Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Senin, 14 Januari 2019

TELAAH PENGEMBANGAN SILABUS DAN RPP

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Gebrakan yang inovatif dalam proses pembelajaran tidak hanya akan mampu menciptakan suasana yang kondusif tetapi juga efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan. Untuk menghadapi era globalisasi yang penuh dengan persaingan dan perubahan dibutuhkan pendidik yang visioner, diperlukan perubahan strategis dan model pembelajaran yang menyenangkan.
Proses pembelajaran akan sangat menentukan dalam tercapainya tujuan pendidikan. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Perencanaan yang baik dalam proses pembelajaran, akan memudahkan pendidik dalam menjalankan kewajibannya serta membantu peserta didik dalam memahami materi yang diajarkan.
Dua komponen utama dalam perencanaan proses pembelajaran sebagaimana disebutkan dalam PP di atas yakni silabus dan RPP. Silabus dan RPP merupakan sumber pokok dalam penyusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu SK maupun satu KD. Dua komponen ini bermanfaat sebagai pedoman untuk merencanakan pengelolaan kegiatan pembelajaran, misalnya kegiatan belajar secara klasikal, kelompok kecil, atau pembelajaran secara individual.
Demikian pula, silabus sangat bermanfaat untuk mengembangkan sistem penilaian. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi sistem penilaian selalu mengacu pada SK, KD, dan indikator yang terdapat di dalam silabus. Sedangkan RPP memberikan acuan bagaimana agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik dan mencapai indikator pencapaian.
B.Rumusan Masalah
1.Apa pengertian telaah perangkat Pembelajaran Tingkat SD/MI?
2.Bagaimana proses Telaah pengembangan Silabus dan RPP pada tingkat SD/MI?

C.Tujuan
1.Untuk mengetahui pengertian telaah perangkat Pembelajaran Tingkat SD/MI
2.Untuk mengetahui proses Telaah pengembangan Silabus dan RPP pada tingkat SD/MI

BAB II
PEMBAHASAN
A.pengertian Telaah Perangkat Pembelajaran
Telaah adalah penyelidikan, kajian, pemeriksaan, dan penelitian. Kurikulum adalah rencana tertulis tentang kemampuan yang harus dimiliki berdasarkan standar nasional, materi yang perlu dipelajari dan pengalaman belajar yang harus dijalani untuk mencapai kemampuan tersebut, dan evaluasi yang perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pencapaian kemampuan peserta didik, serta seperangkat peraturan yang berkenaan dengan pengalaman belajar peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya pada satuan pendidikan tertentu.
Pendidikan berusaha mengembangkan potensi individu agar mampu berdiri sendiri. Untuk itu individu perlu diberi berbagai kemampuan dalam pengembangan berbagai hal seperti: konsep, prinsip kreativitas, tanggung jawab, dan keterampilan. Dengan kata lain perlu mengalami perkembangan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Demikian pula individu jangan makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan lingkungan sesamanya.
Jadi, telaah mata pelajaran / kurikulum adalah suatu kajian terhadap kompetensi, materi, evaluasi serta perencanaan pembelajaran yang dapat dijadikan pedoman bagi guru di sekolah.

B.Penerapan Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah
Secara teknis, penerapan pendidikan budi pekerti di sekolah setidaknya dapat ditempuh melalui empat alternatif strategi secara terpadu.
a)Strategi pertama ialah dengan mengintegrasikan konten kurikulum pendidikan budi pekerti yang telah dirumuskan ke dalam seluruh mata pelajaran yang relevan, terutama mata pelajaran agama, kewarganegaraan, dan bahasa (baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah).
b)Strategi kedua ialah dengan mengintegrasikan pendidikan budi pekerti ke dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.
c)Strategi ketiga ialah dengan mengintegrasikan pendidikan budi pekerti ke dalam kegiatan yang diprogramkan atau direncanakan.
d)Strategi keempat ialah dengan membangun komunikasi dan kerjasama antara sekolah dengan orang tua peserta didik.

C.Telaah Pengembangan silabus PAI
Salah satu inovasi dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah adanya peluang bagi daerah atau sekolah untuk mengembangkan silabus sesuai kondisi dan kebutuhan. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan atau kelompok mata pelajaran tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar materi, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu dan sumber/bahan/alat belajar.
Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Penentuan kemasan silabus berdasarkan atas prinsip keterbacaan, kepraktisan, dan kemudahan dalam membawa dan menyimpan. Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari SK dan KD yang ingin dicapai, dan materi pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai SK dan KD.
Seperti diketahui, dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditentukan SK yang berisikan kebulatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang ingin dicapai, materi yang harus dipelajari, pengalaman belajar yang harus dilakukan, dan sistem evaluasi untuk mengetahui pencapaian SK. Dengan kata lain, pengembangan kurikulum dan pembelajaran menjawab pertanyaan (1) Apa yang akan diajarkan (SK, KD, dan Materi Pembelajaran); (2) Bagaimana cara melaksanakan kegiatan pembelajaran, metode, media); (3) Bagaimana dapat diketahui bahwa SK dan KD telah tercapai (indikator dan penilaian).
Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang harus dipegang oleh guru ketika melakukan pengembangan silabus:
1.Ilmiah; Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Di samping itu, strategi pembelajaran yang dirancang dalam silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori belajar.
2.Relevan; Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik. Kesesuaian antara isi dan pendekatan pembelajaran yang tercermin dalam materi pembelajaran dan kegiatan/proses pembelajaran akan mempengaruhi kebermaknaan pembelajaran.
3.Sistematis; Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. SK dan KD merupakan acuan utama dalam pengembangan silabus.
4.Konsisten; Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara KD, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta teknik dan instrumen penilaian.
5.Memadai; Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian KD.
6.Aktual dan Kontekstual; Cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7.Fleksibel; Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat.
8.Menyeluruh; Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor.
9.Desentralistik. Pengembangan silabus ini bersifat desentralistik. Maksudnya bahwa kewenangan pengembangan silabus bergantung pada daerah masing-masing, atau bahkan sekolah masing-masing.

D.Telaah Pengembangan RPP
RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup rencana pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk satu kali pertemuan atau lebih. RPP berisi garis besar (outline) apa yang akan dikerjakan oleh guru dan peserta didik selama proses pembelajaran, baik untuk satu kali pertemuan, maupun beberapa kali pertemuan.
Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan ke¬giatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Prinsip pengembangan RPP antara lain: memperhatikan perbedaan individu peserta didik, mendorong partisipasi aktif peserta didik, mengembangkan budaya membaca dan menulis, memberikan umpan balik dan tindak lanjut, keterkaitan dan keterpaduan, dan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.
Komponen RPP adalah:
1.Identitas mata pelajaran
2.Standar kompetensi; merupakan kualifikasi kemam¬puan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
3.Kompetensi dasar; adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran ter¬tentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompe¬tensi dalam suatu pelajaran.
4.Indikator pencapaian kompetensi; adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilai¬an mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja opera¬sional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
5.Tujuan pembelajaran; menggambarkan proses dan ha¬sil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
6.Materi ajar; memuat fakta, konsep, prinsip, dan pro¬sedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe¬tensi.
7.Alokasi waktu; ditentukan sesuai dengan keperluan un¬tuk pencapaian KD dan beban belajar.
8.Metode pembelajaran; digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembela¬jaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemi¬lihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situ¬asi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
9.Kegiatan pembelajaran

E.Telaah Pengembangan Materi Pembelajaran PAI dan Budi Pekerti
1.Pembelajaran PAI
Materi Pembelajaran pada hakekatnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat Kegiatan Pembelajaran. Secara garis besar dapat dikemukakan bahwa Materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran tersebut harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta tercapainya indikator. Materi Pembelajaran pada hakekatnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat Kegiatan Pembelajaran.
Mata pelajaran PAI dalam kurikulum 13 adalah salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, menghayati agama Islam yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, keteladanan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan.

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Perencanaan pembelajaran yang baik akan menghasilkan proses pembelajaran yang baik, dan proses yang baik berpeluang besar memperoleh hasil yang baik pula. Silabus dan RPP sebagai komponen utama perencanaan pembelajaran memegang peranan penting tercapainya keberhasilan proses pembelajaran. Untuk itu, pengembangan silabus dan RPP mutlak diperlukan terutama dalam pembelajaran mata pelajaran PAI pada jenjang SD.
Agar pengembangan silabus dan RPP PAI SD berjalan dengan baik, maka perlu memperhatikan prinsip pengembangannya. Dalam upaya pengembangan silabus, prinsip yang perlu diperhatikan yaitu ilmiah, relevan, sistematis, konsisten, memadai, aktual dan kontekstual, fleksibel, dan menyeluruh. Sedangkan prinsip pengembangan RPP antara lain: memperhatikan perbedaan individu peserta didik, mendorong partisipasi aktif peserta didik, mengembangkan budaya membaca dan menulis, memberikan umpan balik dan tindak lanjut, keterkaitan dan keterpaduan, dan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.
Selama pengembangan silabus dan RPP PAI memperhatikan prinsip-prinsip tersebut, maka pembelajaran PAI SD akan lebih menarik bagi peserta didik. Apalagi untuk mata pelajaran PAI yang berisi banyak kisah, maka kemasan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan akan menghilangkan rasa bosan dalam pembelajaran PAI SD.

DAFTAR RUJUKAN
E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Suatu Panduan Praktis, Cet. III Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007
Idi, Abdullah, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011
Khaerudin et.al., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP): Konsep dan Implementasinya di Madrasah, Cet. II Yogyakarta: Pilar Media, 2007
Maunah, Binti, Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Yogyakarta: Teras, 2009
Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 20
Permendiknas RI No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
Rahmat, Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam Yogyakarta: Magnum Pustaka, 2010
Susilo, Muhammad Joko, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007

Share:

Minggu, 13 Januari 2019

PERANAN FILSAFAT PENDIDIKAN DALAM PENGEMBANGAN TEORI BELAJAR

A. Pendahuluan
Dalam upaya memajukan kehidupan suatu bangsa dan negara, sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, maka di dalamnya terjadi proses pendidikan atau proses belajar yang akan memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang atau si terdidik ke arah kedewasaan dan kematangan. Proses tersebut akan membawa pengaruh terhadap perkembangan jiwa seorang anak didik , dan subjek didik ke arah yang lebih dinamis, baik terhadap bakat atau pengalaman, moral, intelektual maupun fisik menuju kedewasaan dan kematangan.
Untuk memberikan makna yang lebih jelas dan tegas tentang kedewasaan dan kematangan yang ingin dituju dalam pendidikan, apakah kedewasaan yang bersifat biologis, psikologis, pedagogis, dan sosiologis, maka masalah ini merupakan bidang garapan yang akan di rumuskan oleh filsafat pendidikan. Disamping itu, pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua manusia, baik potensi jasmani maupun potensi rohaninya berkembang sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu, lahirlah pemikiran manusia untuk memberikan alternatif pemecahan masalah terhadap perkembangan potensi manusia
Baca Juga PERANAN GURU SEBAGAI INSAN MULTIDIMENSI
Dari uraian di atas, jelas bahwa pendidikan adalah sebagai pelaksanaan dari ide-ide filsafat. Dengan kata lain, ide filsafat telah memberikan asas sistem nilai atau normatif bagi peranan pendidikan yang telah melahirkan ilmu pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan, dan segala aktivitasnya. Sehingga dapat dikatakan, bahwa filsafat pendidikan sebagai jiwa, pedoman, dan sumber pendorong adanya pendidikan.
Selanjutnya, perbincangan tentang teori belajar telah lama diperbincangkan oleh para ahli. Terutama setelah filosof Perancis Rene Descartes (abad 16) menyatakan bahwa teori dibnagun dari keragu-raguan. Ia terkenal dengan motonya cogito ergo sum, hingga penelitian demi penelitian sudah pula dilakukan. Berbagai teori belajar telah tercipta sebagai hasil kerja keras dari penelitian. Kritik-kritik terhadap teori-teori belajar yang sudah ada dan dirasakan mempunyai kelemahan selalu dilakukan oleh para ahli. Teori-teori belajar yang baru pun hadir di blantika kehidupan, mengisi lembaran sejarah dalam dunia pendidikan.
Bertolak dari pandangan di atas, maka sejauh mana peran filsafat pendidikan dalam pengembangan teori belajar pada dunia pendidikan, akan menjadi salah satu pedoman dalam mewujudkan tujuan pendidikan.

