Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Senin, 09 Mei 2016

Srikandi Fenomena dan Kenyataan

Srikandi Fenomena dan Kenyataan
Srikandi Fenomena dan Kenyataan
semua asa yang pernah terpisah dalam merajut sebuah harapan tanpa disadari, itu semua berjalan sebagai bagian ekosistem yang ada di kehidupan alam ini. entah apa yang hadir dalam alam bawah sadar manusia ini, merupakan anugerah untuk selalu kita syukuri walaupun selama ini seognya kita telah terlarut dalam alam pikiran yang tentunya sangat bertentangan dengan alam bawah sadar manusia.

Srikandi sebuah istilah yang digunakan salah satu putri Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Putri Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata diceritakan bahwa ia lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan Jawa dikisahkan bahwa ia menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata versi India.

fenomena ini akan menjadi kajian yang istimewa antara kenyataan alam bawah sadar dengan kenyataan yang ada.


Share:

Sabtu, 07 Mei 2016

FENOMENA MASYARAKAT MADURA DALAM PENGUKUHAN JATIDIRI DAN PENGARUH PERUBAHAN BUDAYA PASCA SURAMADU

FENOMENA MASYARAKAT MADURA DALAM PENGUKUHAN JATIDIRI DAN PENGARUH PERUBAHAN BUDAYA PASCA SURAMADU
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai salah satu suku bangsa terbesar ketiga di Indonesia ( sesudah suku Jawa dan suku Sunda ), suku bangsa Madura mempunyai posisi dan relung yang mapan di Indonesia. Karena tidak banyak kajian akademis mendalam seputar antropologi Madura yang sudah dilakukan orang, maka banyak pertanyaan yang belum bisa dijawab dengan memuaskan. Salah satunya, Mengapa manusia Madura yang berjaya di luar enggan melakukan investasi di pulaunya?.

Menyikapi hal tersebut, masyarakat Madura ingin membuktikan bahwa pulau yang berada di timur laut Pulau Jawa ini, bisa berjaya dan berkembang ditengah-tengah persaingan yang semakin ketat. Jika dikaitkan dengan perilaku manusia Madura, prospek kemajuannya seakan-akan terhalang oleh kekonservativan masyarakat Madura yang sejak semula selalu dilukiskan sebagai orang yang berwatak kasar, keras bicaranya, dan blak-blakan mengutarakan pendapatnya, mudah tersinggung, berdarah panas, beringas, serta tidak tahu adat sehingga tidak bisa bersopan santun. Semuanya itu sebenarnya merupakan pelukisan yang diambil dari sekumpulan cuplikan mengacak dari berbagai peristiwa, tempat, dan waktu yang terpisah-pisah.

Sejarah memang membuktikan bahwa sekelompok etnis Madura termasuk salah satu suku bangsa Indonesia yang tahan bantingan zaman. Mereka mempunyai tingkat adaptasi dan toleransi yang tinggi terhadap perubahan, keuletan kerja tak tertandingi dan keteguhan berpegang pada asas falsafah hidup yang diyakininya. Walaupun diberikan dengan nada sinis, selanjutnya diakui juga bahwa orang Madura memiliki keberanian, kepetualangan, kelurusan, kesetiaan, kehematan ( yang terkadang mengarah kekepelitan ), keceriaan, dan rasa humor yang khas. Memang harus diakui bahwa Pulau Madura sebagai bumi terdapat asal-usul orang

Madura tidaklah merupakan taman firdausi idaman penduduknya, karena pembangunan fisik materiil untuk kesejahteraan jasmani dan rohani masih banyak menunjukkan rumpang yang bisa dan harus disempurnakan.



B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengaruh Jembatan Suramadu terhadap perubahan budaya masyarakat madura?

2. Bagaimanakah Fenomena Pengukuhan Jati diri masyarakat Madura pasca-Suramadu?



C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengaruh jembatan suramadu terhadap perubahan budaya masyarakat madura

2. Untuk mengetahui Fenomena Pengukuhan Jati diri masyarakat Madura pasca-Suramadu



BAB II

PEMBAHASAN



A. Sekilas Tentang Jembatan Suramadu

Jembatan Suramadu yang awal pembangunannya diresmikan oleh mantan Presiden Megawati Soekarno Putri, pada Agustus 2003 lalu dan pembukaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bulan Juni, 10, 2009, akan menghubungi Pulau Madura (kawasan Bangkalan) dan Pulau Jawa (di Surabaya) dengan lintasan selat Madura. Jembatan Suramadu ini adalah jembatan terpanjang di Indonesia, setidaknya saat ini, karena mempunyai panjang 5.438 m. Yang unik dari jembatan Suramadu ialah adanya tiga bagian yang membagi jembatan ini, yakni jembatan penghubung (approach bridge), jembatan utama (main bridge) dan jembatan layang (causeway) Jembatan Suramadu pada dasarnya merupakan gabungan dari tiga jenis jembatan dengan panjang keseluruhan sepanjang 5.438 meter dengan lebar kurang lebih 30 meter. Jembatan ini menyediakan empat lajur dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat selebar 2,75 meter. Jembatan ini juga menyediakan lajur khusus bagi pengendara sepeda motor disetiap sisi luar jembatan. Jalan layang atau Causeway dibangun untuk menghubungkan konstruksi jembatan dengan jalan darat melalui perairan dangkal di kedua sisi. Jalan layang ini terdiri dari 36 bentang sepanjang 1.458 meter pada sisi Surabaya dan 45 bentang sepanjang 1.818 meter pada sisi Madura. Jalan layang ini menggunakan konstruksi penyangga PCI dengan panjang 40 meter tiap bentang yang disangga pondasi pipa baja berdiameter 60 cm.

Jembatan penghubung atau approach bridge menghubungkan jembatan utama dengan jalan layang. Jembatan terdiri dari dua bagian dengan panjang masing-masing 672 meter. Jembatan ini menggunakan konstruksi penyangga beton kotak sepanjang 80 meter tiap bentang dengan 7 bentang tiap sisi yang ditopang pondasi penopang berdiameter

180 cm. Jembatan utama atau main bridge terdiri dari tiga bagian yaitu dua bentang samping sepanjang 192 meter dan satu bentang utama sepanjang 434 meter. Jembatan utama menggunakan konstruksi cable stayed yang ditopang oleh menara kembar setinggi 140 meter. Lantai jembatan menggunakan konstruksi komposit setebal 2,4 meter. Untuk mengakomodasi pelayaran kapal laut yang melintasi Selat Madura, jembatan ini memberikan ruang bebas setinggi 35 meter dari permukaan laut.



B. Pengaruh Jembatan Suramadu Terhadap Budaya Masyarakat Madura.

Gokalp dan Pierre, senada dalam memberikan batasan pengertian tentang budaya. Bagi Gokalp, budaya merupakan sesuatu yang sifatnya unik, nasionalis, subjektif dan timbul dengan sendirinya. Dalam The Principles of Turkey, ia menegaskan, budaya sebagai sesuatu yang sifatnya tidak tetap, atau dengan kata lain, dapat saja berubah sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. Sebab itu boleh jadi, budaya sangat tergantung pada apa yang Pierre sebut sebagai field (lapangan atau konteks), yang di dalamnya teranyam jaringan makna.

Jaringan makna inilah yang kemudian melahirkan habitus (cara pandang baru), dalam pengertian Pierre, habitus dibentuk oleh; pemikiran dan refleksi individu dan interaksi praksis individu dengan masyarakat di mana ia hidup. Habitus baru sebagai refleksi budaya dapat dilahirkan oleh interaksi masyarakat dan pemaknaan terhadap konteks dan jaringan makna dimana ia berada. Karenanya, budaya baru mungkin saja lahir akibat interaksi dalam konteks yang berbeda.

Kaitannya dengan masyarakat Madura, kini dan nanti, sungguh tak dapat mengelak ekses dari industrialisasi nantinya berupa budaya luar yang pasti akan turut mewarnai. Hal itu cukup Suku bangsa Madura merupakan suku bangsa teberalasan dengan mobilitas yang tinggi dari tenaga kerja yang keluar masuk Madura. Oleh karena itu, masih dalam kaitan pelestarian khasanah budaya dan nilai-nilai luhur tradisi Madura, sejatinya tetap menjadi kearifan lokal yang mesti dipertahankan eksistensinya ditengah merespon tantangan globalisasi sekaligus kebutuhan industrialisasi yang akan tumbuh berkembang di pulau ”Bendoro Gung dan Raden Sagoro kecil” tercatat dalam sejarah, konon, sebagai penduduk pertama pulau Madura.

Dalam pada itu, kondisi Madura yang menunjukkan banyaknya pondok pesantren dengan para kyainya, tetaplah penting menempatkan persoalan Madura ke depan dalam konteks perubahan yang sangat cepat dan globalisasi dunia di mana kita hidup sekarang, ada di dalamnya dan tengah menghadapinya. Sejatinya pesantren, sangat relevan sebagai modal dasar dalam rangka mengakomodasi dan membentengi kembang kempisnya kearifan nilai-nilai budaya lokal dari arus negatif yang akan dimunculkan pasca Suramadu yang tengah berjalan. Terlebih pada saat ini dan dekade-dekade mendatang, kita akan menyaksikan pergulatan budaya Madura yang berjuang menemukan kembali kediriannya. Karena diakui atau tidak, globalisasi yang ditandai dengan pesatnya industrialiasi merupakan fenomena multi dimensi yang meretas batas tidak hanya dalam dimensi sosial, ekonomi, dan politiklebih daripada itu implikasinya sampai pada tahap mempengaruhi perkembangan dunia sains dan teknologi.

Benar apa yang dikatakan Azyumardi Azra, cendikiawan muslim tersebut mempertegas; bahwa dalam era globalisasi dan modernisasi ini perubahan dramatis mencakup segala aspek kehidupan dapat terjadi seiring tumbuhnya masyarakat industri dimana lazimnya kerap ditandai pergeseran nilai-nilai budaya dan agama. Karena itu, pembangunan di Madura pasca Suramadu, hendaknya tetap berpegang teguh pada kepatutan khasanah budaya lokal dan aspirasi sosial masyarakat Madura. Serta aspek nasionalis keindonesian tak boleh tercerabut dari akar sebab pembangunan.

Arus modernisasi lambat laun telah mengerus nilai-nilai budaya masyarakat Madura. Salah satu contohnya, bahasa Madura yang menjadi salah satu unsur penting dari kebudayaan Madura, nyaris tidak dipakai lagi dalam kahidupan sehari-hari. Padahal, dalam konsep kebudayaan, bahasa menunjukkan bangsa. Pembangunan jembatan Suramadu akan semakin membuka Madura dari dunia luar. Arus barang, jasa, juga orang akan lebih padat, yang bisa membawa peradaban baru masuk Madura. Tentunya, itu adalah tantangan bagi masyarakat Madura untuk berusaha agar kulturnya tidak terkikis. Penyelamatan kebudayaan Madura sungguh sangat besar dengan berbagai kompleksitas diatas.

Penerimaan terhadap paradigma di atas, saya rasa menjamin pada proses industrialisasi di Madura sebagaimana cita-cita bersama. Dan, lebih lagi, tidak melupakan budaya serta karakter masyarakat Madura yang sejauh ini sudah diasosiasikan sebagai masyarakat yang religius agamis (Islam). Islam bagi masyarakat Madura merupakan nafas dan telah melahirkan budaya dan tradisi yang menyentuh setiap relung dan ruang kehidupannya.

