerita perang, cara-cara pergaulan, disamping ilmu-ilmu pokok seperti Qur’an, syair dan fiqh.
Pada masa ini, tidak ada ketentuan pasti tentang batasan umur bagi seseorang yang belajar di kuttab.Para murid yang memasuki lembaga pendidikan dasar ini bervariasi. Ada murid yang mulai memasuki kuttab berumur lima tahun ada pula yang tujuh tahun bahkan ada yang sepuluh tahun. Nampaknya hal ini karena kesiapan peserta didik, baik fisik, mental ataupun dari segi ekonomi.
Setelah usai menempuh pendidikan tingkat rendah, murid bebas memilih bidang studi yang ingin ia dalami di tingkat selanjutnya, umumnya rencana pengajaran itu adalah: al Quran, bahasa Arab dan kesusasteraannya, Fiqh, Tafsir, Hadist, Nahwu/saraf/Balaghah, ilmu-ilmu pasti, Mantiq, Falak, Tarikh, ilmu-ilmu alam, kedokteran dan musik.
Disamping itu semua, ada mata pelajaran yang bersifat kejuruan, misalnya untuk menjadi juru tulis di kantor-kanntor. Selain dari belajar bahasa, murid disini harus belajar surat menyurat, pidato, diskusi, berdebat, serta tulisan indah.
Selanjutnya pada tingkat tinggi untuk materi pelajarannya tidak sama diseluruh negara Islam. Umumnya perguruan tinggi terdiri dari dua jurusan, yaitu:
1)Jurusan ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab serta kesusteraanya (ilmu naqliyah). Materinya adalah tafsir al Quran, hadist, fiqh dan usul fiqh, nahwu/saraf, balagah, bahasa Arab dan kesusteraanya.Saat itu belum ada spesialisasi dalam satu materi pelajaran seperti sekarang ini, spesialisasi itu lahir kemudian sesudah para peserta didik selesai dari perguruan tinggi.
2)Jurusan ilmu-ilmu hikmah (ilmu-ilmu aqliah). Materinya adalah: mantik, ilmu-ilmu alam dan kimia, musik, ilmu-ilmu pasti, ilmu ukur, falak, ilahiyah, ilmu hewan, ilmu tumbuh-tumbuhan, kedokteran.

c.Pendidik
Dilihat dari segi sosial ataupun penghasilan, pendidik dapat digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu:
1)Para muallim kuttab
Guru model ini memiliki status sosial yang rendah karena kualitaskeilmuan mereka yang dangkal dan kurang berbobot.
2)Para muaddib
Guru ini mempunyai status social yang tinggi, karena syarat untuk menjadi muaddib sangat sulit, diantaranya: alim, berakhlak mulia dan dikenal masyarakat.
3)Para guru yang memberikan pelajaran di masjid-masjid dan disekolah-sekolah.
Guru ini beruntung karena mendapat penghormatan dari masyarakat karena penguasaan ilmu pengetahuan yang mendalam.

d.Metode Pengajaran
Pada masa dinasti Abbasiyah metode pendidikan yang digunakan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu:
1)Metode lisan (dikte, ceramah, qiraah dan diskusi)
Metode dikte adalah metode penyampaian pengetahuan yang dianggap baik dan aman karena dengan dikte ini murid mempunyai catatan yang akan dapat membantunya ketika ia lupa. Metode ini dianggap penting, karena pada masa klasik buku-buku cetak seperti masa sekarang sulit dimiliki.
Metode ceramah adalah guru menjelaskan dan murid mendengarkan.
Metode qiraah  biasanya digunakan untuk belajar membaca sedangkan diskusi merupakan metode yang khas pada masa ini.
2)Metode menghafal (ciri umum pendidikan pada masa ini)
Murid-murd harus membaca secara berulang-ulang pelajarannya sehingga pelajaran tersebut melekat pada benak mereka.
3)Metode tulisan (pengkopian karya ulama)
Metode tulisan adalah pengkopian karya-karya ulama. Dalam pengkopian buku-buku terjadi proses intelektualisasi hingga tingkat penguasaan ilmu murid semakin meningkat.
Ini hampir sama halnya dengan pendidikan yang berada di pesantren. Kalau sekarang ini di pesantren materi yang diberikan lebih berkembang. Dalam pendidikan pesantren, memilki tujuan untuk membentuk pribadi santri, memantapkan akhlak dan melengkapinya dengan ilmu pengetahuan. Materi pelajaran pesantren kebanyakan bersifat keagamaan yang bersumber dari kitab-kitab klasik yang meliputi sejumlah bidang studi, antara lain: tauhid, tafsir, hadits, fiqih, ushul-fiqih, tasawuf, bahasa arab (nahwu, sharaf, balaghah dan tajwid), mantiq dan akhlak.
Materi pelajaran ini berdasarkan tingkat kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yang dibahas dalam suatu kitab, sehingga terdapat tingkat awal, tingkat menengah dan tingkat lanjut. Materi pelajaran di pesantren pada awalnya hanya mengajarkan membaca Al-Qur’an dan praktik ibadah kemudian berkembang pada mata pelajaran yang lain.