B. Pembahasan
1. Tinjaun Tentang Filsafat Pendidikan
a. Pengertian Filsafat
kita sering mengatakan, betapa pentingnya filsafat sebagai ilmu dan filsafat sebagai terapan, termasuk filsafat agama, filsafat pancasila, dan filsafat pendidikan. Namun sangatlah sukar untuk memberikan definisi konkret apalagi abstrak terhadap filsafat-filsafat tersebut.
Kata filsafat berkaitan erat dengan segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh manusia, bahkan tidak pernah ada habisnya karena mengandung dua kemungkinan, yaitu proses berpikir dan hasil berpikir. Filsafat dari segi bahasa, pada hakikatnya adalah menggunakan rasio, tetapi, tidak semua proses berpikir disebut filsafat. Manusia yang berpikir dapat diketahui dalam kehidupan sehari-hari, jika pemikiran manusia dapat dipelajari, yang terdiri dari; a. Prmikiran Pseudo-Ilmiah, b. pemikiran awam, c. pemikiran Ilmiah, dan d. pemikiran filosofis.
Dalam ungkapan yang paling sederhana, Hasan Langgulung mengemukakan bahwa filsafat berarti cinta hikmah (kebijaksanaan). Orang yang cinta hikmah kebijaksanaan, selalu mencari dan meluangkan waktu u ntuk mencapainya, mempunyai sikap positif terhadapnya, dan terhadap hakikat segala sesuatu. Jadi, dari uraian tentang pengertian filsafa dari segi bahasanya dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah: a. Pengetahuan tentang kebijaksanaan, b. mencari kebenaran, dan c. pengetahuan tentang dasar-dasar atau prinsip-prinsip.
Sedangkan filsafat dalam pengertian istilah menurut para ahli adalah:
1. Plato mengemukakan dengan kebijaksanaan berbuat dan berpikir. Kebijaksanaan berbuat adalah tasawwuf, dan kebijaksanaan berpikir adalah filsafat.
2. Al-Kindi, memberikan pengertian filsafat dengan tiga lapangan, yaitu; ilmu thabi’iyyah, meliputi tingkatan alam nyata, ilmurriyadli, berhubungan dengan benda, tetapi mempunyai wujud tersendiri yang dapat dipastikan dengan angka-angka, ilmu rububiyyah, tidak berhubungan dengan benda sama sekali.
3. Ibnu Sina, membagi filsafat dalam dua bagian; teori dan praktik. Keduanya dihubungkan dengan agama. Dasarnya terdapat pada syariat., penjelasan dan kelengkapannya berdasarkan pada akal manusia.
4. Immanuel Kant, filsafat itu ilmu pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya 4 persoalan, yaitu; apakah yang dapat diketahui, apa yang seharusnya kita ketahui dan kerjakan, sampai manakah pengharapan kita, dan apakah yang dinamakan manusia.
Dari uraian di atas dapat dirumuskan bahwa filsafat ialah daya upaya manusia dengan akal budaya untuk memahami, mendalami dan menyelami secara radikal dan integral serta sistematik mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan ini.
2. Pengertian Pendidikan
Secara definitif pendidikan diartikan oleh para tokoh pendidikan, sebagai berikut:
a. John Dewey pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fondamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.
b. SA. Bratanata dkk. Menyebutkan dengan usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara yang tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaannya.
c. Rousseau mengatakan memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu deswasa.
d. Ki Hajar Dewantara menyebutkan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
e. GBHN pendidikan adalah usaha dasar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Dari kelima rumusan di atas, dapat disimpulakan bahwa pendidikan adalah pengaruh, bantuan atau tuntutan yang diberikan oleh orang yang bertanggung jawab kepada anak didik serta dilakukan secara sadar dan disengaja, sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus menerus (seumur hidup).
Jadi, apabila ditinjau tentang pengertian filasafat pendidikan, maka untuk merumuskan pengertian tersebut digunakan dua pendekatan, yaitu; pendekatan tradisional, dan pendekatan yang bersifat kritis. Filsafat pendidikan dalam arti pendekatan tradisional dan dalam bentuknya yang murni, senantiasa taat pada sistematika filsafat tradisional. Sehingga, pendidikan menempatkan filsafat sebagai dasar pendidikan dan pengajaran. Hal tersebut tampak pada penempatan filsafat metafisika sebagai salah satu problem pokok dalam filsafat pendidikan. Menurut aliran ini (tradisional), bagaimanapun sulitnya masalah metafisika tetap harus ditempatkan sebagai pusat perhatian dalam setiap bahasan filsafat pendidikan. Sedangkan filsafat pendidikan dengan pendekatan yang bersifat kritis menggunakan dua pendekatan, yaitu: analisis bahasa, dan analisis konsep. Analisis bahasa menurut Harry S. Schofield adalah usaha untuk mengadakan interprestasi yang menyangkut pendapt, yang dimilikinya. Sementara, analisis konsep adalah suatu analisis mengenai istilah-istilah yang mewakili gagasan atau konsep.
Dari pembahasan tentang pendekatan dalam filsafat pendidikan tersebut, maka pengertian filsafat pendidikan menurut pendapat para ahli adalah:
1. John S. Brubacher, mengemukakan bahwa filsafat pendidikan mempunyai hubungan yang erat dengan ilmu pendidikan.
2. Kilpatrick mengemukakan bahwa berfilsafat dan mendidik adalah dua fase dalam satu usaha. Berfilsafat berarti memikirkan dan mempertimbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik. Sedangkan pendidikan, adalah suatu usaha untuk merealisasikan nilai-nilai dan cita-cita tersebut dalam kehidupan dan kepribadian manusia.
3. John Dewey mengemukakan bahwa filsafat pendidikan merupakan suatu perumusan secara tegas dan benar tentang problema-problema pembentukan mental dan moral, dalam kaitannya menghadapi tantangan yang timbul pada kehidupan sosial masa kini.
4. Dr. Yahya Qahar, menjelaskan pengertian pendidikan adalah filsafat yang bergerak di lapangan pendidikan, yang mempelajari proses kehidupan dan alternatif proses pendidikan dalam pembentukan watak.
5. Prof. Dr. Hasan Langgulung mengemukakan bahwa filsafat pendidikan adlah aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai media untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan dan mengharmonisasikannya, serta menerapkan nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya.
Berdasarkan uraian para ahli tentang filsafat pendidikan yang sesuai dengan kenyataan semangat dan mempunyai kepentingan terapan dan bimbingan dalam bidang pendidikan, maka filsafat pendidikan merupakan terapan ilmu filsafat terhadap problem pendidikan. Jadi, filsafat pendidkan sebagai ilmu yang hakikatnya merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam dunia pendidikan.

2. Tinjauan Tentang Teori Belajar
a. makna Teori
menurut Dorin, Demmin and Gabel serta Smith, menyatakan bahwa karakteristik teori adalah sebagai berikut:
1. teori adalah sebuah penjelasan umum tentang berbagai pengamatan yang dibuat seiring dengan berjalannya waktu.
2. teori menjelaskan dan meramalkan timbulnya perilaku.
3. suatu teori tidak dapat dibangun di atas keragu-raguan,
4. suatu teori dapat diubah, di modifikasi,
Sedangkan menurut Kerlinger menyatakan bahwa teori adalah suatu himpunan dari konstruk-konstruk, definisi-definisi dan proposisi-proposisi yang saling berkaitan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematis tentang suatu fenomena dengan cara menentukan hubungan antar variabel, dengan tujuan menjelaskan fenomena tersebt.
Dengan demikian berdasarkan pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa makna teori adalah suatu konsep atau pandangan khusus tentang sesuatu yang harus dikerjakan atau metode untuk melaksanakan sesuatu, suatu sistem yang tersusun dari sejumlah hukum-hukum dan prinsip-prinsip, tentang hubungan antara dua atau lebih konsep dan variabel.
b. Makna Belajar
Masalah makna belajar ini, para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing diantaranya adalah:
1. James O. Whittaker, merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
2. Cronbach menyatakan bahwa belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
4. Howard L. Kingskey mengatakan bahwa belajar adalah proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktik atau latihan.
5. Drs. Slameto mengatakan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dari pandangan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dengan demikian, pengertian di atas tersebut memberikan ruang khusus terhadap pengertian teori belajar yang mana menurut Bruner menbedakan antara teori pembelajaran dan teori belajar, dalam hal ini pembelajaran semakna dengan pengajaran. Menurutnya teori pembelajaran adalah preskriptif dan teori belajar adalah deskriptif. Dikatakan preskriptif, karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, teori ini menaruh perhatian pada bagaimana seseorang memengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar. sedangkan dikatakan deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar. Teori ini menaruh perhatian pada hubungan di antara variabel yang menentukan hasil belajar. Dengan kata lain, teori ini menekankan kepada bagaimana seharusnya seseorang belajar.
Reigeluth, salah satu yang mengembnagkan teori Bruner ini menyatakan bahwa sifat preskriptif dan deskriptif ini dimiliki baik oleh teori pembelajaran maupun teori belajar bergantung kepada tujuan atau proposisi yang digunakan.

