Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Sabtu, 06 April 2019

PERANAN MODEL INDIGEONUS LIDERSHIP DALAM KEPEMIMPINAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sebelum membahas lebih lanjut tentang apa itu kepemimpinan dan bagaimana menjadi pemimpin yang efektif, kita perlu tahu apa arti dari kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan telah menjadi topik yang sangat menarik dari para ahli sejarah dan filsafat sejak jaman dahulu. Sejak saat itu para ahli telah menawarkan 350 definisi tentang kepemimpinan. Salah seorang ahli menyimpulkan bahwa “ kepemimpinan merupakan salah satu fenomena yang paling mudah di observasi, tetapi menjadi salah satu hal yang paling sulit untuk dipahami (richard L. Daft, 1999). Mendefinisikan bahwa kepemimpinan merupakan suatu masalah yang kompleks dan sulit, karena sifat dasar kepemimpinan itu sendiri memang sangat kompleks. Akan tetapi, perkembangan ilmu saat ini telah membawa banyak kemajuan sehingga pemahaman tentang kepemimpinan menjadi lebih sistematis dan objektif.
B.Rumusan Masalah
3.Apa saja pendekatan mengenai kepemimpina?
C.Tujuan Masalah
1.Menjelaskan mengenai pendekatan kepemimpinan.
Baca Juga
PERANAN MENEJEMEN DALAM ORGANISASI
BAB II
PEMBAHASAN
A.Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan para pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada mereka. Sebagaimana didefinisikan oleh Stoner, Freeman, dan Gilbert (1995), kepemimpinan adalah the process of directing and influencing the task-related activities of group members.
Sedangkan menurut Joseph C. Rost., 1993, kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi di antara pemimpin dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya.
B.Jenis Kepemimpinan
a.Kepemimpinan Situasional
Dalam jenis kepemimpinan ini dipercayakan bahwa faktor yang paling utama untuk mnentukan gaya kepemimpinan adalah situasinya. Pimpinan maupun pengikutnya menyesuaika diri dengan situasi. Terdapat sekedar penyesuaian diri oleh pengikut dengan pemimpinnya, dan sebaliknya. Penelitian Frederick E. Fieldler mengenai kepemimpinan banyak memberikan sumbangan, bagi pandangan kepemimpinan ini . Menentukan daya guna kepemimpinan:
a.Hubungan kepemimpinan atau banyak kepercayaan yang dipunyai para pengikut kepada pemimpinnya.
b.Seberapa jauh pekerjaan-pekerjaan para pengikut dijadikan struktur tugas atau pekrjaan rutin.
c.Seberapa jauh kekuasaan merupakan bagian tak dipisahkan dari posisi kepemimpinan.
b.Kepemimpinan Prilaku Pribadi
Sebagai yang ditunjukkan oleh namanya, prilaku pemimpin itu diberi penekanan dalam jenis kepemimpinan iu sendiri penekanan dalam jenis kepemimpinan ini. “personal behavior leader” adalah orang yang luwes, menggunakan dalam setiap keadaan tindakan yang dianggap tepat sambil selalu mengingat kemampuan-kemampuan, banyaknya pengawasan yang diperlukan, dan apakah pemimpin itu ingin menentukan isunya.
c.“Work centered” atau “Worker-centered leadrship” kepemimpinan terpusat pada pekerjaan atau pekerjaannya, jenis kepemimpinan ini sangat erat hubungannya dengan “situational type” yang sudah dibicarakan lebih dahulu. Orang yang berbeda menanggapi dengan cara yang berbeda pula jenis kepemimpinan yang berbeda.
d.Personal Leadership kepemimpinan Pribadi. Motivasi dan petunjuk iberikan dengan kontak pribadi dengan pribadi. Terdapat suatu hubungan yang dekat antara pemimiin dengan setiap anggota kelompok.
e.Kepemimipin demokrasi. Jenis ini memberi penekanan pada partisipasi dan penggunaan pikiran-pikiran oleh anggota-angota kelompok, yang karena itu harus diberi penerangan yang baik mengenai pokok-pokok yang dibahas.
f.Kepimimpinan otoritas. Pemimipin dasar disini adalah, bahwa kepemmipinan it dipunyai oleh si pemimpin sejauh ia mempunyi kekuasaan.
g.Kepemimipinan paternalistik. Terdapat suatu pengaruh kebapakan antara pemimipn dan kelompok. Maksudnya ialah melindungi dan menusu kesenangan dan kesejahteraan pengikut-pengikutnya. Paternalisme sesuai benar untuk keadaan-keadaan tertentu, tetapi ia dapat mneghambat berkemangnya kepercayaan kepada diri sendiri dari anggota-anggota kelompok.
h.Indigeonus lidership. Kepemimipinan asli. Pemimipin-pemimipin asli yang berbeda dapat ditemukan untuk tujuan-tujuan yang berbeda dalam kelompok yang sama.
C.Pendekatan Mengenai Kepemimpinan
1.Pendekatan Personal Mengenai Kepemimpinan
Pendekatan personal menegnai kepemimpinan berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana; siapakah pemimpin itu ? apakah menjadi pemimpin itu dilahirkan atau dapat dipelajari ? apakah yang membedakan antara pemimpin dan bukan pemimpin ? pendekatan personal mencoba melihat pemimpin dari sisi personal atau karakteristik figur dari seorang pemimpin.
Pembahasan dibagi menjadi dua, mengenai pemimpin dan bukan pemimpin, serta pemimpin efektif dan pemimpin yang tidak efektif.
Pemimpin dan bukan pemimipin. Berbagai pandangan dapat kita temukan ketika barang kali kita pernah mendengar bahwa pemimin itu harus cerdas, pintar, besifat terbuka, memiliki kepercayaan diri dan lebih tinggi misalnya. Pada kenyataanya masih menimbulkan prokontra, terlebih pada kenyataan bahwa banyak pemimpin yang tidak memiliki kriteria tersebut, namun dia diakui sebagai pemimpin oleh masyarakat.
Pemimipin efektif dan tidak efektif pendekatan ini mencoba melihat bahwa karakteristik pemimipin bukan sekedar dilihat dari sisi fisik saja, tetapi juga dari kemampuannya untuk mencapai yujuan dari sebuah organisasi.
2.Pendekatan prilaku mengenai kepemimpinan
Pendekatan prilaku lebih memfokuskan kepada tindakan yang dilakukan oleh pemimpin, seperti bagaimana mereka melakukan delegasi, bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang-orang serta bagaimana mereka memotivasi para pegawai, dan seterusnya. Prilaku, tidak seperti faktor personal, dapat dipelajari sehingga mereka yang mendapatkan pendidikan atau pelatihan yang memadai mengenai kepemimipinan akan mampu menjadi pemimipin yang efektif.
Para teoritis yang melakukan pendekatan prilaku mengenai pemimpin pada dasarnya memfokuskan pada dua aspek dari prilaku kepemimpinan, yaitu fungsi-fungsi kepemimpinan dan gaya kepemimpinan.
3.Pendekatan kontingensi mengenai kepemimpinan
Para peneliti melakukan identifikasi situasi-situasi yang mendorong suatu gaya kepemimpinan tertentu yang dilakukan. Pendekatan kepemimpinan yang mempertimbangkan situasi yang dihadapi inilah yang dinamakan sebagai pendekatan kontingensi dalam kepemimpinan, dimana secara sederhana pendekatan ini memandang bahwa gaya manajemen atau kepemimpinan yang akan memberikan kontribusi positif bagi organisasi yang sangat beragam dan sangat ditentukan oleh keragaman situasi dan keadaan yang dihadapi oleh organisasi dari waktu ke waktu.

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
1.Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan para pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada mereka.
2.Jenis kepemimpinan :
a.Kepemimpinan situasional.
b.Kepemimpinan perilaku pribadi.
c.Work centered atau worker-centered leadeship.
d.Personal leadership.
e.Kepemimpinan demokrasi.
f.Kepemimpinan otoritas.
g.Kepemimpinan paternalistik.
h.Kepemimpinan asli.
3.Pendekatan mengenai kepemimpinan:
a.Pendekatan pesonal mengenai kepemimpinan.
b.Pendekatan prilaku mengenai kepemimpinan.
c.Pendekatan kontingensi mengenai kepemimpinan.

DAFTAR PUSTAKA
Nashar, Dasar-Dasar Manajemen, Surabaya: Pena Salsabia, 2013.
Safaria Triantoro, Kepemimpinan, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004.
Terry George R., Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: PT.Bumi Aksara, 2015

Share:

