Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Senin, 05 Desember 2016

Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam Menuju Keberagamaan Inklusif Pluralistik

SPIRITUALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: PENGERTIAN DAN LATAR BELAKANG GAGASAN
A.    Pengertian Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam 
 Spiritualisasi berasal dari kata “spiritual” yang berarti “kejiwaan, rohani, batin, mental, moral”. Lorens Bagus menyatakan bahwa istilah spiritual memliki beberapa pengertian, yaitu:
                              1.            Immaterial, tidak jasmani, terdiri dari roh
                              2.            Mengacu ke kemampuan-kemampuan lebih tinggi
                              3.            Mengacu ke nilai-nilai manusiawi yang non material
                              4.            Mengacu ke perasaan dan emosi-emosi religious dan estetik.
Terkait dengan konsep pendidikan Islam, kita mendapati, “polemik” istilah antara kata tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Untuk itu, istilah-istilah tersebut penting dijelaskan.
Al-Tarbiyah merupakan masdar dari kata rabba yang berarti mengasuh, mendidik, dan memelihara. Fakhr al-Din al-Razy memaknai rabbayaniy sebagai bentuk pendidikan dalam arti luas, yakni tidak hanya menyangkut pendidikan yang bersifat ucapan (dominan kognitif), tetapi menunjuk pada makna pendidikan tingkah laku (dominan afektif). Sementara Sayyid Qutb menafsirkan kata tarbiyah dengan upaya pemeliharaan jasmaniah peserta didik dan membantu menumbuhkan kematangan sikap mental sebagai pancaran akhlak karimah pada peserta didik.
Al- Ta’lim merupakan masdar dari kata ‘allama yang berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan dan keterampilan. Abdul Fatah Jalal menyatakan bahwa konsep ta’lim merupakan proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian tanggung jawab dan pemahaman amanah sehingga terjadi proses pensucian (tazkiyah) atau pembersihan manusia dari segala kotoran dan menjadikannya berada dalam kondisi yang memungkinkannya untuk menerima hikmah dan mempelajari segala yang bermanfaat baginya dan yang tidak dia ketahui.
At-Ta’dib merupakan bentuk masdar dari kata addaba  bermakna mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan budi pekerti terdidik. Sehubungan dengan itu, Syed Ahmad Naquib al-Attas menyatakan bahwa penggunaan konsep Ta’dib lebih cocok digunakan dalam diskursus pendidikan Islam, karena pengertian ta’lim hanya tertuju pada proses transfer ilmu dengan tanpa adanya pengenalan-pengenalan lebih mendasar pada perubahan tingkat laku.
Pada sisi lain, sering juga kita dapati pembahasan yang menjumbuhkan dengan tidak sengaja pengertian pendidikan Islam dengan pendidikan agama Islam. Ketika berbicara tentang pendidikan Islam, isinya terbatas pada pendidikan agama Islam atau sebaliknya, padahal, secara subtansial kedua istilah tersebut berbeda.
Pendidikan Islam adalah nama sistem pendidikan yang secara keseluruhan mendukung terwujudnya sosok muslim yang diidealkan. Sedangkan pendidikan agama Islam merupakan salah satu bagian dari pendidikan Islam. Atas dasar itulah, istilah “pendidikan Islam” dapat dipahami dalam beberapa perspektif, yaitu:
                              1.            Pendidikan menurut Islam, yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumbernya yakni Al-Qur’an dan Hadits.
                              2.            Pendidikan keislaman, yakni upaya mendidikan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya agar menjadi pandangan dan sikap hidup seseorang.
                              3.            Pendidikan dalam Islam atau proses dan praktik penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam sejarah umat Islam.
B.     Latar Belakang Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam.
Spiritualisasi pendidikan agama Islam dicanangkan dilatari oleh beberapa kenyataan atau fakta sebagai berikut:
                              1.            Dunia pendidikan formal mengalami kegoncangan karena dampak dari pertikaian ideologi dan perspektif pendidikan.
                              2.            Adanya sinyalemen terjadinya kegagalan sistem pendidikan di Indonesia.
                              3.            Lebih jauh, pendidikan di Indonesia hingga saat ini menganut pandangan absolutisme yang menyatakan bahwa silabus merupakan daftar materi yang harus dipelajari oleh peserta didik, disampaikan kepada peserta didik dalam bentuk alih pengetahuan melalui pengajar, dan evaluasinya bersifat reproduksi pengetahuan yang dipelajari.
                              4.            Imbas pendangan absolutisme tersebut pada gilirannya menjalar ke pengajaran pendidikan agama.
                              5.            Harus diakui, pendidikan agama Islam yang dikembangkan sejak dini dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi selama ini masih bersifat verbalistis yang menekankan pada aspek indoktrinasi dan penaman nilai ala kadarnya dari pada penumbuhan daya kritis dan pengembangan intelektualisme siswa.
                              6.            Hingga saat ini, pelaksanaan pendidikan agama yang berlangsung di sekolah masih dianggap kurang berhasil dalam mengarap sikap dan perilaku keberagamaan peserta didik serta membangun moral dan etika bangsa.
                              7.            Pada sisi lain, menurut pengamatan sementara ahli, bahwa dalam bidang social capital bangsa Indonesia ini sudah mencapai titik low trust society atau masyarakat yang tingkat amanahnya rendah, bahkan hampir mencapai titik zero trust society alias masyarakat yang sulit dipercaya.
Atas dasar itu, penting dilakukan reorientasi, bahkan rekonstruksi terhadap kesalahan-kesalahan pendidikan, lebih-lebih kesalahan dalam pendidikan agama Islam selama ini, yaitu antara lain melalui upaya spiritualisasi pendidikan agama Islam.

BASIS FILOSOFIS SPIRITUALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Sukidi Mulyadi menyatakan bahwa sesungguhnya yang menjadi dasar pelaksanaan pendidikan termasuk pendidikan agam Islam di Indonesia adalah teori behaviorisme, ala Barat. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan ouput yang berupa respon. Oleh karena itu, apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan tanggapan yang diberikan oleh pelajar (respon) haruslah dapat diamati dan diukur.
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang  pembelajar dalam berperilaku. Pandangan teori behavoristik ini banyak dianut oleh guru dalam merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu, yang kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana dampai kepada yang kompleks. Namun, dari semua teori yang ada, teori BF Skinner-lah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori behavioristik.
Teori ini banyak dikritisi karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.
Pada sisi lain, teori behavioristik ini juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berpikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Dalam aplikasinya pada pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai obyek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, implikasi teori behavioristik dalam proses pembelajaran diaraskan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksprementasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena itu, teori behavoristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dahulu secara ketat.
Lebih jauh, tujuan pembelajaran dalam perspektif teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan belajar sebagai aktivitas mimetic yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang dipelajari dalam bentuk laporan, kuis dan tes sangat ditekankan. Sementara evaluasi pembelajaran lebih menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah dan biasanya menggunakan tes.
Dengan demikian, pembelajaran ala behavioristik sudah sedemikian sangat mengental dalam proses pembelajaran di Indonesia. Dan pembelajaran dengan mainstream behavioristik ini berimbas pula dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam. buktinya adalah sebagai berikut:
                              1.            Pendidikan agama di sekolah-sekolah adalah pendidikan agama yang bersifat ideologis otoriter.
                              2.            Perdebatan masalah-masalah penting dari agama-agama tidak pernah transparan demi mendapatkan titik pertemuan bersama.
                              3.            Pendidikan agama diajarkan secara literer, formalistik sehingga wawasan pluralisme yang menjadi realitas masyarakat kita tidak tampak sekali.
                              4.            Pengajaran agama yang mencoba menumbuhkan kritisisme dan apresisasi atas agamanya sendiri atau agama orang lain bahkan bisa dikategorikan menyesatkan.
                              5.            Konstruksi pendidikan agama adalah konstruksi rezim yang secara kaku telah berhasil dirumuskan oleh rezim otoriter orde baru tersebut.
Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan agama dengan bayan-bayang pengaruh behavioristik tersebut harus didekonstruksi dengan filosofi lain yang lebih manusiawi dan lebih menghargai terdidik sebgaai manusia, sehingga nantinya pendidikan agama yang diberikan dilembaga-lembaga pendidikan formal maupun non formal berwajah lebih manusiawi dan tidak lagi berwajah mekanistik sebagaimana disinyaleminkan oleh Sukidi di atas.
Filosofi yang diusulkan sebagai bentuk koreksi terhadap pola pendidikan agama (Islam) model behavioristik adalah sebagai berikut:
a.       Humanisme Teosentris
Pendidikan agama Islam merupakan upaya normatif yang berfungsi untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia, maka dalam mengkonstruksi teori maupun aplikasi pendidikan agama Islam harus didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam. dari sekian banyak nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits, dapat diklasifikasikan pada dua aspek yaitu nilai dasar (intrinsik) dan nilai instrumental. Nilai yang tergolong intrinsik fundamental dan memiliki posisi ideal tersebut adalah Tauhid (Iman Tauhid).
Lebih jauh, Tauhid merupakan nilai intrinsik, nilai dasar dan tidak akan berubah menjadi nilai instrumental karena kedudukkannya paling tinggi. Seluruh nilai yang lain dalam konteks tauhid menjadi nilai instrumental. Secara terminologis, tauhid berarti pengakuan terhadap keesaan Allah. Sikap tauhid tidak cukup hanya percaya kepada adanya Allah (seperti orang Makkah dahulu), tetapi harus pula mempercayai Allah itu dalam kualitasnya sebagai satu-satunya yang bersifat keilahian atau ketuhanan, dan sama sekali tidak memandang adanya kualitas serupa kepada suatu apapun yang lain.
Secara metafisis dan aksiologis tauhid menduduki posisi tertinggi karena dia ada dengan sendirinya secara mutlak dan transenden, sedangkan eksistensi yang lain tergantung oleh-Nya. Bertitik tolak dari pengertian tersebut, tauhid sudah cukup sebagai landasan bagi seluruh aktivitas kehidupan umat manusia termasuk dalam pendidikan, karena ia merupakan nilai yang paling esensial dan sentral serta seluruh gerak hidup muslim tertuju ke sana. Dengan dasar tauhid sesungguhnya menjadi titik poros sentral juga spiritual dari berbagai nilai dalam pendidikan Islam, sehingga dengan dasar demikian, tampak sekali bahwa basis filosofis pendidikan islam adalah teosentrisme (berpusat kepada Tuhan). Namun perlu disadari, bahwa pemusatan kepada Tuhan tersebut, secara subtansial bukan untuk kepentingan Tuhan, tetapi sepenuhnya untuk kepentingan manusia. Karena itu, pendidikan Islam juga berlandaskan pada humanisme (berpusat pada manusia). Dalam konteks demikian, dapat ditegaskan bahwa basis tumpu filosofis pendidikan agama Islam adalah perpaduan antara teosentrisme dan humanisme atau lzim diidentifikasi sebagai humanisme teosentris.
Karena pendidikan Islam juga berlandaskan humanisme, maka nilai-nilai fundamental yang secara universal dan obyektif merupakan kebutuhan manusia perlu dikemukakan sebagai dasar pendidikan agama Islam, meskipun harus digaris bawahi tebal, bahwa posisinya tetap berada dalam tauhid (teosentris) sebagai dasar nilai.  Implikasikan dalam pendidikan adalah setiap orang memiliki hak dan pelayanan yang sama dalam pendidikan. Oleh karena itu, implementasi humanisme teosentris tersebut dalam praktik kehidupan dan pendidikan dapat fleksibel atau luwes, selama subtansinya tetap terpelihara yaitu, menunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan karena hakikatnya ajaran Islam memang untuk memenuhi kebutuhan manusia, bukan untuk kepentingan Tuhan.
b.      Konstruktivisme
Konstruktivisme secara bahasa berasal dari kata to construct yang artinya membangun, membuat, menciptakan, mendirikan, memunculkan dan merancang. Secara istilah, teori konstruktivisme memandang bahwa indivdu belajar dengan cara mengkonstruksi makna melalui interaksi dan dengan menginterprestasi lingkungannya.
Sehubungan dengan konteks pembelajaran, Leo Sutrisno memandang konstruktivisme sebagai berikut:
1)      Tradisi contructivisme memandang belajar sebagai proses aktif seseorang dalam membangun pengetahuan yang bermakna dalam dirinya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya dengan cara membangun keterkaitan antara pengetahuan yang sedang dihadapi dan pengetahuan yang telah dimiliki.
2)      Dalam tradisi konstruktivisme, silabus tidak lagi merupakan daftar materi yang diterapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran, tetapi merupakan yang mungkin terbentuk sebagai hasil penggabungan yang kompleks antara; pengetahuan yang telah ada kepercayaan, keterampilan, pengalaman, tantangan dan peluang.
Adapun karakteristik pembelajaran kontruktivisme adalah:
                              1.            Emphasize problem solving
                              2.            Recognizes that teaching and learning need to accur in multiple contexts
                              3.            Assists students in learning how to monitor their learning so that they can become self regulated learners
                              4.            Anchors teaching in the diverse life contexts of students
                              5.            Encourages students to learn from each other
                              6.            Employ authentic assessment
Dengan demikian, pola konstruktivisme pndidikan agama Islam akan menjadi lebih santun dan inklusif. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan agama Islam sudah waktunya didekonstruksi dengan menggunakan paradigm filosofis konstruktivisme, sehingga pendidikan agama menjadi lebih bermakna pada terdidik.