3. Tinjauan Tentang Peranan Filsafat Pendidikan Dalam Pengembangan Teori Belajar.
Untuk memahami bagaimana peranan filsafat pendidikan dalam pengembangan teori belajar dapat diketahui melalui: peranan antara filsafat dan pendidikan yang tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut sebagaimana tersimpul dalam pandangan Kilpatnck bahwa peranan dan fungsi filsafat pendidikan adalah menyelidiki perbandingan pengaruh filsafat-filsafat yang bersaing di dalam proses kehidupan, serta kemungkinan proses-proses pendidikan dan pembinaan watak keduanya, mengusahakan untuk menemukan pengelolaan pendidikan yang dikendaki untuk membina watak yang paling konstruktif bagi golongan muda dan tua.
sementara pandangan-pandangan aliran-aliran filsafat pendidikan menyebutkan sebagai berikut:
a. Pragmatisme menyebutkan bahwa peranannya adalah minimalisasi peran guru dari seorang guru dan memberikan banyak keleluasaan kepada siswa untuk membuat penemuan.
b. Progressivisme tenatang asas belajar menyebutkan bahwa anak didik memiliki akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan kelebihan dibandingkan mahluk yang lain. Dengan demikian, anak didik pada dasarnya merupakan insan yang kreatif dan dinamis dalam menghadapi tantangan lingkungannya.
c. Eksistensialisme menyebutkan bahwa para siswa merupakan objek yang harus diukur, dilacak rekornya, dan dibakukan kinerjanya.
d. Perenialisme menyebutkan bahwa sekolah harus banyak mengajarkan berbagai konsep dan menjelaskannya agar bermakna bagi siswa. Karena fakta-fakta selalu berubah setiap waktu.
e. Esensialisme menyebutkan bahwa setelah siswa lulus dan meninggalkan sekolah mereka tidak sekedar menguasai pengetahuan dan keketerampilan dasar, tetapi juga harus mampu mendisiplinkan diri, memiliki pemikiranpraktis, serta mampu mengaplikasikan hikmah pembelajaran yang dimiliki di dalam dunia nyata.
f. Rekonstruksisme menyebutkan masyarakat secara terus menerus memerlukan perubahan sosial yang melalui dunia pendidikan yang dimanfaatkan untuk melakukan rekonstruksi masyarakat dalam dunia pendidikan.

C. DAFTAR RUJUKAN
Suyono & Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar, Remaja Rosdakarya:Bandung, 2017
Hamdani Ihsan & A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka Setia: Bandung, 1998.
Muhammad Anwar, Filsafat Pendidikan, Prenadamedia Group: Jakarta, 2015
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, Rineka Cipta: Jakarta, 2002.
H. Abu Ahmadi & Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Rineka Cipta: Jakarta, 2001.
Siswanto, Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam, Pena Salsabila: Surabaya, 2015.






Share:

Sabtu, 12 Januari 2019

PERANAN GURU SEBAGAI INSAN MULTIDIMENSI

A. Latar Belakang
Guru selama ini dibaca banyak orang karena peranannya. Peran sesorang guru dinilai sangat terhormat. Peran guru adalah mendampingi anak didik dalam belajar, mencari tahu tentang informasi penting yang bersifat ilmu pengetahuan, praktik di lapangan, seorang guru memiliki peran dimensional di lingkungan pengajaran, yaitu, peran yang sifatnya instruksional, institusional, dan prosedural. Ketiga peran menciptakan kepribadian akurat dan akuntabel seorang guru. Peran guru sangat erat kaitannya denga tugas dan fungsinya. Peran yang ada dioundk guru adalah peran istimewa yang memilih pertanggungjawaban akademik, moral-sosial, dan spritualitas.
Amanah Undang-undang RI nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional, Undang-undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, pemerintah RI nomor 19 tahun 2005 tantang standar Nasional Pendidikan, dan peraturan pemerintah RI nomor 74 tahun 2008 tentang guru, menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional. Dalam Undang-undang ini seorang guru diamanatkan memikul tanggung jawab besar sebagai seorang yang mampu memberikan pendidikan terhadap anak didiknya. Pendidik bukan semata memberikan materi ajar di dalam kelas. Akan tetapi, jauh dari tugas formalitas ini pendidik menjadi sosok yang akan diteladani semua tindakan dan ucapannya. Istilah profesional dalam amanah di atas mengidealkan komponen potensial dalam pribadi pendidik bisa berjalan seiring secara sempurna. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Maidah, yang mana Allah berfirman:
Baca Juga
PENGELOLAAN SISWA DAN GURU DALAM PEMBELAJARAN
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحِلُّواْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّهۡرَ ٱلۡحَرَامَ وَلَا ٱلۡهَدۡيَ وَلَا ٱلۡقَلَٰٓئِدَ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّن رَّبِّهِمۡ وَرِضۡوَٰنٗاۚ وَإِذَا حَلَلۡتُمۡ فَٱصۡطَادُواْۚ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ أَن صَدُّوكُمۡ عَنِ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ أَن تَعۡتَدُواْۘ وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٢
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi´ar-syi´ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya
Di dalam pembelajaran. Apakah itu pembelajaran konvensional yang berorientasi teacher-centered maupun dalam pembelajaran yang berorientasi student-centered, sesungguhnya peran guru yaitu unik dan boleh dikatakan tidak tergantikan. Jika kita ingat teori ZPD dari Vygotsky, walaupun model pembelajaran konstruktivis lebih berorientasi student-centered, guru yang bersandangan fasilitator dalam membantu siswa, toh tetap dituntut perannya sebagai guru, sebagai orang dewasa yang karena kompetensinya siap membantu siswa beranjak menuju struktur kognitif yang lebih kompleks dalam perkembangan terdekatnya.
Dalam aplikasi dan praktik sehari-hari, guru adalah orang yang memberikan ilmu kepada peserta didik, serta membimbing jiwa mereka sekaligus pula mengarahkan tingkah laku mereka kepada yang baik. Oleh karena itu, guru harus mendampingi para siswanya menuju kesuksesan belajar atau kedewasaan. Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa para siswa yang belajar pada umumnya memiliki taraf perkembangan yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga menuntut materi, metode, dan pendekatan yang berbeda antara satu siswa dengan siswa yang lainnya. Demikian,pula halnya dengan kondisi para siswa, kompetensi, dan tujuan yang harus mereka capai juga berbeda. Selain itu, aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa proses belajar itu mengandung variasi. Cara penangkapan siswa terhadap materi pelajaran tidak sama. Cara belajar juga beragam. Belajar sendiri dipengaruhi oleh beragam aspek yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.
Rumitnya aspek yang harus dipertimbangkan ketika melaksanakan tugas mengajar, menjadikan tidak semua orang mau dan mampu untuk menjadi guru. Hanya orang yang memenuhi kriteria yang tepat saja yang seharusnya tepat untuk menduduki posisi sebagai seorang guru.
Bertolak dari latar belakang diatas maka, peran guru sebagai insan mutidimensi harus memiliki beberapa kriteria (aspek) antara lain: kewajiban sebagai pendidik, tugas sebagai guru, fungsi sebagai guru, peran sebagai pendidik, dan karakteristik sebagai guru.

A. Kewajiban Sebagai Pendidik.
Menurut Imam Al-Ghazali, kewajiban yang harus diperhatikan oleh seorang pendidik adalah:
1. harus menaruh kasih sayang terhadap anak didik, dan memperlakukan mereka seperti perlakuan terhadap anak sendiri.
2. tidak mengharapkan balas jasa atau ucapan terima kasih. Melaksanakan tugas mengajar bermaksud untuk mencari keridhaan dan mendekatkan diri kepada Allah.
3. memberikan nasihat kepada anak didik pada setiap kesempatan.
4. mencegah anak didik dari suatu akhlak yang tidak baik.
5. berbicara kepada anak didk sesuai dengan bahasa kemampuan mereka.
6. jangan menimbulkan rasa benci pada anak didik mengenai cabang ilmu yang lain.
7. kepada anak didik di bawah umur, diberikan penjelasan yang jelas dan pantas buat dia, dan tidak perlu disebutkan padanya rahasia yang terkandung di dalam dan di belakang sesuatu, supaya tidak mengelisahkan pikirannya.
8. pendidik harus mengamalkan ilmunya, dan jangan berlainan dengan perbuatannya.

B. Tugas Sebagai Guru.
Tugas guru meliputi tugas formal dan non formal. Tugas formal adalah beban moral akademik yang sifatnya institusional. Sementara menurut Hamdani Ihsan & Fuad Ihsan tugas guru meliputi: a). Membimbing anak didik, mencari pengenalan terhadapnya mengenai kebutuhan, kesanggupan, bakat, minat dan sebagainya, b). menciptakan situasi untuk pendidikan, yaitu suatu keadaan di mana tindakan-tindakan pendidikan dapat berlangsung dengan baik dan hasil yang memuaskan. Sedangkan menurut Haidar Putra Daulay, menyebutkan bahwa tugas guru ada tiga hal diantaranya : 1. Mentransferkan ilmu, 2. Menanamkan nilai-nilai yang baik (value), dan 3. Melatih mereka untuk memiliki keterampilan dan amal yang baik. Lebih jelas lagi tugas guru menurut Imam Al-Ghazali yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan dan menyucikan serta membawa hati manusia untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.
Hampir sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali, Abdurrahman al-Nahlawi membagi tugas guru yang utama dengan dua bagian, 1. Penyucian, pengembangan, pembersihan, dan pengangkatan jiwa kepada penciptanya, menjauhkan dari kejahatan dan menjaganya agar selalu berada dalam fitrahnya. 2. Pengajaran, yakni pengalihan berbagai pengetahuan dan akidah kepada akal dan hati anak didik, agar mereka merealisasikannya dalam tingkah laku dan kehidupan.

D. Fungsi Sebagai Guru
Menurut Ivor K. Davies bahwa fungsi sebagai guru adalah:
1. a scene designer (perancang adegan) dengan asumsi suasana pembelajaran adalah suatu teater dengan guru sebagai sutradaranya,
2. a builder (pembangun) membangun kecakapan dan keterampilan peserta didik secara utuh.
3. a learner (pembelajar) bahwa guru sambil mengajar guru belajar, sehingga siswa adalah seorang co-learner.
4. a emancipator (penggagas dan pelaksana emansipasi) guru harus secara adil memberikan kesempatan kepada semua anak didik untuk mengembangkan potensinya.
5. a conserver (pemelihara, pelestari) melalui pembelajaran guru melakukan pelastarian nilai-nilai luhur bangsa.
6. a culminater (peraih titik puncak) guru merancang pembelajaran dari awal sampai akhir (kulminasi) dari yang sederhana menuju yang kompleks, selanjutnya bersama siswa meraih titik puncak berupa kesuksesan pembelajaran.
E. Peran Sebagai Guru
Dalam gambaran kelas masa depan, Gray Flewelling dan William Higginson, menggambarkan peran guru sebagai berikut:
a. memberikan stimulus kepada siswa dengan menyediakan tugas-tugas pembelajaran yang kaya (rich learning tasks) dan terancang baik untuk meningkatakan perkembangan intelektual, emosional, spritual, dan sosial.
b. berinteraksi dengan siswa untuk mendorong keberanian, mengilhami, menantang, berdiskusi, berbagi, menjelaskan, menegaskan, merefleksi, menilai dan merayakan perkembangan, pertumbuhan dan keberhasilan,
c. menunjukkan manfaat yang diperoleh dari mempelajari suatu pokok bahasan,
d. berperan sebagai seseorang yang membantu, seseorang yang mengerahkan dan memberi penegasan, seseorang yang memberi jiwa dan mengilhami siswa dengan cara membangkitkan rasa ingin tahu, rasa antusias, gairah dari seorang pembelajar yang berani mengambil resiko (risk taking learner), dengan demikian guru berperan sebagai pemberi informasi, fasilitator, dan seorang artis.