PERANAN MENEJEMEN DALAM ORGANISASI

BAB I
PENDAULUAN
A.Latar Belakang
Menejemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yamg melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang kearah tujuan organisasional atau maksud yang nyata. Menejemen adalah suatu kegiatan, pelaksanaannya adalah “managing” pengolahan, sedang pelaksanaannya disebut manejer atau pengelola. Menejemen memiliki tujuan tertentu dan tidak dapat diraba. Ia berusaha untuk mencapai hasil-hasil tertentu, yang biasanya diungkapkan dengan istilah “objectives” atau hal-hal yang nyata.
Sebagai ilmu, menejemen memiliki kerangka teori dan krangka pikir yang teruji, terutama berhubungan dengan tori mnenejemen ilmiah, organisasi klasik, dan teori prilaku organisasi.
B.Rumusan Masalah
1.Bagaimana Peranan Menejemen Dalam Organisasi ?
C.Tujuan
1.Mengetahui bagaimana peranan menejemen dalam organanisasi
Baca Juga
BUDAYA ORGANISASI
BAB II
PEMBAHASAN
1.Pengertian Organisasi Dan Sifat-Sifat Organisasi
1.Pengertian organisasi
Kata organisasi berasal dari bahasa inggris organization, yang bentuk invinitifnya adalah to organise. Kata tersebut berasal dari kata yunani, organon yang berarti sebagian atau susunan dalam binatang atau tumbuh-tumbuhan yang dipergunakan untuk melakukan beberapa tugas khusus, seperti hati, ginjal, dan sebagainya. Adapun kata organon diartikan juga dengan alat, sedangkan kata to organise diberi arti menyusun atau mengatur bagian-bagian yang berhubungan atau sama lain, yang tiap-tiap bagian mempunyai satu tugas khusus dan atau berhubungan dengan keseluruhan. Pendapat lain mengenai organisasi adalah alat, bagian, anggota atau badan.
Menurut Griffin (2002) organisasi adalah a group of people working together in a structured and coordinated fashion to achive a set of goals. Organisasi adalah kelompok orang yang bekerja sama dalam struktur dan koordinasi tertentu dalam mencapai serangkaian tujuan tertentu. Atau dengan bahasa lain, penulis mendefinisikan sebagai sekumpulan orang atau kelompok yang memiliki tujuan tertentu dan berupaya untuk mewujudkan tujuannya tersebut dalam kerja sama.
Menurut Chester I. Barnard (1938) dalam bukunya “The Executive Functions” mengemukakan bahwa i define organization asa a system of cooperatives of two more persons artinya bahwa organisasi adalah sistem kerja sama antara dua orang atau lebih.
Sugandha mengatakan bahwa organisasi adalah kumpulan manusia yang mempunyai kepentingan yang sama, yang karena keterbatasan sumber yang mereka miliki, mereka mengikatkan diri dalam kerja sama pembagian tugas yang jelas dalam mencapai tujuan guna meraih kepentingan masing-masing.
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa organisasi merupakan sistem yang terpadu, yang di dalamnya terdapat subsistem dan komponen-komponen yang saling berhubungan. Setiap hubungan yang terjadi merupakan kerja sama di antara subsistem yang ada, sehinnga ada yang saling ketergantungan yng kuat secara internal dan hubungan yang terpadu secara eksternal. Hubungan eksternal itu merupakan bagian dari kenyataan organisasi yang berkaitan dengan lingkungan masyarakat dan elemen lainnya yang mendukung tercapainya tujuan organisasi.
Berbagai organisasi memiliki tujuan yang berbeda-beda, tergantung pada jenis organisasinya. Organisasi politik misalnya dapat memiliki tujuan untuk menyalurkan aspirasi rakyat melalui aturan kelembagaan politik tertentu. Di sisi lain, organisasi sosial dapat memiliki tujuan yang berbeda dengan organisasi politik, akan tetapi organisasi sosial bertujuan untuk menjawab aspirasi rakyat melalui kegiatan tertentu yang secara nyata dapat dirasakan oleh masyarakat, misalnya melalui pemberian sumbangan, pelatuhan-pelatihan dan lain sebagainya.
Sedangkan organisasi bisnis adalah sekumpulan orang atau kelompok yang memiliki tujuan untuk meraih profit dalam kegiatan bisnisnya, sehingga mereka berupaya untuk mewujudkan tujuannya tersebut melalui kerjasama dalam organisasi tersebut.
2.Sifat-sifat organisasi
a.Organisasi Formal
Ciri-ciri organisasi formal adalah sebagai berikut:
1.Seluruh anggota organisasi diikat oleh suatu persyaratan formal sebagai bukti keanggotaannya. Misalnya, negara sebagai organisasi formal yang seluruh warga negara diikat oleh persyaratan formal yang harus dimiliki, yakni kartu tanda anda penduduk, kartu keluarga, dan sejenisnya. Demikian puala, dalam organisasi formal lainnya dalam bentuk ormas atau partai politik yang seluruh anggotanya harus memiliki kartu keanggotaan bahwa ia benar-benar terdaftar dan diakui sebagai anggota yang sah, misalnya kartu anggota Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU), dan Persatuan Umat Islam.
2.Kedudukan, jabatan, dan pangkat yang terdapat dalam organisasi dibuat secara hierarkis dan piramida yang menunjukkan tugas, kedudukan, tanggung jawab, dan wewenang yang berbeda-beda.
3.Setiap anggota yang memiliki jabatan tertentu secara otomatis memiliki wewenang dan tanggung jawab yang membawahi jabatan anggota dibawahnya. Dengan demikian, hak memerintah berada bersamaan dengan hak diperintah, hak melarang bersamaan dengan hak untuk tidak mengerjakan kegiatan tertentu.
4.Hak dan kewajiban melekat sepenuhnya pada anggota organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya.
5.Pelaksanaan kegiatan diatur menurut jabatannya masing-masing tetapi setiap fungsi jabatan dengan tugasnya saling berhubungan dan melakukan kerja sama.
6.Seluruh kegiatan direncanakan secara musyawarah mufakat dengan mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan.
7.Hubungan kerja sama dilakukan menurut tingkatan jabatan struktural yang jelas yang berimplikasi secara langsung kepada perbedaan penggajian dan tunjangan masing-masing anggota organisasi.
8.Adanya anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang merupakan sistem kinerja organisasi.
b.Organisasi Informal
Sifat organisasi informal melekat pada organisasi informal, sebagaimana negara mengharuskan adanya KTP bagi warga negara. Pembuatan KTP berkaitan dengan organisasi-organisasi formal di dalam pemerintahan, misalnya kantor kecamatan, kantor desa, kantor RW hingga kantor RT, semua itu tidak dapat dilaksanakan jika tidak organisasi informal, yaitu keluarga. Meskipun di dalam keluarga terdapat kepala keluarga, ibu rumah tangga, anak-anak dan kerabat, keluarga bukan merupakan organisasi formal. Demikian pula, organisasi yang bergerak dalam pendidikan, yakni sekolah formal. Tidak akan ada sekolah formal yang berlaku. Indonesia dapat melakukan kerja sama dengan negara lain, misalnya dengan Malaysia, Jepang, Thailand, Amerika Serikat dan sebagainya. Kerja sama tersebut dikatakan sebagai kerja sama eksternal yang skopnya dapat dikatakan sebagai kerja sama internasional.
2.Bentuk-bentuk Organisasi
Dilihat dari pola hubungan kerja, wewenang, dan tanggung jawab para anggota organisasi, organisasi dapat dibedakan menurut bentuknya, yaitu sebagai berikut:
1.Organisasi Garis (line organization)
Organisasi garis adalah suatu bentuk organisasi yang memandang dan menerapkan sumber wewenang tunggal. Segala keputusan /kebijaksanaan dan tanggung jawab berada pada satu tangan, yaitu berada pada kepala eksekutif (chie fexecutif).
Dalam organisasi garis, bawahan hanya mengenal satu pimpinan dan menerapkan system satu komando dan kekuasaan absolute pada pimpinan pusat. Pimpinan organisasi memiliki pengaruh yang sangat kuat kepada bawahannya. Penciptanya adalah Henry Fayol dari prancis. Bentuk organisasi ini sering juga disebut bentuk organisasi militer karena digunakan pada zaman dahulu dikalangan militer.
Dengan demikian ciri-ciri dari organisasi garis ini adalah sebagai berikut:
a)Organisasinya kecil
b)Jumlah anggota yang sedikit
c)Pemilik merupakan pimpinan organisasi atau pemegang saham utama
d)Asas kesatuan komando yang dominan
e)Disiplin ketat
f)System pengawasan yang ketat
g)Koordinasi antar pegawai sangat sederhana dan mudah dilakukan
h)Hubungan antar anggota yang sangat dekat dan satu lapis atau searah ,bahkan dapat dilakukan antar pribadi secara tatap muka
i)Penggunaan alat-alat sederhana
j)Produk yang dihasilkan homogen.
Kelebihan organisasi garis yang menonjol, yaitu mudah pengelolaanya, disiplin yang kuat, dan selalu berada dalam satu komando yang berada di tangan seorang pimpinan. Sedangkan keburukan organisasi garis, yaitu ketergantungan yang kuat kepada satu pimpinan sehingga apabila pimpinan mengalami perihal buruk, dampak dampak buruknya langsung berimbas pada organisasi, tidak ada upaya pengembangan para pengawai, jenis pekerjaan yang monoton, ada kecenderungan pemimpin bertindak otoriter, sulit mengembangkan perusahaan karena keahlian pegawai relatif sama.
2.Organisasi Lini dan Staf (line and staff )
Bentuk organisasi ini pada umumnya dianut oleh organisasi besar, daerah kerjanya luas dan mempunyai bidang-bidang tugas yang beraneka ragam serta rumit, serta jumlah karyawannya banyak. Penciptanya Harrington Emerson. Pada bentuk organisasi garis dan staf, terdapa satu atau lebih tenaga staf. Staf, yaitu orang yang ahli dalam bidang tertentu yang tugasnya memberi nasihat dan saran dalam bidangnya kepada pejabar pemimpin di dalam organisasi tersebut.
Ciri-ciri organisasi lini dan staf adalah:
a.komando dari tingkat yang paling atas hingga tingkat yang paling bawah atau dari tingkat pusat ketinggkat daerah.
b.Staf mempunyai wewenang fungsional, memberikan bantuan/advis/petunjuk, baik berupa pikiran, tenaga kerja, prasarana yang sanggup serta mampu mendukung pelaksanaan tugas pokok organisasi. Pimipnan (kepala) mempunyai mempunyai wewenang komando. Dengan ciri-ciri tersebut, organisasi yang berbentuk lini dan staf memiliki kebaikan tersendiri, diantaranya adalah:
a.Dapat digunakan oleh organisasi yang besar
b.Seluruh staf memiliki keahlian yang pasti yang semakin mengakuratkan pengambilan keputusan
c.Kedisiplinan staf dapat dipegang teguh
d.Adanya pengembangan karier staf sesuai dengan keahliannya.
Keburukan organisasi lini dan staf adalah:
a.Terlalu banyak staf dengan keahliannya masing-masing menimbulkan persaingan karier yang kurang sehat
b.Pengawasan terhadap staf yang cukup menyulitkan dan adanya tindakan kolusi antarstaf demi kepentingan pribadi
c.Solidaritas antarstaf rendah dan hubungan yang serba formalistic
d.Biokrasi terkadang sangat rumit dan terkesan berbelit-belit
e.Efektivitas dan efisiensi kerja kurang terjamin
f.Biaya ekonomi tinggi dalam menggaji staf dan memberi tunjangan
g.Koordinasi yang sukar dilakukan secara komprehensif.
3.Organisasi Fungsional
Organisasi fungsional pertama kali diciptakan oleh Taylor. Ciri penting dari organisasi fungsional adalah pimpinan yang tidak memiliki bawahan yang “jelas”. Setiap atasan dapat melakukan instruksi kepada semua bawahan sepanjang sesuai wewenang dan tanggung jawabnya dan yang paling penting masih berada dibawah naungan organisasi yang dimaksudkan.
Kebaikan organisasi fungsional adalah:
a.Spesialisasi karyawan maksimal
b.Solidaritas antarpengawai sangat tinggi
c.Disiplin pengawai yang tinggi
d.Tanggung jawab atas fungsinya terjamin
e.Bidang pekerjaan khusus diduduki oleh seorang ahli yang memungkinkan bekerja atas dasar keahlian dan potensi serta cita-citanya.
Keburukan organisasi fungsional adalah:
a.Terlalu kaku dengan spesialisasi para pekerja
b.Kesulitan melakukan penelusuran area pekerjaan
c.Koordinasi kurang menyeluruh
d.Dapat menyebabkan dispersobalisasi
e.Keahlian memimpin kurang dapat dijamin
f.Sulit melaksanakan kegiatan tang berasal dari satu komando.
4.Organisasi Bentuk Panitia(commitee)
Organisasi yang bersifat sementara dan khusus dibentuk dalam melaksanakan kegiatan tertentu. Akan tetapi, ada pula organisasi yang selamanya menggunakan bentuk kepanitiaan dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a.Pimpinan berbentuk kolektif
b.Terdiri atas beberapa orang
c.Pengambilan keputusan selalu didasarkan pada musyawarah dan mengutamakan kuorum
d.Kegiatan merupakan tanggung jawab bersama
Kebaikan organisasi bentuk panitia adalah:
a.Solidaritas yang kuat antarpegawai
b.Konsolidasi wewenang, tugas, dan tanggung jawab yang kuat
c.Selalu mengambil keputusan berdasarkan musyawarah
d.Keterpaduan informasi yang kuat yang berasal dari seluruh pengawai
Keburukan organisasi bentuk panitia adalah:
a.Sering terjadi penumpukan pekerjaan di bagian tertentu
b.Adanya lepas tanggung jawab
c.Adanya saling tuding pelaksanaan tugas
d.Adanya saling tolak melaksanakan tugas
e.Bubar tanpa pertanggungjawaban yang formal
f.Adanya tirani minoritas, yaitu panitia terpecah dari orang-orang senior dengan yunior, yang kemudian tanpa wewenang yang jelas, yunior memikul beban yang lebih berat dibandingkan yang senior.
3.Peranan Manajemen Dalam Organisasi
Menejemen di perlukan sebagai upaya agar kegiatan bisnis dapat berjalan secara efektif dan efisien, maka menejemen harus dijelaskan berdasarkan fungsi-fungsinya atau dikenal sebagai fungsi-fungsi menejemen. Fungsi menejemen sebagaimana diterangkan oleh Nicles, McHoughand Hough terdiri dari 4 fungsi ysitu:
1.Perencanaan atau planing yaitu proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecendrungan di masa yang akan datang penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi. Di antara kecendrungan dunia bisnis sekarang misalnya, bagaimana merencanakan bisnis yang ramah lingkungan, bagaimana merancangorganisasi bisnis yang mampu bersaing dalam persaingan global, dan lain sebagainya.
2.Pengorganisasian atau organizing, yaitu proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan bisa memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi bisa bekerja secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan organisasi.
3.Pengimplementasian atau direction, yaitu proses implementasi rogram agar bisa dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran dan produktivitas yang tinggi.
4.Pengendalian atau pengawasan atau controling yaitu proses yang dilakukan untuk memastikan eluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan, dan diimplementasikan bisa berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
1. Organisasi adalah sekumpulan orang yang bekerjasama dalam rangka pencapain suatu tujuan yang sudah ditentukan. Sifat organisasi ada dua yaitu organisasi formal dan organisasi informal.
2. Bentuk-bentuk organisasi
a) Organisasi garis
b) Organisasi lini dan staf
c) Organisasi fungsional
d) Organisasi bentuk panitia
3. Perana manajemem dalam Organisasi
a) Perencanaan atau planing
b) Pengorganisasian atau organizing
c) Pengimplementasian atau direction
d) Pengendalian atau controling