Daftar Pustaka
Abuddin  Nata, Sejarah Pendidikan Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hlm. 271
Fazlur Rahman, Islam, Pustaka, Bandung, 1984, hlm. 268
Fazlur Rahman, ISLAM, Pustaka, Bandung, 1984, hlm. 269-271
Ahmad Muthohar, Ideologi Pendidikan Pesantren, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2007, hlm. 24
Share:

Selasa, 04 Desember 2018

pendidikan wiraswasta dan operasionalisasinya

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Suatu fakta dalam masyarakat menunjukan bahwa lapangan kerja semakin sempit sedang tenaga kerja tamatan pendidik dan formal dari berbagai jenjang pendididkan semakin melimpah dan berjubel memperebutkan tempat di lapangan kerja, baik sebagai pegawai negeri sipil, pegawai swasta, buruh musiman, buruh harian, dan lain sebagainya.
Permasalahan pokoknya adalah, bagaimana mengubah pola pikir masyarakat dari mental pencari kerja menjadi pencipta kerja. Sesungguhnya, dari pengalaman sejarah dapat diketahui bahwa mental pencari kerja ini pun termasuk strategi kolonial belanda untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa pemohon kerja yang selanjutnya menjadi bangsa yang senantiasa hidup dalam ketergantungan terhadap sang penjajah.
Untuk mengatasi semakin banyaknya penganggur yang belum mendapatkan pekerjaan, perlu semakin dini memberikan pendidikan wiraswasta serta bekal-bekal keterampilan kepada peserta didik, agar bila mereka tidak mampu melanjutkan studi atau belum menemukan lapangan pekerjaan, mereka dapat mengatasinya dengan merintis lapangan kerja sesuai bidang keterampilannya yang disertai sikap mental wiraswasta, yang berani, ulet, tekun, aktif, kreatif, bermoral, memiliki kepekaan terhadap arti lingkungan, mandiri, menjadi pencipta lapangan kerja dan bukan sekedar pencari kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran serta mengentaskan kemiskinan anggota-anggota masyarakat lainnya.

B.Rumusan Masalah
1.Apa pengertian atau definisi wiraswasta ?
2.Mengapa pendidikan wiraswasta perlu digalakkan ?
3.Bagaimana operasionalisasi kewiraswastaan itu ?

C.Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah
1.Untuk mengetahui Pengertian atau definisi wiraswasta
2.Untuk mengetahui pendidikan wiraswasta perlu digalakkan
3.Untuk mengetahui operasionalisasi kewiraswastaan itu

D.Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini untuk mengantisipasi semakin banyaknya pengangguran yang belum menemukan pekerjaan, khususnya bagi para peserta didik yang tidak lagi mampu untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga mereka bisa menciptakan lapangan kerja sendiri dengan bekal keterampilan wiraswasta yang dimilikinya.

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Wiraswasta
Drs. Ary H. Gunawan (2010:75) mengemukakan bahwa Pengertian atau definisi wiraswasta dapat ditinjau secara nominal dan secara real. Definisi nominal dari kata wiraswasta ( dari bahasa Sansekerta ) ialah :Wira = berani, perkasa, utama.Swa = ( sendiri ) berdiri menurut kekuatan sendiri = mandiri.Sta = ( berdiri ). Definisi real :Wiraswasta adalah keberanian, keperkasaan, keutamaan, dalam memenuhi kebutuhan hidup serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yangada pada diri sendiri.
Dengan kata lain dapat juga disebutkan bahwa wiraswasta adalah sikap hidup yang memiliki keberanian, keperkasaan serta keutamaan dalam merespons setiap tantangan hidup dengan mengutamakan kekuatan sendiri. Berikut ini pengertian wiraswasta menurut beberapa ahli :
Menurut Sumahawijaya (1980:83) wiraswasta memuat sifat keberanian, keutamaan, keteladanan, dan semangat yang bersumber dari kekuatan sendiri. Sedangkan menurut Suryo mengatakan bahwa secara definitif wiraswastawan adalah orang yang memiliki sifat mandiri, berpandangan jauh, kreatif, inovatif, tangguh & berani menanggung resiko dalam pengelolaan usaha & kegiatan yang mendatangkan keberhasilan. Dan menurut Suhadi mengemukakan bahwa wiraswasta memuat sejumlah karakteristik seperti percaya pada kemampuan diri sendiri, berpandangan luas jauh ke depan, mempunyai keuletan mental, lincah dalam berusaha.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli diatas maka pengertian wiraswasta bukan hanya sekedar usaha swasta atau kerja sambilan di luar dinas Negara, melainkan suatu sikap hidup yang berani penuh tanggung jawab dan menghadapi resiko atas perbuatan yang dilakukanya secara ulet, tabah, dan tekun serta disiplin dalam usaha memajukan prestasi kekaryaan Negara dengan bertumpu pada kekuatan diri sendiri. Hal ini bukan berarti bahwa manusia wiraswasta selalu berkarya sendirian tanpa keikutsertaan orang lain, ia tetap terbuka untuk bekerjasama dengan orang lain sebagai mahluk sosial.
Pendidikan wiraswasta merupakan usaha sadar menyiapkan dan membekali peserta didik dengan sikap hidup yang memiliki keberanian, keperkasaan, keutamaan dalam merespons setiap tantangan hidip dengan mengutamakan pada kekuatan sendiri, melalui kegiatan-kegiatan akademis, non akademis, latihan, dan bimbingan. (Gunawan: 2010:76).
Dengan demikian makna keseluruhan wiraswasta adalah mengupayakan salah satu jalan keluar untuk mengurangi pengangguran, khususnya pengangguran jenis ketiga ( werkoozen), dan anggota masyarakat bertaraf kehidupan dengan pemilikan serba minim secara material dan atau secara spriritual, dengan pemberian bekal pendidikan. Wiraswasta, suatu usaha sadar untuk menyiapkan dan membekali peserta didik dengan sikap yang memiliki keberanian, keperkasaan, keutamaan dalam merespons setiap tantangan hidup dengan mengutamakan kekuatan sendiri, melalui kegatan-kegiatan akademis, nonakademis, latihan, dan bimbingan, khususnya pembekalan keterampilan-keterampilan tepat guna. (Gunawan: 2010:77).