F. Karakteristik Sebagai Guru
Karakteristik yang melekat pada seorang guru adalah:
1. guru sebagai guru, 2. Guru sebagai teladan, 3. Guru sebagai penasihat, 4. Guru sebagai pemegang otoritas, 5. Guru sebagai pembaru, 6. Guru sebagai pemandu, 7. Guru sebagai pelaksana tugas rutin, 8. Guru sebagai insan visioner, 9. Guru sebagai pencipta, 10. Guru sebagai orang yang realistis, 11. Guru sebagai penutur cerita dan seorang aktor, 12. Guru sebagai pembongkar kemah, 13. Guru sebagai peneliti, dan 14. Guru sebagai penilai.

G. Kesimpulan
Peran guru adalah mendampingi anak didik dalam belajar, mencari tahu tentang informasi penting yang bersifat ilmu pengetahuan, praktik di lapangan, seorang guru memiliki peran dimensional di lingkungan pengajaran, yaitu, peran yang sifatnya instruksional, institusional, dan prosedural.
Dalam aplikasi dan praktik sehari-hari, guru adalah orang yang memberikan ilmu kepada peserta didik, serta membimbing jiwa mereka sekaligus pula mengarahkan tingkah laku mereka kepada yang baik.
peran guru sebagai insan mutidimensi harus memiliki beberapa kriteria (aspek) antara lain: kewajiban sebagai pendidik, tugas sebagai guru, fungsi sebagai guru, peran sebagai pendidik, dan karakteristik sebagai guru.

DAFTAR RUJUKAN
Suyono & Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar, Remaja Rosdakarya:Bandung, 2017
Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspiratif, Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa, Pustaka Pelajar:Yogyakarta, 2013.
Zaitur Rahem, Jejak Intelektual Pendidikan Islam, Generasi Salafiyah dan Khalafiyah, Pustaka Ilmu Group: Yogyakarta, 2016.
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filsafat, Kencana Prenadamedia Group: Jakarta, 2014.
Hamdani Ihsan & A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka Setia: Bandung, 1998.


Share:

Historiografinya dan istilah dalam filsafat Islam.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada era tahun 1970-an, para penulis barat tentang filsafat Islam cenderung melihat filsafat Islam sebagai mata rantai atau jembatan emas yang menghubungkan Eropa Kuno (Yunani) dengan Eropa Modern. Dengan tendensi yang bisa juga diidentifikasi sebagai Europosentrisme. Mereka pada umumnya berpendapat bahwa filasafat Islam telah berakhir dengan wafatnya Ibn Rusyd (1196), karena melalui Ibn Rusyd-lah, pemikiran Yunani Kuno telah dikembalikan ke Eropa.
Dengan tendensi mentalitas seperti itu, banyak penulis Barat yang melihat bahwa Islam tidak sungguh-sungguh memiliki filsafat, karena filsafat yang dikembangkan di dunia Islam, selama ini pada hakikatnya adalah filsafat Yunani, sedangkan Islam tidak memiliki sistem filsafatnya sendiri.
Bermula dari identifikasi penulis Barat ini, maka ditemukan masalah-masalah dari perspektif di atas antara lain, Benarkah bahwa filsafat Islam itu hanya semata-mata impor dari Yunani? Seberapa jauh Islam memberikan peranan dan sumbangsihnya terhadap perkembangan keilmuan filsafat dalam masyarakat Islam?.
Oleh sebab itu, dipandang perlu untuk menemukan rumusan yang tepat, atau setidak-tidaknya yang dapat diterima sebagai rumusan yang universal, sehingga menjadi sumbangan yang berharga pada dunia pengetahuan pada umumnya, khusus nya pada pengetahuan filsafat Islam. Oleh karena itu, maka penulis dalam penyusunan makalah ini mengambil suatu permasalahan seputar Historiografinya dan istilah dalam filsafat Islam.
Baca Juga PEMIKIRAN FILSAFAT DI TIMUR SEBUAH ARTIKEL TELAAH FILSAFAT ISLAM
B. Rumusan Masalah
Apakah filsafat Islam itu dan bagaimana definisinya?
Bagaimana pendapat para ahli terhadap berbagai macam istilah dalam filsafat Islam?

C. Tujuan
Untuk mengetahui filsafat Islam itu dan bagaimana definisinya.
Untuk mengetahui pendapat para ahli terhadap berbagai macam istilah dalam filsafat Islam


BAB II
PEMBAHASAN
1. Historiografi Filsafat Islam.
Dalam sejarah peradaban umat Islam, yang sekarang sudah berlangsung lebih dari empat belas abad, kita melihat terdapat lima abad perkembangan filsafat yang sangat menakjubkan. Hal ini tidak hanya diakui di kalangan umat Islam, tetapi juga di kalangan non Muslim, lima abad itu adalah antara tahun 100 sampai dengan 595 H atau tahun 720 sampai dengan tahun 1198 M.
Sepanjang lima abad itu, para ahli filsuf muslim sudah memikirkan manusia dan mahkluk hidup di hadapan Tuhannya, serta terhadap alam dunia secara keseluruhan dengan bertitik tolak dari kemampuan akal semata-mata. Dalam kerja pikir mereka, ditemukan dua pendekatan yang berlainan terhadap iman dan agama. Ada yang menggunakan metode rasional (filsafat) dan ada juga yang menyusun sistem, berusaha untuk menyesuaikan kepada tuntutan aqidah dan syari’ah.
Jadi, Islam sebagai agama mengakui bahwa filsafat telah diakui kebenaran dan kedaulatannya sebagai usaha yang otonom dan mendasarkan penyelidikannya kepada akal semata-mata. Agama oleh para ahli pikir Islam tidak dijadikan jenjang teknis pemikiran untuk menetapkan suatu kesimpulan. Singkatnya, filsafat memakai dalil aqli, sedangkan ilmu keagamaan lainnya memakai dalil naqli, sehingga apapun yang menjadi predikat dari kata filsafat, baik sebagai corak maupun sebagai obyek kajian, maka hanya unsur rasional sajalah yang menjadi syarat mutlak dalam kerja pikirannya.
Kalau dilihat dari sejarah peradaban umat manusia secara keseluruhan, maka periode filsafat Islam dapat dianggap sebagai lanjutan dari periode filsafat klasik Yunani yang didalangi oleh Plato dan Aristoteles. Filosof inilah yang banyak mempengaruhi pendapat filosof besar Islam kenamaan seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibn Rusyd.
2. Definisi Filsafat Islam
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, philos (suka, cinta) sophia (kebijaksanaan). Dengan demikian filsafat itu berarti cinta pada kebijaksanaan. Jadi, filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan atau sikap yang sangat kita junjung tinggi. Sedangkan filsafat secara konsepsional adalah metode berpikir sinoptis, yakni berpikir merangkum dengan jalan menarik
kesimpulan umum dari berbagai cabang ilmu pengetahuan dalam suatu aksioma melalui proses generalisasi dan abstraksi.
Dalam proposisinya, Islam adalah agama yang kaya akan benih-benih filsafat, sehingga bukan suatu hal yang mustahil, apabila persoalan-persoalan yang dipermaslahkan oleh filosof-filosof Islam itu timbul atau terdorong oleh ajaran agama Islam itu sendiri. Kemudian Islam sebagai peradaban, ternyata telah berhasil menampung aneka ragam kebudayaan secara akulturatif menjadi satu corak pemikiran dalam satu kesatuan pemikiran dan kebudayaan Islam.
Jadi, berdasarkan pendapat di atas, maka lebih tepat kalau pengertian filsafat Islam kita rumuskan sebagai berikut; Filasafat Islam adalah filsafat yang secara esensial berinspirasikan dari luar (filsafat-filsafat sebelumnya) dan juga berinspirasikan dari dalam (agama Islam itu sendiri), karena motivasi agama, berpikir yang sedalam-dalamnya dengan insyaf, bebas dan radikal tentang segala yang ada untuk memahami hakikatnya.. kemuadian dengan caranya sendiri, kebenaran menurut filsafatnya akan selalu disesuaikan dengan kebenaran menurut informasi agamanya.
3. Pendapat Ahli Terhadap Berbagai Macam Istilah dalam Filsafat Islam.
Sebelum dibahas lebih jauh mengenai problem terhadap filsafat Islam, ada satu persoalan yang perlu dipahami terlebih dahulu, bahwa kata-kata Islam yang terletak setelah filsafat mempunyai dua alternatif pengertian:
Filsafat Islam bisa berarti: filsafat yang membahas tentang Islam, atau dengan kata lain, Islam yang dibahas secara filosofis. Jadi, kata-kata Islam yang berada di belakang kata filasafat, dipandang sebagai salah satu (bagian) dari yang ada dari segala yang ada, yang bisa menjadi obyek materi (kajian) dari filsafat.
Filsafat Islam bisa berarti: filsafat yang bercorak Islam atau dengan kata lain, Islam menjadi corak atau warna dari suatu filsafat. Jadi, kata-kata Islam menjadi sebutan (predikat) dari kata filsafat, tidak lagi menjadi obyek kajian sebagaimana halnya pengertian yang pertama, melainkan sebagai corak atau warna dari suatu filsafat.
Dari dua alternatif pengertian di atas ini, muncul persoalan, apakah filsafat tersebut bercorak Islam atau bercorak Arab?, sehingga apakah harus disebut filsafat Islam atau filsafat Arab?. Maka, untuk memahami persoalan tersebut Dr. Ahmad Fuad al-Ahwani dalam bukunya Filsafat Islam sebagaimana di kutip oleh Prof. Sunardji Dahri Tiam menyatakan, bahwa hasil penelitian tentang filsafat Islam di Colonia tahun 1959 memberikan kesimpulan berdasarkan suatu angket yang ditujukan kepada para ahli filsafat Islam di seluruh dunia, bahwa hasil angket tersebut dapat diketahui dengan jelas adanya perbedaan besar tentang penamaan filsafat tersebut.
Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa para ahli filsafat Islam, masih berbeda dalam memberikan nama terhadap corak pemikiran yang lahir, tumbuh dan berkembang di negeri-negeri Islam dan di bawah pengayoman negara-negara Islam.
Adapun pendapat para ahli terkait filsafat antara lain:
Syahrustani, Al-Qifti, Al-Baihaki, dkk, mereka menamakan Filsafat Islam dengan mengemukakan alasan:
Filsafat tersebut lahir, tumbuh dan berkembang dalam kurun Islam dan di bawah naungan negara-negara Islam.
Islam mempunyai pengaruh yang jelas tehadap corak pemikiran tersebut.
Tokoh-tokohnya kebanyakkan bukan kebangsaan arab. Hanya Al-Kindi.
Tokoh-tokohnya semuanya orang Islam
Profesor Nellinou, menamakan filsafat Arab dengan alasan bahwa:
Tidak hanya orang Islam yang mempunyai andil terhadap perkembangan keilmuan dan karya-karya Arab tesebut, tetapi juga orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Dengan mempertalikan kepada agama Islam, maka konsekuensinya harus ada penelitian khusus terhadap karya-karya kaum muslimin dalam bahasa asing.
Profesor Asynah, Courban dan De Boer menamakan dengan filsafat di Dunia Islam. Walaupun tidak mempunyai alasan secara khusus, hanya saja mereka dengan pengertiannya tersebut agar dapat mengakomodir masalah-masalah yang dipertentangkan.
J.W.M.Bakker SY menamakan dengan filsafat dalam Islam. Dia beralasan bahwa Islam sebagai agama, tidak mempunyai hubungan batin dengan filsafat, tetapi hanya mempunyai hubungan lahir saja.
Dengan demikian, di atas semua itu, kita tentu dihadapkan pada pilihan untuk menentukan atribut yang lebih pas dan cocok, oleh sebab tu, filsafat Islam yang pantas dengan beberapa alasan:
Pertama, ketika filsafat Yunani diperkenalkan ke dunia Islam, dalam Islam telah tersusun sistem teologi yang sangat menekankan keesaan Tuhan dan hukum (Syari’ah) yang menjadi pedoman bagi siapapun pemeluk Islam.
Kedua, sebagai seorang pemikir, filosof Muslim merupakan pemerhati filsafat Yunani yang kritis. Ketika dirasakan adanya kekurangan yang diderita filsafat Yunani, maka dengan tanpa ragu, para pemikir Muslim akan mengkritisi secara sangat mendasar.
Ketiga, adanya perkembangan unik dalam filsafat Islam sebagai akbikat interaksi antara Islam sebagai agama dan filsafat Yunani .