DAFTAR PUSTAKA
Athoillah, Anton. Dasar-Dasar Manajemen. Bandung: Pustaka Setia, 2010.
Manullang. Dasar-Dasr Manajemen. Jogyakarta: Gajah Mada University Press, 2012.
Nashar. Dasar-Dasar Manajemen. Surabaya: Pena Salsabila, 2013
Share:

Jumat, 29 Maret 2019

STRATEGI MANAJEMEN PEMASARAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Setiap produsen selalu berusaha melalui produk yang dihasilkannya dapatlah tujuan dan sasaran perusahaannya tercapai. Produk yang dihasilkannya dapat terjual atau dibeli oleh konsumen akhir dengan tingkat harga yang memberikan keuntungan perusahaan jangka panjang. Melalui produk yang dapat dijualnya, perusahaan dapat menjamin kehidupannya atau menjaga kestabilan usahanya dan berkembang. Dalam rangka inilah setiap produsen harus memikirkan kegiatan pemasaran produknya, jauh sebelum produk ini dihasilkan sampai produk tersebut dikonsumsikan oleh si konsumen.
Untuk mencapai tujuannya, setiap perusahaan mengarahkan kegiatan usahanya untuk menghasilkan produk yang dapat memberikan kepuasan konsumen, sehingga dalam jangka panjang perusahaan mendapatkan keuntungan yang diharapkannya. Melalui produk yang di hasilkannya, perusahaan menciptakan dan membina langganan. Oleh karena itu, keberhasilan suatu perusahaan di tentukan oleh keberhasilan usaha pemasaran dai produk yang di hasilkannya. Keberhasilan ini ditentukan oleh ketepatan produk yang di hasilkannya dalam memberikan kepuasan dari sasaran konsumen yang ditentukannya. Dengan kata lain, usaha-usaha pemasaran hauslah di arahkan pada konsumen yang ingin dituju sebagai sasaran pasarnya. Dalam hal ini maka usaha pemasaran yang menunjang keberhasilan perusahaan haruslah di dasarkan pada konsep pemasaran yang tepat untuk dapat menentukan strategi pasar dan strategi pemasaran yang mengarah kepada sasaran pasar yang dituju. Untuk pembahasan yang lebih terarah, terlebih dahulu perlu di batasi pengertian emasaran. Selanjutnya perlu di tinjau perkambangan pemikiran tentang pemasaran dan fungsi-fungsi pemasaran serta cakupan ruang-lingkup dari manajemen pemasaran.
B.RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan manajemen pemasaran?
2. Bagaimana sejarah perkembangan manajemen pemasaran?
3. Apa ruang lingkup manajemen pemasaran?
4. Bagaimana strategi pemasaannya?
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian manajemen pemasaran
2. Mengetahui sejarah perkembangan manajemen pemasaran
3. Mengetahui ruang lingkup manajemen pemasaran
4. Mengetahui strategi pemasaran
Baca Juga
SEJARAH BERDIRINYA DINASTI UMAYYAH
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pemasaran
Timbulnya penafsiran yang tidak tepat ini terutama disebabkan karena masih banyaknya diantara kita yang belum mengetahui dengan tepat definisi tentang pemasaran tersebut. Bagi seorang manajer took serba ada, pemasaran diartikannya sebagai kegiatan pengeceran (retailing) atau penjajakan (merchandising).
Ada dua penafsiran Tentang pemasaran, yaitu penafsiran yang sempit tentang pemasaran ini terlihat pula dari American MarketingAssocition 1960, yang menyatakan pemasaran adalah hasil prestasi kerja kegiatan usaha yang berkaitan dengan mengalirnya barang dan jasa dari produsen sampai ke konsumen. Disamping penafsiran ini terdapat pula pandangan yang lebih luas, yang menyatakan pemasaran merupakan proses kegiatan yang mulai jauh sebelum barang-barang/bahan-bahan masuk dalam proses produksi. Dalam hal ini banyak keputusan pemasaran yang harus dibuat jauh sebelum produk itu dihasilkan, seperti keputusan mengenai produk yang dibuat, pasarnya, harga, dan promosinya. Sebagai contoh, keputusan pemasaran tersebut dapat berupa produk apa yang harus diproduksi, apakah produk itu harus dirancang, apakah perlu dikemas, dan merek apa yang akan digunakan untuk produk itu.
Pemasaran telah didefinisakan dalam berbagai pengertian diantaranya menurut American Marketing Association. Pengertian yang seperti ini hampir sama dengan kegiatan distribusi, sehingga gagal menunjukkann asas-asas pemasaran, terutama dalam menentukan barang atau jasa apa yang akan dihasilkan. Hal ini terutama disebabkan karena pengertian pemasaran di atas tidak menunjukkan kegiatan usaha yang khusus terdapat dalam pemasaran.
Pengertian lain menyatakan pemasaran sebagai usaha untuk menyediakan dan menyampaikan barang dan jasa yang tepat kepada orang-orang yang tepat pada tempat dan waktu serta harga yang tepat dengan promosi dan komunikasi yang tepat. Pengertian atau definisi ini memberikan suatu gagasan kegiatan tertentu yang dilakukan oleh para tenaga pemasaran. Akan tetapi, pengertian ini ternyata gagal menentukan kegiatan pemasaran secara luas, yang mencakup tidak hanya barang dan jasa yang terbatas. Oleh karena itu, terdapat pengertian atau definisi lain yang lebih luas tentang pemasaran, yaitu sebagai usaha untuk menciptakan dan menyerahkan suatu standar kehidupan. Pengertian ini berbeda dengan yang sebelumnya, karena penekanannya pada pandangan makro atau sosial dari pemasaran. Oleh karena itu pengertian ini tidak memberikan dasar yang jelas dan kurang universalnya pemasaran.
Disamping pengertian yang telah disebutkan di atas, terdapat pengertian yang sering digunakan dalam pembahasan tentang pemasaran, terutama nanti akan digunakan dalam tulisan ini. Pengertian tersebut menyatakan pemasaran sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Berdasarkn pengertian ini, pembahasan tentang pemasaran dapat lebih jelas dan terbatas dalam pembatasan yang tegas, terkait dengan kegiatan pemasaran yang berlaku universal.
B. Perkembangan Manajemen Pemasaran
Kegiatan pemasaran sebenarnya berkembang sejak adanya kebutuhan manusia itu melalui pertukaran. Perkembangan peradaban manusia menimbulkan perkembangan penggunaan alat pertukaran. Dengan adanya pertkembangan tersebut mulailah dikenal transaksi jual-beli. Pada masa itu pemasaran barulah merupakan kegiatan transaksi jual-beli di mana seluruh barang-barang yang dihasilkan atau diproduksikan dengan mudah dan dapat terjual. Masalah yang diutamakan pada saat itu bagaimana menghasilkan suatu barang. Hal ini terutama disebabkan barang apapun yang dihasilkan akan dapat terjual. Oleh karena itu, orientasi pemikiran manajemen pada saat itu adalah orientasi produksi.
Kegiatan pemasaran yang dilakukan pada saat itu terutama ditekankan pada kegiatan penyaluran. Dalam masa itu timbul persaingan antara produsen didalam menyampaikan produknya ke tangan konsumen. Adanya persaingan ini menimbulkan mulai dikenalnya kegiatan promosi disamping kegiatan distribusi atau penyaluran. Orientasi pemikiran manajemen pada masa itu telah berkembang dari orientasi produksi menjadi orientasi penjualan.
Dari perkembangan pengkajian kegiatan pemasaran, terlihat bahwa pemasaran mulai timbul dan lahir serta tumbuh dalam suatu masyarakat dengan suatu sistem ekonomi yang terbatas, dimana masyarakat yang ada mencukupi kebutuhannya dari hasil produksinya sendiri, yang berkembang menjadi masyarakat dengan system ekonomi social, dimana terdapat pembagian kerja (devision of labour), serta adanya industralisasi dan urbanisasi penduduk. Perkembangan pemasaran yang timbul akibat dari proses evolusi sistem ekonomi.
Tahap pekembangan selanjutnya, produsen mulai menghasilkan barang-barang dalam jumlah yang besar untuk menghadapi pesanan berikutnya. Dalam hal ini mulai dilakukan pembagian kerja lebih jauh, para pengusaha mengembangkan usahanya dalam rangka untuk menjual tambahan produk hasilnya. Pengusaha atau pedagan yang bertindak sebagai perantara antara produsen dan konsumen, yang sering disebut sebagai pedagang perantara. Untuk memungkinkan komunikasi dengan produsen dan konsumen serta kemungkinan dilaksanakan kegiatan pembelian dan penjualan, berbagai kelompok berusaha untuk berkumpul secara geografi, sehingga mulai timbullah pusat-pusat perdagangan (trading centers). Sejalan dengan ini mulailah dilaksanakan pembangunan ekonomi di berbagai negara. Demikian, terdapatlah kemajuan dalam bidang ekonomi yang merupakan pelicin dalam perkembangan kegiatan pemasaran umumnya dan manajemen pemasaran khususnya.
Perkembangan pemasaran modern mulai terdapat sejak timbulnya revolusi industri di negara-negara Barat. Timbulnya persaingan merupakan produk tambahan dari timbulnya revolusi industri, disamping tumbuh dan berkembangan pusat-pusat urbanisasi atau perkotaan dan berkurangnya penduduk dipedesaan. Dalam hal ini terdapat pergeseran kegiatan operasi pengerjaan tangan dalam rumah tangga pada umumnya menjadi kegiatan maksimal dalam industri atau pabrik. Kegiatan pemasaran pada saat itu terasa semakin meningkat, terutama disebabkan pertumbuhan perusahaan industry yang demikian pesat, ebenarnya diakibatkan oleh adanya permintaan pasar yang melebihi penawaran dari produk yang tersedia pada saat itu.
Perkembangan terakhir, pemasaran dilihat dari penarapan ilmu manajemen, yang mencakup proses pengambilan keputusan yang didasarkan atas konsep pemasaran dan proses manajemen yang mencakup analisa, perencanaan, pelaksanaan kebijakan, strategi dan taktik, dan pengendalian. Dengan pendekatan manajerial inilah, mulai dikenalnya manajemen secara umum, dimana terdapat fungsi-fungsi manajemen. Dalam hal inilah mulai dikembangkannya konsep pemasaran dalam falsafah dan sistem pemasaran dengan intinya adalah strategi pemasaran terpadu (Marketing Mix Strategy).
C. Ruang Lingkup Manajemen Pemasaran
Dengan batasan pengertian mengenai manajemen pemasaran seperti diatas, maka akan tercakup ruang lingkup yang sangat luas. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa manajemen pemasaran mencakup seluruh filsafat, konsep, tugas, dan proses manajemen pemasaran. Pada umumnya ruang lingkup manajemen pemasaran meliputi:
a. Filsafat Manajemen Pemasaran, yang mencakup konsep dari proses pemasaran serta tugas-tugas manajemen pemasaran.
b. Faktor lingkungan pemasaran merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan pimpinan perusahaan.
c. Analisis pasar, yang mencakup ciri-ciri dari masing-masing jenis pasar, analisis produk, analisis konsumen, analisis persaingan dan analisis kesempatan pasar.
d. Pemilihan sasaran (target) pasar, yang mencakup dimensi pasar konsumen, perilaku konsumen, segmentasi pasar dan kriteria yang digunakan, peramalan potensi sasaran pasar, dan penentuan wilayah pasar/penjualan.
e. Perencanaan pemasaran perusahaan, yang mencakup perencanaan strategi jangka panjang pemasaran perusahaan (marketing corporate planning), perencanaan operasional pemasaran perusahaan, penyusunan anggaran pemasaran dan proses penyusunan rencana pemasaran perusahaan.
f. Kebijakan dan strategi pemasaran terpadu (marketing mix strategy), yang mencakup pemilihan strategi orientasi pasar, pengembangan acuan pemasaran (marketing mix) untuk strategi pemasaran dan penyusunan kebijakan, strategi dan taktik pemasaran secara terpadu.
g. Kebijakan dan strategi produk, yang mencakup strategi pengembangan produk, strategi produk baru, strategi lini produk, dan strategi acuan produk (product mix).
h. Kebijakan dan strategi harga, yang mencakup strategi tingkat harga, strategi potongan harga, strategi syarat pembayaran, dan strategi penetapan harga.
i. Kebijakan dan strategi penyaluran, yang mencakup strategi saluran distribusi dan strategi distribusi fisik.