KONSTRUKSI SPIRITUALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Ketidakberdayaan system pendidikan agama di Indonesia sebagai bagian dari system pendidikan nasional kita secara keseluruhannya, tampaknya disebabkan penekananpendidikan agama selama ini pada proses transformasi ilmu agama kepada anak didik, bukan pada proses transformasi nilai-nilai luhur keagamaan. Oleh karena itu, paradigma behavioristik mekanistik tersebut pelu digeser pada paradigma humanisme teosentris konstruktivistik. Dalam bingkai paradigma humanisme teosentrik konstruktivistik inilah spiritualisasi pendidikan agama Islam dapat dikontruksi.
Dalam rangka tercapainya spiritualisasi pendidikan agama Islam dapat diusulkan beberapa noktah pemikiran sebagai berikut:
1)      Sadari bahwa pendidikan agama atau pendidikan religiousitas pada dasarnya merupakan suatu pendidikan untuk menumbuhkembangkan sikap batin siswa agar mampu melihat kebaikan Tuhan dalam diri sendiri, sesama dan dalam lingkungan hidupnya.
2)      Laksanakan proses pembelajaran pendidikan agama Islam dengan rileks dan dengan menggunakan pola dan metode apapun yang dapat mengaktifkan siswa.
3)      Berusaha mewujudkan pengalaman yang autentik, dan bukan dibuat-buat.
4)      Wujudkan proses pembelajaran yang dirancang dengan pola paradigma pedagogik reflektif (PPR) yang lebih mengutamakan siswa untuk menemukan dan memaknai pengalamannya sendiri.
5)      Disamping melaksanakan pola paradigma pedagogik reflektif (PPR), laksanakan pula strategi projet based learning (PBL) sebagai pengimbang.
Dengan pola-pola tersebut di atas siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk memperdalam iman sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing dan untuk menanggapi permasalahan di sekitarnya melalui komunikasi iman bersama dengan teman-temannya baik yang satu kepercayaan maupun yang berbeda.
Bila hal demikian ini telah menjadi kebiasaan pengelolaan pembelajaran, maka guru telah mengantarkan siswanya untuk mengetahui bagaimana belajar cara belajar (learning how to learn). Dengan kemampuan itu siswa akan menjadi berdaya dan akan menjadi seorang pembelajar sepanjang hidup.
Pengemabangan pola pembelajaran yang demikian, membutuhkan komitmen total guru dengan selalu:
a.       Aktif mengembangkan bahan pelajaran dan metodenya
b.      Tidak merasa puas atas keyakinan dan hasil yang dicapainya
c.       Kritis tidak hanya ikut-ikutan
d.      Bebas berpikir dan mengembangkan pemikirannya
e.       Mampu berefleksi terhadap apa yang dilakukan dan yang akan dilakukan serta implikasinya pada pembentukan pribadi para siswanya.

IMPLIKASI SPIRITUALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
A.    Implikasi Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam Terhadap Struktur Komposisi Kurikulum PAI
Perubahan pola pendidikan agama Islam dari pola behavioral konvesional menuju pola konstruktivisme humanism teosentris yang mewujudkan spiritualisasi pendidikan agama Islam, pada gilirannya akan melahirkan implikasi besar terhadap struktur komposisi kurikulum pendidikan agama Islam.
Dalam tradisi behavariorisme memandang belajar sebagai perubahan perilaku yang mencerminkan kondisi dari belum tahu ke kondisi sudah tahu, maka materi yang diajarkan harus disusun secara hirarkhis dari yang sederhana ke yang lebih kompleks. Sedangankan dalam tradisi konstruktivisme humanism teosentris, aspek-aspek pendidikan agama Islam disajikan dengan pendekatan integrative interkonektif dan berusaha untuk mengaitkan pembelajaran pendidikan agama Islam dengan konteks dan pengalaman-pengalaman hidup peserta didik yang beraneka ragam atau konteks masalah-masalah serta situasi-situasi riil kehidupannya.
Jika dalam kurikulum konvensional, pendidikan agama Islam di sekolah pada dasarnya berusaha untuk membina sikap dan perilaku keberagamaan siswa dengan titik tekan pada pemahaman tentang agama itu sendiri, maka dalam kurikulum dengan pendekatan konstruktivisme humanistic, diutamakan juga aspek pemahaman dan ptraktik keberagamaan, tetapi lebih mengutamakan aspek being (beragama atau menjalani hidup atas dasar ajaran dan nilai-nilai agama).
Dengan kata lain, pendidikan agama Islam dengan pendekatan konstruktivisme lebih diorientasikan pada tataran moral action, yakni agar peserta didik tidak hanya berhenti pada tataran kompeten, tetapi sampai memiliki kemauan, dan kebiasaan dalam mewujudkan dan mengamalkan ajaran nilai-nilai agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa implikasi spiritualisasi pendidikan agama Islam terhadap struktur komposisi kurikulum PAI adalah bahwa secara material komposisi kurikulum tidak berubah, materinya tetap, namun yang berubah adalah pendekatan dan porsi panyajiannya yang dikaitkan dengan konteks konkret keseharian siswa.
B.     Implikasi Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam terhadap Pendidik dan Terdidik.
Spiritualisasi pendidikan agama Islam yang menganut paradigma konstruktivisme humanisme teosentris juga berimplikasi terhadap pendidik dan terdidik. Menurut sistem konstruktivisme humanisme teosentris pendidikan harus berorientasi pada pengenalan diri sendiri dan pembebasan dari budaya pembisuan sehingga dapat mengembangkan dirinya.
Konsekuensi model pendidikan ini, guru bukan sekedar pendidik yang menuangkan ilmu, namun teman dialog siswa yang sedang mencari jati dirinya. Jadi, dengan sistem konstruktivisme humanisme teosentris, guru agama Islam tidak hanya berperan sebagai ustadz saja, tetapi berperan juga sebagai mu’allim, murabby, mursyid, mudarris dan mu’addib sekaligus.
Tidak hanya kepada guru, spiritualisasi pendidikan agama Islam juga berimplikasi pada terdidik. Dengan konstruktivisme humanisme teosentris, siswa dapat belajar dari keslahan, siswa dapat mengasah lima unsur kepribadian manusia yang disebut OCEAN (Opennes, to experience, conscientiousnes, extrertion, agreeableniess, neurotism). Dengan begitu, pada gilirannya siswa diharapkan dapat mengalami perubahan sikap, tingkah laku maupun pola pikir sehingga semakin dewasa dan inklusif dalam menerima keberadaannya sebagai bagian dari masyarakat yang majemuk ini, sehingga terwujud suasana keberagamaan inklusif pluralistik.
Sumber, Edi Susanto, Spiritualisasi Pendidikan Agama Islam Menuju Keberagamaan Inklusif Pluralistik, Surabaya: Pena Salsabila, 2016