Kesimpulan
Islam sebagai agama mengakui bahwa filsafat telah diakui kebenaran dan kedaulatannya sebagai usaha yang otonom dan mendasarkan penyelidikannya kepada akal semata-mata.
bahwa hasil penelitian tentang filsafat Islam di Colonia tahun 1959 memberikan kesimpulan berdasarkan suatu angket yang ditujukan kepada para ahli filsafat Islam di seluruh dunia, bahwa hasil angket tersebut dapat diketahui dengan jelas adanya perbedaan besar tentang penamaan filsafat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Sunardji Dahri Tiam, Historiografi Filsafat Islam (Corak, Periodesasi dan Aktualisasi), Malang: Intrans Publishing, 2014
Edi Susanto, Filsafat Islam (Aliran dan Tema Pemikiran), Surabaya: Pena Salsabila, 2013
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat, Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014
Muhammad Anwar, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2015





























Share:

Kamis, 10 Januari 2019

MENELAAH KEMBALI TUGAS DAN PRINSIP-PRINSIP SUPERVISI PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

Sebelum membahas tentang tugas dan prinsip-prinsip supervisi pendidikan, terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian sepervisi itu sendiri. Supervisi berasal dari bahasa Inggris yaitu “supervision” yang berarti pengawasan. Orang yang melaksanakan pekerjaan supervisi disebut supervisor.

Secara morfologis, supervisi terdiri dari dua kata yaitu “super” yaitu atas, lebih dan “visi” yaitu lihat/ penglihatan, pandangan. Jadi seorang supervisor memiliki kelebihan dalam banyak hal seperti penglihatan, pandangan, pendidikan, pengalaman, dll.

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, perkataan supervisi belum begitu popular. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang orang lebih mengenal kata “Inspeksi” daripada supervisi. Inspeksi bersifat ototeratis yang berarti mencari kesalahan-kesalahan guru dan kemudian menghukumnya. Sedangkan supervisi bersifat lebih demokratis, yang didalam pelaksanaannya supervisi bukan hanya mengawasi apakah para guru/pegawai menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan instruksi atau ketentuan-ketentuan yang telah digariskan, tetapi juga berusaha bersama guru-guru bagaimana cara-cara memperbaiki proses belajar – mengajar.

Baca Juga
Supervisi Pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN

Prinsip-Prinsip Supervisi Pendidikan

Kemampuan mengajar guru menjadi jaminan tinggi rendahnya kualitas layanan belajar. Kegiatan supervisi menaruh perhatian utama para guru, kemampuan supevisor membantu guru-guru tercerimin pada kemampuannya memberikan bantuannya kepada guru. Sehingga terjadi perubahan perilaku akademik pada muridnya yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu hasil belajarnya. Pelaksanaan supervisor, apakah yang melaksanakan adalah pengawas sekolah, penilik, atau kepala sekolah seharusnya berlandaskan kepada prinsip-prinsip supervisi.

Agar supervisi dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1.Prinsip Praktis
yaitu dapat dikerjakan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Dalam prinsip ini terdapat dua sisi, yaitu:

•Prinsip-Prinsip Negatif:

Prinsip negatif merupakan pedoman yang tidak boleh dilakukan seorang supervisor dalam pelaksanaan supervise.

- Supervisi tidak boleh bersifat mendesak (otoriter).

- Supervisi tidak boleh didasarkan atas kekuasaan.

- Supervisi tidak mencari kelemahan/kekurangan/ kesalahan.

- Supervisi jangan terlalu berharap cepat mengharapkan hasil atau perubahan.

- Supervisi tidak boleh menuntut prestasi di luar kemampuan bawahannya.

- Supervisi tidak boleg egois, tidak jujur dan menutup diri terhadap kritik dan saran dari bawahannya.

•Prinsip-Prinsip Positif:

Prinsip positif merupakan pedoman yang harus dilakukan seorang supervisor agar berhasil dalam pembinaannya.

- Supervisi bersifat konstruktif dan kreatif

- Supervisi didasarkan kepada sumber-sumber kolektif dari kelompok tidak hanya dari supervisor sendiri.

- Supervisi harus dilakukan berdasarkan hubungan professional, bukan berdasarkan hubungan pribadi.

- Supervisi hendaknya progresif, tekun, sabar, tabah, dan tawakal.

- Supervisi harus jujur, objektif dan siap mengevaluasi diri sendiri demi kemajuan.

2.Prinsip Fungsional

Yaitu supervisi yang dapat berfungsi sebagai sumber informasi bagi pengembangan manajemen pendidikan dan peningkatan proses belajar mengajar.

3.Prinsip Relevansi

Yaitu pelaksanaan supervisi seharusnya sesuai dan menunjang pelaksanaan yang berlaku.

4.Prinsip Ilmiah

Yaitu supervisi perlu dilaksanakan secara:

a.Sitematis, terprogram, dan berkesinambungan.

b.Objektif, bebas dari prasangka.

c.Menggunakan prosedur dan instrument yang sah dan terandalkan.

d.Didasarkan pada pendekatan system.

Adapun ciri-ciri dalam prinsip ilmiah sebagai berikut:

a.Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar.

b.Untuk memperoleh data, perlu diterapkan alat perekam data.

c.Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis, berencana dan kontinu.

5.Prinsip Demokratis

Yaitu servis dan bantuan yang diberikan kepada Guru berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman dan nyaman dalam melaksanakan tugasnya. Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru. Dalam prinsip demokratis mengambil keputusan ialah melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.

6.Prinsip Kooperatif (Kerja Sama)

Prinsip kooperatif mengharuskan adanya semangat kerja sama antarsupervisor dengan supervise (guru). Hasil karya manusia dapat dicapai seoptimal mungkin apabila terjalin kerja sama yang baik antara manusia-manusia yang terlibat dalam suatu usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan bersama, khususnya untuk peningkatan kualitas tenaga kependididkan yang profesional. Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervise “sharing of idea, sharing of experience”, member support mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.

7.Prinsip Konstruktif dan Kreatif

Supervisi yang didasarnya atas prinsip konstruktif dan kreatif akan mendorong kepada orang yang dibimbingnya untuk memperbaiki kelemahan atau kekurangannya serta secara kreatif berusaha meningkatkan prestasi kerjanya. Setiap guru akan merasa termotifasi dalam mengembangkan potensi kreatifitas kalau supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan.

Menurut Oteng Sutisna (1983), ada beberapa prinsip pokok tentang supervisi, yaitu:

1) Supervisi hendaknya disesuaikan dengan kondisi setempat karna berguna untuk memenuhi kebutuhan perseorangan dari personil sekolah.

2) Pada dasarnya personil pelaksana pendidikan di sekolah memerlukan dan berhak atas bantuan supervisi.

3) Supervisi hendaknya membantu menjelaskan tujuan-tujuan dan sasaran-sasarann pendidikan.

4) Supervisi yang merupakan bantuan dan pembinaan untuk guru dan staf TU.

5) Supervisi hendaknya merupakan wahana untuk menjelaskan dan berdiskusi tentang hasil-hasil penelitian pendidikan yang mutakhir. [6]

6) Supervise hendaknya membantu memperbaiki sikap dan hubungan dari smua anggota staf sekolah dengan orangtua siswa dan masyarakat setempat, serta pihak-pihak yang terkait dengan kehidupan sekolah.

7) Dalam pendidikan yang berlangsung disekolah tampaknya kepala sekolah merupakan penanggung jawab utama keberlangsungan pendidikan disekolah yang ia pimpin. Selanjutnya pengawas merupakan pejabat yang berada lebih tinggi untuk melakukan supervise.

8) Tanggung jawab program seperti berada pada dua pejabat, pertama supervise sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah sedangkan pengawas bertanggung jawab atas supervise semua sekolah yang menjadi wewenang pembinaannya.

Dari prinsip tersebut dapat meningkat kinerja guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Masalah yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi dilingkungan pendidikan ialah bagimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang konstruktif dan kreatif. Suatu sikap yang menciptakan situasi dan relasi dimana guru-guru merasa aman dan merasa diterima sebagai subyek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang obyektif.

Berkenaan dengan kepala sekolah sebagai supervisor, dalam melaksanakan tugasnya kepala sekolah sebagai supervisor hendaknya bertumpu pada prinsip-prinsip supervise. Supervisor yang baik seharusnya:

1.Menggunakan sumber-sumber dan usaha-usaha dari kelompok

2.Bekerja didalam dan bersama-sama dengan kelompoknya

3.Membina guru-guru dan siswa menjadi orang-oang yang terdidik

4.Bekerja dengan ikhlas dan bersama-sama dengan kelompok rekannya, membina diri sendiri dan rekannya untuk bekerja dengan baik

5.Supervise dilandasi oleh hubungan professional bukan hubungan pribadi

6.Supervise hendaknya dapat mngembangkan kesanggupan para guru dan staf TU sehingga menjadi kekuatan sekolah

Pelaksanaan supervise pendidikan perlu menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip yang telah ditentukan. Dengan cara memahami dan menguasai dengan seksama tugas dan tanggung jawab guru sebagai tenaga pendidikan profesional yang harus melaksanakan kegiatan pengajaran dan pendidikan. Jika sikap supervisor memaksakan kehendak, menakut-nakuti, perilaku negatif lainnya, maka akan menutup kreativitas bagi guru. Jika sikap supervisor hanya seperti itu, maka ia belum mengetahui tugas pokok fungsi sebagai seorang seorang supervisor

Peranan pengawas sekolah/madrasah menurut Wiles & Bondi (2007), “The role of the supervisor is to help teachers and other education leaders understand issues and make wise decisions affecting student education.” Bertitik tolak dari pendapat Wiles & Bondi tersebut, maka peranan pengawas sekolah/madrasah adalah membantu guru-guru dan pemimpin-pemimpin pendidikan untuk memahami isu-isu dan membuat keputusan yang bijak yang mempengaruhi pendidikan siswa. Untuk membantu guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta meningkatkan prestasi belajar siswa.