j. Kebijakan dan strategi promosi, yang mencakupstrategi advertensi, strategi promosi penjualan (sales promotion), strategi personal seling, dan strategi publisitas serta komunikasi pemasaran.
k. Organissi pemasaran, yang mencakup tujuan perusahaan dan tujuan bidang pemasaran, struktur organisasi pemasaran, proses dan iklim perilaku organisasi pemasaran.
l. Sistem informasi pemasaran, yang mencakup ruang lingkup informasi pemasaran, riset pemasaran, pengelolaan, dan penyusunan sistem informasi pemasaran.
m. Manajemen penjualan, yang mencakup manajemen tenaga penjual, penglolaan wilayah penjualan, dan penyusunan rencana dan anggaran penjualan.
n. Pengendalian pemasaran, yang mencakup analisis dan evaluasi kegiatan pemasaran baik dalam jangka waktu (tahun) maupun tahap operasional jangka pendek.
o. Pemasaran internasional yang mencakup pemasaran ekspor (export marketing), pola-pola pemasaran internasional dan pemasaran dari perusahaan multinasional.
D. Strategi Pemasaran
Adapun strategi pemasaran ada empat yaitu:
a. Strategi umum dan menyeluruh pemasaran
Ada enam tahap dalam proses pemasaran, yaitu analisis peluang/kesempatan pasar, pemilihan sasaran pasar, strategi peningkatan posisi persaingan, pengembangan sistem pemasaran, pengembangan rencana pemasaran serta penerapan rencana dan pengendalian penerapannya.
Tahap pertama yang dilakukan adalah menganalisis kesempatan/peluang pasar yang dapat dimanfaatkan dalam usaha yang dilakukan perusahaan untuk mencapai tujuannya. Kesempatan/peluang pasar ini harus dipertimbangkan dan diseleksi untuk memilih mana yang relevan dengan tujuan perusahaan.
Tahap kedua adalah penentuan sasaran pasar, yang akan dilayani oleh perusahaan. Untuk melayani seluruh pasar yang ada, karena setiap pasar terdiri dari kelompok konsumen yang berbeda, kebutuhan, keinginan serta kebiasaan dan reaksi yang berbeda. Oleh karena itu, untuk dapat melayani kebutuhan dan keinginan konsumen dari pasarnya sesuai dengan kemampuan perusahaan, maka perusahaan perlu menentukan segmentasi pasar dan menetapkan segmentasi pasar yang mana yang akan dilayani sebagai sasaran pasar.
Tahap ketiga dari proses pemasaran ini adalah menilai kedudukan dan menetapkan strategi peningkatan posisi atau kedudukan perusahaan dalam persaingan pada sasaran pasar yang dilayani. Dalam tahap ini perusahaan harus mempunyai pandangan atau keputusan mengenai produk (barang atau jasa) apa yang akan ditawarkan kepada sasaran pasar, dalam hubungannya dalam bidang usaha perusahaan yang telah ditentukan sebelumnya.
Tahap keempat adalah mengembangkan sistem pemasaran. Yang dimaksudkan dengan mengembangkan sistem pemasaran dalam hal ini adalah tugas untuk mengembangkan organisasi pemasaran, sistem informasi pemasaran, sistem perencanaan, dan pengendalian pemasaran yang dapat menunjang tercapainya tujuan perusahaan dalam melayani sasaran pasar.
Tahap kelima adalah mengembangkan rencana pemasaran. usaha pengembangan ini diperlakukan karena keberhasilan perusahaan terletak pada kualitas rencana pemasaran yang bersifat jangka panjang dan jangka pendek untuk mencapai sasaran pasar. Komponen dari rencana pemasaran terdiri dari: analisis situasi pasar, tujuan dan sasaran pemasaran dan strategi pemasaran, program pelaksanaannya dan anggaran pemasaran.
Tahap keenam menerapkan atau melaksanakan rencana pemasaran yang telah disusun dan mengendalikannya. Penerapan atau pelaksanaan rencana harus mempertimbangkan situasi dan kondisi pada saat itu, sehingga perlu mempunyai taktik yang dijalankan, dan untuk keberhasilannya taktik yang dijalankan dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah pemasaran lainnya.
Strategi pemasaran menyeluruh perusahaan tercermin dalam rencana strategi pemasaran perusahaan (corporate marketing plan) yang disusun. Rencana strategi pemasaran perusahaan adalah rencana pemasaran jangka panjang yang bersifat menyeluruh dan strategis, yang merumuskan berbagai strategi dan program pokok di bidang pemasaran perusahaan, yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan perusahaan pada jangka waktu tertentu dalam jangka panjang di masa depan.
b. Strategi penetrasi pasar
Strategi penetrasi pasar adalah suatu strategi yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk meningkatkan penjualannya atas produk dan pasar yang telah tersedia melalui usaha-usaha pemasaran yang lebih agresif. Secara umum, penetrasi pasar dapat dibedakan atas tiga bentuk, yaitu:
1) Perusahaan dapat mencoba untuk merangsang konsumen agar mereka meningkatkan pembeliannya. Sebagai contoh, jika seorang konsumen lebih sering membeli rokok dan lebih banyak menghisapnya pada setiap kali pemakaian, maka dia akan membeli rokok lebih banyak.
2) Perusahaan dapat meningkatkan usahanya dengan menarik atau mempengaruhi konsumen saingan. Sarana yang digunakan tidak berbeda dengan yang telah diuraikan pada butir satu di atas. Perbedaannya hanya pada sasaran atau target yang hendak dicapai, yaitu pada konsumen saingan, sedangkan pada butir satu di atas adalah pada konsumen perusahaan sendiri.
3) Perusahaan dapat meningkatkan usahanya dengan menarik yang bukan pemakaian (nonuser) atau calon konsumen yang berada dalam lingkungan pasarnya.
Dalam usaha ini perusahaan dapat mengatur kegiatan pemasarannya dalam bentuk salah satu dari strategi sebagai berikut:
a) Strategi Rapid Skimming
Strategi ini hanya dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa asumsi diantaranya, sebagian besar potensi pasar yang belum mengenal produk, calon konsumen yang telah mengenal produk akan tertarik untuk memiliki produk tersebut dan memiliki kesanggupan untuk membayar harga yang diminta, dan perusahaan menghadapi persaingan yang potensial dan bertujuan untuk membangun preferensi merek (brand preference).
b) Strategi slow skimming
Strategi ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa asumsi diantaranya, luas pasar secara relatif terbatas, sebagian besar pasar telah mengenal produk itu, calon konsumen bersedia membayar harga yang diminta, dan kemungkinan ancaman para pesaing kecil.
c) Strategi Rapid Penetration
Strategi ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa asumsi diantaranya, luas pasar relatif cukup besar, umumnya pasar itu belum mengenal produk, calon konsumen umumnya peka terhadap harga, kemungkinan ancaman para pesaingan cukup besar, dan biaya produksi per unit cenderung menurun dengan bertambahnya jumlah produksi dan pengalaman kerja.
d) Strategi slow Penetration
Strategi ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa asumsi diantaranya, luas pasar relative cukup besar, umumnya pasar itu sangat mengenal produk tersebut, umumnya pasar itu sangat sensitif terhadap harga (price sensitive), kemungkinan ada ancaman dari para pesaing.
c. Strategi acuan/bauran pemasaran (marketing mix)
Salah satu unsur dalam strategi pemasaran terpadu adalah strattegi acuan/bauran pemasaran, yang merupakan strategi yang dijalankan perusahaan, yang berkaitan dengan penentuan bagaimana perusahaan menajikan penawaran produk paa segmen pasar tertentu, yang merupakan sasaran pasarnya. Marketing mix merupakan kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran, variabel yang dikendalikan oleh perusahaan untuk mempengaruhi reaksipara pembeli atau pembeli.
Dalam strategi acuan/bauran pemasaran yang menetapkan komposisi terbaik dari keempat komponen atau variabel pemasaran. Keempat komponen strategi pemasaran ini diantaranya:
1. Strategi produk
Tujuan utama strategi produk adalah untuk dapat mencapai sasaran pasar yang dituju dengan meningkatkan kemampuan bersaing atau mengatasi persaingan. Oleh karena itu, strategi produk sebenarnya merupakan strategi pemasaran, ssehingga gagasan atau ide untuk melaksanakannya harus datang dari bagian atau bidang pemasaran.
2. Strategi harga
Harga merupakan satu-satunya unsur marketing mix yang menghasilkan penerimaan penjualan, sedangkan unsure lainnya hanya unsur biaya saja. Adapun tujuan penetapan harga, yaitu: memperoleh laba yang maksimum, mendapatkan share pasar, memerah pasar (market skimming), mencapai tingkat hasil penerimaan penjualan maksimum, mencapai keuntungan yang ditargetkan, mempromosikan produk.
3. Strategi penyaluran/distribusi
Bentuk pola saluran distribusi dapat dibedakan atas:
1) Saluran langsung, yaitu: produsen - konsumen
2) Saluaran tidak langsung, yaitu dapat berupa:
 Produsen - pengeceran-konsumen
 Produsen- pedagan besar/menengah-pengecer-konsumen
 Produsen- pedagan besar- pedagan menengah - pengecer -konsumen.
Saluran distribusi diperlukan oleh setiap perusahaan, karena produsen menghasilkan produk dengan memberikan kegunaan bentuk (formutility) bagi konsumen setelah sampai ketangannya, sedangkan lembaga penyalur membentuk atau memberikan kegunaan waktu, tempat, dan emikiran dari produk itu.
4. Strategi promosi
Kombinasi dari unsur-unsur promosi ini dikenal dengan sebutan acuan/bauran promosi (promotional mix), yang terdiri dari advertensi, personal selling, promosi penjualan (sales promotion), dan publisitas. Saluran yang mempengaruhi strategi promosi ada dua diantaranya:
1) Saluran perorangan(personal channels) terdiri dari:
 Saluran advokat (advocate chenneks),seperti
 ramoniaga(sales men) dan sebagainya.
 Saluran tenaga ahli (expert channels), seperti dokter, konsultan, dan sebagainya.
 Saluran lingkungan sosial (social channel), seperti teman, tetangga dan sebagainya.
2) Saluran yang bukan perorangan (nonpersonal) terdiri dari:
 Media massa dan selektif (mass and selective media), seperti Koran, radio, dan sebagainya.
 Penciptaan suasana (atmospheres), yaitu penciptaan iklim agar orang mempunyai persepsi yang baik terhadap perusahaan, dan
 Kejadian tertentu (events), seperti pembukaan secara besar-besaran, price deals dan sebagainya.
d. Strategi siklus kehidupan usaha/daur hidup produk (product life cycle)
Tahapan yang terdapat dalam siklus kehidupan usaha produk, terdiri dari tahapan pengenalan (introduction), tahapan pengembangan (growth), tahapan pematangan (maturity), dan tahapan penuaan atau penurunan (desline).
Dengan adanya perbedaan kondisi masing- masing tahapan, strategi pemasaran yang dijalankan hendaknya berbeda pula, agar tujuan dan sasaran perusahaan di bidang pemasaran dapat dicapai. Jadi, strategi pemasaran suatu produk hendaklah disesuaikan dengan kondisi masing-masing tahapan siklus kehidupan usaha dari produk tersebut.
Strategi pemasaran yang menyangkut produk, meliputi penampilan, desain, pengemasan, mutu, ukuran, bentuk, dan pelayanan.dalam hal ini, strategi yang sering dilakukan adalah pengembangan produk, penciptaan produk baru dan defirsivikasi produk.
Strategi pemasaran yang menyangkut harga, meliputi penentuan tingkat harga, pemberian potongan, dan penentuan syarat-syarat pembayaran.
Dari uraian di atas dapat dinyatakan, setiap produk umumnya mengalami siklus kehidupan usaha. Untuk memungkin keberhasilan usaha pemasaran suatu produk dalam tingkat persaingan yang semakin tajam, maka perlu ditetapkan strategi pemasaran yang tepat. Strategi pemasaran tersebut hendaklah mempertimbangkan pada tahapan mana siklus kehidupan usaha dari produk itu berada saat ini, agar strategi itu dapat efektif untuk pencapaian tujuan dan sasaran perusahaan. Dengan mengetahui pada tahapan mana produk yang kita pasarkan berada, maka dapat diharapkan strategi pemasaran yang ditetapkan lebih terarah dalam pencapaian tujuan dan sasaran perusahaan kita.