Sesungguhnya, jauh sebelum manusia menghawatirkan segala ekses negatif yang dimunculkan oleh zaman modernisasi dan globalisasi, dalam Islam, secara eksplisit telah diserukan; ”Belajarlah tentang zamanmu, siapa saja yang mengenal sifat-sifat dari zamannya dan mengetahui pengetahuan tentang seluk-beluknya, maka niscaya tak akan sekali-kali dikejutkan oleh hal-hal yang membingungkan”. Dengan bahasa kekinian, jika ingin survive dan berjaya ditengah perkembangan dunia yang kian kompetitif, maka peningkatan terhadap mutu Sumber Daya Manusia menjadi sesuatu yang harus diprioritaskan, sehingga dapat bermain peran dalam persaingan global. Bagi kita, sungguhpun gelombang globalisasi akan dan telah mendatangkan tantangan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana dapat menangkap peluang.



C. Fenomena Masyarakat Madura Dalam Pengukuhan Jatidiri Pasca Suramadu

Orang yang tidak pernah ke Madura, memiliki gambaran yang kelam tentang orang Madura dengan diliputi penuh rasa was-was, karena benak mereka dihantui citra orang Madura yang serba tidak bersahabat. Akan tetapi kemudian setelah berada di Madura, ternyata hampir semuanya berubah 180 derajat pandangannya tentang orang Madura. Mereka dengan penuh ketulusan mengatakan bahwa orang Madura ternyata santun, ramah, akrab dan hangat menerima tamu. Citra negatif ini pula yang kemudian melahirkan sikap pada sebagian orang Madura, utamanya kaum terpelajar, merasa malu menunjukkan diri sebagai orang Madura, karena Madura identik dengan keterbelakangan atau kekasaran Keadaan ini harus diakhiri.

Membangun citra positip, memang tidak bisa serta merta, perlu proses, akan tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Itupun harus dimulai sekarang juga, agar keadaan tidak semakin parah. Hal yang sangat penting adalah adanya kesadaran bahwa membangun citra positip harus dilakukan sendiri oleh orang Madura, sebagaimana semboyan kelompok Pakem Maddhu, Pamekasan yang berbunyi: “Coma reng Madhura se bisa merte bhasa Madhura”. Jembatan Suramadu tidak hanya sekadar jembatan secara fisik. Ia telah menjelma jembatan yang menghubungkan berbagai dimensi masyarakat Madura dengan dunia luar. Dengan terbentangnya Jembatan Suramadu, masyarakat Madura tidak lagi inferior. Menurut pendapat D. Zawawi imron istilah toron (:turun) yang digunakan orang-orang yang akan kembali ke Madura dan onggah (:naik) yang disematkan pada orang-orang yang akan bepergian ke Surabaya, kini telah terjembatani kesenjangannya. Tidak ada lagi naik-turun antara Surabaya-Madura. Yang ada hanya kesetaraan, yang dihubungkan Jembatan Suramadu. Selain itu, Jembatan Suramadu ini, dalam pengamatan beberapa pakar, diproyeksikan akan menjadi penghubung antara masyarakat Madura dan non-Madura dalam berbagai dimensi. Jembatan Suramadu akan menjelma jembatan industri, jembatan akulturasi budaya, jembatan percepatan ekonomi, jembatan modernisasi. Lalu bagaimanakah wajah Madura pasca-Suramadu ini? Bagimanakah potret budaya Madura, sebagai jati diri masyarakat Madura pasca dioperasikannya jembatan ekspansi multi-dimensi ini?

Ada enam persoalan paradoks yang dihadapi bangsa ini dalam percaturan peradaban digital ini.

a. Paradoks pengetahuan, yaitu paradoks antara pengetahuan/sampah pengetahuan.

b. Ketelanjangan budaya (cultural transparency).

c. Budaya ekses (culture of excess).

d. Ketakpastian etis (ethical indelerminacy).

e. Kesenjangan digital (digital discrepancy).

f. Kegamangan seni (dizziness of arts).

Dari berbagai tantangan yang mendasar tersebut, bahwa pembentukan karakter jati diri lebih menentukan sebuah masyarakat bisa bertahan dalam percaturan global ini. Dengan kata lain, di samping kemampuan skill individu yang mesti dikuasai oleh setiap individu masyarakat Madura, terutama generasi mudanya, apresiasi nilai-nilai budaya harus ditekankan sebagai transformasi jari diri. Dengan kata lain, kegamangan dan kehampaan serta kebrutalan masyarakat modern tidak dapat dipungkiri sebagai akibat hilangnya nilai-nilai budaya jati dirinya. Tak bisa dipungkiri keterpurukan suatu bangsa mula-mula disebabkan karena hilangnya jati diri mereka.

Turki pasca modernisasi Kemal Attarturk hanya menyisakan kegelisahan, kegalauan seperti kita lihat dalam karya-karya Orhan Pamuk. Sebaliknya, Jepang mampu bangkit dan maju pesat pasca perang dunia II hanya berbekal dengan spirit samurainya. Indonesia pun terkatung dalam dilema modernisasi. Banyak yang terkuras dan tercerabut demi dengung kemajuan, tapi tingkat kesejahteraan masih dalam konsep ‘berusaha’. Kesenjangan sosial semakin menjurang saja. Yang paling akut krisis dan chaos sosial akibat modernisasi semakin menjadi-jadi.

Mengingat hal paradoks modernisasi tersebut, perlu kiranya disodorkan sebuah konsep pembangunan Madura ke depan. Sebuah arah gerak maju modernisasi demi kesejahteraan masyarakat. Bukan ‘penghancuran’ dan penghisapan sari madu Madura demi modernisasi. Modernisasi dengan birahi pembangunannya, dengan retorika elektroniknya memang tidak dapat ditolak. Tapi demi keberlangsungan masyarakat Madura untuk sekian waktu yang tidak ditentukan, perlu kiranya menata ‘birahi’ kemajuan yang paradoks ini. Dengan kata lain, pemodernisasian Madura seyogyanya memiliki orientasi yang jelas dan terarah. Jelas untuk mengembangkan dan memajukan Madura. Terarah untuk memerhatikan kemajuan pada dua sisi.

a) Pertama sisi fisik. Sisi ini lebih menekankan pada pembangunan struktur dan infrastruktur sosial-budaya-ekonomi-politik.

b) Kedua, sisi psikis. Pembangunan Sisi ini mengupayakan terciptanya mental dan jati diri masyarakat Madura Lebih jauh, pembanguan psikis ini, tentunya terletak sejauh mana transformasi kultur budaya msyarakat dari generasi ke generasi berikutnya.

Dengan kata lain, dalam mempersiapkan masyarakat Madura untuk berlaga di arena modernisasi, maka pelestarian dan pengapresiasian budaya lokal merupakan modal utama. Agenda apresiasi budaya lokal Madura ini selain membekali setiap individu dengan kesadaran realitas sejarahnya, juga bertujuan untuk menyelamatkan khazanah kebudayaan bangsa

BAB III

PENUTUP



A. Kesimpulan

1. Suramadu ini adalah jembatan terpanjang di Indonesia, setidaknya saat ini, karena mempunyai panjang 5.438 m. Yang unik dari jembatan Suramadu ialah adanya tiga bagian yang membagi jembatan ini, yakni jembatan penghubung (approach bridge), jembatan utama (main bridge) dan jembatan layang (causeway).

2. Budaya merupakan sesuatu yang sifatnya unik, nasionalis, subjektif dan timbul dengan sendirinya.

3. Membangun citra positip, memang tidak bisa serta merta, perlu proses, yang sangat penting adalah adanya kesadaran bahwa membangun citra positip harus dilakukan sendiri oleh orang Madura, sebagaimana semboyan kelompok Pakem Maddhu, Pamekasan yang berbunyi: “Coma reng Madhura se bisa merte bhasa Madhura”.

B. Saran

mempersiapkan masyarakat Madura untuk berlaga di arena modernisasi, dan pengapresiasian budaya lokal untuk menyelamatkan khazanah kebudayaan bangsa.


DAFTAR RUJUKAN



Zawawi Imron, “Suramadu”, Jawa Pos, (14-Juni-2009)., hlm. 4.

Pierre Bourdiue, dalam Izak Y. M. Lattu, Budaya Damai dalam Masyarakat Multikultural.

http://www.unesco.org/cpp/uk/declarations/2000/h tm.

Muthmainnah, Jembatan Suramadu, (Yokyakarta: LPPSM, 1998).

Abdurrachman, Sejarah Madura; Selayang Pandang, (Sumenep: tanpa penerbit, 1988)., cetakan ke- 3., hlm. 2-4.

Abdurrahman Mas’ud, Dari Haramain ke Nusantara; Jejak Intelektual Arsitek Pesantren, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006)., hlm. xxiii.

Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Melinium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999)., hlm. 44.

Ziya Gokalp, dalam Ilham Bustomi, ”Agama dan Nasionalisme; Studi Terhadap Pemikiran Ziya Gokalp”, Komonitas; Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, vol. 26, No. 2, Desember 2008., hlm. 45.








Share:

Kamis, 05 Mei 2016

THE ANALYSIS OF BILINGUALISM AND CODE OF SOCIOLINGUISTICS

THE ANALYSIS OF BILINGUALISM AND CODE OF SOCIOLINGUISTICS
THE ANALYSIS OF BILINGUALISM AND CODE OF SOCIOLINGUISTICS
“Ando, who is Javanese, is now living in a metropolitan city (Jakarta) for a study reason. It in nature allows him to have frequent contacts for transactional purposes for instance with individuals coming from different cultural and linguistic background. Switching or mixing from one language to the next is such an unavoidable social consequence that he could show up to get his message effectively communicated. Therefore, it is common to have his native language is getting fewer intensive in use even when he occasionally speaks with whom they share the same language”.
The phenomena can analyze with the bilingualism and code switching theory. For the first we will analyze the phenomena with bilingualism. Monolinguals, that is, the ability to use only one language is such a widely accepted norm in so many parts of the Western world that it is often assumed to be a world-wide phenomenon, to the extent that bilingual and multilingual individuals may appear to be ‘unusual.’ Indeed, we often have mixed feelings when we discover that someone we meet is fluent in several languages: perhaps a mixture of admiration and envy but also, occasionally, a feeling of superiority in that many such people are not ‘native’ to the culture in which we function. Such people are likely to be immigrants, visitors, or children of ‘mixed’ marriages and in that respect ‘marked’ in some way, and such marking is not always regarded favorably. In many parts of the world an ability to speak more than one language is not at all remarkable. In fact, a monolingual individual would be regarded as a misfit, lacking an important skill in society, the skill of being able to interact freely with the speakers of other languages with whom regular contact is made in the ordinary business of living. In many parts of the world it is just a normal requirement of daily living that people speak several languages: perhaps one or more at home, another in the village, still another for purposes of trade, and yet another for contact with the outside world of wider social or political organization. These various languages are usually acquired naturally and unselfconsciously, and the shifts from one to another are made without hesitation (Wardhaugh, 2006). Wardhaugh’s explanation can identify Ando that he is use bilingualism to make successful communication with his friend in Jakarta. As we know that Jakarta is one of city in Indonesia, and the national language that use by the people is Bahasa, so Ando as the Javanese also know Bahasa because Javanese is also one of the region in Indonesia, Ando as a student surely know Indonesian language or Bahasa. The first language that he uses is Javanese and the second is Bahasa. So Ando for this situation uses Bilingualism to make successful of communication.
The second analysis of the phenomena of Ando is code switching and code maxim. Wardhaugh (1986: 102) says that code is the particular dialect or language one chooses to use on any occasion, and a system for communication between two or more parties. Poedjosoedarmono (1978: 4) says that a code is a system of speech whose elements of language has special characteristic, and it is proper to the background of the speaker, the relation of the speaker to address and the situation.
Another linguistic phenomenon in bilingual or multilingual society is code mixing. Code switching and code mixing are terms that are used to call the dependence upon aspect of language. The difference of those terms that can be found is the dependence indicating characteristics. In the phenomenon of code mixing the dependent characteristics are indicated by the relationship between the function and role of language. The role means that who uses the language and function means what will be acquired by the speaker (Suwito in Sutana 1999: 17).
Mackey in Suwito (1985: 65) states that Code Mixing is one characteristic of language dependence. Then, He cities that the language dependence is marked by the presence of reciprocal relations between roles and language functions. According to him, the roles refer to who uses language, whereas the language functions refer to what will bed achieve by speaker in his utterances. So if a speaker mixes two different codes on language in his utterances, then it should be asked first who he is.
In this manner, the specific characteristics of the speaker are, among others, his social background, and level of education and solidarity of region. However, all of these specific characteristics will often color his code mixing. On the other hand, the language unction determines how far the languages used by speaker give an opportunity to mix codes. Finally, a speaker who masters many languages will have a greater opportunity to mix codes, because what a speaker of his utterance achieves is extremely determined by his language choice.
Code mixing usually occurs in bilingual or multilingual community or society and the function (meaning) of the languages cannot be clearly separated. This code mixing is used when the conversant use both languages together to the extent that they change from one language to the other in the course of a single utterance (Wardhaugh, 1986: 103)
In code mixing the main code or basic code has its own function and meaning, other codes, however, are only the pieces, without function and meaning as a code (Chaer, 1995: 151). Thelander (In Chaer, 1995: 152) explains the definition of code mixing. He says that if in the single utterance the clauses and the phrases used are hybrid clause or hybrid phrases and each clause or phrase does not support the function of clause and phrase, it is called code mixing. The special character of code mixing is that, code mixing is used in informal situation. In the formal situation it may have no exact meaning in Indonesian language. In the written language code mixing is indicated by italic writing or underline form (Nababan, 1984: 32).
For the reason of code maxim we can take example from Ando’s phenomena, Ando as individual coming from different region surely uses code maxim because he has two languages that automatically directly use this theory, for example when he invite his friend to some place he can says “rek, ayo kita ke mall yuk” the word “rek” here is Javanese language from word “arek”. From the example we can know that to make successful in communication Ando can use the code maxim theory.
Sometimes, people consider that code switching and code mixing have the same meaning. But actually both of them are different. People in the bilingualism or multilingualism situation often change language or variety of languages. This situation depends on situation or the need for communication such as when a person uses a standard language when he meets his guest. When he knows that, actually, the guest is his old friend, the person switches his standard language into informal language. This phenomenon is called code switching (MY COURSES Code Mixing and Code Switching.htm).
According to Crystal (1991: 59) code switching can be illustrated by the switch bilingual speaker may make (depending on who they are talking to or where they are) between standard and regional forms of English, between Welsh and English in parts of Wales, or between occupational and domestics varieties.
Komarudin (1989: 59) says that code switching occurs in level of clauses and sentences. Code switching is general characteristics in bilingualism. Bilingual people often switch codes from one language to other language when they speak or write.
Code switching is switching situation from one code to another (Suwito, 1985: 68). If a speaker firstly uses code A (for example Indonesian Language) and he changes his code to code B (Javanese Language), this situation is called code switching.
Code switching not only occurs in the form of language change but also may happen in the change of the variant of language. Hymes (in Chaer 1995: 142) says that code switching has become a common term for alternate us of two or more languages, varieties of language or even speech style.
Code switching happens in bilingual society. Code switching occurs when people use a particular code and suddenly change to another code. Apple (in Chaer 1995: 141) states code switching is the change of one code to another. Wardhaugh (1986: 103) also gives definition of code switching occurs when the language used, changes according to the situation in which the conversant find them. The speakers here switch one code to another code or they speak in one language to another language.
The phenomena of Ando also can identify with code switching theory. For example “ gue pengen makan bakso rek”. Gue pengen is Jakarta language, makan bakso is Bahasa. rek is Javanese language. It means that although Ando lives in the metropolitan city as the individual coming with different language, surely in his conversation or his communication with his friend, directly he uses code switching to make his communication is comfortable and successful.
.

Reference
MY COURSES Code Mixing and Code Switching.htm
Wardhaugh, Ronald. (2006). An Introduction to Sociolinguistics, Basil Blackwell Ltd






Share:

bahasa dan latar belakang budaya dari film

bahasa dan latar belakang budaya dari film
BAB IPENGANTAR1.

1. latar belakangThe Last Samurai adalah 2003 film perang epik Amerika diarahkan dan co-diproduksi oleh Edward Zwick, yang juga co-menulis skenario dengan John Logan. Film ini dibintangi Tom Cruise, yang juga co-diproduksi, serta Ken Watanabe, Shin Koyamada, Tony Goldwyn, Hiroyuki Sanada, Timothy Spall, dan Billy Connolly. Terinspirasi oleh proyek oleh Vincent Ward, itu tertarik Zwick, dengan Ward kemudian menjabat sebagai produser eksekutif. Film produksi pergi ke depan dengan Zwick dan ditembak di asli Selandia Baru Ward.Karakter dari film ini adalah Tom Cruise sebagai Kapten Nathan Algren, seorang veteran Perang Saudara Amerika dan Perang India, lahir di Kerajaan Inggris tetapi Amerika naturalisasi. Ken Watanabe sebagai Tuhan Moritsugu Katsumoto. Hiroyuki Sanada sebagai Ujio. Shin Koyamada sebagai Nobutada. Tony Goldwyn sebagai Kolonel Bagley. Masato Harada sebagai Omura. Shichinosuke Nakamura sebagai Kaisar Meiji. Timothy Spall sebagai Simon. Graham Seizo Fukumoto sebagai Diam Samurai. Koyuki sebagai Taka. Billy Connolly sebagai Sersan Zebulon Gant. Shun Sugata sebagai Nakao. Sosuke Ikematsu sebagai Higen. Scott Wilson sebagai Duta Swanbeck"The Last Samurai" adalah tentang dua prajurit yang budaya membuat mereka alien, tapi yang nilainya membuat mereka kawan-kawan. ketika Algren menemukan dirinya terperangkap di desa musuh, The Last Samurai menggali dalam untuk jangka panjang, memberikan kita banyak waktu untuk berlama-lama di masyarakat dan tempat-tempat yang kami akan berakhir diperjuangkan. Ini, tidak pertempuran megah film, adalah apa yang benar-benar membuat Samurai seperti sebuah karya epik. Banyak dari film ini diucapkan dalam bahasa Jepang sebagai Algren berjuang untuk berkomunikasi di dunia di mana hampir tidak ada yang berbicara bahasanya. percakapan dengan Katsumoto, yang berbahasa Inggris, yang secara bersamaan lucu dan menyentuh. Dia juga mengembangkan hubungan yang berkembang dengan wanita Jepang dan keluarganya dia tinggal bersama, serta kasih sayang diam prajurit yang dikirim untuk menjaga dia, sayang dijuluki "Bob".
Secara keseluruhan film sampai akhir klimaks dari pertempuran sengit, telah membuktikan bahwa senjata modern mungkin bisa mengalahkan Samurai begitu kental dengan senjata tradisional terbatas pada pedang, tombak dan panah. Ini secara tidak langsung menggambarkan peran Amerika Serikat untuk memberikan efek ke negara Jepang dalam upaya untuk menyelamatkan negara dari kehancuran Sakura militer. Namun, perang sengit yang menyebabkan kode Samurai etik, mati di medan perang jauh lebih hormat dengan pedangnya. Ini adalah apa yang memberi kita sekilas ke dalam tanda hormat dari masyarakat (militer) Jepang harus membuktikan menghormati apa yang telah menjadi warisan nenek moyang. Salah satu cara untuk melepaskan topi bungkuk memberikan salah satu penghormatan terakhir kepada kelompok atau pemimpin yang tidak Samurai lain juga merupakan bagian dari kehidupan nyata mereka (identitas).1.2. Perumusan Masalah.1. Apa bahasa dan latar belakang budaya dari film?2. Apa analisis film yang berkaitan dengan studi Cross Culture Understanding ulasan?1.3. Tujuan dari Penulisan.1. Ingin tahu bahasa dan latar belakang budaya film.2. Ingin tahu analisis ulasan Cross Culture Understanding

BAB II

REVIEW ON THE TERKAITA.

Bahasa dan Latar Belakang Budaya. Bahasa adalah sistem manusia komunikasi yang menggunakan sinyal sewenang-wenang, seperti suara suara, gerak tubuh, atau simbol tertulis. Bahasa Latar belakang adalah Bagaimana serupa adalah bahasa negara baru untuk bahasa asli seseorang. Artinya bagaimana pendatang baru dapat mengetahui tentang penutur asli di negara baru. Budaya adalah latar belakang bersama (misalnya, nasional, etnis, agama) yang dihasilkan dari bahasa yang sama dan gaya komunikasi, adat istiadat, kepercayaan, sikap, dan nilai-nilai. Latar belakang budaya adalah Bagaimana serupa adalah budaya negara baru dengan budaya asli seseorang.B. Perbedaan budayaBudaya tinggi Konteks• hubungan jangka panjang• konteks Pemanfaatan• perjanjian yang dipakai• Orang dalam dan luar jelas dibedakan• pola Budaya• Apa yang dikatakan dan bagaimana atau di mana dikatakan signifikan atau indirectnessBudaya rendah Konteks• hubungan pendek• Kurang tergantung pada konteks• perjanjian tertulis• Orang dalam dan luar kurang jelas dibedakan• Perubahan pola Budaya• Apa yang dikatakan lebih penting daripada bagaimana atau di mana dikatakan (keterusterangan)C. Stereotype adalah keyakinan berlebihan tentang sekelompok sering didasarkan pada kurangnya informasi atau kontak dengan anggota kelompok.D. Mainstream Budaya dan Perilaku individu budaya Mainstream adalah nilai-nilai, keyakinan, dan perilaku kelompok dominan dalam suatu masyarakat. Perilaku kelompok didasarkan pada nilai-nilai dan keyakinan-nya. Perilaku Individu adalah tindakan dan kegiatan dari satu orang.E. setiap tahap dalam Syok Budaya dan Proses Penyesuaian dalam New Country.Sebuah. Gegar budayaIndividu tenggelam dalam masalah baru: perumahan, transportasi, tenaga kerja, belanja, dan bahasa. Hasil kelelahan mental dari terus berusaha untuk memahami bahasa dan budaya baru.b. penyesuaian Tahapkegiatan sehari-hari seperti perumahan dan belanja tidak lagi masalah besar. Pengunjung mungkin belum fasih bahasa lisan, tetapi mereka bisa tahu mengekspresikan ide-ide dasar mereka dan perasaan.c. Seorang pendatang baru telah menjadi terbiasa dengan kebiasaan, adat istiadat, makanan, dan karakteristik dari orang-orang di budaya baru.