Fungsi supervise pendidikan adalah sebagai layanan atau bantuan kepada guru untuk mengembangkan situasi belajar mengajar. Konsep supervisi sebenarnya diarahkan kepada pembinaan. Artinya kepala sekolah, guru dan para personel lainnya di sekolah diberi fasilitas untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

Menurut Anwar dan Sagala Supervisor mempunyai fungsi-fungsi utama, antara lain:

a. Menetapkan masalah yang betul-betul mendesak untuk ditanggulangi.

b. Menyelenggarakan inspeksi, yaitu sebelum memberikan pelayanan kepada guru, supervisor lebih dulu perlu mengadakan inspeksi sebagai usaha mensurvai seluruh sistem yang ada.

c. Memberikan solusi terhadap hasil inspeksi yang telah di survai

d. Penilaian

e. Latihan, dan

f. Pembinaan atau pengembangan.

Dilihat dari fungsi yang telah ada, tampak jelas peranan supervisi pendidikan. Peranan supervisi dapat dikemukakan oleh berbagai pendapat para ahli yang menyimpulkan tetang tugas dan fungsi supervisor:

a. Koordinator, sebagai koordinator supervisor dapat mengkoordinasi program-program belajar mengajar, tugas-tugas anggota staf berbagai kegiatan yang berbeda-beda diantara guru-guru.

b. Konsultan, sebagai konsultan supervisor dapat memberikan bantuan, bersama mengkonsultasikan masalah yang dialami guru baik secara individual maupun secara kelompok.

c. Pemimpin kelompok, supervisor dapat memimpin sejumlah staf guru dalam mengembangkan potensi kelompok, pada saat mengembangkan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan profesional guru secara bersama-sama.

d. Evaluator, supervisor dapat membantu guru dalam menilai hasil dan proses belajar, dapat menilai kurikulum yang sedang dikembangkan.

Permasalahan yang terjadi dilapangan ternyata unjuk kinerja yang harus dilakukan oleh para supervisor adalah merubah pola lama dan supervisi menjadi tidak bermakna. Ketidak bermaknaan tersebut disebabkan oleh:

a. Supervisi disamakan dengan kontroling atau pekerjaan pengawas. Supervisor lebih banyak mengawasi dari pada berbagi ide untuk menyelesaikan permasalahan. Akibatnya guru menjadi takut jika untuk diawasi dan dievaluasi.

b. Kepentingan dsan kebutuhan supervisi bukannya datang dari para guru, melainkan supervisor sendiri menjalankan tugasnya.

c. Supervisor kurang memahami apa yang menjadi tugasnya, sedangkan guru tidak tanggap dengan permasalahannya.

d. Secara umum, guru tidak suka disupervisi walaupun hal itu merupakan bagian dari proses pendidikan.

Dampak penyebab di atas peran supervisi dalam organisasi lembaga pendidikan menjadi lemah, kurang efisien dan efektif. Artinya tidak hanya dari satu pihak saja yang diberikan beban ketidakberhasilan sebuah pendidikan. Kinerja supervisi juga harus dilakukan dengan profesional dan kompeten serta mempunyai visi misi yang luas untuk memperbaiki dan membantu para guru.

Tugas-tugas Supervisi

Berikut ini dikemukakan macam-macam tugas supervise pendidikan yang riel dan lebih terinci, sebagai berikut:

1) Menghadiri rapat/ pertemuan-pertemuan organisasi-organisasi professional.

2) Mendiskusikan tujuan-tujuan dan filsafat pendidikan dengan guru-guru.

3) Mengadakan rapat-rapat kelompok untuk membicarakan masalah-masalah umum.

4) Mengadakan pertemuan-pertemuan individual dengan guru-guru tentang masalah-masalah yang mereka usulkan.

5) Mendiskusikan metode-metode mengajar dengan guru-guru.

6) Mengorganisasikan dan bekerja dengan kelompok guru-guru dalam program revisi kurikulum.

7) Berwawancara dengan orang tua murid tentang hal-hal yang mengenai pendidikan.

8) Merencanakan demonstrasi mengajar, dan sebagainya oleh guru yang ahli, supervisi sendiri, ahli-ahli lain dalam rangka memperkenalkan metode baru, alat-alat baru. [7]



BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Prinsip-prinsip supervisi pendidikan terdiri atas beberapa macam, yaitu:

1.Prinsip Praktis

2.Prinsip Fungsional

3.Prinsip Relevansi

4.Prinsip Ilmiah

5.Prinsip Demokratis

6.Prinsip Kooperatif

7.Prinsip Konstruktif dan Kreatif

Adapun tugas bagi supervise, antara lain:

1.Menghadiri rapat/ pertemuan-pertemuan organisasi-organisasi professional.

2.Mendiskusikan tujuan-tujuan dan filsafat pendidikan dengan guru-guru.

3.Mengadakan rapat-rapat kelompok untuk membicarakan masalah-masalah umum.

4.Melakukan classroom visitation atau class visit.

5.Mengadakan pertemuan-pertemuan individual dengan guru-guru tentang masalah-masalah yang mereka usulkan., dll.



DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, M. Ngalim, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Rosda, Jakarta, 2008.

Sahertian, Piet A, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2000.

Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Supervisi, Rineka Cipta, Jakarta, 2004.

Gunawan, Ary H., Administrasi Sekolah, Rineka Cipta, Jakarta, 2002.

Burhanuddin, Yusak, Administrasi Pendidikan, Pustaka setia, Bandung, 1998.

http://akholik.wordpress.com/2011/05/06/prinsip-prinsip-supervisi-endidikan/.
Share:

المهنة

مهن الناس متنوعة، منهم مدرس ومنهدس وطبيب وفلاّح وسائق وتاجر. هم يعملون ليكون حياة الناس يسيرة وسعيدة. هذا مدرس، هو يقوم امام الفصل ويريد ان يعلم تلاميذه خيرا ولن يعلمهم شرّا. يريد المدرس ان يكون تلاميذه عالمين صالحين ونافعين.
هذا طبيب، هو يعمل فى المستشفى ويريدان ان يعالج المرض ليصحوا اجسامهم. أنظر! ذلك مهندس هو يريد ان يبنى البنيان والعمارات ليسكن ويعمل الناس فيها، هو يبنى بنيانا قوية ولن يبنى بنيانًا ضعيفة.
Baca Juga
لأسرة
وذلك فلاح هو يحرث مزرعته ويريد ان يزرع الزّرّ. هو يعمل ليعد الطعام للناس ولن يستيريح قبل أن ينتهى عمله.
هذا سائق. هو يسوق الحافلة ليحمل الناس من مدينة الى مدينة اخرى لن يصلح حياة الناس بغير عمل سائق. وهل ذهبت الى السوق؟ هناك تجّاراهم يريدون ان يبيغوا اشياء من لوازم الناس.
هل تمنى ان تكون لكم مهنة نافعة فى المستقبل؟ ان تكونوا طبيبا مشهوار اومهندسا ذكيّا او تاجرا ضادقا فهو سواء. عملهم نافع فى حياة الناس كما قبل خيرالناس انفعهم للناس
Share:

Rabu, 09 Januari 2019

PENGELOLAAN SISWA DAN GURU DALAM PEMBELAJARAN

A.Pengelolaan Siswa
Di dalam proses belajar mengajar, siswa sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Siswa itu akan menjadi faktor penentu, sehingga menuntut dan dapat mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya.
Siswa dalam suatu kelas biasanya memiliki kemampuan yang beragam, diantaranya pandai, sedang, dan kurang. Oleh karena itu, guru perlu mengatur dan merekayasa segala sesuatunya, kapan siswa bekerja perseorangan, berpasangan, dan berkelompok berdasarkan situasi yang ada ketika proses belajar mengajar berlangsung.
Menurut Andree, sebagaimana dikutip oleh Buna’i dalam buku perencanaan Pembelajaran PAI, ada beberapa macam pengelompokan siswa diantaranya adalah:
1.Task Planning Groups
Bentuk pengelompokan berdasarkan rencana tugas yang akan diberikan guru.
2.Teaching Groups
Kelompok ini biasa digunakan untuk groups teaching, dimana guru memerintahkan suatu hal, siswa yang ada pada tahap yang sama mengerjakan tugas yang sama pada saat yang sama pula.
3.Seating Groups
Pengelompokan bersifat umum, dimana 4-6 siswa duduk mengelilingi satu meja
4.Joint learning Groups
Pengelompokan siswa dimana satu kelompok siswa bekerja dengan kegiatan yang saling terkait dengan kelompok yang terkait.
5.Collaborative Groups
Kelompok kerja yang menitikberatkan pada kerjasama tiap individu dan hasilnya sebagai sesuatu yang teraplikasi.
B.Masalah Siswa
Pengelolaan siswa tersebut terkadang menimbulkan masalah baru bagi guru. Ada dua kategori pokok tentang masalah siswa, yaitu:
a)Masalah Individual
Masalah individual muncul karena dalam individu ada kebutuhan ingin diterima kelompok dan ingin mencapai harga diri, kategori masalah individu dalam pengelolaan siswa menurut Dreikurs dan cassel didasarkan pada asumsi bahwa tingkah laku manusia itu mempunyai maksud dan tujuan. Setiap individu mempunyai kebutuhan pokok untuk menjadi dan merasa berguna. Ada empat tipe perilaku individu yang jurang baik, diantaranya adalah:
1.Perilaku untuk menarik perhatian
Siswa melakukan tindakan untuk menarik perhatian dengan menarik perhatian yang aktif dan menarik perhatian yang pasif.
2.Perilaku untuk mencari kekuasaan
Perilaku untuk mencari kekuasaan sama halnya dengan perilaku untuk menarik perhatian, namun hanya saja sifatnya lebih kuat, yakni mencari perhatian dengan yang sifatnya merusak.
3.Perilaku untuk melampiaskan dendam
Perilkau ini disebabkan putus asa dan bingung sehingga mencari keberhasilan dengan cara menyakiti orang lain, menyerang secara fisik, dan bermusuhan dengan teman-temannya, serta memaksa dengan kekuasaan.
4.Perilaku yang memperlihatkan ketidakmampuan
Siswa yang berlakuan buruk merupakan pribadi yang sangat putus asa, pesimis dalam mencapai keberhasiln, dan hanya mengalami kegagalan terus menerus. Perasaan tidak berharga dan tidak berdaya menyertai kelakuan siswa yang dikucilkan dan Drop Out, yang menyamakan partisipasi dengan kegagalan lebih lanjut.
b)Masalah kelompok
Menurut Johnson dan Bany, masalah kelompok ini diklasifikasikan dengan tujuh masalah dalam pengelolaan kelas, antara lain:
1.Kurangnya Kesatuan
2.Ketidaktaatan terhadap standar tindakan dan prosedur kerja
3.Reaksi negatif terhadap pribadi anggota
4.Pengakuan kelas terhadap kelakuan guru
5.Kecendrungan adanya gangguan, kemacetan pekerjaan, dan kelakuan yang dibuat-buat
6.Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan
7.Semangat juang yang rendah dan adanya sikap permusuhan

C.Pemecahan masalah siswa
Pengelolaan siswa adalah kegiatan atau tindakan guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung efektif. Tindakan tersebut dapat bersifat pencegahan dan bersifat korektif. Tindakan yang bersifat pencegahan (previntif) yaitu dengan jalan menyediakan kondisi baik fisik maupun kondisi sosioemosional sehingga terasa benar oleh siswa rasa kenyamanan dan keamanan untuk belajar.
Sedangkan yang tindakan yang bersifat korektif yaitu merupakan tindakan tingkah laku yang menyimpang dan merusak kondisi optimal bagi proses belajar mengajar yang sedang berlangsung. Adapun usaha-usaha yang bisa dilakukan oleh seorang guru dalam pengelolaan pemecahan masalah siswa antara lain:
a.Usaha yang bersifat pencegahan
Menurut Mulyani Sumantri, dalam mengembangkan keterampilan mengelola siswa yang bersifat pencegahan (preventif), guru dapat menggunakan kemampuannnya dengan cara:
1.Menunjukkan sikap tanggap
2.Membagi perhatian
3.Memusatkan perhatian kelompok
4.Memberi petunjuk yang jelas
5.Menegur
6.Memberikan penguatan
b.Usaha yang bersifat penyembuhan (kuartif)
Menurut Johar Pernama, usaha yang berkenaan dengan penyembuhan dapat dilakuakn dengan beberapa langkah diantaranya :
1.Mengidentifikasi masalah
2.Menganalisis masalah
3.Menilai alternatif-alternatif pemecahan
4.Mendapatkan balikan.