BAB III
PENUTUPAN
A. KESIMPULAN
Ada dua penafsiran entang pemasaran, yaitu penafsiran yang sempit tentang pemasaran ini terlihat pula dari American MarketingAssocition 1960, yang menyatakan pemasaran adalah hasil prestasi kerja kegiatan usaha yang berkaitan dengan mengalirnya barang dan jasa dari produsen sampai ke konsumen. Disamping penafsiran ini terdapat pula pandangan yang lebih luas, yang menyatakan pemasaran merupakan proses kegiatan yang mulia jauh sebelum barang-barang/bahan-bahan masuk dalam proses produksi. Dalam hal ini banyak keputusan pemasaran yang harus dibuat jauh sebelum produk itu dihasilkan, seperti keputusan mengenai produk yang dibuat, pasarnya, harga, dan promosinya. Sebagai contoh, keputusan pemasaran tersebut dapat berupa produk apa yang harus diproduksi, apakah produk itu harus dirancang, apakah perlu dikemas, dan merek apa yang akan digunakan untuk produk itu.
Kegiatan pemasaran sebenarnya berkembang sejak adanya kebutuhan manusia itu melalui pertukaran. Perkembangan peradaban manusia menimbulkan perkembangan penggunaan alat pertukaran. Dengan adanya pertkembangan tersebut mulailah dikenal transaksi jual-beli. Pada masa itu pemasaran barulah merupakan kegiatan transaksi jual-beli di mana seluruh barang-barang yang dihasilkan atau diproduksikan dengan mudah dan dapat terjual. Masalah yang diutamakan pada saat itu bagaimana menghasilkan suatu barang. Hal ini terutama disebabkan barang apapun yang dihasilkan akan dapat terjual. Oleh karena itu, orientasi pemikiran manajemen pada saat itu adalah orientasi produksi.
Ruang lingkup manajemen pemasaran, filsafat manajemen pemasaran, faktor lingkungan pemasaran, analisis pasar, pemilihan sasaran pasar, perencanaan pemasaran perusahaan, kebijakan dan strategi pemasaran terpadu, kebijakan dan strategi produk, dan lain-lain.
Adapun strategi pemasaran yaitu, strategi umum dan menyeluruh pemasaran, strategi penetrasi pasar, strategi acuan/bauran pemasaran (marketing mix), strategi siklus kehidupan usaha/daur hidup produk (product life cycle).

DAFTAR PUSTAKA
Assauri Sofjan Manajemen Pemasaran (Jakarta: PT. GrafindoPersada. 2013)



Share:

SEJARAH BERDIRINYA DINASTI UMAYYAH

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Sidi Gazalba sejarah adalah gambaran masa lalu tentang manusia dan sekitarnya sebagai mkahluk sosial, yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan yang memberi pengertian dan kepahaman tentang apa yang telah berlalu itu.
Kajian sejarah masih terlalu luas lingkupnya sehingga menunutut suatu pembatasan. Oleh karena itu, sejarah haruslah diartikan sebagai tindakan manusia dalam jangka waktu tertentu pada masa lampau yang dilakukan di tempat daerah tertentu. Dengan demikian, muncullah kajian sejarah suku bangsa tertentu, di tempat tertent, atau pada zaman tertentu, seperti sejarah bangsa Eropa, sejarah Yunani, sejarah Islam, sejarah Islam abad pertengahan, sejarah Islam di Spanyol.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Umayyah?
2. Bagaimana masa-masa kejayaan Dinasti Umayyah?
3. Bagaimana masa-masa kehancuran Dinasti Umayyah?
C. Tujuan
1. Menambah wawasan mengenai sejarah Dinasti Umayyah
2. Mengetahui masa-masa kejayaan Dinasti Umayyah
3. Mengetahui masa-masa kehancuran Dinasti Umayyah
Baca Juga
PEMBAHARUAN PADA MASA KERAJAAN TURKI USMANI
BAB II
PEMBAHASAN
1. Sejarah Peradaban Dinasti Umayyah
Nama Dinasti Umayyah dinisbatkan kepada Umayyah bin Abd Syams bin Abdu Manaf ia adalah salah seorang tokoh penting di tengah Quraisy pada masa jahiliyah. Ia dan pamannya Hasyim bin Abdu Manaf selalu beruntung dalam merebutkan kekuasaan dan kedudukan. Dinasti Umayyah didirikan oleh Muawiyyah bin Sufyan bin Harb. Muawiyyah di samping sebagai pendiri daulah bani Abasiyah juga sekaligus menjadi khalifah pertama. Ia memindakan ibu kota kekuasaan islam dari Khufah ke Demastus. Muawiyyah dipandang sebagai pembangun dinasti yang oleh sebagian besar sejarawan awalnya dipandang negatif. Keberhasilan memperoleh legalitas atau kekuasaannya dalam perang saudara siffin dicapai melalui cara yang curang. Lebih dari itu muawiyyah juga dituduh sebagai penghianat prinsip-prinsip demokrasi yang diajarkan islam, karena dialah yang mula-mula mengubah pimpinan negara dari seseorang yang dipilih rakyat atau demokrasi menjadi kekuasaan yang diwariskan turun-menurun (monarchi heredity). Muawiyyah berhasil mendirikan Dinasti Umayyah bukan hanya dikarenakan kemenangan diplomasi di siffin dan terbunuhnya khalifah Ali. Melainkan sejak semula ia memiliki basis rasional yang solid bagi landasan pembangunan poitik di masa depan. Pertama, adalah dukungan yang kuat dari rakyat Suriyah dan dari kalangan Bani Umayyah sendiri. Penduduk Suriyah yang yang lama diperintah oleh Muawiyyah memiliki pasukan yang kokoh, terlatih dan disiplin di garis depan dalam peperangan melawan Romawi. Muawiyyah melaksanakan perubahan-perubahan besar dan menonjol di dalam pemerintahan negeri itu. Angkatan daratnya kuat dan efisien. Dia dapat mengandalkan pasukan orang-orang Siria yang taat dan setia, yang tetap berdiri disampingnya dalam keadaan yang paling berbahaya sekalipun. Dengan bantuan orang-orang Siria yang setia, Muawiyyah mendirikan pemerintahn yang stabil menurut garis-garis pemerintahan Bizantium. Kedua, sebagai seorang administrator, Muawiyyah sangat bijaksana dalam menempatkan para pembantunya pada jabatan-jabatan penting. Tiga orang patutlah mendapat perhatian khusus, yaitu Amr bin Ash, Mugirah bin Syu’bah, dan Ziyad bin Abihi, ketiga pembantu Muawiyyah merupakan politikus yang sangat mengagumkan dikalangan muslim Arab. Akses mereka sangat kuat dalam membina perpolitikan Muawiyyah. Ketiga, Muawiyyah memiliki kemampuan sebagai negarawan sejati, bahkan mencapai tingkat “hilm”, sifat tertinggi yang dimiliki oleh para pembesar Mekah zaman dahul. Seorang manusia hilm seperti Muawiyyah dapat menguasai diri secara mutlak dan mengambil keputusan-keputusan yang menentukan, meskipun ada tekanan dan imiditasi. Masa Dinasti Umayyah hampir satu abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 orang khalifah. Khalifah yang pertama adalah Muawiyyah bin Sufyan, sedangkan khalifah yang terakhir adalah Marwan bin Muhammad.
2. Masa Kemajuan Dinasti Bani Umayyah
Masa pemerintahan Bani Umayyah terkenal sebagai satu era agresif, dimana perhatian tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan, yang terhenti sejak zaman kedua Khalafaur Rasyidin terakhir. Hanya dalam jangka waktu 90 tahun, banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan islam, yang meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika utar, Jazirah Arab, Syiria, Palestina, sebagai daerah Anatolia, Irak, Persia, Afganistan, India, dan negeri-negeri yang sekarang termasuk Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgiztan yang termasuk Soviet Rusia. Menurut Prof. Ahmad Syalabi, penaklukan militer di zaman Umayyah mencangkup tiga front penting, yaitu sebagai berikut, pertama, front melawan bangsa Romawi di Asia kecil dengan sasaran utama pengepungan ke ibu kota Konstantinopel, dan penyerangan ke pulau-pulau di laut tengah. Kedua, wilayah Afrika Utara. Penaklukan ini sampai ke Samudra Atlantik dan menyebrang ke Gunung Thariq hingga ke Spanyol. Ketiga, wilayah timur. Penaklukan ini sampai ke sebelah timur Irak. Kemudian, meluas ke wilayah Turkistan di utara serta ke wilayah Sindh di bagian selatan. Ekspansi bani umayyah dalam rangka memeperluas wilayah kekuasaan merupakan lanjutan dari ekspansi yang dilakukan oleh para pemimpin islam sebelumnya. Di sebelah timur, Muawiyyah berhasil menaklukan Tunis, Khurasan sampai ke tanah Oxus serta Afganistan sampai Kabul, dan angkatan laut Muawiyyah menyerang Konstantinopel. Ekspansi ini kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd. Al-Malik. Ia berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Fergana, Samarkand, dan bahkan sampai ke India dengan menguasai Balukhistan, Sind, dan daerah Punjab sampai ke Maltan. Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan di zaman Al-Walid bin Abd. Malik. Masa pemerintahan Walid adalah masa ketentraman, kemakmuran, dan ketertiban. Umat islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat ekspendisi meliter dari Afrika utara menuju wilayah barat daya, Benua Eropa yaitu pada tahun 711 M. Setelah Aljazair dan Maroko dapa ditundukkan, Tariq bin Ziyad pemimipin pasukan islam, dengan pasukannya menyebrangi selat yang memisahkan antara Maroko dengan Benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibratar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Selain perluasan wilyah dalam kemajuan bidang peradaban, Dinasti Muawiyyah meneruskan tradisi kemajuan dalam berbagai bidang. Menurut Jurji Zaidan beberapa kemajuan dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan antara lain sebagai berikut:
• Pengembagan bahasa Arab Para penguasa Dinasti Umayyah telah menjadikan islam sebagai negara, kemudian dikuatkannya dan dikembangkanlah bahasa Arab dalam wilayah kerajaan islam. Upaya tersebut dilakukan dengan menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi dalaM tata usaha dan pemerintahan.
• Marbat kota pusat kegiatan ilmu Dinasti Umayyah juga mendirikan sebuah kota kecil sebagai pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pusat kegiatan kegiatan ilmu dan kebudayaan itu dinamakan Mardab, kota satelit dari Damaskus.
• Ilmu qiraat Ilmu qiraat adalah ilmu seni baca alquran. Dinasti Umayyah mengembangluaskan sehingga menjadi ilmu syariat yang sangat penting. Pada masa ini lahir para ahli qiraat ternama seperti Abdullah bin Qusair (w. 120 H) dan Ashim bin Abi Nujud (w.127 H).
• Ilmu tafsir Untuk memahami alquran sebagai kitab suci diperlukan interprestasi pemahaman secara komprehensif. Minat untuk menafsirkan alquran dikalangan umat islam bertambah. Pada masa perintisan ilmu tafsir, ulama yang membukukan ilmu tafsir yaitu Mujahid (w.104 H).
• Ilmu hadis Dalam hal ini mengumpulkan hadis menyelidiki asal usulnya sehingga akhirnya menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri yang dinamakn ilmu hadis. Diantara para ahli hadis yang termasyhur pada masa Dinasti Umayyah adalah Al-Auzai Abdurrahman bin Amru (w. 159 H), Hasan Basri (w. 110 H).
• Ilmu fiqh Setelah islam memjadi daulah, para penguasa membutuhkan peraturan-peraturan untuk menjadi pedoman dalam menyelesaikan berbagai masalah. Mereka kembali kepada alquran dan hadis dan mengeluarkan syariat dari kedua sumber tersebut untuk mengatur pemerintahan dan memimpin rakyat. Pada zaman ini ilmu fiqh telah menjadi suatu cabang syariat yang berdiri sendiri.
3. Masa Kehancuran Dinasti Bani Umayyah
Meskipun kejayaan telah diraih oleh bani umayyah ternyata tidak bertahan lebih lama, dikarenakan kelemahan-kelemahan internal dan semakin kuatnya tekanan dari luar. Menurut Dr. Badri Yatim, ada beberapa faktor yang menyebabkan Dinasti Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran, yaitu sebagai berikut.
1. Sistem penggantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menentukan aspek senioritas, pengaturannya tidak jelas. Ketidak jelasan penggantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat dikalangan anggota keluarga istana.
2. Latar belakang terbentuknya Dinasti Umayyah tidak dapat dipisahkan dari berbagai konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa syi’ah dan khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyidi masa petengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3. Pada kekuasaan Bani Umayyah, petengahan etnis antara Suku Arabia (Bani Qais) dan Arab selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum islam semakin runcing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan umtuk mengalang persatuan dan kesatua. Di samping itu, sebagian besar golongan timur lainya merasa tidak puas karena status Mawali untuk menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan Bangsa Arab yang diperhatikan pada masa Bani Umayyah.
4. Lemahnya pemerintahan daulah Bani Umayyah juga disebabakan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaran tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Di samping itu, sebagian besar golongan awam kecewa karena perhatian penguasa perkembangan agam asangat kurang.
5. Penyebab langsung tergulingnya Dinasti Umayyah adalah muncul kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas ibn Abd Al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Hasyim dan golongan syi’ah, dan kaum Mawali yang meras dikelas duakan oleh pemerintah Bani Umayyah
Beberapa penyebab tersebut muncul dan menumpuk menjadi satu, sehingga akhira mengakibatkan keruntuhan Dinasti Umayyah, disusul dengan berdirinya kekuasaan orang-orang Bani Abbasiyah yang mengejar-ngejar dan membunuh setiap orang dari Bani Umayyah yang dijumpainya. Demikianlah, Dinasti Umayyah asca wafatnya Umar bin Abdul Aziz yang berangsur-angsur melemah. Kekhalifahan sesudahnya dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh yang melemahkan dan akhirnya hancur. Dinasti Umayyah diruntuhakn oleh Dinasti Bani Abasyiah pada masa khlaifah Marwan bin Muhammad (Marwan II) pada tahun 127H/744M.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Sejarh peradaban Dinasti Umayyah Nama Dinasti Umayyah dinisbatkan kepada Umayyah bin Abd Syams bin Abdu Manaf. Masa Dinasti Umayyah hampir satu abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 orang khalifah. Khalifah yang pertama adalah Muawiyyah bin Sufyan, sedangkan khalifah yang terakhir adalah Marwan bin Muhammad.
2. Masa kejayaan Dinasti Umayyah Masa pemerintahan Bani Umayyah terkenal dengan perluasan wilayah. Banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan islam, yang meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika utar, Jazirah Arab, Syiria, Palestina, sebagai daerah Anatolia, Irak, Persia, Afganistan, India, dan negeri-negeri yang sekarang termasuk Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgiztan yang termasuk Soviet Rusia. Selain dalam perluasan wilyah juga dalam bidang bahasa Arab, dalam bidang pendidikan, dan ilmu agama seperti, ilmu hadis, ilmu qiraat, ilmu tafsir, ilmu hadis dan ilmu fiqh.
3. Masa kehancuran Dinasti Umayyah Beberapa faktor penyebab hancurnya Dinasti Umayyah yaitu diantarnya pergantian khlaifah dari sistem demokrasi di ubah menurut garis keturunan. Selain itu berbagai konflik politik dari kaum syi’ah dan juga khawarij. Lemahnya pemerintahan Dinasti Umayyah juga salah satu penyebab runtuhnya Dinasti Umayyah. Selain itu penyebab runtuhnya Dinasti Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang mendapat dukungan dari syi’ah dan Hasyim.