B.Mengapa Pendidikan Kewiraswastaan Perlu Digalakan ?
Sebagaimana telah di uraikan dalih kolonial Belanda agar pegawai negeri tidak menurunkan citra priayi, adalah dengan melarang mereka melakukan kerja sambilan alias berwiraswasta, agar tidak menumbuhkan jiwa berani, perkasa, tekun, ulet, dan sebagainya yang dapat membahayakan dominasi penjajah di bumi Indonesia.
Sebaliknya warga bumi putera harus menjadi penurut pada penjajah, tidak kreatif, serta tidak patriotik. Mereka harus menjadi priayi, sebagai pencari kerja, alias menjadi orang-orang lemah senantiasa hidup dalam ketergantungan kepada sang majikan, penurut, patuh, dan tidak berinisiatif. Bahkan para penjabat harus menjadi tangan-tangan penjajah yang ikut menjajah bangsanya sendiri.Ternyata sikap menjadi penjilat dan ngolor berasal dari sini.
Dambaan menjadi priayi atau pegawai negeri dan engan berwiraswasta ternyata masih bergema sampai di alam kemerdekaan ini. Memang dengan pelaksanaan politik adu domba dan pecah belah, telah dapat menyingkirkan sifat-sifat asli bangsa Indonesia seperti gotong-royong, persatuan dan kesatuan, aktif dan kratif, termasuk berwiraswasta atau berwirausaha.Ternyata, maksud penjajah yang melarang para priayi khususnya untuk berwiraswasta adalah agar bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa pemberani, kreatif, tekun, ulet, berdisiplin, patriotik, dan sebagainya sebagai sikap mental wiraswasta.
Dan sekarang setelah tiada lagi penjajahan di bumi Indonesia, haruslah segera dibangkitkan segala kebiasaan serta semangat mandiri, patriotik, berkesadaran nasional yang tinggi, menjaga persatuan dan kesatuan, dan tidak ketingalan adalah meningkatkan pendidikan wiraswasta untuk menumbuhkan kembali jiwa serta sikap mental wiraswasta. Sikap mental ini yaitu progresif, ulet dan tekun, optimis, disiplin, bertanggung jawab, aktif dan kreatif, berkemauan keras, jujur, bermoral tinggi, yakin akan potensi diri sendiri untuk mandiri, serta berani ambil resiko atas karya dan inisiatifnya.
Dengan demikian harus berangsur-angsur dikurangi dambaan untuk menjadi pegawai negeri, menjadi pencari kerja, dan harus di pertinggi minat untuk menjadi wiraswastawan atau wirausahawan, terutama sebagai pencipta lapangan pekerjaan baru yag membantu mengurangi pengangguran, selanjutnya dapat pula mengurangi kemiskinan. (Dikutip Gunawan, 2010:78-79).