D.Pengelolaan Guru
Guru merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan, karena itu seorang guru harus benar-benar profesional dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Ada beberapa permasalahan yang muncul berkaitan dengan pengelolaan guru, diantaranya adalah:
1.Proses penempatan guru yang tidak terarah, tidak adil dan tidak proporsional.
2.Rasio jumlah guru terhadap jumlah peserta didik semakin tidak seimbang.
3.Masih ada guru yang memiliki job di sektor lain
4.Menumpuknya guru pada pangkat IV/a
Adapun solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan di atas adalah:
a)Pemangku kepentingan (pemerintah pusat dan daerah) mengkaji ulang kebutuhan riil guru di lapangan.
b)Jangan memaksakan membuka lowongan guru jika memang tidak diperlukan (Zero Growth)
c)Dihidupkannya kembali sistem rotasi guru untuk memberikan kesempatan bagi guru yang berprestasi dan memberikan hukuman bagi yang melakukan pelanggaran untuk efek jera
d)Pemangku kepentingan melakukan evaluasi akhir tahun ajaran untuk mengetahui rasio jumlah guru terhadap jumlah peserta didik pada setiap satuan pendidikan.
e)pemangku kepentingan melakukan kajian yang mendalam dalam pengangkatan jabatan kepala sekolah.
Menurut M. Ridla dalam bukunya al-fikr al-tarbawiyyu al-islamiyyu muqadimat fi ushulih al-ijtima’iyyati wa al-aqlaniyyati prinsip-prinsip dasar kode etik yang harus dimiliki seorang guru adalah:
1.Keharusan ilmu dibarengi dengan pengamalannya
2.Bersikap kasih sayang terhadap siswa, dan memperlakukan mereka seperti putra-putrinya.
3.Menghindarkan diri dari ketamakan
4.Bersikap toleran dan pemaaf
5.Menghargai kebenaran
6.Keadilan dan keinsafan
7.Rendah hati
8.Ilmu adalah untuk pengabdian kepada orang lain.
Menurut Ki Hajar Dewantara, peranan seorang guru dalam proses pendidikan, antara lain:
1.Ing ngarsa sung tulada, (di depan memberi teladan yang baik)
2.Ing madya mangun karsa, (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa)
3.Tut wuri handayani, (dari belakang memberikan dorongan dan arahan).

E. Daftar Rujukan
Buna’i, Perencanaan Pembelajaran PAI¸ Surabaya: Pena Salsalbila, 2013
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007
Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspiratif Memberdayakan dan mengubah Jalan Hidup Siswa, Jogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013
Share:

Senin, 07 Januari 2019

الأسرة

يااخون، انا هاشم هذه أسرتى! هذا ابى اسمه صالح هو يعمل فى المضنع هو موظف. هذه امى اسمها زينب هى تربى اولادها فى البيتز
فى عائلتى ثلاثة اولاد، وانا الثانى. هذه اختى اسمها هند هى اكبر منّى بثلاث سنوات. هى تدرس فى المدرسة العالية. الآن هى فى الصف الثالث، هى تلميذة مجتهدة وذكيّة.
وهذا اخى اسمه ابراهيم هو أصغر منّى بثلاث سنوات هو يدرس فى المدرسة الابتدائية. الآن هو فى الصف السادس الأنه يرافقنى عند مطالعة الدروس واشترى له الحلو.
فى العطة نحن نجمع وننظف البيت يخرج ابى سيارته فى الفناء ويغسله. اساعده فى عمله، اختى وامى فى المطبخ هما تنظفتان المطبخ وتعدان الطعام.
فى الظهر نذهب الى المسجد الصلاة الظهر جماعة ثم نجتمع فى غرفة الاكل ونتناول الفداء سويّا.
أشكر الله لنعمه شكرا كثيرا.
Share:

peran pendidikan berbasis spiritual terhadap perilaku anak di rumah serta siswa di sekolah

BAB I
PENDAHULUAN
Ada kekhawatiran yang menyeruak, ketika menyaksikan tawuran antar pelajar terjadi dimana-mana, serta ada kegundahan yang timbul ketika melihat para siswa berteriak girang ketika tahu bahwa gurunya tidak datang pada hari ini.
Mengapa khawatir? Realitas pertama menunjukkan bahwa para pelajar saat ini begitu dekat dengan kekerasan, yang nyata-nyata sangat bertolak belakang dengan dunia mereka yang seharusnya bergelimang dengan nuansa pendidikan dan keilmuan. Seharusnya dunia yang terlahir dari “Rahim kasih sayang” tersebut dibesarkan dengan naluri kasih sayang, sebagaimana naluri kasih sayang seorang ibu dalam mengasuh dan mendidik anaknya.
Mengapa gundah? Realitas kedua menyiratkan akan redupnya kasih sayang dalam interaksi antara para guru dengan siswa-siswanya. Kerenggangan hubungan terasa sangat kental saat para guru lebih suka menghukum daripada tersenyum, lebih suka menghardik daripada bersikap empatik. Sehingga pertemuan antara keduanya selalu dalam keadaan terpaksa, yang akhirnya keterpaksaan tersebut melahirkan rasa terbebani untuk menjalani pertemuan tersebut.
A.Latar Belakang
Dengan adanya temuan seperti yang tersebut diatas, maka dirasa sangat perlu sekali untuk mengangkat topik ini dalam penyusunan makalah kami, karena saat ini hal seperti yang tersebut diatas sudah sering sekali terjadi di sekeliling kita, terutama di kalangan para insan pendidik yang setiap hari kerap menemui seperti apa yang tersebut di atas walaupun dalam skala kecil. Semua hal yang menjadi besar itu pasti dimulai oleh hal-hal kecil yang sepele, atau disepelekan.
Tingkah laku kekerasan yang dilakukan siswa, sering sekali diinspirasi oleh tontonan yang tersuguh di hadapan mereka. Seperti film-film kekerasan yang didominasi oleh berandalan-berandalan dan anak-anak yang kurang kasih sayang orang tua.
Kesenjangan hubungan antara guru dan siswanya, sering kali dipicu oleh keinginan para guru untuk selalu dituruti dan dipatuhi segala ucap dan perintahnya, tanpa berusaha memahami tentang faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi jiwa para siswanya untuk tergugah menjadi anak yang penurut dan patuh.
Dengan berlandaskan pada latar belakang masalah diatas, kami mencoba merumuskan tentang betapa besarnya akibat yang akan terjadi jika kedua masalah tersebut dibiarkan berlarut-larut, atau malah dicarikan alasan pembenar dalam pembiaran terhadap kasus tersebut. Belakangan ini sering sekali terjadi aksi saling tuding dan saling lempar tanggung jawab atas kasus-kasus yang terjadi seperti yang tersebut diatas antara peran orang tua di rumah dan peran guru di sekolah.
Jika masalah-masalah diatas tetap terjadi diantara lingkungan dunia pendidikan, maka dapat dipastikan hal tersebut akan menodai kesucian institusi pendidikan di tanah air, karena dianggap tidak mampu memberikan penyadaran-penyadaran tentang betapa pentingnya arti kasih sayang dan akhlak mulia diantara sesama. Serta hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan, terutama kepada para insan pendidik yang berdedikasi didalamnya sejak dari PAUD sampai Perguruan Tinnggi, karena dianggap institusi tersebut hanya melahirkan para sarjana yang tahunya hanya menghukum dengan cara yang sangat tidak bijak sekali. Dengan rumusan diatas, maka akan kita dapati sebuah pertanyaan “Apa pengaruh pendidikan berbasis spiritual terhadap perilaku anak di rumah,serta siswa di sekolah?”.
C.Tujuan penyusunan
Dalam penyusunan makalah ini, kami bertujuan untuk berbagi sedikit solusi, sekaligus sebagai wahana introspeksi diri bagi kami dalam menjalankan aktivitas sebagai tenaga pendidik di Lembaga Pendikan masing-masing, agar senantiasa kami tidak terjerumus pada tindakan yang selalu mencari alasan-alasan pembenar atas semua kekurangan kami dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mendidik anak didik kami masing-masing, supaya nantinya menjadi seseorang yang berdaya guna optimal, yang disertai dengan akhlakul karimah, dan didasari oleh keteguhan iman dan takwa.