DAFTAR PUSAKA
Munir Amin, Samsul. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah, 2010.
Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011.

Share:

PEMBAHARUAN PADA MASA KERAJAAN TURKI USMANI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tahun 1037 M Turki dapat menguasai kekhalifahan Abassiyah. Akan tetapi, akhirnya lumpuh oleh bangsa Mongol, kecuali bangsa Turki yang dipimpin oleh Ertughril, yang selanjutnya menjelma menjadi Turki Usmani. Puncak kemegahannya dari tahun 1520-1566 M, dibawah pemerintahan Sulaiman I. Namun, akhirnya juga lumpuh pada abad ke-19. Tetapi, berkat ketekunan para pembaharu dan para tokoh-tokoh, negara itu dapat bangkit kembali dengan mengadakan beberapa frase pembaharuan pada masa Sultan Mahmud II, Tanzimat, Usman Muda, dan Turki Muda.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah asal mula Kerajaan Dinasti Usmani?
2. Apa saja perkembangan yang dilakukan pada masa Kerajaan Turki Usmani?
3. Apa saja pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan pada masa Kerajaan Turki Usmani?
4. Apakah yang menyebabkan Kerajaan Turki Usmani Mengalami Kemunduran?
1.3 Tujuan
1. Mangetahui asal mula Kerajaan Dinasti Usmani.
2. Mengetahui perkembangan islam pada masa Kerajaan Turki Usmani.
3. Mengetahui pembaharuan yang dilakukan Kerajaan Turki Usmani.
4. Mengetahui Penyebab kemunduran Kerajaan Turki Usmani
Baca Juga
HUBUNGAN EPISTEMOLOGI DENGAN ILMU LOGIKA
BAB II
PEMBAHASAN
2.1Asal Mula Kerajaan Turki Usmani
Kerajaan Turki Usmani muncul di pentas sejarah Islam pada periode pertengahan. Masa kemajuan Dinasti ini dihitung dari mulai digerakkannya ekspansi ke wilayah baru yang belum ditundukkan oleh pendahulu mereka. keberhasilan mereka dalam memperluas wilayah kekuasaan serta terjadinya peristiwa-peristiwa penting merupakan suatu indikasi yang dapat dijadikan ukuran untuk menentukan kemajuan tersebut. Pendiri kerajaan Turki adalah bangsa Turki dari kabilah Qayigh Oghus, anak suku Turk yang mendiami sebelah barat gurun Gobi, atau daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina, yang dipimpin oleh Sulaiman. Dia mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa mongol yang menyerang dunia Islam yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Khawarizm pada tahun 1219-1220 M. Sulaiman dan anggota sukunya lari ke arah Barat dan meminta perlindungan kepada Jalaluddin, pemimpin terakhir Dinasti Khawarizm di Transoxiana. Jalaluddin menyuruh Sulaiman agar pergi ke arah Barat (Asia Kecil). Kemudian mereka menetap di sana dan pindah ke Syam dalam rangka menghindari serangan mongol. Dalam usahanya pindah ke Syam itu, pemimpin orang-orang Turki mendapat kecelakaan. Mereka hanyut di sungai Efrat yang tiba-tiba pasang karena banjir besar pada tahun 1228 M. [1]
Akhirnya mereka terbagi menjadi 2 kelompok, yang pertama ingin pulang ke negeri asalnya dan yang kedua meneruskan perjalanannya ke Asia kecil. Kelompok kedua ini berjumlah 400 kepala keluarga yang dipimpin oleh Ertugril (Erthogrol) ibn Sulaiman. Mereka mengabdkan dirinya dirinya kepada Sultan Alauddin II dari Dinasti Saljuk Rum yang pusat pemerintahannya di Kuniya, Anatolia Asia Kecil. Pada saat itu, Sultan Alauddin II sedang menghadapi bahaya peperangan dari bangsa Romawi yang mempunyai kekuasaan di Romawi Timur (Byzantium). Dengan bantuan dari bangsa Turki pimpinan Erthogrol, Sultan Alauddin II dapat mencapai kemenangan. Atas jasa baik tersebut Sultan menghadiahkan sebidang tanah yang perbatasan dengan Bizantium. [2]
Pada tahun 1288 M, Erthogrol meninggal dunia dan meninggalkan putranya yang bernama Usman, yang diperkirakan lahir pada 1258 M. usman inilah yang ditunjuk oleh Erthogrol untuk meneruskan kepemimpinannya dan disetujui serta didukung oleh Sultan Saljuk pada saat itu. Nama Usman inilah yang nanti diambil sebagai nama untuk Kerajaan Turki Usmani. Usman ini pula yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Usmani. Sebagaimana ayahnya, Usman banyak berjasa kepada Sultan Alauddin II. Kemenangan-kemenangan dalam setiap pertempuran dan peperangan diraih oleh Usman.
2.2 Perkembangan Kerajaan Turki Usmani
Dengan jatuhnya jazirah Arab, maka imperium Turki Usmani mempunyai wilayah yang luas sekali, terbentang dari Budapest di pinggir sungai Thauna, sampai ke Aswan dekat hulu sungai Nil, dan dari sungai efrat serta pedalaman Iran, sampai Bab el-Mandeb di selatan jazirah Arab. [3] Selama masa kesultanan Turki Usmani (1299-1942 M), sekitar 625 tahun berkuasa tidak kurang dari 38 Sultan.
Dalam hal ini, Syafiq A. Mughni membagi sejarah kekuasaan Turki Usmani menjadi lima periode, [4] yaitu:
1. Periode pertama (1299-1402 M), yang dimulai dari berdirinya kerajaan, ekspansi pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan timur yaitu dari pemerintahan Usman I sampai pemerintahan Bayazid.
2. Periode kedua (1402-1566 M), ditandai dengan restorasi kerajaan dan cepatnya pertumbuhan sampai ekspansinya yang terbesar. Dari masa Muhammad I sampai Sulaiman I.
3. Periode ketiga (1566-1699 M), periode ini ditandai dengan kemampuan Usmani untuk mempertahankan wilayahnya. Sampai lepasnya Honggaria. Namun kemunduran segera terjadi dari masa pemerintahan Salim II sampai Mustafa II.
4. Periode keempat (1699-1838 M), periode ini ditandai degan berangsur-angsur surutnya kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah yang di tangan para penguasa wilayah, dari masa pemerintahan Ahmad III sampai Mahmud II.
5. Periode kelima (1839-1922 M) periode ini ditandai dengan kebangkitan cultural dan administrates dari negara di bawah pengaruh ide-ide barat, dari masa pemerintahan Sultan A. Majid I sampai A Majid II.
Persinggungan Islam dengan Turki melalui sejarah panjang, terhitung sejak abad pertama hijriyah hingga suku Turki menjadi penganut dan pembela Islam. Pengaruh Turki dalam dunia Islam semakin terasa pada masa Pemerintahan al-Musta’sim (640-656 H./1242-1258 M). [5]
a. Perluasan Wilayah
Setelah Usman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al-Usman (raja besar keluarga Usman), pada tahun 1300 M. dia memulai memperluas wilayahnya. [6] Hal ini berlangsung paling tidak sampai dengan masa Pemerintahan Sulaiman I. untuk mendukung hal itu, Orkhan membentuk pasukan tangguh yang dikenal dengan Inkisyariyyah. Pasukan Inkisyariyah adalah tentara utama Dinasti Usmani yang terdiri dari bangsa Georgia dan Armenia yang baru masuk Islam. [7] Ternyata, dengan pasukan tersebut seolah-olah Dinasti Usmani memiliki mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang besar sekali bagi penaklukan negeri-negeri non Muslim.
Ada lima faktor yang menyebabkan kesuksesan Dinasti Usmani dalam perluasan wilayah Islam. Yaitu:
• Kemampuan orang-orang Turki dalam strategi perang terkombinasi dengan cita-cita memperoleh ghanimah (harta rampasan perang).
• Sifat dan karakter orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam serta gaya hidupnya yang sederhana, sehingga memudahkan untuk tujuan penyerangan.
• Semangat jihad dan ingin mengembangkan Islam
• Letak Istambul yang sangat strategis sebagai ibukota kerajaan juga sangat menunjang kesuksesan perluasan wilayah ke Eropa dan Asia. Istambul terletak antara dua benua dan dua selat (selat Bosphaoras dan selat Dardanala), dan pernah menjadi pusat kebudayaan dunia, baik kebudayaan Macedonia, kebudayaan Yunani maupun kebudayaan Romawi Timur.
• Kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya yang kacau memudahkan Dinasti Usmani mengalahkannya. [8]
b. Kemajuan Pada Masa Dinasti Usmani
1) Sosial Politik dan Administrasi negara
Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Usmani berlangsung dengan cepat, hal ini diikuti pula oleh kemajuan dalam bidang politik, terutama dalam hal mempertahankan eksistensinya sebagai negara besar. Selain itu, tradisi yang berlalu saat itu telah membentuk stratifikasi yang membedakan secara menyolok antara kelompok penguasa (small group of rulers) dan rakyat biasa (large mass).
Penguasa yang begitu kuat itu bahkan memiliki keistimewaan, diantara keistimewaan itu adalah:
• Pengakuan dari bawahan untuk loyal pada Sultan dan negara.
• Penerimaan dan pengamalan, serta sistem berfikir dalam bertindak dalam agama yang dianut merupakan kerangka yang integral
• Pengetahuan dan amalan tentang sistem adat yang rumit.
Yang terpenting adalah bahwa para pejabat dalam hal apapun tetap sebagai budak Sultan. Tugas utama seluruh warga negara, baik pejabat maupun rakyat biasa adalah mengabdi untuk keunggulan Islam, melaksanakan hukum serta mempertahankan keutuhan imperium. [9]
2) Bidang Militer
Kerajaan Turki Usmani telah mampu menciptakan pasukan militer yang mampu mengubah Negara Turki menjadi Mesin perang yang paling tangguh dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukan negeri-negeri non Muslim. Bangsa-bangsa non Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen di asramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Ketika terjadi kekisruan ditubuh militer, maka Orkhan mengadakan perombakan dan pembaharuan, yang dimulai dari pemimpin personil militer. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut dengan pasukan Janissari atau Inkisyariyah. Pasukan inilah yang dapat mengubah Negara Usmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan kuat dalam penaklukan negeri Non Muslim. [10]
3) Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan
Dalam bidang pendidikan, Dinasti Usmani mengantarkan pada pengorganisasian sebuah sistem pendidikan madrasah yang tersebar luas. Madrasah Usmani pertama didirikan di Izmir pada tahun 1331 M, ketika itu sejumlah ulama di datangkan dari Iran dan Mesir untuk mengembangkan pengajaran Muslim dibeberapa toritorial baru. Tapi hal ini tidak begitu berkembang, karena Turki Usmani lebih memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sehingga dalam khazanah Intelektual Islam kita tidak menjumpai ilmuan terkemuka dari Turki Usmani.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, memang kerajaan Turki Usmani tidak menghasilkan karya-karya dan penelitian-penelitian ilmiah seperti di masa Daulah Abbasiyah. Kajian-kajian ilmu keagamaan, seperti fiqh, ilmu kalam, tafsir dan hadis boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Ulama hanya suka menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan), dan hasyiyah (catatan pinggir) terhadap karya-karya klasik yang telah ada. Namun dalam bidang seni arsitektur, Turki Usmani banyak meninggalkan karya-karya agung berupa bangunan yang indah, seperti Mesjid Jami’ Muhammad al-Fatih, mesjid agung Sulaiman dan Mesjid Abu Ayyub al-Anshary dan mesjid yang dulu asalnya dari gereja Aya Sophia. Mesjid tersebut dihiasi dengan kaligrafi oleh Musa Azam. [11]
4) Bidang Ekonomi dan Keuangan Negara
Karena Turki mengusai beberapa kota pelabuhan utama, maka Turki menjadi penyelenggara perdagangan, pemungut pajak (cukai) pelabuhan yang menjadi sumber keuangan yang besar bagi Turki. Keberhasilan Turki Usmani dalam memperluas kekuasaan dan penataan politik yang rapi, berimplikasi pada kemajuan social ekonomi Negara, tercatat beberapa kota industri yang ada pada waktu itu, antara lain:
a. Mesir yang memperoleh produksi kain sutra dan katun.
b. Anatoli memproduksi bahan tekstil dan wilayah pertanian yang subur.
Kota Anatoli merupakan kota perdagangan yang penting di rute Timur dalam perindustrian dalam hasil industri dan pertanian di Istambul, polandia dan Rusia. Para pedagang dari dalam maupun dari luar negeri berdatangan sehingga wilayah Turki menjadi pusat perdagangan dunia pada saat itu. [12]
Selain dari sumber perdagangan, Turki Usmani memiliki sumber keuangan Negara yang sangat besar, yaitu dari harta rampasan perang, dari upeti tanda penaklukkan Negara-negara yang ditundukkan serta dari orang-orang zhimmi.
2.3 Kemunduran Turki Usmani
Pada akhir kekuasaan Sulaiman al-Qanuni I kerajaan Turki Usmani berada ditengah-tengah dua kekuatan monarki Austria di Eropa dan kerajaan Syafawi di Asia. Melemahnya kerajaan Usmani setelah wafatnya Sulaiman I dan digantikan oleh Salim II. Pada awal abad ke-19 para Sultan tidak mampu mengontol daerah-daerah kekuasaannya. Dan melemahnya militer Turki Usmani berakibat munculnya pemberontakan. Beberapa daerah berangsur-angsur mulai memaisahkan diri dan mendirikan pemerintah otonom. Di Mesir, kelemahan kerajaan Turki Usmani membuat Mamalik bangkit kembali. Di bawah kepemimpinan Ali Bey, pada tahun 1770 M., Mamalik kembali berkuasa di Mesir, sampai datangnya Napoleon Bonaparte dari Prancis tahun 1798 M. [13] Demikian pula pemberontakan terjadi di Libanon dan Syiria, sehingga kerajaan Turki Usmani mengalami kemunduruan, bukan saja daerah yang tidak beragama Islam, tetapi juga di daerah yang berpenduduk muslim.