C.Bagaimana Operasionalisasi Kewiraswastaan Itu ?
Secara umum dapat dikatakan, bahwa manusia wiraswasta ialah orang yang memiliki potensi untuk berprestasi. Ia senantiasa memiliki motivasi yang besar untuk maju berprestasi. Dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun, manusia wiraswasta mampu menolong dirinya sendiri dalam mengatasi permasalahan hidupnya. Di samping itu manusia wiraswasta mampu mengatasi kemiskinan, baik kemiskinan lahir maupun batin tanpa menunggu pertolongan dari negara atau instansi pemerintah/sosial.(Dikutif Gunawan, 2010:79).
Menurut Gunawan, (2010: 80) ciri-ciri manusia wiraswasta yang pokok adalah memiliki kepribadian yang kuat, dengan jabarannya sebagai berikut :
1.Memiliki moral yang tinggi (takwa kepada tuhan yang maha esa, memliliki kemerdekaan batin, keutamaan, kasih sayang terhadap sesama hidup, loyalitas hukum, berkeadilan, bertepa diri, meyakini kebenaran hukum karma). (wasty Soemanto: 1984:67).
2.Memiliki sikap mental wiraswasta (berkemauan keras mencapai tujuan hidup, mengenal jati dirinya, disiplin diri, memiliki ketahanan fisik dan mental, tahan uji, sabar, tabah, ulet, jujur, percaya diri, bertanggung jawab, serta memiliki pemikiran yang kreatif dan konstruktif).
3.Memiliki kepekaan terhadap arti lingkungan (mengenal, menginterprestasikan, mengolah,dan menikmati alam semesta secara bertanggung jawab).(Dr. Suparman sumahamijaya:1984:200).
4.Memiliki keterampilan berwiraswasta (keterampilan menangkap gejala, berpikir kreatif/variatif untuk memecahkan berbagai macam permasalahan, keterampilan mendisain, keterampilan dalam membuat keputusan, keterampilan dalam kepemimpinan, keterampilan menajerial, keterampilan dan keluwesan dalam bergaul antarmanusia (human relation). (Dr. Suparman sumahamijaya:1984:201).
Mendidik manusia wiraswasta dapat dilakukan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat dengan menggunakan kepemimpinan pancasila, yaitu “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Terbentuknya sikap mental wiraswasta harus didukung dengan penguasaan keterampilan-keterampilan tepat-guna, disertai etos kerja yang tinggi (mulai dari mencintai kerja, terjaminya keamanan kerja, makin meningkatkan gairah kerja, diimbangi dengan imbalan kerja yang memadai, sehingga menimbulkan kelahapan kerja, atau dalam bahasa belanda: arbeidsliefde, arbeidsvreede, arbeidsvreugde met geode tegenprestatie, en arbeidslust).
Tidak sedikit calon wiraswastawan yang takut gagal melangkah karena alasan modal. Hal ini sesungguhnya sangat tidak beralasan, karena pada prinsipnya berwiraswasta dengan modal yang sudah siap bahkan melimpah, sebenarnya tidak termasuk seni berwiraswasta. Sebaliknya justru mereka harus melangkah dari nol, kemudian dengan sikap mental wiraswasta merayap dan merangkak sampai bangkit berdiri mandiri hingga mencapai kejayaan.
Modal wiraswasta adalah kepribadian yang kuat, ulet, dan tekun, dan seterusnya, sebagaimana telah dijabarkan. Kini kemudahan-kemudahan sistem perbankan juga sangat mendukung usaha-usaha wiraswasta, tetapi dengan terlebih dulu menunjukan prestasi serta bonafiditas usaha anda. Selanjutnya berbagai jenis kredit dari bank dapat diajukan untuk menigkatkan/mengembangkan usaha anda.
Pendidikan wiraswasta dalam lingkungan keluarga diawali dengan pemberian contoh-contoh yang positif dari orangtua serta pembentukan-pembentukan pembiasaan kewirawsastaan, seperti senantiasamenyelesaikan/bertanggung jawab terhadap segala urusannya sendiri. Cotohnya, anak-anak (yang sudah cukup kemampuannya) agar menata kembali tempat tidurnya segara setelah bagun tidur, mencuci piring dan gelas minumannya, mencuci pakainya sendiri, menata kembali mainannya setelah selesai bermain, dan sebagainya.
Pedidikan wiraswasta di sekolah (pendidikan formal) serta di masyarakat (pendididkan nonformal) oleh para guru serta para pemuka masyarakat dapat melalui kurikulum yang terprogram dan dapat lebih baik dilaksanakan secara normatif.Jadi melalui Tri Pusat Pendidikan, sikap mental wiraswasta dapat meningkatkan kariernya, dengan sikap mental wiraswasta dapat meningkatkan kemampuan manajerialnya, misalnya kursus computer, dengan menempuh pendidikan-pendidikan nonformal, manajemen keuangan, kepemimpian, dan sebagainya atau kuliah di pergururan tinggi swasta di luar jam kerja, termasuk mengikuti kuliah universitas terbuka (UT).
Bagi para penganggur, putus sekolah, pegawai/karyawan negeri/swasta tidak terkecuali, semua berhak berwiraswasta, asal tidak mengecewakan tugas pokoknya, demi meningkatkan taraf hidup serta kehidupan sehari-hari. Misalnya, mulai dengan usaha-usaha kecil-kecilan (menjual pisang goreng, makanan ringan, dan sebagainya), usaha sedang sampai besar. Juga bisa beternak kecil sampai tumpangsari, mendirikan bengkel motor, mobil, elektronika, dan sebagainya.Semua melalui perintisan yang dilakukan dengan ulet, tekun, disiplin, manajemen yang baik, dan sebagainya sesuai sikapmental wiraswasta untuk menuju sukses.
Landasan psikologisnya adalah “trial and error sampai Leibnitz”. Peningkatan sumber daya manusia Indonesia harusnya senantiasa diupayakan untuk kesinambugan pembanguan secara mental, spiritual, material, personal, dan nonpersonal, khususnya penanaman sikap mental wiraswasta yang sedini mungkin dalam tri pusat pendidikan untuk menumbuh-kembangkan generasi yang tangguh, demi membantu mengurangi pengangguran dan kemiskinan, perluasan lapangan kerja, serta peningkatan mutu tenaga kerja Indonesia. (Gunawan : 2010:81-82).