Share:

Minggu, 18 September 2016

Cara Mengajukan NISN Siswa/Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2016/2017

Cara Mengajukan NISN Siswa/Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2016/2017_Cara mendapatkan NISN baru bagi Siswa pada tahun pelajaran 2016/2017 ini berbeda dengan cara mengajukan NISN peserta didik baru pada tahun ajaran 2015/2016. Di mana pada tahun pelajaran 2015/2016, untuk mendapatkan NISN bagi siswa baru SD atau mungkin SMP/SMA/SMK ( pada umumnya pengajuan NISN cukup 1 kali yakni di SD karena NISN tersebut berlaku juga ketika siswa sudah melanjutkan ke jenjang selanjutnya, namun tidak menutup kemungkinan karena suatu hal yang menjadikan siswa SMP/SMA belum punya NISN), seorang Operator Sekolah harus mengajukan NISN siswa baru lewat Verval PD di http://vervalpd.data.kemdikbud.go.id/. Namun pada tahun pelajaran 2016/2017, untuk mengajukan NISN peserta didik baru, Operator Sekolah dapat melakukannya dengan lebih mudah karena sekarang sudah tidak ada lagi tombol Match maupun Not Match di tab Residu ( ahaa, tab residunya juga sudah tidak ada, adanya diagram lingkaran yang menunjukkan perbandingan data referensi dan residu). Jadi, intinya proses pengajuan/pembuatan NISN baru bagi siswa/peserta didik baru kelas 1 SD tidak bisa dilakukan oleh Operator Sekolah karena hak akses untuk mengajukan/membuat NISN baru pada tahun pelajaran 2016/2017 hanya bisa dilakukan oleh Operator Dinas Kabupaten/Kota masing-masing.


Cara Termudah Mengajukan NISN Peserta Didik/Siswa Baru 2016

Langkah-Langkah Mengajukan/Mendapatkan NISN Baru Tahun 2016
Wah, karena pengajuan NISN baru bagi peserta didik/siswa baru hanya bisa dilakukan oleh Operator Kabupaten/Kota, maka langkah-langkah yang bisa Operator Sekolah lakukan agar siswa baru di sekolahnya bisa mendapatkan NISN adalah sebagai berikut:

1. Tambahkan Siswa Baru Kelas 1 SD di Aplikasi Dapodik
Seperti tahun pelajaran sebelumnya, bahwa proses awal yang harus dilakukan oleh Operator Sekolah untuk mengajukan NISN siswa baru adalah dengan menginputkan data peserta didik baru secara lengkap dan valid.

2. Melakukan Sinkronisasi Dapodik
Setelah data siswa baru sudah dimasukkan semua ke dapodik dan Anda sudah yakin akan kevalidannya, silakan lakukan sinkronisasi online dapodik versi terbaru saat ini.

3. Pastikan Data Siswa Baru sudah Masuk di Halaman Website http://vervalpd.data.kemdikbud.go.id/
Jika Anda sudah melakukan sinkronisasi, silkan cek secara berkala dengan cara online yakni login di http://vervalpd.data.kemdikbud.go.id/ menggunakan username dan password dapodik/verval PD sekolah Anda.

4. Cek Residu di Halaman Home http://vervalpd.data.kemdikbud.go.id/
Jika sinkronisasi dapodik sudah berhasil dan datanya sudah masuk di web http://vervalpd.data.kemdikbud.go.id/, maka Pada home website Verval PD tersebut secara default sudah ditampilkan perbandingan data dalam bentuk diagram lingkaran. Anda bisa mengecek berapa prosentase/persen data yang masuk referensi dan residu.

Prosentase data pada referensi menunjukkan siswa di sekolah Anda yang sudah memiliki NISN, sedangkan prosentase di residu menunjukkan data siswa yang belum memiliki NISN yakni sama dengan siswa baru kelas 1 SD yang Anda inputkan di dapodik.

Kok hanya ada diagram lingkaran tentang perbandingan data referensi dan residu, di mana tab residu yang berisi daftar siswa yang akan diajukan NISNnya?

OK, mari kita bandingkan menu-menu yang ada pada web Verval PD tahun pelajaran 2015/2016 dengan tahun ajaran 2016/2017:

a. Tampilan Halaman Web Verval PD Tahun Pelajaran 2015/2016
Tampilan Halaman Web Verval PD Tahun Pelajaran 2015/2016
Nah itu di atas adalah tampilan halaman website Verval PD TP. 2015/2016, di mana dengan adanya tab residu, dulu sebagian Operator Sekolah mencari info tentang Cara Verval PD Siswa Baru untuk Mendapatkan/Mengajukan NISN atau Cara Mengajukan NISN Siswa Baru di Verval PD secara online setelah OPS memasukkan data di dapodik.
b. Tampilan Halaman Web Verval PD Tahun Pelajaran 2016/2017
Fungsi Menu Verval PD Tahun Pelajaran 2016/2017 Terkait NISN

Tampilan web Verval PD tahun pelajaran 2016/2017 tentunya lebih OK dibanding tahun ajaran sebelumnya, ahaa,,,sekalian kita mengenali menu-menu Verval PD dan fungsinya yuk:
  • home: menampilkan perbandingan data
  • referensi: berisi 2 sub menu yakni "Aktif" yang berisi daftar siswa sekolah saat ini yang sudah memiliki NISN, sedangkan sub menu "Lulusan" berisi daftar NISN siswa lulusan sekolah Anda pada tahun pelajaran 2014/2015 dan TA. 2015/2016.
  • belum memiliki NISN: berisi data siswa yang belum memiliki NISN yakni para siswa baru kelas 1 yang datanya sama dengan yang Anda inputkan di dapodik.
  • status pengajuan mutasi: cukup jelas
  • edit data: cukup jelas
  • logout: sangat jelas, he he
Demikian tentang Cara Mendapatkan NISN Baru yang prosesnya dari Dapodik sampai di halaman web Verval PD, silakan cek secara berkala di menu "Aktif" verval PD, jika Operator Kabupaten/Kota di daerah Anda sudah membuatkan NISN baru bagi Siswa di sekolah Anda, maka secara otomatis pada diagram perbandingan data akan tampil dengan prosentase referensi siswa pemilik NISN "Aktif" 100% dan untuk memastikan bahwa sudah tidak ada siswa baru yang NISNnya belum jadi, silakan cek di menu "Belum Memiliki NISN" dan pastikan di sana sudah kosong. Asyik deh, para OPS tinggal tunggu saja sampai prosentase residunya kosong atau nol persen.

Share:

Senin, 09 Mei 2016

Srikandi Fenomena dan Kenyataan

Srikandi Fenomena dan Kenyataan
Srikandi Fenomena dan Kenyataan
semua asa yang pernah terpisah dalam merajut sebuah harapan tanpa disadari, itu semua berjalan sebagai bagian ekosistem yang ada di kehidupan alam ini. entah apa yang hadir dalam alam bawah sadar manusia ini, merupakan anugerah untuk selalu kita syukuri walaupun selama ini seognya kita telah terlarut dalam alam pikiran yang tentunya sangat bertentangan dengan alam bawah sadar manusia.

Srikandi sebuah istilah yang digunakan salah satu putri Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Putri Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata diceritakan bahwa ia lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan Jawa dikisahkan bahwa ia menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata versi India.

fenomena ini akan menjadi kajian yang istimewa antara kenyataan alam bawah sadar dengan kenyataan yang ada.


Share:

Sabtu, 07 Mei 2016

FENOMENA MASYARAKAT MADURA DALAM PENGUKUHAN JATIDIRI DAN PENGARUH PERUBAHAN BUDAYA PASCA SURAMADU

FENOMENA MASYARAKAT MADURA DALAM PENGUKUHAN JATIDIRI DAN PENGARUH PERUBAHAN BUDAYA PASCA SURAMADU
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai salah satu suku bangsa terbesar ketiga di Indonesia ( sesudah suku Jawa dan suku Sunda ), suku bangsa Madura mempunyai posisi dan relung yang mapan di Indonesia. Karena tidak banyak kajian akademis mendalam seputar antropologi Madura yang sudah dilakukan orang, maka banyak pertanyaan yang belum bisa dijawab dengan memuaskan. Salah satunya, Mengapa manusia Madura yang berjaya di luar enggan melakukan investasi di pulaunya?.