Banyak faktor yang menyebabkan kerajaan Usmani ini mengalami kemunduran, di antaranya adalah:
• Wilayah kekuasaan yang sangat luas yang tidak dibarengi dengan Administrasi dan potensi yang kuat.
• Kelemahan para penguasa, baik dalam kepribadian maupun dalam kepemimpinan yang berakibat pemerintahan menjadi kacau.
• Pemberontakan tentara Jenissari.
• Heterogenitas penduduk. Wilayah yang luas yang didiami penduduk yang beragam, baik dari segi agama, suku, ras, etnis dan adat istiadat acap kali melatar belakangi terjadinya pemberontakan.
• Merosotnya ekonomi. Akibat perang yang berkepanjangan sehingga perekonomian negara merosot.
2.4 PEMBAHARUAN MASA KERAJAAN TURKI USMANI
1. Pada Masa Sultan Mahmud II (1785-1839 M)
Lahir pada tahun 1785 M, dan mempunyai didikan tradisional, antara lain pengetahuan agama, pengetahuan pemerintahan, sejarah dan sastra Arab, Turki dan Persia. Ia diangkat menjadi Sultan di tahun 1807 M dan meninggal di tahun 1839 M. Setelah kekuasaannya sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Usmani bertambah kuat, Sultan Mahmud II melihat bahwa telah tiba masanya untuk memulai usaha-usaha pembaharuan yang telah lama ada dalam pemikirannya. [14]
Perubahan penting yang diadakan oleh Sultan Mahmud II dan yang kemudian mempunyai pengaruh besar pada perkembangan pembaharuan di Kerajaan Usmani ialah perubahan dalam bidang pendidikan. Di Madrasah hanya diajarkan agama, sedangkan pengetahuan umum tidak diajarkan. Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan Madrasah tradisional tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad ke-19. Oleh karena itu, ia mengadakan perubahan dalam kurikulum Madrasah dengan menambah pengetahuan umum di dalamnya, seperti halnya di Dunia Islam lain pada waktu itu memang sulit.
Madrasah tradisional tetap berjalan, tetapi disampingnya Sultan mendirikan dua sekolah pengetahuan umum yang bernama Mekteb-i Ma’arif (Sekolah Pengetahuan Umum) dan Mekteb-i Ulum-u Edebiye (Sekolah Sastra). Siswa untuk kedua sekolah itu dipilih dari lulusan Madrasah yang bermutu tinggi. Selain itu, Sultan Mahmud II juga mendirikan Sekolah Militer, Sekolah Teknik, Sekolah Kedokteran dan Sekolah Pembedahan. [15]
2. Pada Masa Tanzimat
Istilah Tanzimat berasal dari bahasa Arab dari kata Tanzim yang berarti pengaturan, penyusunan dan memperbaiki. Dalam pembaharuan yang diadakan pada masa ini merupakan sebagai lanjutan dari usaha yang dijalankan oleh Sultan Mahmud II yang banyak mengadakan pembaharuan peraturan dan perundang-undangan. Secara terminologi adalah, suatu usaha pembaharuan yang mengatur dan menyusun serta memperbaiki struktur organisasi pemerintahan, sosial, ekonomi dan kebudayaan, antara tahun 1839-1871 M.
Tokoh-tokoh penting Tanzimat antara lain:
1) Mustafa Rasyid Pasya (1880-1858 M).
Pemuka utama dari pembaharuan di zaman Tanzimat ialah Mustafa Rasyid Pasya, ia lahir di Istanbul pada tahun 1800 M. berpendidikan Madrasah, kemudian menjadi pegawai pemerintah. Usaha pembaharuannya yang terpenting ialah sentralisasi pemerintahan dan modernisasi angkatan bersenjata pada tahun 1839 M.
2) Mustafa Sami Pasya (wafat 1855 M).
Mustafa Sami Pasya mempunyai banyak pengalaman di luar negeri antara lain di Roma, Wina, Berlin, Brussel, London, Paris dan negara lainnya sebagai pegawai dan duta. Menurut pendapat Mustafa Sami Pasya, kemajuan bangsa Eropa terletak pada keunggulan mereka dalam lapangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab lain dilihatnya karena toleransi beragama dan kemampuan orang Eropa melepaskan diri dari ikatan-ikatan agama, di samping itu pula pendidikan universal bagi pria dan wanita sehingga umumnya orang Eropa pandai membaca dan menulis.
3) Mehmed Sadik Rif’at Pasya (1087-1856 M).
Mehmed Sadik Rif’at Pasya yang lahir pada tahun 1807 M, dan wafat tahun 1856 M. Pendidikannya selesai di madrasah, ia melanjutkan pelajaran ke sekolah sastra, yang khusus diadakan untuk calon-calon pegawai istana. Pokok pemikiran dan pembaharuannya ialah Sultan dan pembesar-pembesar negara harus tunduk pada undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya. Negara harus tunduk pada hukum, kodifikasi hukum, administrasi, pengaturan hak dan kewajiban rakyat, reorganisasi, angkatan bersenjata, pendidikan dan keterampilan serta dibangunnya Bank Islam Usmani pada tahun 1840 M.
4) Ali Pasya (1815-1871 M).
Beliau lahir pada tahun 1815 M di Istanbul, dan wafat tahun 1871, anak dari seorang pelayan toko. Dalam usia 14 tahun ia sudah diangkat menjadi pegawai. Tahun 1840 diangkat menjadi Duta Besar London dan sebelum menjadi Duta Besar ia sering kali menjadi staf Perwakilan Kerajaan Usmani di berbagai negara Eropa dan di tahun 1852 M, ia menggantikan kedudukan Rasyid Pasya sebagai Perdana Menteri. Usaha pembaharuannya antara lain : tentang pengakuan semua aliran spiritual pada masa itu, jaminan melaksanakan ibadahnya masing-masing, larangan memfitnah karena agama, suku dan bahasa, jaminan kesempatan belajar, sistem peradilan dan lain-lainnya. Pembaharuan yang dilaksanakan oleh tokoh-tokoh di zaman Tanzimat tidak seluruhnya mendapat dukungan, bahkan mendapat kritikan baik dari dalam atau di luar Kerajaan Usmani. Karena, gerakan-gerakan tanzimat untuk mewujudkan pembaharuan didasari oleh pemikiran liberalisme Barat dan meninggalkan pola dasar syariat agama, hal ini salah satu sebab yang utama gerakan tanzimat mengalami kegagalan dalam usaha pembaharuannya.
3. Pada Masa Usmani Muda
Kegagalan Tanzimat dalam mengganti pemerintahan konstitusi yang absolut merupakan cambuk untuk usaha-usaha selanjutnya. Untuk mengubah kekuasaan yang absolut, maka timbullah gerakan dari kaum cendikiawan melanjutkan usaha-usaha Tanzimat. Gerakan ini dikenal dengan Young Ottoman-Yeni Usmanilar (Gerakan Usmani Muda) yang didirikan pada tahun 1865 M. [16] Usmani Muda pada asalnya merupakan perkumpulan yang didirikan di tahun 1865 M, dengan tujuan untuk mengubah pemerintahan absolut kerajaan Usmani menjadi pemerintahan konstitusional. [17]
Beberapa tokoh dari gerakan itu membawa angin baru tentang demokrasi dan konstitusional pemerintahan yang menjunjung tinggi kekuasaan rakyat bukan kekuasaan absolut. Diantara tokoh-tokohnya adalah:
a. Zia Pasya.
Lahir pada tahun 1825 M di Istanbul, dan meninggal dunia pada tahun 1880 M. Ia anak seorang pegawai Kantor Beacukai di Istanbul. Pendidikannya setelah selesai sekolah di Sulaemaniye yang didirikan Sultan Mahmud II. dalam usia muda dia diangkat menjadi pegawai pemerintah, kemudian atas usaha Mustafa Rasyid Pasya pada tahun 1854 M, ia diterima menjadi salah seorang sekretaris Sultan. Disinilah ia dapat mengetahui tentang sistem dan cara Sultan memerintah dengan otoriter. [18] Beberapa pemikirannya akhirnya menjurus kepada usaha pembaharuan. Usaha-usaha pembaharuannya antara lain, kerajaan Usmani menurut pendapatnya harus dengan sistem pemerintahan konstitusional, tidak dengan kekuasaan absolut.
b. Namik Kemal.
Beliau termasuk pemikir terkemuka dari Usmani Muda, lahir pada tahun 1840 M di Tekirdag, dan berasal dari keluarga ningrat. Namik Kemal banyak dipengaruhi oleh pemikiran Ibrahim Sinasih (1826-1871 M) yang berpendidikan barat dan banyak mempunyai pandangan modernisme. Namik mempunyai jiwa Islami yang tinggi, walaupun ia dipengaruhi pemikiran Barat namun masih menjunjung tinggi moral Islam dalam ide-ide pembaharuannya. Namik Kemal berpendapat bahwa sistem pemerintahan konstitusional tidaklah merupakan bid’ah dalam Islam. Di antara ide-ide lain yang dibawa Namik terdapat cinta tanah air Turki, tetapi seluruh daerah kerajaan Usmani. Konsep tanah airnya tidak sempit. Sebagai orang yang dijiwai ajaran Islam, ia melihat perlunya diadakan persatuan seluruh umat Islam di bawah pimpinan Kerajaan Usmani, sebagai negara Islam yang terbesar dan terkuat di waktu itu.
c. Midhat Pasya.
Nama lengkapnya Hafidh Ahmad Syafik Midhat Pasya, lahir pada tahun 1822 M di Istanbul. Pendidikan agamanya diperoleh dari ayahnya sendiri. Dalam usia sepuluh tahun ia telah hafal Al-Quran, oleh karena itu ia digelari Al-Hafidh. Pendidikannya yang tertinggi adalah pada Universitas Al-Fatih. Dia termasuk tokoh Usmani Muda yang mempunyai peranan cukup penting dalam ide pembaharuan. Beberapa langkah pembaharuan itu, seperti memperkecil kekuasaan kaum eksekutif dan memberikan kekuasaan lebih besar kepada kelompok legislatif. Golongan ini juga berusaha menggolkan sistem konstitusi yang sudah ditegakkan dengan memakai istilah terma-terma yang islami, seperti musyawarah untuk perwakilan rakyat, bai’ah untuk kedaulatan rakyat dan syariah untuk konstitusi. Dengan usaha ini, sistem pemerintahan Barat lambat laun dapat diterima kelompok ulama dan Syaikh Al-Islami yang sebenarnya banyak menentang ide pembaharuan pada masa sebelumnya. [19]
4. Pada Masa Turki Muda
Setelah dibubarkannya parlemen dan dihancurkannya gerakan Usmani Muda, maka Sultan Abdul Hamid memerintah dengan kekuasaan yang lebih absolut. Kebebasan berbicara dan menulis tidak ada. Dalam suasana yang demikian, timbullah gerakan oposisi terhadap pemerintah yang obsolut Sultan Abdul Hamid, sebagaimana halnya di zaman yang lalu dengan Sultan Abdul Aziz. Gerakan oposisi dikalangan perguruan tinggi, mengambil bentuk perkumpulan rahasia, di kalangan cendekiawan dan pemimpin-pemimpinnya lari ke luar negeri dan disana melanjutkan oposisi mereka dan gerakan di kalangan militer menjelma dalam bentuk komite-komite rahasia. Oposisi berbagai kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan nama Turki Muda.
Tokoh Turki Muda, antara lain adalah Ahmad Riza, Mehmed Murad, dan Pangeran Sahabuddin.
a. Ahmad Riza (1859-1930 M).
Ia adalah anak seorang bekas anggota parlemen bernama Injilis Ali. Dalam pendidikannya ia sekolah di pertanian untuk kelak dapat bekerja dan berusaha mengubah nasib petani yang malang dan studinya diteruskan di Perancis. sekembalinya dari perancis, ia bekerja di Kementerian Pertanian, tapi ternyata hubungan pemerintah dengan petani yang miskin sedikit sekali, karena kementerian itu lebih disibukkan dengan birokrasi. Kemudian ia pindah ke Kementerian Pendidikan namun disini juga disibukkan dengan birokrasi tapi kurang disibukkan dengan pendidikan. Pembaharuannya adalah ingin mengubah pemerintahan yang absolut kepada pemerintahan konstitusional. Karena menurutnya akan menyelamatkan Kerajaan Usmani dari keruntuhan adalah melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan positif dan bukan dengan teologi atau metafisika.
b. Mehmed Murad (1853-1912 M).
Ia berasal dari Kaukasus dan lari ke Istanbul pada tahun 1873 M, yakni setelah gagalnya pemberontakan Syekh Syamil di daerah itu. Ia belajar di Rusia dan di sanalah ia berjumpa dengan ide-ide Barat, namun pemikiran Islam berpengaruh pada dirinya. Ia berpendapat bahwa bukanlah Islam yang menjadi penyebab mundurnya Kerajaan Usmani dan bukan pula rakyatnya, namun sebab kemunduran itu terletak pada Sultan yang memerintah secara absolut. Oleh karena itu, menurutnya kekuasaan Sultan harus dibatasi. Ia mengusulkan didirikan satu Badan Pengawas yang tugasnya mengawasi jalannya undang-undang agar tidak dilanggar oleh pemerintah. Di samping itu diadakan pula Dewan syariat agung yang anggotanya tersusun dari wakil-wakil negara Islam di Afrika dan Asia dan ketuanya Syekh Al-Islam Kerajaan Usmani.
c. Pangeran Sahabuddin (1887-1948).
Pangeran Sahabuddin adalah keponakan Sultan Hamid dari pihak ibunya, sedang dari pihak bapaknya adalah cucu dari Sultan Mahmud II, oleh karena itu ia keturunan raja. Namun ibu dan bapaknya lari ke Eropa menjauhkan diri dari kekuasaan Abdul Hamid. Maka dengan demikian kehidupan Sahabuddin lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran Barat. Menurutnya yang pokok adalah perubahan sosial, bukan penggantian Sultan. Masyarakat Turki sebagaimana masyarakat Timur lainnya mempunyai corak kolektif, dan masyarakat kolektif tidak mudah berubah dalam menuju kemajuan. Dalam masyarakat kolektif orang tidak percaya diri sendiri, oleh karena itu ia tergantung pada kelompok atau suku sedangkan masyarakat yang dapat maju menurutnya adalah masyarakat yang tidak banyak bergantung kepada orang lain tetapi sanggup berdiri sendiri dan berusaha sendiri untuk mengubah keadaannya. [20]