BAB III

DISKUSIA.

Bahasa dan Latar Belakang Budaya dalam Samurai Film terakhirSebuah. latar belakang bahasa
Dalam film Last Samurai "Nathan Algren adalah pendatang baru di Jepang; dia tidak tahu tentang Bahasa Jepang, dia dari Amerika, sehingga latar belakang Bahasa nya adalah bahasa Inggris. Dia mencoba untuk mengetahui dan meniru Bahasa Jepang sampai dia bisa ".b. Latar belakang budayaDalam film Last Samurai "Setelah di desa Samurai Algren harus mengatasi kedua efek ketergantungan yang kuat pada alkohol serta tindakan masa lalunya. Untuk membantu dia dalam pertempuran ini Algren mulai perjalanan desa, menonton kehidupan sehari-hari para petani dan Samurai. Selama ini Algren tidak hanya belajar bahasa capturers, tapi mulai mengembangkan pemahaman tentang cara hidup mereka. Di sini ia menunjukkan bagaimana seorang pemimpin mengambil kesempatan untuk memahami budaya masyarakat, ia berada di dan bagaimana budaya ini mempengaruhi perilaku individu dalam kelompok ini. pelajaran lain yang bisa dipelajari dari film datang setelah Kapten Algren bergabung penyebab Samurai. Setelah jelas bahwa advokasi untuk gaya hidup tradisional Jepang Samurai adalah berguna Algren mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk penyebabnya Samurai. Dengan pemahaman tentang kedua budaya Amerika dan budaya Jepang ia mampu memahami pengaruh perang Barat pada taktik yang digunakan oleh tentara Kaisar. Dengan pengetahuan ini ia mengusulkan rencana berisiko serangan untuk yang terakhir dari Samurai.B. Stereotip dalam film samurai terakhir muncul di salah satu pernyataan yang mengatakan "Japan diciptakan oleh pedang, tetapi menurut Algren Jepang dibuat oleh orang-orang berani. Ini berarti bahwa di Jepang ada begitu banyak orang yang memiliki yang kuat dan berani.C. Perbedaan budaya dalam film samurai terakhir.orang Amerika seperti Algren menggunakan budaya konteks rendah dan orang-orang Jepang seperti Katsumoto menggunakan budaya konteks tinggi. Dalam film samurai terakhir menunjukkan bahwa ketika Algren mengatakan adalah keterusterangan, dan Katsumoto adalah indirectness.
D. Mainstream Budaya dan Perilaku individu dalam film samurai terakhir
Dalam film samurai terakhir, budaya mainstream dari Jepang muncul ketika Katsumoto mengatakan bahwa "suatu kehormatan dari pria Jepang adalah ketika dia meninggal dalam perang" itu berarti bahwa lebih baik mati daripada hidup dalam kehinaan. Selain itu, ada juga Bushido. Ini adalah studi yang dipegang oleh Samurai. Mereka percaya bahwa pedang (Katana) adalah jiwa dari Samurai. Bushido juga membantu untuk membangun karakter Jepang dan untuk menjaga budaya mereka di era modern.
Perilaku individu dalam film samurai terakhir1. Jepang biasanya bangun pagi untuk melayani diri mereka sendiri untuk membuat sempurna untuk kerja mereka. Berbeda dengan Amerika yang biasanya bangun terlambat dan tidak langsung bekerja.2. Jepang seperti memiliki kebersamaan dan selalu dalam kelompok, tetapi Amerika seperti berada individu.3. Jepang biasanya memakai sandal dan ketika mereka ingin memasuki rumah, mereka biasanya mengabaikan sandal mereka, tetapi Amerika selalu memakai sepatu di mana-mana meskipun mereka ingin memasuki rumah.
E. Tahap kejutan budaya dan proses penyesuaian dalam film samurai terakhirLangkah kejutan seperti roller coaster, karena pendatang baru akan di up kondisi atau kegembiraan dan kondisi down atau depresi.1. Seorang pendatang baru yang tidak terbiasa dengan budaya baru seperti bahasa, perilaku, dan kebiasaan. Dalam film ini menunjukkan bahwa Nathan Algren bingung karena Syok Budaya tentang segala sesuatu di Jepang.
Itu tentang bahasa dan budaya Jepang. Dengan demikian, Algren menggunakan bahasa Inggris untuk memproses komunikasi di Jepang. Dan kadang-kadang, ia hanya menunjukkan bahasa tubuh ketika ia berjalan dengan BOB (penjaga yang diperintahkan oleh Katsumoto untuk perusahaan Algren mana pun setiap kali dia pergi). Tentang budaya ia juga merasa shock ketika dia tahu perilaku dan kebiasaan di sana setiap hari.

Seperti pernyataannya "Saya terus hidup di antara kelompok yang aneh. Saya tawanan mereka, dan kemudian saya tidak bisa lari. Saya sering merasa seperti anjing liar atau diabaikan tamu yang tidak diinginkan. Semua orang sopan, semua tersenyum dan membungkuk. Namun di balik kerendahan hati mereka, saya merasa terpendam perasaan. Kelompok-kelompok yang menarik; karena mereka bangun mereka mengabdikan diri untuk kesempurnaan pekerjaan mereka. Aku belum pernah melihat yang lebih disiplin. Saya terkejut untuk mengetahui bahwa kata "Samurai" itu dimaksudkan untuk melayani dan Katsumoto percaya dia memberontak dalam pelayanan Kaisar. "Pernyataan ini muncul bahwa Algren merasa budaya shock.2. Sebuah pendatang baru mencoba untuk menyesuaikan dengan budaya baru dalam tahap ini. tahap Penyesuaian dalam film terakhirSetelah pendatang baru terasa budaya shock, pendatang baru menjadi lebih akrab dan nyaman dengan budaya baru dan orang-orang. Dia / dia mencoba untuk menyesuaikan dan meniru dengan situasi seperti dalam film. Algren mencoba untuk meniru kebiasaan di Jepang. Dia mencoba untuk mengetahui tentang bahasa Jepang. Dia juga mencoba untuk mengetahui budaya seperti menjadi Samurai. Dia mempelajari tentang bagaimana menggunakan pedang. tahap Penerimaan di film terakhir Algren telah menggunakan bahasa Jepang untuk berkomunikasi dengan keluarga yang tinggal bersamanya, ia juga merasa nyaman untuk makan makanan Jepang, apalagi ia menjadi Samurai dan menggunakan budaya Jepang seperti menggunakan pedang ketika ia membantu keluarga Katsumoto menentang musuh.


BAB IV

KESIMPULAN

Hal ini jelas bahwa The samurai terakhir adalah sebuah film yang menggambarkan tentang budaya perbedaan antara budaya Amerika dengan budaya Jepang. Yang ditunjukkan dengan jelas dalam film ini. Kemudian, kita dapat menyimpulkan bahwa setiap negara memiliki budaya yang berbeda dan kita dapat merasakan sulit untuk menyesuaikan Ini., Di atas semua ketika kita tinggal di sekitar orang yang memiliki budaya yang berbeda dengan kami. Oleh karena itu kita harus mengetahui latar belakang bahasa dan budaya negara baru sebelum.

Share:

What is language and cultural background of the film

What is language and cultural background of the film
CHAPTER I
INTRODUCTION
1.1. Background
The Last Samurai is a 2003 American epic war film directed and co-produced by Edward Zwick, who also co-wrote the screenplay with John Logan. The film stars Tom Cruise, who also co-produced, as well as Ken Watanabe, Shin Koyamada, Tony Goldwyn, Hiroyuki Sanada, Timothy Spall, and Billy Connolly. Inspired by a project by Vincent Ward, it interested Zwick, with Ward later serving as executive producer. The film production went ahead with Zwick and was shot in Ward’s native New Zealand.
The characters of the film are Tom Cruise as Captain Nathan Algren, a veteran of the American Civil War and the Indian Wars, born in the British Empire but a naturalised American. Ken Watanabe as Lord Moritsugu Katsumoto. Hiroyuki Sanada as Ujio. Shin Koyamada as Nobutada. Tony Goldwyn as Colonel Bagley. Masato Harada as Omura. Shichinosuke Nakamura as Emperor Meiji. Timothy Spall as Simon. Graham Seizo Fukumoto as the Silent Samurai. Koyuki as Taka. Billy Connolly as Sergeant Zebulon Gant. Shun Sugata as Nakao. Sosuke Ikematsu as Higen. Scott Wilson as Ambassador Swanbeck
"The Last Samurai" is about two warriors whose cultures make them aliens, but whose values make them comrades. when Algren finds himself trapped in an enemy village, The Last Samurai digs in for the long haul, giving us plenty of time to linger on the people and places that we're about to end up fighting for. This, not the film's magnificent battles, is what truly makes Samurai such an epic masterpiece. Much of the film is spoken in Japanese as Algren struggles to communicate in a world where almost no one speaks his language. His conversations with Katsumoto, who does speak English, are simultaneously humorous and touching. He also develops a growing relationship with the Japanese woman and her family he stays with, as well as a silent affection for the warrior sent to guard him, affectionately nicknamed "Bob".

On the whole of the film until the climactic end of the fierce battle, have proved that modern weapons could probably defeat the Samurai is so thick with traditional weapons limited to swords, spears and bows. This has indirectly described the role of American States to give effect to the country of Japan in an effort to save the country from ruin Sakura military. However, the fierce war that led to the Samurai code of ethics, death in the battlefield is much more respectful with his sword. This is what gives us a glimpse into that sign of respect from the community (military) Japan should prove to respect what has been the ancestral heritage. One of the ways to release stooped hat gives one of the last respect to the group or leader that no other Samurai is also part of their real life (identity).
1.2. Formulation of the Problem.
1. What is language and cultural background of the film?
2. What is the review analysis of the film related to the study of Cross Culture Understanding?
1.3. Purpose of Writing.
1. Want to know language and cultural background of the film.
2. Want to know the review analysis Cross Culture Understanding


CHAPTER II
REVIEW ON THE RELATED
A. Language and Cultural Background.
 Language is a human system of communication that uses arbitrary signals, such as voice sounds, gestures, or written symbols. Language Background is How similar are the language of the new country to the person’s native language. It means that how the new comer can know about the native speaker in the new country.
 Culture is a shared background (for example, national, ethnic, religious) resulting from a common language and communication style, customs, beliefs, attitudes, and values. Cultural Background is How similar are the culture of the new country to the person’s native culture.
B. The differences of culture
High-Context Culture
• long lasting relationship
• Exploiting context
• Spoken agreements
• Insiders and outsiders clearly distinguished
• Cultural patterns
• What is said and how or where it is said are significant or indirectness
Low-Context Culture
• Shorter relationship
• Less dependent on context
• Written agreements
• Insiders and outsiders less clearly distinguished
• Cultural patterns change
• What is said is more important than how or where it is said (directness)
C. Stereotype is an exaggerated belief about a group often based on a lack of information or contact with members of the group.
D. Mainstream Culture and individual Behavior
 Mainstream culture is the values, beliefs, and behavior of the dominant group in a society. The behavior of the group is based on its values and beliefs.
 Individual Behavior is the actions and activities of one person.
E. The each stage in the Cultural Shock and Adjustment Process in a New Country.
a. Cultural Shock
The individuals are immersed in new problems: housing, transportation, employment, shopping, and language. Mental fatigue results from continuously straining to understand new language and culture.
b. Adjustment Stage
Everyday activities such as housing and shopping are no longer major problems. The Visitors may not yet be fluent the spoken language, but they can know express their basic ideas and feelings.
c. A newcomer has become accustomed to the habits, customs, foods, and characteristics of the people in the new culture.