BAB III
PENUTUP
A.Simpulan
Jadi, pendidikan wiraswasta merupakan usaha sadar menyiapkan dan membekali peserta didik dengan sikap hidup yang memiliki keberanian, keperkasaan, keutamaan dalam merespons setiap tantangan hidup dengan mengutamakan pada kekuatan sendiri, melalui kegiatan-kegiatan akademis, nonakademis, latihan, bimbingan, khususnya pembekalan keterampilan-keterampilan tepat guna.
B.Saran
Penulis mengajak pembaca untuk bisa merealisasikan pendididkan kewiraswastaan ini dikehidupan masyarakat, agar terciptanya sumber daya manusia di indonesia yang potensial dan mandiri.

DAFTAR RUJUKAN
Gunawan, Ary H. Sosiologi Pendidikan : suatu analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan Jakarta : Rineka cipta. 2010.
Sumahamijaya, Suparman. Human Relation. Jakarta : Bumi Aksara. 1984.
Soemanto, Wasty. Sosiologi Pendidikan : Nilai Moral Dalam Masyarakat. Bandung : Pustaka, 1984.
http://www.kompasiana.com/januar01/entrepreneurship-solusi-cerdas-mengatasi-pengangguran-dan-kemiskinan-di-indonesia. Di akses 14-10-2016:10.45
http://jurnalilmiahtp2013.blogspot.com/2013/12/mengatasi-pengangguran-dengan-jiwa.html. Di akses 14-10-2016:10.49
Share:

Minggu, 02 Desember 2018

A STUDY OF PRE-SEQUENCES IN LEA TO THE RESCUE MOVIE

ZAKIYATUL ULFA
Abstract: This study is concerned with pre-sequences. This study used Yule (1996) theory to analyzed pre-sequence in Lea to the Rescue movie. Relating to the statement above, this study was intended to answer two formulated research problems, namely; (1) what are the types of pre-sequences found in Lea to the Rescue movie? And (2) what are the functional features of pre-sequences found in Lea to the Rescue movie? Those problems were related with the utterances in Lea to the Rescue Movie. This study used descriptive qualitative design. The source of data was Lea to the Rescue Movie. The data were all of the utterances by the characters in Lea to the Rescue Movie that contained pre-sequences. The main instrument in collecting, classifying, and analyzing the data was the writer herself. The method to collect the data was content analysis. The method to analyze the data was interactive data analysis. The data of this study showed that there were 40 data that were found by the writer. The data consist of 20 data of pre-request, 19 data of pre-announcement and 1 datum of pre-invitation.
Keywords: Pre-sequences, Pre-sequences in Request, Pre-sequences in Announcement, Pre-sequences in Invitation

INTRODUCTION
Language is a tool used by people to communicate with others. Language is the most effective and practical means of communication. People use language to exchange information or convey their ideas or feelings such as ordering, offering, promising, etc. A communication happens when the hearer can understand what the speaker says.
A communication of a human with other human using language could be called as conversation. To have successful conversation, each interlocutor has to perform some conversational principles such as the cooperative and the politeness principle. Among them, politeness plays an important role in making utterances in making communicative process. Evenly, it also contribute in helping speakers decide whether or not to produce the first pair part of the base sequence in order to avoid failure in communication.
The failures are often vaguely diagnosed as impolite behavior on the part of the other person. One of the strategies which can minimize this unexpected result is using pre-sequences. In order to have an insight into the problem, the writer chooses a study of pre-sequences.
Pre-sequences are sequences which produce before the main utterances uttered by the participants in conversation. Rather than utter the main point directly to the hearer, pre-sequences are some utterances that built to prefigure the main point that going to be uttered in the next turn. Yule (1996) divided the pre-sequences into three types; those are pre-sequences in request, pre-sequence in invitation, and pr-sequences in announcement. All of the types are very important to know to make the speaker’s face feels comfortable with the utterance, to make the successful communication, and also to make the polite utterance. For better explanation check this following example.
A: are you busy right now? (Pre-sequences)
B: NO, why?
A: I’m baking a cake now. Won’t you come over?
(Source: Ngò Thi, 2010)
In the conversation above, the speaker A said “are you busy right now?” for a pre-sequence, while it means that speaker A wants to give an invitation to B, but A asks first to know whether B busy or not. B said “No, why”, A gives the invitation “I’m baking a cake now. Won’t you come over?” Based on the example above, the speaker A uses pre-sequences to survey if the invitation can be accepted. If B receives a good sign from the hearer, the speaker A will continue to give the official invitation. In the case of receiving a bad sign, speaker A can save the invitation. Therefore, both the speaker and the hearer will not feel unpleasant, they still maintain the good relationship.
The writer chooses to analyze pre-sequences because sometime people do not realize when he or she uses pre-sequences before uttered the main point that he or she wants to deliver to the others in their daily conversation. So pre-sequences are very important to know and use in daily life, as explained above to make a successful communication, to make the speaker’s face feels comfortable with the utterances, and also to make the polite utterance. To make it is clearly with example; the writer relates the study with the movie.
Movie is an image of life. People watch movie as one of their ways to get information, entertainment, education, experiences, or even moral values. The development of the movies could be in the aspect the video quality, the story to tell, even the language uttered by the actress. That is why the writer analyzes a movie. So with the movie the writer can explains and divide the utterance of the movie related to the pre-sequences.
The writer chooses to analyze a movie entitled Lea to the Rescue Movie, which the story is about the adventure of American girl Lea. She rescues other people life, she is a hero. She rescues her father, her brother etc. This movie is directed by Nadia Tass, the industrious young Lea Clark travel to Brazil with her mother when they learn that Lea’s older brother Zac has gone missing. Together with Zac’s girlfriend Paula, they search Zac in Manaus. Lea and Paula search Zac in Amazon rainforest, they find a tribe. The tribe is secret and protected until finally they find Zac. Based on the story carried the movie, there will be many request, announcement, and invitation uttered by all characters in this movie, and some of request, announcement, and invitation might be containing pre-sequences. Another reason of why the writer analyzes Lea to the Rescue is because this movie is great.
The theory used by the writer to analyze pre-sequences on the movie Lea to the Rescue. The theories of pre-sequences are proposed by Yule (1996). Previous studies have been conducted by,.Ngo Thi Bich Hâ (2010), Pham Thi Thu Thao (2011) and Arumtyas Puspitaning Padmasari (2006). Ngo Thi Bich Hâ (2010) analyzed about pre-sequences in Invitation in English versus Vietnamese, Pham Thi Thu Thao (2011) analyzed pre-sequences in English versus Vietnamese, and Arumtyas Puspitaning Padmasari (2006) analyzed about pre-sequences and the responses of the pre-sequences. Meanwhile in this analysis, the writer analyzes the sequences of pre-sequence and the type of pre- sequences.

