Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Jumat, 01 April 2016

Lima Belas Tahun yang Lalu (In Memory At Muba)

Lima Belas Tahun yang Lalu (In Memory At Muba)
Hari itu adalah hari pertama yang aku lalui tanpa melihat teman sepermainan yang tiap hari dan malam selalu gobrol tentang masa-masa yang indah, kutinggalkan alam kampung yang sepi dari keramaian. hembusan angin pada waktu itu mengiringi derap langkah sang pencari ridha Ilahi.
Baca Juga
Srikandi Fenomena dan Kenyataan
Pagi yang cerah
Agustus 1991 merupakan hari yang paling bersejarah bagiku untuk memperbaiki lembaran hidup menuju kehidupan yang lebih sempurna, bermakna dan yang jelas ada satu harapan menjadi "insan yang berguna". lama kupandangi ribuan santri yang helir mudik dengan membawa Kitab-kitab Klasik tanpa bungkusan tas yang saya pernah alami di kampungku. wajah itu berseri-seri, sesekali terlihat bercanda gurau seakan tidak pernah ada beban masalah, justru yang muncul di benaknya adalah mengasah otak dengan ilmu-ilmu agama sebagai pondasi dalam menjalankan tugas khalifah di muka bumi,
Pasca penyerahan itu, aku di tempatkan satu kamar dengan shahabatku yang masih tetangga, sssstt...!! tiba-tiba pundahku ada yang memeggang dari belakang ku coba tuk menoleh ternyata beliau adalah Ayah yang telah membesarkan, walau kenyataannya bukan orang tua asli akan tetapi beliau telah ku akui sebagai ayah. beliau berpesan "hanya Ilmu yang bisa membuatmu bahagia dunia dan akhirat", kata-kata ini begitu singkat namun serat dengan makna yang luas. sehingga fatwa-fatwa beliaulah yang membuatku bisa bertahan di pesantren MUBA.
Satu minggu pasca penyerahan itu, aku mulai melakoni hari-hari ku di pesantren MUBA, sebagai santri yang haus akan IMTAQ, dan mengharap barokahnya beliau, ku jalani satu persatu kajian kitab-kitab klasik sebagai modal awal untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya. hanya satu yang ada dalam jiwaku yaitu sebuah kepercayaan/keyakinan bahwa bagaimanapun kebodohan melekat pasti akan terkikis sedikit demi sedikit. seperti ungkapan falsafah "batu yang cadas akan menjadi lapuk, hanya dengan tetesan air yang terus menerus". dengan satu kometmen yang tak pernah saya lupakan "Kesopanan Lebih Tinggi Nilainya Dari Pada Kecerdasaan". dan itu terbukti padaku yang pernah mengalami kebodohan (baca tulis). والله اعلم بالصواب sebagai mutiara yang terindah Juli 1997
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Label