CHAPTER III
DISCUSSION
A. Language and Cultural Background in the Last Samurai Film
a. Language background
In the Last Samurai film “Nathan Algren is a new comer in Japan; he does not know about the Japanese Language, he is from America, thus his Language background is English. He tries to know and imitates the Japanese Language until he can”.
b. Cultural background
In the Last Samurai film “Once in the Samurai’s village Algren must overcome both the effects of his strong dependence on alcohol as well his past actions. To aid him in this battle Algren begins to travel the village, watching the day-to-day life of the peasants and the Samurai. During this time Algren not only learns the language of his capturers but begins to develop an understanding of their way of life. Here he shows how a leader takes the opportunities to understand the culture of the society, he is residing in and how this culture affects the behavior of individuals within this group. Another lesson to be learned from the film comes after Captain Algren joins the cause of the Samurai. After it is apparent that advocating for the Samurai’s traditional Japanese lifestyle is useless Algren devotes himself completely to the Samurai’s cause. With his understanding of both the American culture and the Japanese culture he is able to understand the influence of Western warfare on the tactics employed by the Emperor’s soldiers. With this knowledge he proposes a risky plan of attack for the last of the Samurai.
B. The stereotype in the last samurai film appears in the one statement that said “Japan is created by sword, but according to Algren Japan is created by the brave people. It means that in Japan there are so many people who have a strong and brave.
C. The differences of culture in the last samurai film.
American people like Algren use the low- context culture and Japanese people like Katsumoto use the high- context culture. In the last samurai film shows that when Algren says is directness, and Katsumoto is indirectness.

D. Mainstream Culture and individual Behavior in the last samurai film
In the last samurai film, the mainstream culture of Japanese appears when Katsumoto said that “an honor of Japanese man is when he dies in a war” it means that better to die than to live in disgrace. Moreover, there is also Bushido. It is the studies that hold by Samurai. They believe that sword (Katana) is a soul of Samurai. Bushido also helps to build a character of Japanese and to keep their culture in modern era.
Individual Behavior in the last samurai film
1. The Japanese usually get up early to serve themselves to make the perfect for their working. Different with American that usually get up late and not directly to work.
2. The Japanese like having togetherness and always in a group, but American like being individual.
3. The Japanese usually wear the sandals and when they want to enter the house, they usually waive their sandals, but American always wears shoes everywhere although they want to enter the house.

E. The stage of culture shock and adjustment process in the last samurai film
The step shock is like roller coaster, because the new comers will be in up condition or elation and down condition or depression.
1. A newcomer unfamiliar with the new culture like language, behavior, and habit. In this film shows that Nathan Algren was confused because the Cultural Shock about everything in Japan.
It was about Japanese language and culture. Thus, Algren used English to process communication in Japan. And sometimes, he just showed his body language when he walk with BOB (the guard that ordered by Katsumoto to company Algren wherever whenever he went). About the culture he also feels shock when he knows the behavior and the habit there every day.

Like his statement “I continue to live among a strange group. I was their prisoner, and then I cannot run away. I often feel like a stray dog or ignored unwelcome guest. Everyone was polite, all smiling and bowing. But behind their modesty, I feel pent up feelings. Those groups are interesting; since they wake they devote themselves for the perfection of their work. I’ve never seen that much discipline. I was surprised to learn that the word “Samurai” was meant to serve and Katsumoto believes he rebelled in the service of the Emperor. “This statement appear that Algren feel shock culture.
2. A newcomer tries to adjust with the new culture in this stage.
 Adjustment stage in the last film
After a newcomer feels shock culture, a newcomer becomes more familiar and comfortable with the new culture and the people. He/she tries to adjust and imitates with the situation like in the film.
 Algren tries to imitate the habit in Japan. He tries to know about the Japanese language. He also tries to know the culture like be a Samurai. He studies about how to use a sword.
 Acceptance stage in the last film
 Algren have used the Japanese language to communicated with the family that stayed with him, he also feel comfortable to eat the Japanese foods, moreover he was be a Samurai and use the Japanese culture like use the sword when he helped the Katsumoto’s family opposed the enemy.


CHAPTER IV
CONCLUSION
It is clear that The Last samurai is a film that describes about the differences culture between American cultures with Japanese cultures. That is shown clearly in this film. Then, we can conclude that every country has different culture and we can feel difficult to adjust It., above all when we live around people that have different culture with us. Therefore we must know the background of language and culture the new country before.

REFRENCES
Anshori, Salim. 2007. Cross-Cultural Understanding.








Share:

Selasa, 12 April 2016

PROPOSAL PENELITIAN

PROPOSAL PENELITIAN
MOHAMMAD RUSDI. Peran Guru Ngaji dalam Membentuk Nilai-nilai Karakter Anak Usia Dini Di Mushalla An-Nashr Dusun Duko Barat Desa Pakong : Proposal penelitian Prodi Tarbiyah STAIN Pamekasan, 2016.

Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah fakta bahwa saat ini telah terjadi demoralisasi di Indonesia yang menuntut adanya peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Sebagai lembaga pendidikan Islam non formal, Mushalla An-Nashr merupakan lembaga pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan holistik dengan sistem membina rohani, intelektual dan mengaji serta praktik ibadah sejak usia dini.

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah:
Peran Guru Ngaji dalam Membentuk Nilai-nilai Karakter Anak Usia Dini Mushalla An-Nashr dan
Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan peran guru ngaji dalam Membentuk Nilai-nilai Karakter Anak Usia Dini Di Mushalla An-Nashr Dusun Duko Barat Desa Pakong.

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan triangulasi. Teknik analisa data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan:
Peran Guru Ngaji dalam Membentuk Nilai-nilai Karakter Anak Usia Dini Di Mushalla An-Nashr Dusun Duko Barat Desa Pakong yaitu: merumuskan tujuan dan konsep pendidikan yang jelas, membentuk lingkungan yang kondusif, menetapkan tata tertib , serta membuat program kegiatan Anak Usia Dini yang bersifat harian,dan mingguan.
Faktor pendukung yang dialami Mushalla An-Nashr dalam Membentuk Nilai-nilai Karakter Anak Usia Dini antara lain: jiwa keagamaan, sikap positif anak, dukungan dari lingkungan, hubungan kerja sama antara Pengelola dengan orang tua, kharisma dan kewibawaan Pengelola, serta sistem yang diterapkan. Sedangkan faktor penghambatnya antara lain: semangat belajar anak yang masih kurang, fasilitas yang kurang memadai, kurangnya tenaga pendidik, serta heterogenitas anak.

Kata Kunci: Peran guru ngaji, Nilai-nilai karakter, Anak
Share:

Minggu, 10 April 2016

Perkembangan Moral Aplikasi Teori Belajar Dalam Pembelajaran

Perkembangan Moral Aplikasi Teori Belajar Dalam Pembelajaran
A. Pengertian Moral.
Kata Moral berasal dari bahasa latin “Mores” yang memiliki arti tata cara, kebiasaan, dan adat. Sikap moral berarti suatu perilaku yang dikembangkan oleh konsep moral dan sesuai dengan kode moral suatu kelompok sosial. Konsep moral adalah suatu peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi suatu budaya. Pengertian ini didasarkan pada pendapat para ahli, sebagai berikut:

James Rachel, menggambarkan bahwa moralitas adalah suatu usaha untuk membimbing tindakan seseorang, untuk melakukan apa yang paling baik menurut akal. Rachel menekankan pada fungsi untuk menentukan apa suatu perbuatan itu bermoral atau tidak.
Frans Magnis Suseno, sebagaimana dikutip oleh C.Adiningsih menyatakan bahwa moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolok ukur yang digunakan manusia untuk mengukur kebaikan seseorang. Sedangkan moralitas sebagai sikap hati seseorang yang terungkap dalam tindakan lahiriyah.

B. Aspek-aspek Pembelajaran Moral.
Sebagai sebuah tolok ukur perbuatan manusia, perlu diupayakan pembelajaran moral. Pembelajaran moral selain dapat didekati dari aspek kognitif (penalaran moral), dapat juga dikaji dari aspek afektif (perasaan moral), sehingga dapat mendorong terjadinya tindakan atau perilaku moral. Pembelajaran moral didekati dari aspek kognitif sebagai unsur pemahaman moral atau penalaran moral, yaitu untuk mempertimbangkan, menilai dan memutuskan suatu perbuatan, seperti baik atau buruk, etis atau tidak etis, benar atau salah berdasarkan prinsip-prinsip moral.

Pembelajaran moral dikaji dari aspek afektif sebagai unsur perasaan moral, agar memiliki kemampuan untuk mengambil sudut pandang orang lain, serta menempatkan dirinya ke dalam posisi orang lain, serta memiliki kemempuan untuk menyelesaikan pertentangan peran yang berkaitan dengan nilai-nilai moral seperti keadilan, persamaan, keseimbangan dan lain-lain. Penekanan aspek moral ini bukan hanya terbatas pada pengetahuan tentang moral, tetapi lebih kepada aksi moral, yaitu moral dijadikan sebagai perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.

C. Perkembangan Moral.
Perkembangan moral menurut “Kohlberg” dapat dijabarkan dalam tingkatan-tingkatan sebagai berikut:
Pra Konvensional. Pada perkembangan moral tingkat ini adalah perkembangan awal yang dialami anak usia dini. Pada usia tersebut anak memahami moral sebagai konsekuensi dari perilaku moral yang dilakukannya. Dalam tahap ini, anak dalam melakukan tindakan moral dalam tingkatan menghindari risiko / hukuman yang akan timbul jika ia tidak melaksanakan tindakan moral tersebut. Tahap kedua dari perkembangan Pra Konvensional menempati pandangan yang menekankan pada keuntungan materialyang dapat diperoleh. Hal ini yang dapat menimbulkan sikap tidak peduli terhadap persoalan orang lain yang tidak mengutungkan dirinya.
Konvensional. Hal itu terjadi secara umum pada remaja, seseorang yang ada pada tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat. Jadi, seseorang pada tahapan ini melakukan tindakan moral berorientasi pada pencitraan dirinya.
Pasca Konvensional. Adalah suatu tingkat pemahaman moral yang dialami orang dewasa. Pada masa tersebut, seseorang telah mencapai tingkatan tertinggi dari kesadaran moral. Pada tingkatan ini, seseorang yang melakukan tindakan moral didorong oleh kesadaran bahwa melakukan akan memberikan manfaat baik secara langsung ataupun tidak langsung kepada orang tersebut.

Perkembangan moral, seperti yang dijelaskan oleh “Piaget” dan “Kohlberg” tidak menjamin timbulnya tingkah laku moral, karena tidak semata-mata dipengaruhi oleh pengetahuan tentang konsep moral, tetapi juga ditentukan oleh banyak factor seperti tuntutan sosial, konsep diri anak, dan lain sebagainya.