BAB II
PEMBAHASAN
Sungguh ironis sekali, jika tempat “suci” seperti sekolah yang seharusnya menunjukkan suatu citra kasih sayang dan kelembutan, kini tidak lagi menggambarkan sebagai tempat mencetak para cerdik pandai penentu masa depan bangsa, karena tercoreng oleh tindakan segelintir siswanya yang menyukai tindak kekerasan baik antar siswa di sekolah yang sama, ataupun dengan siswa di sekolah lain, walaupun masih sangat banyak sekali sekolah-sekolah yang masih sangat elok dipandang mata dalam aspek kondusifitas lingkungan sekolah dan perilaku siswanya.
Dalam hal ini, peran para orang tua dan guru sama-sama besarnya dalam ikut menentukan kematangan mental dan sikap mereka dalam kebaikan, agar siswa-siswa tersebut terhindar dari memiliki sifat yang bengal, bandel, dan beringas. Dalam hal ini para orang tua dan guru tidak boleh saling melempar tanggung jawab, karena kapan pun dan dimana pun mereka tetaplah berstatus anak bagi para orang tua, dan siswa bagi para guru.
Dalam hal ini, kebanyakan para orang tua dan guru sudah terjebak dalam asumsi bahwa tanggung jawab orang tua menjadi lepas ketika anaknya sudah ada di sekolah, serta para guru bahwa mereka lepas dari tanggung jawabnya ketika para siswa sudah pulang ke rumah masing-masing, dan sudah melepas seragam identitas sekolahnya. Sehingga jika terjadi perilaku menyimpang dari anak-anak ini maka yang sering sekali kita temui adalah kedua pihak ini malah saling tuding, dan saling lempar tanggung jawab daripada duduk bersama untuk menemukan solusi guna keluar dari masalah ini, serta melakukan tindakan antisipatif agar penyimpangan tersebut tidak terjadi lagi baik pada anak yang sama atau pada anak yang lain.
Sebenarnya, semua itu dipicu oleh lepasnya kontrol dari orang tua dan guru dalam memberikan pelajaran dan pendidikan. Mereka mengesampingkan pendidikan berbasis spiritual ( Spiritual Teaching ), sehingga apa-apa yang telah diajarkan baik oleh keluarga di rumah, dan guru di sekolah kurang meresap ke dalam jiwa anak-anak tersebut. Oleh karena itu melalui penyusunan makalah ini, kami ingin mencoba untuk berbagi kiat yang Insyallah akan mengantarkan para pembaca untuk menjadi orang tua dan guru yang dicintai, dikagumi, dirindukan kehadirannya, dan diteladani oleh anak-anak di rumah, serta para siswa di sekolah. Belakangan ini sudah sama-sama kita ketahui, bahwa peran orang tua di rumah tidak lebih hanya sebagai sosok penyedia makanan dan tempat berteduh di rumah beserta beberapa fasilitas penunjangnya, begitu pun guru di sekolah yang perannya tak lebih dari hanya sekedar penyampai materi pelajaran dan sebagai penulis nilai di buku raport siswanya, karena banyak kasus kita jumpai seorang siswa yang berprestasi dalam bidang akademik, sedangkan dalam aspek mental dan perilakunya dia Nol besar.
Dalam menyikapi kasus kenakalan anak ini, ada beberapa kiat yang harus disiapkan dan dirasa sangat perlu sekali untuk dilakukan oleh para orang tua dan guru dalam mengantisipasi munculnya kasus-kasus seperti yang tersebut diatas, atau minimal mencegah menularnya kenakalan-kenakalan tersebut kepada anak-anak yang lain, beberapa kiat tersebut antara lain, yaitu :
1. Keteladanan Mulia.
Keteladanan mulia ini sangat efektif dalam menanamkan budi pekerti baik kepada orang lain, karena orang yang menjadi obyek tidak merasa digurui, melainkan merasa disugesti untuk berbudi pekerti baik pula ketika melihat orang tua dan guru serta orang-orang yang ada di sekelilingnya berperilaku dengan budi pekerti yang baik. Untuk memberikan keteladanan mulia ini, para orang tua dan guru diperlukan adanya persiapan mental diri mereka sendiri untuk selalu mewaspadai gejolak emosi agar tidak menjadi sosok yang mengerikan bagi anak dan para siswa, selalu menjadi sosok pemaaf -tapi bukan sosok lemah yang selalu memberikan kemakluman pada setiap tindak kenakalanan anak dan para siswa, selalu bisa menekan berkembangnya “naluri hewani” pada anak dan para siswa, tidak otoriter dan tidak terlalu demokratis -yang mana sikap otoriter atau terlalu demokratis ini bisa berakibat fatal jika diterapkan dalam jangka waktu panjang, selalu bertawakkallah.
Keteladanan mulia ini akan melahirkan ucapan serta tindakan-tindakan yang penuh dengan kasih sayang, serta jauh dari perilaku menghukum dan menghakimi, sehingga orang yang menjadi obyek dengan suka rela mendekat, patuh dan menurut kepada orang tua dan guru, karena anak-anak dan para siswa tersebut merasa “aman” jika berada di dekat mereka, dan selalu rindu pada nasehat-nasehat mereka.
2. Melembutkan Hati.
Kelembutan hati ini memang sangat penting, sehingga banyak sekali orang berupaya untuk menggapainya, diantaranya dengan menekuni Riyadah-riyadah yang dipercaya bisa mem-bawa kelembutan hati bagi pelakunya baik berupa do’a-do’a ataupun mengikuti pengajian Menejemen Qolbu, atau beberapa produk “pelembut hati” lainnya. Sebagai langkah awal para orang tua dan guru perlu memiliki tekad untuk memproklamirkan didalam hatinya untuk selalu menjadi yang terbaik bagi anak-anak dan para siswa. Proklamasikan bahwa anda para orang tua dan guru sangat mencintai mereka, proklamasikan bahwa anda para orang tua dan guru hadir demi mereka, proklamasikan bahwa anda para orang tua dan guru adalah sahabat terbaik bagi mereka, proklamasikan bahwa anda para orang tua dan guru adalah teman sejati yang selalu ada untuk mereka.
Dengan adanya “proklamasi kasih sayang” tersebut, maka itu akan menjadi suplemen penambah tenaga bagi para orang tua dan guru, untuk selalu sigap, dan siap sedia dalam kondisi apapun untuk selalu hadir membawa kasih sayang dengan sepenuh hati, dalam ikut memberikan solusi atas segala permasalahan yang dialami anak-anak dan para siswa. Dan kelembutan hati akan selalu memancarkan aura positif, sehingga siapapun akan tahu bahwa anda para orang tua dan guru bukanlah orang-orang yang “berbahaya” jika berada di dekat mereka.
3. Menyemai Benih Kasih Sayang.
Setelah para orang tua dan guru melaksanakan kiat-kiat seperti di atas, serta selalu menata hati agar senantiasa selalu lembut, maka langkah berikutnya adalah menyemaikan benih-benih kasih dan sayang dalam bentuk pengaplikasian melalui tingkah laku ketika berinteraksi dengan anak di rumah, serta para siswa di sekolah. Mendidik dengan berlandaskan pada perasaan cinta kasih akan berefek pada semakin meningkatnya rasa kepercayaan anak kepada orang tua, serta para siswa kepada guru terutama kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.
Benih-benih kasih sayang yang telah disemai hendaknya dipupuk, agar senantiasa benih-benih kasih sayang itu bertunas subur, sehingga dapat menghasilkan kuntum-kuntum bunga cinta yang siap mengharumkan suasana taman kehidupan para orang tua dan guru. Adapun yang menjadi pemupuk benih-benih kasih sayang itu,dapat diformulasikan dari bahan-bahan,antara lain membangun citra bahwa rumah yang mereka tempati adalah sebaik-baik tempat bernaung di muka bumi ini,serta membangun citra sekolah bahwa inilah sebaik-baik tempat yang mampu mengantar mereka menuju kesuksesan lahir batin. Juga menerapkan kiat-kiat sederhana dalam berinteraksi dengan cara mempermudah prosedur-prosedur berinteraksi. Juga mengistimewakan setiap anak yang ada di sekelilingnya dengan cara memperlakukan mereka seperti orang yang dipentingkan kehadirannya diantara para orang tua dan guru. Juga curahkan perhatian dengan mengapresiasi setiap prestasi yang dicapai oleh anak-anak dan para siswa dengan memberi hadiah. Juga biasakan membantu setiap kesulitan mereka sebatas bantuan tersebut tidak membuat mereka menjadi manja. Juga biasakan mengobral pujian di setiap akhir dalam proses mengerjakan sesuatu. Juga biasakan menanggapi setiap obrolan mereka walaupun sebenarnya obrolan tersebut adalah hal yang remeh dalam ukuran pemikiran orang dewasa. Juga biasakan memberikan sentuhan fisik di tempat yang sekiranya pantas disentuh ketika sedang berkomunikasi. Dan yang tak kalah pentingnya adalah menghadirkan mereka dalam setiap do’a para orang tua dan guru.
Dengan begitu, para orang tua dan guru telah melakukan dua kebaikan sekaligus. Yaitu para guru dan orang tua telah mendo’akan mereka, serta dalam kesempatan itu juga mereka telah memberikan “pendidikan hati” kepada mereka, agar pertalian kasih sayang yang terjalin diantara anak dan orang tua serta diantara siswa dan guru, senantisa mendapat ridho dan limpahan rahmat dari Allah Subhanahu Wata’ala.
4. Istiqamah.
Dalam langkah terakhir ini, para orang tua dan guru seyogyanya selalu menjalankan apa-apa yang sudah dibangun dari awal itu dengan konsistensi yang tinggi, sehingga apa-apa yang sudah dibangun dengan langkah-langkah yang penuh dengan perjuangan tersebut tidak mengalami kemunduran dan akhirnya harus musnah ditelan masa. Dengan kontinyu semangatnya harus selalu diperbaharui agar pasang surutnya keadaan tidak berdampak buruk pada hasil perjuangannya.
Untuk selalu istiqamah,para orang tua dan guru harus selalu meneguhkan niat suci untuk selalu mengabdi kepada Allah, dengan selalu menunaikan amanah yang berupa kepercayaan untuk ikut serta menjaga sebuah generasi, agar senantiasa generasi tersebut menjadi Khalifatullah Fil Ardhi yang dapat membawa kemaslahatan kepada lingkungan,dengan disertai akhlakul karimah,yang dilandasi oleh keteguhan iman dan takwa. Sehingga nantinya dapat mejadikan lingkungan yang mereka tempati sebagai Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghafur.

BAB III
PENUTUP
Ada banyak istilah yang dapat digunakan untuk membahasakan sifat dan karakter orang tua dan guru yang ideal, diantaranya yaitu lembut, tangguh, dan brilian. Kelembutan adalah cerminan dari cinta dan kasih sayang. Ketangguhan adalah cerminan dari kesungguhan tekad yang didasari oleh keteguhan iman dan takwa. Sedangkan kebrilianan adalah cerminan dari kretivitas, profesionalisme, dan progresifitas.
Apabila ketiganya digabung dengan kata “tetap dan selalu”, maka kesemuanya akan menggambarkan sifat Istiqamah, yang akan melahirkan harmoni dan totalitas yang menakjubkan. Sehingga dengan begitu akan dengan sendirinya mengantarkan para orang tua dan guru ke puncak prestasi dalam mendidik. Anak-anak dan para siswa dengan suka rela dan penuh rasa percaya akan menjadi sosok yang patuh dan penurut, karena mereka telah banyak menyerap spirit yang telah ditransfer oleh para orang tua dan guru ke dalam hati mereka. Karena pendidikan berbasis spiritual adalah satu bentuk pendidikan yang ditransformasikan dari hati ke hati. Dengan melaksanakan pendidikan berbasis spiritual tersebut nantinya akan menjadikan para orang tua dan guru sebagai sosok yang selalu dinantikan kehadirannya,dan selalu dirindukan nasehat-nasehatnya.
KESIMPULAN
Pada bagian akhir penutup penyusunan makalah ini, penyusun merasa perlu untuk menyimpulkan bahwa pendidikan berbasis spritual ini sangatlah penting untuk diterapkan dalam segala aspek pendidikan baik pendidikan di rumah,di sekolah ataupun ditengah-tengah masyarakat pada umumnya. Tetapi jangan lupa, sebelum menerapkan pendidikan berbasis spiritual haruslah dipersiapkan, agar senantiasa hatinya selalu penuh dengan semangat untuk melakukanyang terbaik,agar nantinya tidak mengalami kekeringan spiritual. Karena pendidikan berbasis spiritual ini merupakan salah satu bentuk pendidikan yang ditransformasikan dari hati ke hati, sehingga tidak akan pernah terdengar lagi komentar “Mamaku gak oke banget” dari anak tentang orang tuanya, serta teriakan “Merrrdekaaa...” sebagai apresiasi kebebasan dari siswa yang tahu bahwa guru pada hari itu tidak hadir di sekolah.
Share:

Popular Posts

Label