Menyikapi hal tersebut, masyarakat Madura ingin membuktikan bahwa pulau yang berada di timur laut Pulau Jawa ini, bisa berjaya dan berkembang ditengah-tengah persaingan yang semakin ketat. Jika dikaitkan dengan perilaku manusia Madura, prospek kemajuannya seakan-akan terhalang oleh kekonservativan masyarakat Madura yang sejak semula selalu dilukiskan sebagai orang yang berwatak kasar, keras bicaranya, dan blak-blakan mengutarakan pendapatnya, mudah tersinggung, berdarah panas, beringas, serta tidak tahu adat sehingga tidak bisa bersopan santun. Semuanya itu sebenarnya merupakan pelukisan yang diambil dari sekumpulan cuplikan mengacak dari berbagai peristiwa, tempat, dan waktu yang terpisah-pisah.

Sejarah memang membuktikan bahwa sekelompok etnis Madura termasuk salah satu suku bangsa Indonesia yang tahan bantingan zaman. Mereka mempunyai tingkat adaptasi dan toleransi yang tinggi terhadap perubahan, keuletan kerja tak tertandingi dan keteguhan berpegang pada asas falsafah hidup yang diyakininya. Walaupun diberikan dengan nada sinis, selanjutnya diakui juga bahwa orang Madura memiliki keberanian, kepetualangan, kelurusan, kesetiaan, kehematan ( yang terkadang mengarah kekepelitan ), keceriaan, dan rasa humor yang khas. Memang harus diakui bahwa Pulau Madura sebagai bumi terdapat asal-usul orang

Madura tidaklah merupakan taman firdausi idaman penduduknya, karena pembangunan fisik materiil untuk kesejahteraan jasmani dan rohani masih banyak menunjukkan rumpang yang bisa dan harus disempurnakan.



B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengaruh Jembatan Suramadu terhadap perubahan budaya masyarakat madura?

2. Bagaimanakah Fenomena Pengukuhan Jati diri masyarakat Madura pasca-Suramadu?



C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengaruh jembatan suramadu terhadap perubahan budaya masyarakat madura

2. Untuk mengetahui Fenomena Pengukuhan Jati diri masyarakat Madura pasca-Suramadu



BAB II

PEMBAHASAN



A. Sekilas Tentang Jembatan Suramadu

Jembatan Suramadu yang awal pembangunannya diresmikan oleh mantan Presiden Megawati Soekarno Putri, pada Agustus 2003 lalu dan pembukaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bulan Juni, 10, 2009, akan menghubungi Pulau Madura (kawasan Bangkalan) dan Pulau Jawa (di Surabaya) dengan lintasan selat Madura. Jembatan Suramadu ini adalah jembatan terpanjang di Indonesia, setidaknya saat ini, karena mempunyai panjang 5.438 m. Yang unik dari jembatan Suramadu ialah adanya tiga bagian yang membagi jembatan ini, yakni jembatan penghubung (approach bridge), jembatan utama (main bridge) dan jembatan layang (causeway) Jembatan Suramadu pada dasarnya merupakan gabungan dari tiga jenis jembatan dengan panjang keseluruhan sepanjang 5.438 meter dengan lebar kurang lebih 30 meter. Jembatan ini menyediakan empat lajur dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat selebar 2,75 meter. Jembatan ini juga menyediakan lajur khusus bagi pengendara sepeda motor disetiap sisi luar jembatan. Jalan layang atau Causeway dibangun untuk menghubungkan konstruksi jembatan dengan jalan darat melalui perairan dangkal di kedua sisi. Jalan layang ini terdiri dari 36 bentang sepanjang 1.458 meter pada sisi Surabaya dan 45 bentang sepanjang 1.818 meter pada sisi Madura. Jalan layang ini menggunakan konstruksi penyangga PCI dengan panjang 40 meter tiap bentang yang disangga pondasi pipa baja berdiameter 60 cm.

Jembatan penghubung atau approach bridge menghubungkan jembatan utama dengan jalan layang. Jembatan terdiri dari dua bagian dengan panjang masing-masing 672 meter. Jembatan ini menggunakan konstruksi penyangga beton kotak sepanjang 80 meter tiap bentang dengan 7 bentang tiap sisi yang ditopang pondasi penopang berdiameter

180 cm. Jembatan utama atau main bridge terdiri dari tiga bagian yaitu dua bentang samping sepanjang 192 meter dan satu bentang utama sepanjang 434 meter. Jembatan utama menggunakan konstruksi cable stayed yang ditopang oleh menara kembar setinggi 140 meter. Lantai jembatan menggunakan konstruksi komposit setebal 2,4 meter. Untuk mengakomodasi pelayaran kapal laut yang melintasi Selat Madura, jembatan ini memberikan ruang bebas setinggi 35 meter dari permukaan laut.



B. Pengaruh Jembatan Suramadu Terhadap Budaya Masyarakat Madura.

Gokalp dan Pierre, senada dalam memberikan batasan pengertian tentang budaya. Bagi Gokalp, budaya merupakan sesuatu yang sifatnya unik, nasionalis, subjektif dan timbul dengan sendirinya. Dalam The Principles of Turkey, ia menegaskan, budaya sebagai sesuatu yang sifatnya tidak tetap, atau dengan kata lain, dapat saja berubah sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. Sebab itu boleh jadi, budaya sangat tergantung pada apa yang Pierre sebut sebagai field (lapangan atau konteks), yang di dalamnya teranyam jaringan makna.

Jaringan makna inilah yang kemudian melahirkan habitus (cara pandang baru), dalam pengertian Pierre, habitus dibentuk oleh; pemikiran dan refleksi individu dan interaksi praksis individu dengan masyarakat di mana ia hidup. Habitus baru sebagai refleksi budaya dapat dilahirkan oleh interaksi masyarakat dan pemaknaan terhadap konteks dan jaringan makna dimana ia berada. Karenanya, budaya baru mungkin saja lahir akibat interaksi dalam konteks yang berbeda.

Kaitannya dengan masyarakat Madura, kini dan nanti, sungguh tak dapat mengelak ekses dari industrialisasi nantinya berupa budaya luar yang pasti akan turut mewarnai. Hal itu cukup Suku bangsa Madura merupakan suku bangsa teberalasan dengan mobilitas yang tinggi dari tenaga kerja yang keluar masuk Madura. Oleh karena itu, masih dalam kaitan pelestarian khasanah budaya dan nilai-nilai luhur tradisi Madura, sejatinya tetap menjadi kearifan lokal yang mesti dipertahankan eksistensinya ditengah merespon tantangan globalisasi sekaligus kebutuhan industrialisasi yang akan tumbuh berkembang di pulau ”Bendoro Gung dan Raden Sagoro kecil” tercatat dalam sejarah, konon, sebagai penduduk pertama pulau Madura.

Dalam pada itu, kondisi Madura yang menunjukkan banyaknya pondok pesantren dengan para kyainya, tetaplah penting menempatkan persoalan Madura ke depan dalam konteks perubahan yang sangat cepat dan globalisasi dunia di mana kita hidup sekarang, ada di dalamnya dan tengah menghadapinya. Sejatinya pesantren, sangat relevan sebagai modal dasar dalam rangka mengakomodasi dan membentengi kembang kempisnya kearifan nilai-nilai budaya lokal dari arus negatif yang akan dimunculkan pasca Suramadu yang tengah berjalan. Terlebih pada saat ini dan dekade-dekade mendatang, kita akan menyaksikan pergulatan budaya Madura yang berjuang menemukan kembali kediriannya. Karena diakui atau tidak, globalisasi yang ditandai dengan pesatnya industrialiasi merupakan fenomena multi dimensi yang meretas batas tidak hanya dalam dimensi sosial, ekonomi, dan politiklebih daripada itu implikasinya sampai pada tahap mempengaruhi perkembangan dunia sains dan teknologi.

Benar apa yang dikatakan Azyumardi Azra, cendikiawan muslim tersebut mempertegas; bahwa dalam era globalisasi dan modernisasi ini perubahan dramatis mencakup segala aspek kehidupan dapat terjadi seiring tumbuhnya masyarakat industri dimana lazimnya kerap ditandai pergeseran nilai-nilai budaya dan agama. Karena itu, pembangunan di Madura pasca Suramadu, hendaknya tetap berpegang teguh pada kepatutan khasanah budaya lokal dan aspirasi sosial masyarakat Madura. Serta aspek nasionalis keindonesian tak boleh tercerabut dari akar sebab pembangunan.

Arus modernisasi lambat laun telah mengerus nilai-nilai budaya masyarakat Madura. Salah satu contohnya, bahasa Madura yang menjadi salah satu unsur penting dari kebudayaan Madura, nyaris tidak dipakai lagi dalam kahidupan sehari-hari. Padahal, dalam konsep kebudayaan, bahasa menunjukkan bangsa. Pembangunan jembatan Suramadu akan semakin membuka Madura dari dunia luar. Arus barang, jasa, juga orang akan lebih padat, yang bisa membawa peradaban baru masuk Madura. Tentunya, itu adalah tantangan bagi masyarakat Madura untuk berusaha agar kulturnya tidak terkikis. Penyelamatan kebudayaan Madura sungguh sangat besar dengan berbagai kompleksitas diatas.

Penerimaan terhadap paradigma di atas, saya rasa menjamin pada proses industrialisasi di Madura sebagaimana cita-cita bersama. Dan, lebih lagi, tidak melupakan budaya serta karakter masyarakat Madura yang sejauh ini sudah diasosiasikan sebagai masyarakat yang religius agamis (Islam). Islam bagi masyarakat Madura merupakan nafas dan telah melahirkan budaya dan tradisi yang menyentuh setiap relung dan ruang kehidupannya.