Sumber: Psikologi Belajar Aplikasi Teori Belajar Dalam Pembelajaran, Dr.H.M.Muchlis Solichin, M.Ag, Pena Salsabila 2013.


Share:

Teori Perkembangan Manusia dari Masa Konsepsi Sampai Masa Dewasa

Teori Perkembangan Manusia dari Masa Konsepsi Sampai Masa Dewasa
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu hak dasar anak adalah hak untuk tumbuh dan berkembang. Artinya anak memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh secara fisik dan berkembang secara psikologis. Ini semua akan terjadi bila linkungan sangat kondusif sehingga memungkinkan perkembangan jiwa mereka dapat terlaksana dengan optimal.
Orangtua memiliki peranan yang amat penting dalam upaya mendukung perkembangan anak, khususnya saat mereka berada pada tahapan usia dini. Namun permasalahan seringkali muncul, manakala orangtua sering kurang memahami teori perkembangan anak. Tidak adanya pendidikan khusus untuk mempersiapkan seseorang menjadi orangtua juga semakin mempersulit tugas orangtua dalam menangani berbagai permasalahan perkembangan anak.

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Periodesasi Perkembangan
Periodesasi perkembangan maksudnya adalah pembagian seluruh masa perkembangan seseorang kedalam periode tertentu. Dalam studi ilmu jiwa perkembangan adalah ilmu pengetahuan praktis, yang dengan demikian dituntut pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam formulassi lain, ilmu jiwa perkembangan ilmu adalah ilmu amaliah untuk mewujudkan suatu amal yang ilmiah. Dari segi ini, periodesasi perkembangan sangatlah penting.
Para ahli psikologi perkembangan melakukan studi tentang perubahan tingkah laku itu dalam semua siklus kehidupan individu mulai masa konsepsi sampai mati, walaupun usaha-usahanya banyak difokuskan sampai pada periode remaja.
Dengan mengetahui periode-periode tertentu, maka seseorang akan mudah mengetahui bahkan meramalkan sifat-sifat dan kecenderungan anak dalam masa perkembangannya. Tanpa periodesasi kita tak bisa menyebutkan istilah bayi, anak kecil, kanak-kanak, remaja, dewasa dan sebagainya. Oleh karena dalam setiap istilah itu telah terkandung disana adanya periodesasi. Sampai disini, jelaslah bahwa dari segi teknis operasional, maka periodesasi perkembangan itu tak mungkin dihindarkan. Walaupun perpindahan dari satu periode ke periode lainnya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan terjadi sedikit demi sedikit.
Untuk menghasilkan kerangka yang memuaskan periodesasi perkembangan ini, juga telah dilakukan penelitian oleh para ahli. Dari hasil penelitian tersebut, akhirnya diketahui bahwa ternyata dasar yang digunakan untuk mengadakan periodesasi perkembangan berbeda-beda antara seorang dengan ahli yang lain. Tetapi secara garis besarnya periode itu ada tiga macam, yaitu periodesasi biologis, periodesasi didaktis, dan periodesasi psikologis.

B. Macam-macam Periodesasi Perkembangan
a. Periodesasi Biologis
Periodesasi biologis adalah pembagian masa perkembangan menjadi periode-periode tertentu, berdasarkan gejala berubahnya struktur fisik seseorang.

1. Menurut Aristoteles
Ia membagi periode perkembangan seseorang menjadi tiga periode, yakni :
a) Umur 0-7 tahun, disebut fase anak kecil atau masa bermain. Fase ini diakhiri dengan pergantian gigi.
b) Umur 7-14 tahun, disebut fase anak sekolah atau masa belajar yang dimulai dari tumbuhnya gigi baru dan diakhiri ketika kelenjar kelamin mulai berfungsi.
c) Umur 14-21 tahun, disebut fase remaja atau masa pubertas, yakni masa peralihan antara kanak-kanak dan masa dewasa. Periode ini dimulai sejak berfungsinya kelenjar kelamin sampai seorang anak memasuki usia dewasa.
Pendapat ini dikategorikan kepada periodesasi yang berdasarkan pada biologis, karena Aristoteles menunjukkan bahwa, antara fase I dan fase II itu ditandai dengan adanya pergantian gigi, serta batas antara fase II dan fase III ditandai dengan mulai bekerjanya atau berfungsinya organ kelengkapan kelamin, contoh : mulai aktif kelenjar kelamin.

2. Menurut Dr. Maria Montessori
a) Usia 1-7 tahun, masa penerimaan dan pengaturan rangsangan dari dunia luar melalui alat indra.
b) Usia 7-12 tahun, masa abstrak, dimana anak mulai memperhatikan masalah kesusilaan, mulai berfungsi perasaan etisnya yang bersumber dari kata hatinya. Dia mulai tahu akan kebutuhan orang lain.
c) Usia 12-18 tahun, masa penemuan diri serta kepuasan terhadap masalah-masalah sosial.
d) Usia 18-24 tahun, masa pendidikan diperguruan tinggi, masa untuk melatih anak (mahasiswa) akan realitas kepentingan dunia. Ia harus mampu berpikir secara jernih, jauh dari perbuatan tercela.

3. Menurut Orang Jawa
Dengan menganut paham “hasta irama” sementara kalangan orang Jawa berpendapat bahwa setiap 8 tahun sekali terjadi perubahan pada kehidupan seseorang baik dalam aspek jasmani maupun kerohanian. Menurut paham ini periodesasi perkembangan seseorang adalah sebagai berikut :
a. Umur 0-8 tahun, disebut masa bayi dan masa kanak-kanak.
b. Umur 8-16 tahun, disebut masa kanak-kanak sampai pemuda.
c. Umur 16-24 tahun, disebut masa pemuda sampai masa dewasa.

4. Menurut Sigmund Freud
Dalam menentukan periodesasi perkembangan, Freud berpedoman pada cara reaksi bagian tubuh tertentu yang dihubungkan dengan dorongan seksual seseorang. Lebih jelasnya, periodesasi perkembangan menurut Freud adalah sebagai berikut :
1. Umur 0-5 tahun, disebut periode infantile, periode kanak-kanak. Periode ini dibagilagi menjadi :
2. Fase Oral, umur 0-1 tahun, anak mendapatkan kepuasan seksual melalui mulutnya, seperti mengisap jari.
3. Fase Anal, umur 1-3 tahun, anak mendapatkan kepuasan seksual dengan memainkan anusnya.
4. Fase Falis, umur 3-5 tahun, anak dalam mendapatkan kepuasan seksual telah berkisar pada alat kelamin.
5. Umur 5-12 tahun, disebut periode latent, masa tenang karena dorongan seksual ditekan sedemikian rupa, sehingga tidak nampak mencolok.
6. Umur 12-18 tahun, disebut periode pubertas, saat dorongan-dorongan seksual mulai muncul kembali, bahkan tampak semakin menonjol daripada masa sebelumnya, saat seseorang secara sungguh-sungguh mulai tertarik pada jenis kelamin lain, sekaligus menandai kedewasaan seseorang.
Jadi, dari uraian beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwasanya periodesasi biologis itu berhubungan dengan perkembangan tahapan yang dilewati seorang anak sampai masa dewasa hingga masa meninggal.

b. Periodesasi Didaktis
Periode didaktis maksudnya adalah pembagian periode perkembangan atas dasar klasifikasi waktu, materi, dan cara pendidikan untuk anak-anak pada masa tertentu. Jelasnya periodesasi didaktis disusun dalam kaitan dengan usaha pendidikan.
Yang dimaksud dari tinjuan ini adalah dari segi keperluan/materi apa kiranya yang tepat di berikan kepada anak didik pada masa-masa tertentu, serta memikirkan tentang kemungkinan metode yang paling efektif untuk di terapkan di dalam mengajar atau mendidik anak pada masa tertentu tersebut. Adapun hadist yang menyetakan tentang didaktis adalah:
اَدِّبُوْا اَوْلَادَكُمْ عَلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ حُبِّ نَبِيِّكُمْ وَ حُبِّ اَهْلِ بَيْتِهِ وَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فَإِنَّ حَمَلَةَ الْقُرْآنِ فِى ظِلِّ اللهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ مَعَ أَنْبِيَائِهِ وَ أَصْفِيَائِهِ ( رواه الديلمى عن علي )
Artinya:
“Didiklah anak-anakmu dalam tiga hal: Mencintai Nabimu, mencintai keluarga Nabi dan membaca Qur’an, karena sesungguhnya orang yang menjunjung tinggi Qur’an akan berada di bawah lindungan Allah, di waktu tidak ada lindungan selain lindungan-Nya, bersama Nabi-Nabi Allah dan Pilihan-Nya.” (Diriwayatkan oleh Dailami dari ‘Ali)
Pada hadist lain yaitu :
حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ كَمَا تَنَاتَجُ الْإِبِلُ مِنْ بَهِيمَةٍ جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّ مِنْ جَدْعَاءَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ مَنْ يَمُوتُ وَهُوَ صَغِيرٌ قَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ (رواه أبو داود)
Artinya:
“Menceritakan kepada kami Al-Qa’nabi dari Malik dari Abi Zinad dari Al–A’raj dari Abu Hurairah berkata Rasulullah saw bersabda : “Setiap bayi itu dilahirkan atas fitroh maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasroni sebagaimana unta yang melahirkan dari unta yang sempurna, apakah kamu melihat dari yang cacat?”. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapat tuan mengenai orang yang mati masih kecil?” Nabi menjawab: “Allah lah yang lebih tahu tentang apa yang ia kerjakan””. (H.R. Abu Dawud)

1. Menurut Undang-Undang Pokok Pendidikan
Jenjang pendidikan menurut Undang-Undang Pokok Pendidikan No. 4 tahun 1950 pasal 6, adalah sebagai berikut :
a) Pendidikan tingkat taman kanak-kanak.
b) Pendidikan tingkat sekolah dasar.
c) Pendidikan tingkat sekolah menegah.
d) Pendidikan tingkat perguruan tinggi.

c. Periodesasi Psikologis
Periodesasi Psikologis, maksudnya adalah pembagian masa perkembangan atas dasar keadaan dan ciri-ciri khas kejiwaan anak pada periode tertentu. Ada sejumlah ahli yang memprakarsai pembagian semacam ini, antara lain :

1. Menurut Oswald Kroh
Dengan menitik beratkan terjadinya kegoncangan psikis pada diri seseorang, maka Kroh menyusun periodesasi perkembangan sebagai berikut :
a) Umur 0-3 tahun, disebut masa trots (kegoncangan) pertama, atau masa kanak-kanak awal.
b) Umur 3-13 tahun, disebut masa trots kedua, yaitu masa keserasian anak untuk memasuki sekolah.
c) Umur 13-akhir remaja, disebut masa trots ketiga, atau masa kematangan seseorang.

2. Menurut J. Havighurst
Berpangkal dari analisis perubahan psikis seseorang, menurut Havighurst, periodesasi perkembangan dapat disusun sebagai berikut :
a) Umur 0-6 tahun, adalah masa bayi dan masa anak kecil.
b) Umur 6-12 tahun, adalah masa kanak-kanak ata masa sekolah.
c) Umur 12-18 tahun, adalah masa remaja.
d) Umur 18-30 tahun, adalah masa dewasa awal.
e) Umur 30-50 tahun, adalah masa setengah baya, masa dewasa lanjut.
f) Umur 50 tahun keatas, adalah masa lanjut usia atau masa tua.