METHODOLOGY
The writer employed a descriptive qualitative research because this study analyzes text. The writer used Lea to the Rescue movie as the source of data for this study. The data were sentences uttered by all characters in the Lea to the Rescue movie that contained pre-sequences. In conducting this study, the key instrument is the writer herself. The writer used content analysis method of collecting the data.
FINDINGS AND DISCUSSION
FINDINGS
The data of pre-sequences were taken from the utterances by the characters in Lea to the Rescue Movie. The writer found fourty data of pre-sequences that consist of twenty data of pre-request, nineteen data of pre-announcement and one datum of pre-invitation. The data divides in the following table:
Pre-sequences
NO Types of Pre-Sequences Frequency
1. Pre-Sequences in Request 20
1. Pre-Sequences in Invitation 1
2. Pre-Sequences in Announcement 19
TOTAL 40
The Syntactic Features of Pre-Sequences
No
Forms of Pre-Sequences Frequency
1 Declarative Positive Sentence 20
2 Interrogative Sentence 18
3 Imperative Sentence 2
TOTAL 40
The Functional Features of Pre-Sequences
NO Forms of Pre-Sequences Frequency
1. Declarative Positive Sentence about Explaining 3
2. Declarative Positive Sentence about Notifying 9
3. Declarative Positive Sentence about Wishes 1
4. Declarative Positive Sentence about Guessing 1
5. Declarative Positive Sentence about Introducing 2
6. Declarative Positive Sentence about Reminding an Expressing 1
7. Declarative Positive Sentence Confirming. 2
8. Declarative Positive Sentence Surveying 1
9. Interrogative Sentence about Notifying 1
10. Interrogative Sentence about Surveying 2
11. Interrogative Sentence about Warning 1
12. Interrogative Sentence about Confirming 5
13. Interrogative Sentence about Guessing 1
14. Interrogative Sentence about Suggesting 2
15. Interrogative Sentence about Begging 3
16. Interrogative Sentence about Availability 1
17. Exclamatory Sentence about persuading 1
18. Exclamatory Sentence about offering 1
19. Imperative Sentence about persuading 1
20. Imperative Sentence about begging 1
TOTAL 40

DISCUSSION
Types of Pr-sequences
According to Yule (1996) pre-sequences are the understanding how participant in an interaction inevitably understand more than is said the basic assumption, from the perspective of politeness. Yule (1996) divided the type of Pre-sequences into three types; these are pre-sequences in request, pre-sequences in invitation, and pre-sequences in announcement.
A. Pre-sequences in Request
Pre-sequences in Request are the utterances that are uttered by speaker to speaker’s face before giving a request. Below is the example of pre-sequences in request in Lea to the Rescue Movie.

Paula : Mrs. Clark? Hello, hi, (Pre-request)
Carol : (silent) (silent)
Paula : Could Lea sleep over tonight? (Request)
Carol : Did you say, sleep over? (Accept)
Sure, yes, thank you.