Sesungguhnya, jauh sebelum manusia menghawatirkan segala ekses negatif yang dimunculkan oleh zaman modernisasi dan globalisasi, dalam Islam, secara eksplisit telah diserukan; ”Belajarlah tentang zamanmu, siapa saja yang mengenal sifat-sifat dari zamannya dan mengetahui pengetahuan tentang seluk-beluknya, maka niscaya tak akan sekali-kali dikejutkan oleh hal-hal yang membingungkan”. Dengan bahasa kekinian, jika ingin survive dan berjaya ditengah perkembangan dunia yang kian kompetitif, maka peningkatan terhadap mutu Sumber Daya Manusia menjadi sesuatu yang harus diprioritaskan, sehingga dapat bermain peran dalam persaingan global. Bagi kita, sungguhpun gelombang globalisasi akan dan telah mendatangkan tantangan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana dapat menangkap peluang.



C. Fenomena Masyarakat Madura Dalam Pengukuhan Jatidiri Pasca Suramadu

Orang yang tidak pernah ke Madura, memiliki gambaran yang kelam tentang orang Madura dengan diliputi penuh rasa was-was, karena benak mereka dihantui citra orang Madura yang serba tidak bersahabat. Akan tetapi kemudian setelah berada di Madura, ternyata hampir semuanya berubah 180 derajat pandangannya tentang orang Madura. Mereka dengan penuh ketulusan mengatakan bahwa orang Madura ternyata santun, ramah, akrab dan hangat menerima tamu. Citra negatif ini pula yang kemudian melahirkan sikap pada sebagian orang Madura, utamanya kaum terpelajar, merasa malu menunjukkan diri sebagai orang Madura, karena Madura identik dengan keterbelakangan atau kekasaran Keadaan ini harus diakhiri.

Membangun citra positip, memang tidak bisa serta merta, perlu proses, akan tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Itupun harus dimulai sekarang juga, agar keadaan tidak semakin parah. Hal yang sangat penting adalah adanya kesadaran bahwa membangun citra positip harus dilakukan sendiri oleh orang Madura, sebagaimana semboyan kelompok Pakem Maddhu, Pamekasan yang berbunyi: “Coma reng Madhura se bisa merte bhasa Madhura”. Jembatan Suramadu tidak hanya sekadar jembatan secara fisik. Ia telah menjelma jembatan yang menghubungkan berbagai dimensi masyarakat Madura dengan dunia luar. Dengan terbentangnya Jembatan Suramadu, masyarakat Madura tidak lagi inferior. Menurut pendapat D. Zawawi imron istilah toron (:turun) yang digunakan orang-orang yang akan kembali ke Madura dan onggah (:naik) yang disematkan pada orang-orang yang akan bepergian ke Surabaya, kini telah terjembatani kesenjangannya. Tidak ada lagi naik-turun antara Surabaya-Madura. Yang ada hanya kesetaraan, yang dihubungkan Jembatan Suramadu. Selain itu, Jembatan Suramadu ini, dalam pengamatan beberapa pakar, diproyeksikan akan menjadi penghubung antara masyarakat Madura dan non-Madura dalam berbagai dimensi. Jembatan Suramadu akan menjelma jembatan industri, jembatan akulturasi budaya, jembatan percepatan ekonomi, jembatan modernisasi. Lalu bagaimanakah wajah Madura pasca-Suramadu ini? Bagimanakah potret budaya Madura, sebagai jati diri masyarakat Madura pasca dioperasikannya jembatan ekspansi multi-dimensi ini?

Ada enam persoalan paradoks yang dihadapi bangsa ini dalam percaturan peradaban digital ini.

a. Paradoks pengetahuan, yaitu paradoks antara pengetahuan/sampah pengetahuan.

b. Ketelanjangan budaya (cultural transparency).

c. Budaya ekses (culture of excess).

d. Ketakpastian etis (ethical indelerminacy).

e. Kesenjangan digital (digital discrepancy).

f. Kegamangan seni (dizziness of arts).

Dari berbagai tantangan yang mendasar tersebut, bahwa pembentukan karakter jati diri lebih menentukan sebuah masyarakat bisa bertahan dalam percaturan global ini. Dengan kata lain, di samping kemampuan skill individu yang mesti dikuasai oleh setiap individu masyarakat Madura, terutama generasi mudanya, apresiasi nilai-nilai budaya harus ditekankan sebagai transformasi jari diri. Dengan kata lain, kegamangan dan kehampaan serta kebrutalan masyarakat modern tidak dapat dipungkiri sebagai akibat hilangnya nilai-nilai budaya jati dirinya. Tak bisa dipungkiri keterpurukan suatu bangsa mula-mula disebabkan karena hilangnya jati diri mereka.

Turki pasca modernisasi Kemal Attarturk hanya menyisakan kegelisahan, kegalauan seperti kita lihat dalam karya-karya Orhan Pamuk. Sebaliknya, Jepang mampu bangkit dan maju pesat pasca perang dunia II hanya berbekal dengan spirit samurainya. Indonesia pun terkatung dalam dilema modernisasi. Banyak yang terkuras dan tercerabut demi dengung kemajuan, tapi tingkat kesejahteraan masih dalam konsep ‘berusaha’. Kesenjangan sosial semakin menjurang saja. Yang paling akut krisis dan chaos sosial akibat modernisasi semakin menjadi-jadi.

Mengingat hal paradoks modernisasi tersebut, perlu kiranya disodorkan sebuah konsep pembangunan Madura ke depan. Sebuah arah gerak maju modernisasi demi kesejahteraan masyarakat. Bukan ‘penghancuran’ dan penghisapan sari madu Madura demi modernisasi. Modernisasi dengan birahi pembangunannya, dengan retorika elektroniknya memang tidak dapat ditolak. Tapi demi keberlangsungan masyarakat Madura untuk sekian waktu yang tidak ditentukan, perlu kiranya menata ‘birahi’ kemajuan yang paradoks ini. Dengan kata lain, pemodernisasian Madura seyogyanya memiliki orientasi yang jelas dan terarah. Jelas untuk mengembangkan dan memajukan Madura. Terarah untuk memerhatikan kemajuan pada dua sisi.

a) Pertama sisi fisik. Sisi ini lebih menekankan pada pembangunan struktur dan infrastruktur sosial-budaya-ekonomi-politik.

b) Kedua, sisi psikis. Pembangunan Sisi ini mengupayakan terciptanya mental dan jati diri masyarakat Madura Lebih jauh, pembanguan psikis ini, tentunya terletak sejauh mana transformasi kultur budaya msyarakat dari generasi ke generasi berikutnya.

Dengan kata lain, dalam mempersiapkan masyarakat Madura untuk berlaga di arena modernisasi, maka pelestarian dan pengapresiasian budaya lokal merupakan modal utama. Agenda apresiasi budaya lokal Madura ini selain membekali setiap individu dengan kesadaran realitas sejarahnya, juga bertujuan untuk menyelamatkan khazanah kebudayaan bangsa

BAB III

PENUTUP



A. Kesimpulan

1. Suramadu ini adalah jembatan terpanjang di Indonesia, setidaknya saat ini, karena mempunyai panjang 5.438 m. Yang unik dari jembatan Suramadu ialah adanya tiga bagian yang membagi jembatan ini, yakni jembatan penghubung (approach bridge), jembatan utama (main bridge) dan jembatan layang (causeway).

2. Budaya merupakan sesuatu yang sifatnya unik, nasionalis, subjektif dan timbul dengan sendirinya.

3. Membangun citra positip, memang tidak bisa serta merta, perlu proses, yang sangat penting adalah adanya kesadaran bahwa membangun citra positip harus dilakukan sendiri oleh orang Madura, sebagaimana semboyan kelompok Pakem Maddhu, Pamekasan yang berbunyi: “Coma reng Madhura se bisa merte bhasa Madhura”.

B. Saran

mempersiapkan masyarakat Madura untuk berlaga di arena modernisasi, dan pengapresiasian budaya lokal untuk menyelamatkan khazanah kebudayaan bangsa.


DAFTAR RUJUKAN



Zawawi Imron, “Suramadu”, Jawa Pos, (14-Juni-2009)., hlm. 4.

Pierre Bourdiue, dalam Izak Y. M. Lattu, Budaya Damai dalam Masyarakat Multikultural.

http://www.unesco.org/cpp/uk/declarations/2000/h tm.

Muthmainnah, Jembatan Suramadu, (Yokyakarta: LPPSM, 1998).

Abdurrachman, Sejarah Madura; Selayang Pandang, (Sumenep: tanpa penerbit, 1988)., cetakan ke- 3., hlm. 2-4.

Abdurrahman Mas’ud, Dari Haramain ke Nusantara; Jejak Intelektual Arsitek Pesantren, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006)., hlm. xxiii.

Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Melinium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999)., hlm. 44.

Ziya Gokalp, dalam Ilham Bustomi, ”Agama dan Nasionalisme; Studi Terhadap Pemikiran Ziya Gokalp”, Komonitas; Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, vol. 26, No. 2, Desember 2008., hlm. 45.