3. Menurut Charlotte Buhler,
membagi perkembangan anak menjadi lima fase, yakni :
a) Fase I, umur 0-1 tahun, perkembangan sikap subjektif menuju objectif.
b) Fase II, umur 1-4 tahun, makin meluasnya hubungan dengan benda-benda sekitarnya, atau mengenal dunia secara subjectif.
c) Fase III, umur 4-8 tahun, masa memasukkan diri dalam masyarakat secara objectif, adanya hubungan diri dengan lingkungan sosial dan mulai menyadari akan kerja, tugas serta prestasi.
d) Fase IV, umur 8-13 tahun, munculnya minat kedunia objek sampai pada puncaknya, ia mulai memisahkan diri dari orang lain dan sekitarnya secara sadar.
e) Fase V, umur 13-19 tahun, masa penemuan diri dan kematangan yakni Synthesa sikap subjectif dan objectif.
Sampai di sini jelaslah, bahwa periodesasi perkembangan itu dapat disusun dalam rumusan yang bervariasi, masing-asing mempunyai dasar dan maksud tersendiri. Seperti telah diuraikan terdahulu, paling tidak ada 3 macam landasan untuk menyusun periodesasi perkembangan, yaitu: dasar biologis, didaktis, dan psikologis. Ketiganya, sama-¬sama penting untuk diperhatikan. Tetapi yang lebih penting lagi, bahwa rumusan periodesasi perkembangan hendaknya tidak terlalu muluk-muluk, ruwet, teoritis, dan asing bagi masyarakat kita. Oleh karena, dengan periodesasi perkembangan, maksudnya adalah untuk berkomunikasi tentang konsep atau istilah tertentu. Berkomunikasi dengan siapa? Dengan masyarakat umum, dan dengan dunia ilmu jiwa perkembangan khususnya.
Atas dasar pandangan tersebut, periodesasi perkembangan yang relatif cocok untuk membicarakan perihal kehidupan anak-anak kita, tidak lain adalah yang sesuai dengan klasifikasi jenjang pendidikan formal, yaitu taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, dan perguruan tinggi. Telah dimaklumi, masing-masing membutuhkan jarak waktu 6 tahun. Hanya saja, setiap jarak waktu 6 tahun tersebut, bisa diperinci menjadi bagian yang lebih kecil lagi. Misalnya periode taman kanak-kanak yang biasanya hanya membutuhkan waktu selama 2 tahun, tentu saja bisa diawali dengan pembicaraan tentang masa bagi, masa anak kecil, barn masa taman kanak-kanak itu sendiri. Demikian halnya, untuk periode sekolah dasar, sekolah menengah, dan perguruan tinggi.
Dengan memperhatikan periodesasi yang dikemukakan oleh para ahli di atas baik yang ditinjau dari segi biologis, didaktis, dan psikologis, maka dalam artikel ini dibuat gambar dan urut-urutan periodesasi perkembangan manusia tersebut, sebagai berikut :

a. Masa Intra Uterin (masa dalam. kandungan)
b. Masa Bayi
c. Masa Anak Kecil
d. Masa Anak Sekolah
e. Masa Remaja
f. Masa Dewasa dan Lanjut Usia
III. KESIMPULAN
1. Periodesasi perkembangan maksudnya adalah pembagian seluruh masa perkembangan seseorang kedalam periode tertentu.
2. Dengan mengetahui periode-periode tertentu, maka seseorang akan mudah mengetahui bahkan meramalkan sifat-sifat dan kecenderungan anak dalam masa perkembangannya. Tanpa periodesasi kita tak bisa menyebutkan istilah bayi, anak kecil, kanak-kanak, remaja, dewasa dan sebagainya.
3. secara garis besarnya periodesasi itu ada tiga macam, yaitu periodesasi biologis, periodesasi didaktis, dan periodesasi psikologis.


IV. DAFTAR RUJUKAN
Dra. Hamdanah HM, M.Ag,. Psikologi Perkembangan, Malang: Setara Press, Januari 2009
Dr. H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja
Ahmadi,Abu, dkk, Psikologi Perkembangan, Jakarta : PT. Rineka Cipta, Januari 2005
Fachruddin HS dan Irfan Fachruddin, S.H. Pilihan Sabda Rasul (Hadis-Hadis Pilihan). Jakarta: Bumi Aksara (1996)
Drs. Zulkifli L, Psikologi Perkembangan¸Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.
Share:

Discourse communities and speech communities

Discourse communities and speech communities
2.1. Discourse communities and speech communities
A key notion of discourse analysis is a concept of discourse community. Discourse community is a group of people who share some kind of activity such as member of a club or association who have regular meeting. Or a group of student who go to classes at the same university. Members of a discourse community have particular ways of communicating with each other. They generally have shared goal and may have shared value and beliefs. Swales (1990) provides a set of characteristic for identifying a group of people as members of a particular discourse community, the group must have some set of shared common goals, some mechanisms for communication, and some way of providing the exchange of information amongst its member . The community must have its own particular genres, its own set of specialized terminology and vocabulary, and a high level of expertise in its particular area. These goals may be formally agreed upon (as in the case of clubs and associations) ‘or they may be more tacit’ (Swales 1990:24). The ways in which people communicate which each other and exchange information will vary according to the group. This might include meeting, newsletter, casual conversations or a range of other types of written and/or spoken communications. That is, the discourse community will have particular ways for communicating with each other and ways of getting things done that have developed through time.

Discourse communities also interact with wider speech communities. For example, the academic discourse community of students and academics also interacts with the wider speech community of the town or city in which the academic institution is located (Swales 1993). It is for these reasons that some people prefer the term communities of practice (Wenger 1998; Barton and Tusting 2005) to the term ‘Discourse community’. The notion of discourse community is not. However, as straight forward a concept as it might seems. There are often discourse communities within discourse analysis. Swales’ (1998) book Other Floors, Other Voices shows this well. Swales carried out a study of the building in which he was working at the time at the university of Michigan. He worked on the top floor of a small university building. The other floors were occupied by the computing resource site and a herbarium. He looked at the kinds of activities people working in each floor were engaged in and the kinds of text they wrote. He also interview members of staff to get an understanding of why they wrote the kinds of texts they did. He found that people on each floor wrote quite different texts and were an example of discourse community of their own. Swales propose the notion of place discourse community to account for this kind of situations.

Devitt (2004: 42 - 4) adds to this discussion by proposing three types of group of language user: communities, collectives and networks. Communities are ‘groups of people who share substantial amounts of time together in common endeavors’, such as a group of people who all work in the same office. Collectives are group of people that ‘form around a single repeated interest, without the frequency or intensity of contact of community’, such as people who are members of a bee-keeping group, or voluntary members of community telephone advice service. Network is group of people that are not tightly knit as speech communities with connection being made by one person ‘who knows another person, who knows another person’. Such as connections that are made through email messages sent and received by people who may never have (or never will) met each other but are participating in a common discourse.

2.2 Speech communities and spoken and written discourse
Speech community is a boarder than the term discourse community. According to Richard Nordquist, speech community is a term in sociolinguistics and linguistics anthropology for a group people who use the same variety of a language and who share specific rules for speaking and for interpreting speech. It includes discourse communities and the repertoire and varieties of languages that members of the speech community use to interact with each other. Speech community is important for the discussions of spoken and written discourse. In linguistics, a speech community refers to any a group of people that speak the same language.

Defining a speech community
There are some factors that make easier to define a speech community other than just language. Those are social, geographical, cultural, political and ethnic factors, race, age and gender.
Not all of speakers always be full members of particular speech communities. For example is in the case of second language setting. For example, a speaker may participate, only to a certain degree, in the target speech community. The degree to which occurs may be due to factors such as age to entry into the speech community, the speech community’s attitudes and expectations towards the place of second language speakers in the speech community or other factors such as educational or occupational opportunities, limitations in the particular speech community. It also can depend on the other factor such as on a person’s degree of proficiency in the second language and the extent to which they want to be part of the second language speech community.
Speech community may be quite separate or overlap or intersect with each other. Speakers often have repertoire of social identities and speech community memberships each of which is associated with particular kinds of verbal and non-verbal expression.

2.3. Discourse and language choice
Discourse and language choice is a variation of language when we interact with the other communities as explained by Holmes (2001) that the choice of language is being used in such as, with family, among friends, and in religious, educational and employment settings. Social factors such as who we are speaking to, the social context of the interaction, the topic, function and goal of the interaction, social distance between speakers, the formality of the setting or type of interaction and the status of each of the speakers are also important for accounting for the language choice that a person makes in these kinds of settings.
“A speaker or writer may also be the speaker of a particular language variety but be using that variety to communicate with a wider speech community than just their own. The best seller Eats, Shoots & Leaves” (Truss 2003) for examples:
2.4. Discourse, Social class and Social Networks
Social Class and Social networks are a the way we spoken or written with the other but we have to use the words or speech be right and polite such as when we speak or write something to family we use the word be polite.
According to Milroy (1997: 60-1) explain:
“Social networks and social class represent different orders of generalization about social organization. Class accounts for the hierarchical structure of society …, whereas network deals with the dimension of solidarity at the level of the individual and his or her everyday contacts”.

2.5. Discourse and Gender
Simone de Beauvoir famously said ‘one is not born, but rather becomes a woman’. Performativity is based on the view that in saying something, we do or become it. A person learns, for example, how to do and turn display, being a woman in a particular social setting, of a particular social class. People perform particular identities through their use of language and other way of expressing themselves in their interactions with each other. Mostly, this is done unconsciously as we repeat acts such as gesture, movement, and way of using the language that signify, or index a particular identity. These acts are not, however, natural nor are they part of the essential attributes of a person. They are part of what people acquire in their interactions with each other.

Lakoff (1975) proposed what she called women’s language; that is a use of language that is different from men’s language or rather, what she termed ‘neutral language’. This language, she argued, included feature such as the use of overly polite forms, the use of question tags, rising intonation in declarative the avoidance of expletives, a greater use of diminutives and euphemism, the use of more hedges and mitigating devise, more indirectness and the use of particular vocabulary items such as ‘adorable, charming, and sweet’ (woman language) versus ‘great, terrific, and cool’ (neutral language). This use of language, she argued, made woman’s language tentative and, couple with the use of demeaning and trivializing term for women, work to keep the women in their place in society. These differences, she argued were the result of, and reinforced, men’s dominance over women.

Lakoff’s book led to two separate view of women’s language the dominance approach and the difference (or cultural) approach. Spender’s (1980) man made language is an example of the dominance approach which sees differences in the use of language as a result of men’s domination over women. This view focuses on the distribution of power in society and argues that women’s language reflects women’s subordinate position and society and persists to keep them in that position (Eckert and McConnell-Ginet 2003). Participants in discourse, in this view, collude in sustaining and perpetuating male dominance and female expression in society.

Tannen’s (1990) you just don’t understand is an example of the difference approach. Tannen argued that boys and girls live in different subcultures in the way that people from different social and ethnic backgrounds might be described as being part of different subcultures. As a consequence boys and girls grow up learning different ways of using language and communicating with people in other cultural group (for example, men).
In a critique of both the dominance and difference views of language and gender, Cameron (1998) argues that expression of gender and power are always context-specific and need to be understood in relation to who the person is speaking to, ‘from what position and for what purpose’ (Cameron 1998:451); that is what the use of language means in terms of the relationship between the speakers in the particular situation in which the interaction occurs.