This conversation happens in the rain forest when Paula gets a service of her phone, and carol calls. Paula says “Mrs. Clark? Hello, hi,” it is a pre-sequence in request, and Carol is silent because the network loses, and then Paula gives the request by saying “Could Lea sleeps over tonight?” and Carol accepts the request by saying “Did you say, sleep over?, Sure, yes, thank you.”. Actually Paula lies because she and Lea are in forest to search Zac. She afraid, Carol is angry because Paula brings Lea to the rain forest so she lies and says that Lea wants to sleep in Paula’s apartment.

Lea : Excuse me? Um... I was on a jeep tour with my parents, and I got mad and stormed off. And now I'm lost (Pre-request)
Poacher : (silent) (silent)
Lea : Can I use your phone? (Request)
Poacher : (want to catch lea) (=stop)

This conversation happens when Lea, Paula and Aki search the poacher, and then they meet the poacher. Lea braves to trap the poacher, and she says “Excuse me? Um... I was on a jeep tour with my parents, and I got mad and stormed off. And now I'm lost, it is pre-sequence in request, the poacher is silent and smile, then Lea gives request “Can I use your phone?” , and then poacher wants to catch Lea and pursue her, but Lea is success to trap the poacher.
B. Pre-sequences in Invitation
Pre-sequences are also commonly used in making invitations. Pre-sequence in invitation is the pre-sequences that are uttered before the speaker utters the point that is invitation. The following example considered as pre-sequences in invitation is taken from Lea to the Rescue Movie.
Aki : This is symbol of my tribe. (Pre-invitation)
Lea : (listen) (go ahead)
Aki : Mother says come with us to village. (Invitation)
Aki : Be dark soon, Not safe here.
Lea : (Permit to her mom) (Accept)

This conversation happens when Lea and Paula meet with Aki’s mother in Amazon, actually this conversation is between Aki’s mother and Lea, because Aki’s mother doesn’t know about English so Aki be an interpreter. Lea has a book that given by her grandmother and the cover of the book there is the symbol of Aki’s tribe. “This is symbol of my tribe.” Aki’s mother says, it is a pre-sequence in invitation, then Lea listens and little shock why she has the Aki’s symbol. Aki’s says Mother says come with us to village, be dark soon, Not safe here.” It is the invitation by Aki to Lea and then Lea takes permit to her mom.
C. Pre-sequences in Announcement
Pre-sequence is also commonly used in giving an announcement. The pre-sequences that are uttered before the speaker utters the point is to give announcement, whether the response go-ahead or stop. Below is the example of pre-sequences in announcement in Lea to the Rescue Movie.
Lea : My name is Lea Clark, and my presentation is on Brazil (Pre- announcement)
Students : Listen (Go ahead)
Teacher : (smile and nod the head) (Go ahead)
Lea : I visited there last summer with my family to see my brother Zac, who works at an animal sanctuary. Brazil is the largest country in South America. The official language is Portuguese. Sixty percent of the Amazon's rainforest is in Brazil, but those are just the book facts. To really learn about Brazil, you must go there. (Announcement)

This conversation happens when Lea wants to present her presentation about her adventure in Brazil. Before she gives the announcement to her friends she uses pre-sequence in announcement. She says “My name is Lea Clark, and my presentation is on Brazil” she introduces herself, then her friends listen, and then she gives the announcement by telling her story “I visited there last summer with my family to see my brother Zac, who works at an animal sanctuary. Brazil is the largest country in South America. The official language is Portuguese. Sixty percent of the Amazon's rainforest is in Brazil, but those are just the book facts. To really learn about Brazil, you must go there.”
Luis : You know, there's a club down the street he likes, Noites Quentes. (Pre announcement)
Carol : Do you think he could have been there Tuesday night? (Go ahead)
Luis : It's possible; they open at 9:00. (Announcement)
Police : We'll be there (accept)
Carol : Thank you, Luis. Thank you, Bruno.

This conversation happens in Zac’s office when Carol and the police know that the last calling in Zac’s hand phone is from the office, and apparently Luis who called Zac, and Luis says “You know, there's a club down the street he likes, Noites Quentes.” It is pre-sequence in announcement that Luis uses, he uses to give the information after the utterance and Carol says “Do you think he could have been there Tuesday night?” it means the conversation goes ahead, and Luis gives the information that Zac possible goes to the club, he says “It's possible; they open at 9:00.” And the Police says “We'll be there” it means that the information is accepted.
The Functional Features of Pre-Sequences
Levinson (1983) in “pragmatics” discusses in detail, pre- sequences are built to prefigure the specific kind of action that they potentially precede, in other word pre-sequences are the utterance that utter by someone to speaker’s face before giving the main point what he or she wants in the next sequence, either in request, invitation or announcement. Based on the finding of the data, there are five forms of pre-sequences. The forms of pre-sequence could be in the form of Declarative sentence, interrogative sentence, imperative sentence, and exclamatory sentence.
A. Declarative Positive Sentence
Declarative sentences are primarily used to convey information under the form of statement such as “the book is red”, “the sky is blue” etc. in other word, this form of sentence is declare a statement to convey information. A declarative expresses some statement in the affirmative or negative form. Positive (Affirmative) sentences are sentences in which the subject is present and generally precedes the verb; the predicate is in the positive (affirmative), form. Negative sentences are sentences in which the subject is present and generally negating the verb.
In other way, people are making pre-sequence by uttering declarative statement related to the notifying, expressing wishes, guessing, introducing, reminding an expressing, surveying and confirming. Below is the example of Declarative positive sentences in Lea to the Rescue Movie.
Lea : My name is Lea Clark, and my presentation is on Brazil
Students : Listen

Lea makes pre-sequences by uttering declarative statement about introducing. Lea informs her name, and her presentation about what. This conversation is about pre-sequence in announcement; it is used by Lea to give an announcement or information after uttering the utterance.