Share:

Kamis, 05 Mei 2016

THE ANALYSIS OF BILINGUALISM AND CODE OF SOCIOLINGUISTICS

THE ANALYSIS OF BILINGUALISM AND CODE OF SOCIOLINGUISTICS
THE ANALYSIS OF BILINGUALISM AND CODE OF SOCIOLINGUISTICS
“Ando, who is Javanese, is now living in a metropolitan city (Jakarta) for a study reason. It in nature allows him to have frequent contacts for transactional purposes for instance with individuals coming from different cultural and linguistic background. Switching or mixing from one language to the next is such an unavoidable social consequence that he could show up to get his message effectively communicated. Therefore, it is common to have his native language is getting fewer intensive in use even when he occasionally speaks with whom they share the same language”.
The phenomena can analyze with the bilingualism and code switching theory. For the first we will analyze the phenomena with bilingualism. Monolinguals, that is, the ability to use only one language is such a widely accepted norm in so many parts of the Western world that it is often assumed to be a world-wide phenomenon, to the extent that bilingual and multilingual individuals may appear to be ‘unusual.’ Indeed, we often have mixed feelings when we discover that someone we meet is fluent in several languages: perhaps a mixture of admiration and envy but also, occasionally, a feeling of superiority in that many such people are not ‘native’ to the culture in which we function. Such people are likely to be immigrants, visitors, or children of ‘mixed’ marriages and in that respect ‘marked’ in some way, and such marking is not always regarded favorably. In many parts of the world an ability to speak more than one language is not at all remarkable. In fact, a monolingual individual would be regarded as a misfit, lacking an important skill in society, the skill of being able to interact freely with the speakers of other languages with whom regular contact is made in the ordinary business of living. In many parts of the world it is just a normal requirement of daily living that people speak several languages: perhaps one or more at home, another in the village, still another for purposes of trade, and yet another for contact with the outside world of wider social or political organization. These various languages are usually acquired naturally and unselfconsciously, and the shifts from one to another are made without hesitation (Wardhaugh, 2006). Wardhaugh’s explanation can identify Ando that he is use bilingualism to make successful communication with his friend in Jakarta. As we know that Jakarta is one of city in Indonesia, and the national language that use by the people is Bahasa, so Ando as the Javanese also know Bahasa because Javanese is also one of the region in Indonesia, Ando as a student surely know Indonesian language or Bahasa. The first language that he uses is Javanese and the second is Bahasa. So Ando for this situation uses Bilingualism to make successful of communication.
The second analysis of the phenomena of Ando is code switching and code maxim. Wardhaugh (1986: 102) says that code is the particular dialect or language one chooses to use on any occasion, and a system for communication between two or more parties. Poedjosoedarmono (1978: 4) says that a code is a system of speech whose elements of language has special characteristic, and it is proper to the background of the speaker, the relation of the speaker to address and the situation.
Another linguistic phenomenon in bilingual or multilingual society is code mixing. Code switching and code mixing are terms that are used to call the dependence upon aspect of language. The difference of those terms that can be found is the dependence indicating characteristics. In the phenomenon of code mixing the dependent characteristics are indicated by the relationship between the function and role of language. The role means that who uses the language and function means what will be acquired by the speaker (Suwito in Sutana 1999: 17).
Mackey in Suwito (1985: 65) states that Code Mixing is one characteristic of language dependence. Then, He cities that the language dependence is marked by the presence of reciprocal relations between roles and language functions. According to him, the roles refer to who uses language, whereas the language functions refer to what will bed achieve by speaker in his utterances. So if a speaker mixes two different codes on language in his utterances, then it should be asked first who he is.
In this manner, the specific characteristics of the speaker are, among others, his social background, and level of education and solidarity of region. However, all of these specific characteristics will often color his code mixing. On the other hand, the language unction determines how far the languages used by speaker give an opportunity to mix codes. Finally, a speaker who masters many languages will have a greater opportunity to mix codes, because what a speaker of his utterance achieves is extremely determined by his language choice.
Code mixing usually occurs in bilingual or multilingual community or society and the function (meaning) of the languages cannot be clearly separated. This code mixing is used when the conversant use both languages together to the extent that they change from one language to the other in the course of a single utterance (Wardhaugh, 1986: 103)
In code mixing the main code or basic code has its own function and meaning, other codes, however, are only the pieces, without function and meaning as a code (Chaer, 1995: 151). Thelander (In Chaer, 1995: 152) explains the definition of code mixing. He says that if in the single utterance the clauses and the phrases used are hybrid clause or hybrid phrases and each clause or phrase does not support the function of clause and phrase, it is called code mixing. The special character of code mixing is that, code mixing is used in informal situation. In the formal situation it may have no exact meaning in Indonesian language. In the written language code mixing is indicated by italic writing or underline form (Nababan, 1984: 32).
For the reason of code maxim we can take example from Ando’s phenomena, Ando as individual coming from different region surely uses code maxim because he has two languages that automatically directly use this theory, for example when he invite his friend to some place he can says “rek, ayo kita ke mall yuk” the word “rek” here is Javanese language from word “arek”. From the example we can know that to make successful in communication Ando can use the code maxim theory.
Sometimes, people consider that code switching and code mixing have the same meaning. But actually both of them are different. People in the bilingualism or multilingualism situation often change language or variety of languages. This situation depends on situation or the need for communication such as when a person uses a standard language when he meets his guest. When he knows that, actually, the guest is his old friend, the person switches his standard language into informal language. This phenomenon is called code switching (MY COURSES Code Mixing and Code Switching.htm).
According to Crystal (1991: 59) code switching can be illustrated by the switch bilingual speaker may make (depending on who they are talking to or where they are) between standard and regional forms of English, between Welsh and English in parts of Wales, or between occupational and domestics varieties.
Komarudin (1989: 59) says that code switching occurs in level of clauses and sentences. Code switching is general characteristics in bilingualism. Bilingual people often switch codes from one language to other language when they speak or write.
Code switching is switching situation from one code to another (Suwito, 1985: 68). If a speaker firstly uses code A (for example Indonesian Language) and he changes his code to code B (Javanese Language), this situation is called code switching.
Code switching not only occurs in the form of language change but also may happen in the change of the variant of language. Hymes (in Chaer 1995: 142) says that code switching has become a common term for alternate us of two or more languages, varieties of language or even speech style.
Code switching happens in bilingual society. Code switching occurs when people use a particular code and suddenly change to another code. Apple (in Chaer 1995: 141) states code switching is the change of one code to another. Wardhaugh (1986: 103) also gives definition of code switching occurs when the language used, changes according to the situation in which the conversant find them. The speakers here switch one code to another code or they speak in one language to another language.
The phenomena of Ando also can identify with code switching theory. For example “ gue pengen makan bakso rek”. Gue pengen is Jakarta language, makan bakso is Bahasa. rek is Javanese language. It means that although Ando lives in the metropolitan city as the individual coming with different language, surely in his conversation or his communication with his friend, directly he uses code switching to make his communication is comfortable and successful.
.

Reference
MY COURSES Code Mixing and Code Switching.htm
Wardhaugh, Ronald. (2006). An Introduction to Sociolinguistics, Basil Blackwell Ltd






Share:

bahasa dan latar belakang budaya dari film

bahasa dan latar belakang budaya dari film
BAB IPENGANTAR1.

1. latar belakangThe Last Samurai adalah 2003 film perang epik Amerika diarahkan dan co-diproduksi oleh Edward Zwick, yang juga co-menulis skenario dengan John Logan. Film ini dibintangi Tom Cruise, yang juga co-diproduksi, serta Ken Watanabe, Shin Koyamada, Tony Goldwyn, Hiroyuki Sanada, Timothy Spall, dan Billy Connolly. Terinspirasi oleh proyek oleh Vincent Ward, itu tertarik Zwick, dengan Ward kemudian menjabat sebagai produser eksekutif. Film produksi pergi ke depan dengan Zwick dan ditembak di asli Selandia Baru Ward.Karakter dari film ini adalah Tom Cruise sebagai Kapten Nathan Algren, seorang veteran Perang Saudara Amerika dan Perang India, lahir di Kerajaan Inggris tetapi Amerika naturalisasi. Ken Watanabe sebagai Tuhan Moritsugu Katsumoto. Hiroyuki Sanada sebagai Ujio. Shin Koyamada sebagai Nobutada. Tony Goldwyn sebagai Kolonel Bagley. Masato Harada sebagai Omura. Shichinosuke Nakamura sebagai Kaisar Meiji. Timothy Spall sebagai Simon. Graham Seizo Fukumoto sebagai Diam Samurai. Koyuki sebagai Taka. Billy Connolly sebagai Sersan Zebulon Gant. Shun Sugata sebagai Nakao. Sosuke Ikematsu sebagai Higen. Scott Wilson sebagai Duta Swanbeck"The Last Samurai" adalah tentang dua prajurit yang budaya membuat mereka alien, tapi yang nilainya membuat mereka kawan-kawan. ketika Algren menemukan dirinya terperangkap di desa musuh, The Last Samurai menggali dalam untuk jangka panjang, memberikan kita banyak waktu untuk berlama-lama di masyarakat dan tempat-tempat yang kami akan berakhir diperjuangkan. Ini, tidak pertempuran megah film, adalah apa yang benar-benar membuat Samurai seperti sebuah karya epik. Banyak dari film ini diucapkan dalam bahasa Jepang sebagai Algren berjuang untuk berkomunikasi di dunia di mana hampir tidak ada yang berbicara bahasanya. percakapan dengan Katsumoto, yang berbahasa Inggris, yang secara bersamaan lucu dan menyentuh. Dia juga mengembangkan hubungan yang berkembang dengan wanita Jepang dan keluarganya dia tinggal bersama, serta kasih sayang diam prajurit yang dikirim untuk menjaga dia, sayang dijuluki "Bob".
Secara keseluruhan film sampai akhir klimaks dari pertempuran sengit, telah membuktikan bahwa senjata modern mungkin bisa mengalahkan Samurai begitu kental dengan senjata tradisional terbatas pada pedang, tombak dan panah. Ini secara tidak langsung menggambarkan peran Amerika Serikat untuk memberikan efek ke negara Jepang dalam upaya untuk menyelamatkan negara dari kehancuran Sakura militer. Namun, perang sengit yang menyebabkan kode Samurai etik, mati di medan perang jauh lebih hormat dengan pedangnya. Ini adalah apa yang memberi kita sekilas ke dalam tanda hormat dari masyarakat (militer) Jepang harus membuktikan menghormati apa yang telah menjadi warisan nenek moyang. Salah satu cara untuk melepaskan topi bungkuk memberikan salah satu penghormatan terakhir kepada kelompok atau pemimpin yang tidak Samurai lain juga merupakan bagian dari kehidupan nyata mereka (identitas).1.2. Perumusan Masalah.1. Apa bahasa dan latar belakang budaya dari film?2. Apa analisis film yang berkaitan dengan studi Cross Culture Understanding ulasan?1.3. Tujuan dari Penulisan.1. Ingin tahu bahasa dan latar belakang budaya film.2. Ingin tahu analisis ulasan Cross Culture Understanding

BAB II

REVIEW ON THE TERKAITA.