The discussion of how men and women speak, and what they do as they speak, has also been extended to how people speak about men and women. Holmes (2004), for example, compared the use of the terms woman and lady and found that the social significance of these terms has changed over the last 30 years. She found women, for example, has moved from being mark impolite at the time Lakoff was writing to a situation where this is no longer the case (although woman is more frequently use in written British English than in spoken British English). She also found that while lady /ladies may be used as a politeness marker in formal settings (as it was becoming at the time Lakoff was writing), nowadays, in informal settings, it is also used to trivialize and patronize.

As Cameroon and Kulick (2003, 57) argue, ‘the relationship between language and gender is almost always indirect, mediated by something else’. The ways that people speak are, in the first instance, associated with particular roles, activities and personality traits, such as being a mother, gossiping and being modest (Cameron and Kulick 2003).
So, gender is only one part of person’s social identity, and it is an aspect which will be more or less salient in different contexts. In some contexts, for example, it may be more important to emphasise one’s personal expertise, one ethnic identity. Or one’s age than one gender. (Holmes 1997:9)

2.6. Discourse and sexuality
Discourse and sexuality is about how language interacts to sexuality. Exactly discourse and society has correlation with the topic of gender and discourse which the language are using by human it depend with gender such as woman who has identity how their language. The polite form of language, use of question tag, rising intonation in declarative and the other politeness, it is the particular part of woman language. It is difference with the style of men. They often use word such as “ehmm”, “do you know”, “swetee” and etc.

Gender as we know that it is constructed by social. Sexuality is the human unconscious desire until made over. Desire in this context is the guide thing is no awareness control. Which is as example have desire to intimate for man to the other man overly. We call it gay. Gay is “a term that primarily refers to a homosexual person or the trait of being homosexual” (Wikipedia). Homosexual is “from ancient Greek meaning “same” and Latin sexus, meaning “sex”) is romantic attraction, sexual attraction or sexual behavior between members of the same sex or gender.”(Wikipedia). Desire is “encompasses more than just the preference for partner of the same or other sex: it also deals with the non-intentional, non- conscious and non-rational dimensions of human sexual life.” It also have identity are consciously namely gay, lesbian, straight and etc. Gay is men who less of masculine and has sex with other men. Lesbian is romantic love and sexual attraction by female or homosexual by female.

There many characterize of language used by homosexual. Hayes’s claim the characterized is used argot (a secret language are used by some community), innuendo (“ is an insinuation or imitation about person or thing especially of denigrating or a derogatory nature” Wikipedia), categorization, strategic evasions is like omitting or changing gendered pronouns. There are three theoretically of gay speak:
1. To protect the identity or against the exposure and use innuendo
2. When express about gay to careful, and doesn’t the vocabulary are defining sexual roles and behaviors
3. Politicizing social life as the source activities.

2.7. Discourse and identity
every people has their identity in their life it can be identity as a women an identity as mother an identity as a father and also identity as a someone dealt with their job or profession Their identity can be seen when their making conversation with the other using language Blommaert pointed out that the information a person give of about themselves that show their identity depend much on the contexts occasion and the purpose of the discourse the way people write down an online it also show their identity the By the way the write people will know your identity violetta: I’d have whole typing styles for people like if I were trying to trick someone I know into thinking I was someone else I’d type a lot differently than I do normally A person’s typing style can give them away like their voice does (Thomas)

 Identity and casual conversation
Casual conversation is type of talk in which people feel more relaxed most spontaneous it means that if we doing casual conversation they establish solidarity through the confirmation of similarities the way the casual conversation same like all the spoken interactions where it is influenced by the relationship between the people speaking.

 Identity and written and academic discourse
Written and academic discourse dealt with they or people or student that should be write their discourse in their second language while the way that they should be write is having different way from their fist language.

2.8. Discourse and Ideology
As Threadgold (1989) observes, text are never ideology free nor objective. Nor can they be separated from the social realities and processes they contribute to maintaining. Foe Threagold, spoken and written genre are not just linguistic categories but among the very processes by which dominant ideologies are reproduced, transmitted and potentially changed (1989:107)
There are a number of ways in which ideology might be explored in a text. The analysis may start by looking at textual features in the text and move from there to explanation and interpretation of the analysis. This may include tracing underlying ideologies from the linguistic features of a text, unpacking particular biases and ideological presupposition underlying the text and relating the text to other text and to reader and speaker own experiences and beliefs ( Clark 1995).

The example is Carrie had just discovered an engagement ring in her boyfriend. Aiden's overnight bag. She then went into the kitchen and vomited. She is telling her friends about this incident:
Charlotte: You're getting engaged!
Carrie: I threw up. I saw the ring and I threw up. That’s not normal.
Samantha: That’s my reaction to marriage
Miranda: what do you think you might do if he asks?
Carrie: I don’t know
Charlotte: Just say yessss!!!
Carrie: Well, it hasn’t been long enough has it?
Charlotte: Trey and I got engaged after only a month.
Samantha: How long before you separated?
Charlotte: We are together now and that’s what matters. When it’s right you just know.
Samantha: Carrie doesn’t know
Carrie: Carrie threw up
Samantha: So it might not be right…

A key term in literary and cultural value as fore grounded in the conversation, if a man asks a woman to marry him she should ‘Just say Yes’ (the title of the episode). Other value and background or rather omitted, such as Carrie’s views on Aiden’s occupation, ethnic background and social class possibly because the audience of the show already knows this (no because, in this case, they are not relevant).

An analysis of this kind takes the level of description to a deeper understanding of text and provides, as far as might be possible, some kind of explanation of why a text might be as it is and what it is aiming to do. The relationship between language, social norms and values to describe, interpret and explain this relationship. In doing so, it aims to provide a way of exploring and perhaps challenging some of hidden and out of sight social, cultural and political values the underline the use of spoken and written discourse.

REFFERENCE
Partridge, Brian. (2006). Discourse Analysis. New York: The Tower Building
Share:

Sabtu, 02 April 2016

Budaya Masyarakat Madura suatu sistem kerabatan

 Budaya Masyarakat Madura suatu sistem kerabatan
Kekerabatan adalah hukum adat yang mengatur tentang bagaimana kedudukan pribadi seseorang sebagai anggota kerabat, kedudukan anak terhadap orang tua dan sebaliknya kedudukan anak terhadap kerabat yang lain, serta masalah perwalian anak[1]. Masyarakat adat madura memiliki suatu sistem kekerabatan yang khas dan unik. Sistem kekerabatan itu menjadi pembeda dengan yang lainnya.

sistem Kekerabatan Masyarakat Madura.
Dalam sistem kekerabatan masyarakat madura dikenal tiga kategori sanak keluarga atau kerabat, yaitu:
1. Taretan Dalem.
2. Taretan Semma'.
3. Taretan Jhau.

Sedangkan dalam sistem sosialnya, masyarakat Madura mengenal dua kepemimpinan yang menjadi panutan dan harus dipatuhi apa yang menjadi perintahnya. Adapun dari kedua pemimpin tersebut adalah, ialah:
1. Pemimpin formal atau kepala desa yang sering disebut dengan istilah setempat dengan Kalebun..
2. Pemimpin nonformal atau yang disebut dengan Keyaeh. Keyaeh atau pemangku adat merupakan pemimpin bersifat non formal. Meskipun nonformal, kharismatik kepemimpinannya cukup penting dan vital bagi berlangsungnya kehidupan adat istiadat. Hal ini karena keyaeh memegang kedudukan penting dalam setiap kegiatan adat, utamanya upacara adat yang bernuansa agamis.

Kekerabatan mempunyai hubungan hukum yang didasarkan pada hubungan darah, antara lain antara orang tua dengan anak-anaknya. Juga karena hukum yang berhubungan dengan keturunan yang bergandengan dengan ketunggalan leluhurnya, tetapi hukum tersebut tidak semuanya sama diseluruh daerah.

Menurut Prof. Bushar Muhammad,SH, keturunan dapat bersifat :
Lurus. Apabila seseorang merupakan langsung keturunan dari yang lain
Menyamping atau bercabang. Apabila antara kedua orang atau lebih terdapat adanya ketunggalan leluhur.[2].

Keunikan sistem Kekerabatan Masyarakat Madura.
Istilah unik menunjuk pada pengertian leksikal bahwa entitas etnik madura merupakan “komunitas tersendiri” yang mempunyai karakteristik berbeda dengan etnik lain dalam bentuk maupun jenis etnografinya[3]. Keunikan budaya Madura itu tampak tidak sejalan dengan kuantitas komunalnya yang menyebar ke berbagai daerah di Nusantara. Diantara keunikan pola/sistem kekerabatan masyarakat madura, adalah:

Kekerabatan Masyarakat Madura Di Rantau.
Masyarakat madura ketika di rantau pun, mereka akan merasa bahwa yang namanya orang madura dari belahan manapun adalah satu saudara. Fakta ini terkadang menimbulkan penafsiran, seolah orang madura ekslusif dan enggan berdampingan dengan etnis lain. Lambat laun, pola pemukiman mereka tak jauh berbeda dari substansi Taneyan Lanjhang. Mereka juga suka menggelar perkumpulan-perkumpulan sebagai wadah silaturrahmi yang seperti di kampung asalnya, yang dalam beberapa tempat perkumpulan ini diberi nama Kambrat. Salah satu upaya yang dilakukan masyarakat madura untuk mempererat dan melestarikan tali kekerabatan yang disebut dengan mapolong tolang adalah menikahkan anaknya dengan anak kerabatnya[4].

Religiusitas Masyarakat Madura.
Sistem kekerabatan masyarakat madura yang kuat seperti ini tak lepas dari nilai kehidupan yang telah dijalani, yang tak lepas dari nilai religius yang tercermin dalam falsafah hidup "Abhantal syahadat, asapo' iman, apajung rahmatah Alloh"[5]. Agama bagi orang Madura adalah bingkai dalam kehidupan. Hal itu terlihat dalam pola taneyan lanjhang yang di dalamnya terdapat langgar sebagai tempat shalat dan sebagai tempat menerima tamu laki-laki.

DAFTAR KAJIAN
1. Hilman Hadikusuma (2003), Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Bandung, Mandar Maju.
2. Bushar Muhammad (2006), Pokok-pokok Hukum Adat, Jakarta, PT Pradnya Paramita.
3. Latief Wiyata, Carok ; Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura(Yogyakarta: LKiS, 2006).
4. Kuliah Tarikh Tasyri' DR.M.Zaini,MA, di STAIN Pamekasan, 16 Mei 2015.


[1] Hilman Hadikusuma (2003), Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Bandung, Mandar Maju.
[2] Bushar Muhammad (2006), Pokok-pokok Hukum Adat, Jakarta, PT Pradnya Paramita.
[3] Hilman Hadikusuma (2003), Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Bandung, Mandar Maju.
[4] Latief Wiyata, Carok ; Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura(Yogyakarta : LKiS,
2006)
[5] Kuliah Tarikh Tasyri' DR.M.Zaini,MA, di STAIN Pamekasan, 16 Mei 2015.
Share:

Popular Posts

Label