Reporter : Lea, hi, I'm doing a piece for the Post Dispatch
Lea : (nod the head)

Reporter makes pre-sequence by uttering declarative statement about notifying, it is interpreted as pre-sequence in request. Reporter notifies Lea that she is doing a piece for the Post Dispatch.
Interrogative Sentence
Interrogative sentences (or Questions) express lack of information on a specific point and request the listener to supply missing information such as, “did you eat a cake?” are you a teacher? Etc, this form can called as question. In some case, people make pre-sequence by uttering interrogative statement related to the explaining, notifying, surveying, guessing, suggesting, begging, warning, availability confirming, offering, and persuading. And the writer found eighteen data in form of interrogative sentence. Below is the example of interrogative sentences in Lea to the Rescue Movie.
Lea: Did you hear my report?
Zac: (listen)

Lea makes pre-sequence by uttering interrogative statement about confirming. Lea utters “did you hear my report?” it is interpreted as pre-sequence in announcement. Lea confirms Zac did he hear her report.
Carol : Hello. Excuse me, do you speak English?
Carol makes pre-sequence by uttering interrogative statement about confirming. Carol utters “Hello. Excuse me, do you speak English?” It is interpreted as pre-sequence in announcement, Carol confirms the hearer of the phone, is the hearer can speak English?
Imperative Sentence
Imperative sentences (or Commands) are specialized for requesting action under the form of orders, invitations. For example “close the door!” this forms can also called a command or request someone to do something. In other way, people are making pre-sequence by uttering imperative statement related to the persuading and begging. And the writer found two data in the form of imperative sentence. Below is the example of imperative sentences in Lea to the Rescue Movie.
Zac : So come on
Lea : (seriously)

Zac makes pre-sequence by using imperative statement about persuading, Zac persuades Lea to agree for what Zac speak by saying so come one, it is interpreted as pre-sequence in request.

Aki : Shoes off, more easy
Paula : (silent)

Aki makes pre-sequence by using imperative statement about begging, Aki begs Paula to shoes off, Aki utters “Shoes off, more easy” it is interpreted as pre-sequence in request. Paula is just silent and does what Aki said.

CONCLUSION
This study concluded that pre-sequences are the utterances that uttered by someone to the speaker’s face before given the main point what he or she wants in the next sequence, either in request, invitation or announcement. The study found fourty data of pre-sequence, that consist of twenty data of pre-sequence in request, nineteen data of pre-sequence in announcement and one datum of pre-sequence in Invitation. All of the data are the utterances by the characters of Lea to the Rescue movie that include pre-sequence. While the writer analyzed the types of pre-sequences, the writer also analyzed the syntactic features of pre-sequences.
Based on the finding of the data, there are five forms of pre-sequences that usually people use to utter pre-sequences. The forms of pre-sequence could be in the form of declarative sentence, interrogative sentence, imperative sentence, and exclamatory sentence. The study found twenty data in the form of declarative sentence, eighteen data in form of interrogative sentence, two data in the form of imperative sentence and none of data in the form of exclamatory sentence. It could be in the form of declarative sentence about explaining, notifying, expressing wishes, guessing, introducing, confirming and reminding an expressing, interrogative sentence about explaining, notifying, surveying, guessing, suggesting, begging, warning, availability, confirming, offering, and persuading imperative sentence about persuading and begging.

REFERENCES
Bìch hâ, N. T. (2010). A Study of Pre-sequences in Invitation in English and Vietnamese. Danang: University of Danang
Bogdan, R. C. & Biklen, S. K. (1982). Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Method. Massachusetts: Allyn and Bacon, Inc
Brown, P. & Levinson, S. (1987). Politeness .Cambridge University Press
Farizi, B. (2016). A Study of Pre-sequences in Request in Breaking Bad Serial Movies. Bangkalan: Universiy of Trunojoyo Madura
Levinson, S. C. (1983). Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press
Padmasari, A. P. (2006). Pre-sequences in The Conversations between Red and Carrie Mae in Summer Stories by Nola Thacker. Surabaya: Petra Christian University Surabaya.
Phùòng, L. sT. (2011). A Study of Pre-sequences in Announcement in English versus Vietnamese. Danang: University of Danang
Thu Thao, P. T. (2011). A Study of Pre-sequences in English versus Vietnamese. Danang: University of Danang
Yule, G. (1996). Pragmatics. New York: Oxford University Press

Share:

Popular Posts

Label