Bahasa dan Latar Belakang Budaya. Bahasa adalah sistem manusia komunikasi yang menggunakan sinyal sewenang-wenang, seperti suara suara, gerak tubuh, atau simbol tertulis. Bahasa Latar belakang adalah Bagaimana serupa adalah bahasa negara baru untuk bahasa asli seseorang. Artinya bagaimana pendatang baru dapat mengetahui tentang penutur asli di negara baru. Budaya adalah latar belakang bersama (misalnya, nasional, etnis, agama) yang dihasilkan dari bahasa yang sama dan gaya komunikasi, adat istiadat, kepercayaan, sikap, dan nilai-nilai. Latar belakang budaya adalah Bagaimana serupa adalah budaya negara baru dengan budaya asli seseorang.B. Perbedaan budayaBudaya tinggi Konteks• hubungan jangka panjang• konteks Pemanfaatan• perjanjian yang dipakai• Orang dalam dan luar jelas dibedakan• pola Budaya• Apa yang dikatakan dan bagaimana atau di mana dikatakan signifikan atau indirectnessBudaya rendah Konteks• hubungan pendek• Kurang tergantung pada konteks• perjanjian tertulis• Orang dalam dan luar kurang jelas dibedakan• Perubahan pola Budaya• Apa yang dikatakan lebih penting daripada bagaimana atau di mana dikatakan (keterusterangan)C. Stereotype adalah keyakinan berlebihan tentang sekelompok sering didasarkan pada kurangnya informasi atau kontak dengan anggota kelompok.D. Mainstream Budaya dan Perilaku individu budaya Mainstream adalah nilai-nilai, keyakinan, dan perilaku kelompok dominan dalam suatu masyarakat. Perilaku kelompok didasarkan pada nilai-nilai dan keyakinan-nya. Perilaku Individu adalah tindakan dan kegiatan dari satu orang.E. setiap tahap dalam Syok Budaya dan Proses Penyesuaian dalam New Country.Sebuah. Gegar budayaIndividu tenggelam dalam masalah baru: perumahan, transportasi, tenaga kerja, belanja, dan bahasa. Hasil kelelahan mental dari terus berusaha untuk memahami bahasa dan budaya baru.b. penyesuaian Tahapkegiatan sehari-hari seperti perumahan dan belanja tidak lagi masalah besar. Pengunjung mungkin belum fasih bahasa lisan, tetapi mereka bisa tahu mengekspresikan ide-ide dasar mereka dan perasaan.c. Seorang pendatang baru telah menjadi terbiasa dengan kebiasaan, adat istiadat, makanan, dan karakteristik dari orang-orang di budaya baru.


BAB III

DISKUSIA.

Bahasa dan Latar Belakang Budaya dalam Samurai Film terakhirSebuah. latar belakang bahasa
Dalam film Last Samurai "Nathan Algren adalah pendatang baru di Jepang; dia tidak tahu tentang Bahasa Jepang, dia dari Amerika, sehingga latar belakang Bahasa nya adalah bahasa Inggris. Dia mencoba untuk mengetahui dan meniru Bahasa Jepang sampai dia bisa ".b. Latar belakang budayaDalam film Last Samurai "Setelah di desa Samurai Algren harus mengatasi kedua efek ketergantungan yang kuat pada alkohol serta tindakan masa lalunya. Untuk membantu dia dalam pertempuran ini Algren mulai perjalanan desa, menonton kehidupan sehari-hari para petani dan Samurai. Selama ini Algren tidak hanya belajar bahasa capturers, tapi mulai mengembangkan pemahaman tentang cara hidup mereka. Di sini ia menunjukkan bagaimana seorang pemimpin mengambil kesempatan untuk memahami budaya masyarakat, ia berada di dan bagaimana budaya ini mempengaruhi perilaku individu dalam kelompok ini. pelajaran lain yang bisa dipelajari dari film datang setelah Kapten Algren bergabung penyebab Samurai. Setelah jelas bahwa advokasi untuk gaya hidup tradisional Jepang Samurai adalah berguna Algren mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk penyebabnya Samurai. Dengan pemahaman tentang kedua budaya Amerika dan budaya Jepang ia mampu memahami pengaruh perang Barat pada taktik yang digunakan oleh tentara Kaisar. Dengan pengetahuan ini ia mengusulkan rencana berisiko serangan untuk yang terakhir dari Samurai.B. Stereotip dalam film samurai terakhir muncul di salah satu pernyataan yang mengatakan "Japan diciptakan oleh pedang, tetapi menurut Algren Jepang dibuat oleh orang-orang berani. Ini berarti bahwa di Jepang ada begitu banyak orang yang memiliki yang kuat dan berani.C. Perbedaan budaya dalam film samurai terakhir.orang Amerika seperti Algren menggunakan budaya konteks rendah dan orang-orang Jepang seperti Katsumoto menggunakan budaya konteks tinggi. Dalam film samurai terakhir menunjukkan bahwa ketika Algren mengatakan adalah keterusterangan, dan Katsumoto adalah indirectness.
D. Mainstream Budaya dan Perilaku individu dalam film samurai terakhir
Dalam film samurai terakhir, budaya mainstream dari Jepang muncul ketika Katsumoto mengatakan bahwa "suatu kehormatan dari pria Jepang adalah ketika dia meninggal dalam perang" itu berarti bahwa lebih baik mati daripada hidup dalam kehinaan. Selain itu, ada juga Bushido. Ini adalah studi yang dipegang oleh Samurai. Mereka percaya bahwa pedang (Katana) adalah jiwa dari Samurai. Bushido juga membantu untuk membangun karakter Jepang dan untuk menjaga budaya mereka di era modern.
Perilaku individu dalam film samurai terakhir1. Jepang biasanya bangun pagi untuk melayani diri mereka sendiri untuk membuat sempurna untuk kerja mereka. Berbeda dengan Amerika yang biasanya bangun terlambat dan tidak langsung bekerja.2. Jepang seperti memiliki kebersamaan dan selalu dalam kelompok, tetapi Amerika seperti berada individu.3. Jepang biasanya memakai sandal dan ketika mereka ingin memasuki rumah, mereka biasanya mengabaikan sandal mereka, tetapi Amerika selalu memakai sepatu di mana-mana meskipun mereka ingin memasuki rumah.
E. Tahap kejutan budaya dan proses penyesuaian dalam film samurai terakhirLangkah kejutan seperti roller coaster, karena pendatang baru akan di up kondisi atau kegembiraan dan kondisi down atau depresi.1. Seorang pendatang baru yang tidak terbiasa dengan budaya baru seperti bahasa, perilaku, dan kebiasaan. Dalam film ini menunjukkan bahwa Nathan Algren bingung karena Syok Budaya tentang segala sesuatu di Jepang.
Itu tentang bahasa dan budaya Jepang. Dengan demikian, Algren menggunakan bahasa Inggris untuk memproses komunikasi di Jepang. Dan kadang-kadang, ia hanya menunjukkan bahasa tubuh ketika ia berjalan dengan BOB (penjaga yang diperintahkan oleh Katsumoto untuk perusahaan Algren mana pun setiap kali dia pergi). Tentang budaya ia juga merasa shock ketika dia tahu perilaku dan kebiasaan di sana setiap hari.

Seperti pernyataannya "Saya terus hidup di antara kelompok yang aneh. Saya tawanan mereka, dan kemudian saya tidak bisa lari. Saya sering merasa seperti anjing liar atau diabaikan tamu yang tidak diinginkan. Semua orang sopan, semua tersenyum dan membungkuk. Namun di balik kerendahan hati mereka, saya merasa terpendam perasaan. Kelompok-kelompok yang menarik; karena mereka bangun mereka mengabdikan diri untuk kesempurnaan pekerjaan mereka. Aku belum pernah melihat yang lebih disiplin. Saya terkejut untuk mengetahui bahwa kata "Samurai" itu dimaksudkan untuk melayani dan Katsumoto percaya dia memberontak dalam pelayanan Kaisar. "Pernyataan ini muncul bahwa Algren merasa budaya shock.2. Sebuah pendatang baru mencoba untuk menyesuaikan dengan budaya baru dalam tahap ini. tahap Penyesuaian dalam film terakhirSetelah pendatang baru terasa budaya shock, pendatang baru menjadi lebih akrab dan nyaman dengan budaya baru dan orang-orang. Dia / dia mencoba untuk menyesuaikan dan meniru dengan situasi seperti dalam film. Algren mencoba untuk meniru kebiasaan di Jepang. Dia mencoba untuk mengetahui tentang bahasa Jepang. Dia juga mencoba untuk mengetahui budaya seperti menjadi Samurai. Dia mempelajari tentang bagaimana menggunakan pedang. tahap Penerimaan di film terakhir Algren telah menggunakan bahasa Jepang untuk berkomunikasi dengan keluarga yang tinggal bersamanya, ia juga merasa nyaman untuk makan makanan Jepang, apalagi ia menjadi Samurai dan menggunakan budaya Jepang seperti menggunakan pedang ketika ia membantu keluarga Katsumoto menentang musuh.