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Usman inilah yang ditunjuk oleh Erthogrol untuk meneruskan kepemimpinannya dan disetujui serta didukung oleh Sultan Saljuk pada saat itu. Nama Usman inilah yang nanti diambil sebagai nama untuk Kerajaan Turki Usmani. Usman ini pula yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Usmani.
2. Kemajuan yang dilakukan dinasti Usmani ialah melakukan perluasan wilayah. Sedangkan kemajuan yang telah dicapai adalah dalam bidang sosial politik, administrasi, ilmu pengetahuan, kebudayaan, ekonomi dan keuangan negara.
3. Faktor yang mempengaruhi kemunduran dinasty Usmani diantaranya karena Kelemahan para penguasa, baik dalam kepribadian maupun dalam kepemimpinan yang berakibat pemerintahan menjadi kacau, Pemberontakan tentara Jenissari, Heterogenitas penduduk.
4. Pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud II merupakan landasan atau dasar bagi pemikiran dan usaha pembaharuan selanjutnya, antara lain : pembaharuan Tanzimat, pembaharuan di Kerajaan Usmani abad ke-19 dan Turki abad ke-20.
5. Tanzimat yang dimaksudkan adalah suatu usaha pembaharuan yang mengatur dan menyusun serta memperbaiki struktur organisasi pemerintahan tetapi Tanzimat ini belum berhasil seperti yang diharapkan oleh tokoh-tokoh penting Tanzimat, yaitu Mustafa Rasyid Pasya, Mustafa Sami, Mehmed Sadek, Rif’at Pasya dan Ali Pasya.
6. Kemudian dilanjutkan dengan pembaharuan Usmani Muda, dimana usaha-usaha pembaharuannya adalah untuk mengubah pemerintahan dengan sistem konstitusional tidak dengan kekuasaan absolut setelah dibubarkannya parlemen dan dihancurkannya Usmani muda dilanjutkan dengan pembaharuan Turki Muda.
7.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Bahy, Muhammad.1986. Pemikiran Islam Modern. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Asmuni, Yusran. 1998. Studi Pemikiran Dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam. Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada.
Nasution, Harun. 1991. Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran Dan Gerakan. Jakarta: Pt. Bulan Bintang.
Siti Maryam dkk. 2002, (ed.) Sejarah Pearadaban Islam dari Masa Klasik hingga Modern, Yogyakarta: LESFI.
Yatim, Badri, 2002, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, cet. XIII.



























Share:

Popular Posts

Label