BAB IV

KESIMPULAN

Hal ini jelas bahwa The samurai terakhir adalah sebuah film yang menggambarkan tentang budaya perbedaan antara budaya Amerika dengan budaya Jepang. Yang ditunjukkan dengan jelas dalam film ini. Kemudian, kita dapat menyimpulkan bahwa setiap negara memiliki budaya yang berbeda dan kita dapat merasakan sulit untuk menyesuaikan Ini., Di atas semua ketika kita tinggal di sekitar orang yang memiliki budaya yang berbeda dengan kami. Oleh karena itu kita harus mengetahui latar belakang bahasa dan budaya negara baru sebelum.

Share:

What is language and cultural background of the film

What is language and cultural background of the film
CHAPTER I
INTRODUCTION
1.1. Background
The Last Samurai is a 2003 American epic war film directed and co-produced by Edward Zwick, who also co-wrote the screenplay with John Logan. The film stars Tom Cruise, who also co-produced, as well as Ken Watanabe, Shin Koyamada, Tony Goldwyn, Hiroyuki Sanada, Timothy Spall, and Billy Connolly. Inspired by a project by Vincent Ward, it interested Zwick, with Ward later serving as executive producer. The film production went ahead with Zwick and was shot in Ward’s native New Zealand.
The characters of the film are Tom Cruise as Captain Nathan Algren, a veteran of the American Civil War and the Indian Wars, born in the British Empire but a naturalised American. Ken Watanabe as Lord Moritsugu Katsumoto. Hiroyuki Sanada as Ujio. Shin Koyamada as Nobutada. Tony Goldwyn as Colonel Bagley. Masato Harada as Omura. Shichinosuke Nakamura as Emperor Meiji. Timothy Spall as Simon. Graham Seizo Fukumoto as the Silent Samurai. Koyuki as Taka. Billy Connolly as Sergeant Zebulon Gant. Shun Sugata as Nakao. Sosuke Ikematsu as Higen. Scott Wilson as Ambassador Swanbeck
"The Last Samurai" is about two warriors whose cultures make them aliens, but whose values make them comrades. when Algren finds himself trapped in an enemy village, The Last Samurai digs in for the long haul, giving us plenty of time to linger on the people and places that we're about to end up fighting for. This, not the film's magnificent battles, is what truly makes Samurai such an epic masterpiece. Much of the film is spoken in Japanese as Algren struggles to communicate in a world where almost no one speaks his language. His conversations with Katsumoto, who does speak English, are simultaneously humorous and touching. He also develops a growing relationship with the Japanese woman and her family he stays with, as well as a silent affection for the warrior sent to guard him, affectionately nicknamed "Bob".

On the whole of the film until the climactic end of the fierce battle, have proved that modern weapons could probably defeat the Samurai is so thick with traditional weapons limited to swords, spears and bows. This has indirectly described the role of American States to give effect to the country of Japan in an effort to save the country from ruin Sakura military. However, the fierce war that led to the Samurai code of ethics, death in the battlefield is much more respectful with his sword. This is what gives us a glimpse into that sign of respect from the community (military) Japan should prove to respect what has been the ancestral heritage. One of the ways to release stooped hat gives one of the last respect to the group or leader that no other Samurai is also part of their real life (identity).
1.2. Formulation of the Problem.
1. What is language and cultural background of the film?
2. What is the review analysis of the film related to the study of Cross Culture Understanding?
1.3. Purpose of Writing.
1. Want to know language and cultural background of the film.
2. Want to know the review analysis Cross Culture Understanding


CHAPTER II
REVIEW ON THE RELATED
A. Language and Cultural Background.
 Language is a human system of communication that uses arbitrary signals, such as voice sounds, gestures, or written symbols. Language Background is How similar are the language of the new country to the person’s native language. It means that how the new comer can know about the native speaker in the new country.
 Culture is a shared background (for example, national, ethnic, religious) resulting from a common language and communication style, customs, beliefs, attitudes, and values. Cultural Background is How similar are the culture of the new country to the person’s native culture.
B. The differences of culture
High-Context Culture
• long lasting relationship
• Exploiting context
• Spoken agreements
• Insiders and outsiders clearly distinguished
• Cultural patterns
• What is said and how or where it is said are significant or indirectness
Low-Context Culture
• Shorter relationship
• Less dependent on context
• Written agreements
• Insiders and outsiders less clearly distinguished
• Cultural patterns change
• What is said is more important than how or where it is said (directness)
C. Stereotype is an exaggerated belief about a group often based on a lack of information or contact with members of the group.
D. Mainstream Culture and individual Behavior
 Mainstream culture is the values, beliefs, and behavior of the dominant group in a society. The behavior of the group is based on its values and beliefs.
 Individual Behavior is the actions and activities of one person.
E. The each stage in the Cultural Shock and Adjustment Process in a New Country.
a. Cultural Shock
The individuals are immersed in new problems: housing, transportation, employment, shopping, and language. Mental fatigue results from continuously straining to understand new language and culture.
b. Adjustment Stage
Everyday activities such as housing and shopping are no longer major problems. The Visitors may not yet be fluent the spoken language, but they can know express their basic ideas and feelings.
c. A newcomer has become accustomed to the habits, customs, foods, and characteristics of the people in the new culture.

CHAPTER III
DISCUSSION
A. Language and Cultural Background in the Last Samurai Film
a. Language background
In the Last Samurai film “Nathan Algren is a new comer in Japan; he does not know about the Japanese Language, he is from America, thus his Language background is English. He tries to know and imitates the Japanese Language until he can”.
b. Cultural background
In the Last Samurai film “Once in the Samurai’s village Algren must overcome both the effects of his strong dependence on alcohol as well his past actions. To aid him in this battle Algren begins to travel the village, watching the day-to-day life of the peasants and the Samurai. During this time Algren not only learns the language of his capturers but begins to develop an understanding of their way of life. Here he shows how a leader takes the opportunities to understand the culture of the society, he is residing in and how this culture affects the behavior of individuals within this group. Another lesson to be learned from the film comes after Captain Algren joins the cause of the Samurai. After it is apparent that advocating for the Samurai’s traditional Japanese lifestyle is useless Algren devotes himself completely to the Samurai’s cause. With his understanding of both the American culture and the Japanese culture he is able to understand the influence of Western warfare on the tactics employed by the Emperor’s soldiers. With this knowledge he proposes a risky plan of attack for the last of the Samurai.
B. The stereotype in the last samurai film appears in the one statement that said “Japan is created by sword, but according to Algren Japan is created by the brave people. It means that in Japan there are so many people who have a strong and brave.
C. The differences of culture in the last samurai film.
American people like Algren use the low- context culture and Japanese people like Katsumoto use the high- context culture. In the last samurai film shows that when Algren says is directness, and Katsumoto is indirectness.

D. Mainstream Culture and individual Behavior in the last samurai film
In the last samurai film, the mainstream culture of Japanese appears when Katsumoto said that “an honor of Japanese man is when he dies in a war” it means that better to die than to live in disgrace. Moreover, there is also Bushido. It is the studies that hold by Samurai. They believe that sword (Katana) is a soul of Samurai. Bushido also helps to build a character of Japanese and to keep their culture in modern era.
Individual Behavior in the last samurai film
1. The Japanese usually get up early to serve themselves to make the perfect for their working. Different with American that usually get up late and not directly to work.
2. The Japanese like having togetherness and always in a group, but American like being individual.
3. The Japanese usually wear the sandals and when they want to enter the house, they usually waive their sandals, but American always wears shoes everywhere although they want to enter the house.

E. The stage of culture shock and adjustment process in the last samurai film
The step shock is like roller coaster, because the new comers will be in up condition or elation and down condition or depression.
1. A newcomer unfamiliar with the new culture like language, behavior, and habit. In this film shows that Nathan Algren was confused because the Cultural Shock about everything in Japan.
It was about Japanese language and culture. Thus, Algren used English to process communication in Japan. And sometimes, he just showed his body language when he walk with BOB (the guard that ordered by Katsumoto to company Algren wherever whenever he went). About the culture he also feels shock when he knows the behavior and the habit there every day.

Like his statement “I continue to live among a strange group. I was their prisoner, and then I cannot run away. I often feel like a stray dog or ignored unwelcome guest. Everyone was polite, all smiling and bowing. But behind their modesty, I feel pent up feelings. Those groups are interesting; since they wake they devote themselves for the perfection of their work. I’ve never seen that much discipline. I was surprised to learn that the word “Samurai” was meant to serve and Katsumoto believes he rebelled in the service of the Emperor. “This statement appear that Algren feel shock culture.
2. A newcomer tries to adjust with the new culture in this stage.
 Adjustment stage in the last film
After a newcomer feels shock culture, a newcomer becomes more familiar and comfortable with the new culture and the people. He/she tries to adjust and imitates with the situation like in the film.
 Algren tries to imitate the habit in Japan. He tries to know about the Japanese language. He also tries to know the culture like be a Samurai. He studies about how to use a sword.
 Acceptance stage in the last film
 Algren have used the Japanese language to communicated with the family that stayed with him, he also feel comfortable to eat the Japanese foods, moreover he was be a Samurai and use the Japanese culture like use the sword when he helped the Katsumoto’s family opposed the enemy.


CHAPTER IV
CONCLUSION
It is clear that The Last samurai is a film that describes about the differences culture between American cultures with Japanese cultures. That is shown clearly in this film. Then, we can conclude that every country has different culture and we can feel difficult to adjust It., above all when we live around people that have different culture with us. Therefore we must know the background of language and culture the new country before.

REFRENCES
Anshori, Salim. 2007. Cross-Cultural Understanding.








Share:

Popular Posts

Label